Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 57


__ADS_3

.............


Di tempat bawah. Saat ini, Lelaki tua dengan jenggot memanjang ke bawah. Dia sedang duduk dengan mata terpejam dengan gerakan jarinya yang nampak rumit.


Di sebelahnya ada wanita muda dan wanita tua sedang mengamati ekspresi serius lelaki itu.


Saat ini, Dahi lelaki itu tiba tiba mengkerut dan berkata dengan suara dalam tanpa membuka matanya. "Siapa kedua orang ini? Dia membantai kawanan monster monster kita dalam kecepatan luar biasa!"


Kedua wanita berbeda usia itu kini mengerutkan keningnya dan saling berpandangan. Wanita muda berkata dengan serius. "Siapa dia ayah? Apa mereka memiliki kultivasi yang lebih tinggi dari kita? Jika iya, Lebih baik kita hentikan saja!"


"Benar suamiku! Lebih baik kita keluar dan pura pura menyelamatkan mereka agar tidak ada salah paham di antara penduduk." Imbuh wanita muda dengan muka serius juga.


Lelaki itu masih tidak bergeming, Malah kerutan dahinya semakin dalam. "Tunggu!...Ada dua orang lagi yang muncul dan tiba tiba menyerang dengan kecepatan yang tidak kalah cepat dari keduanya!! Sial! Kenapa ada banyak orang aneh dan kuat tiba tiba merusak rencana tetua Thu Wek?" Ujarnya dengan raut wajah jelek serta kepanikan di wajahnya.


Wanita muda yang melihat ekspresi jelek ayahnya segera bertanya. "Ayah! Apa kita sebaiknya menghentikannya? Aku takut jika orang itu adalah pemuda berambut perak waktu itu yang sudah menolongku."


Lelaki itu berkata dengan membuka matanya menatap kedua wanita itu. "Lala! Empat orang ini sangat aneh, Dengan kultivasiku yang sudah mencapai Raja Langit tingkat dua tidak bisa melihat basis kultivasinya sama sekali dan yang membuatku penasaran, Mereka berempat mengenakan jubah hitam dan topeng rubah."


"Suamiku! Lebih baik kita hentikan saja!...Lagi pula ada seribu lebih monster yang berkeliaran di kota ini. Orang orang akan mencurigai kita karena tidak menampakkan diri!" Kali ini yang bersuara wanita tua bernama Wije.


Lelaki tua itu masih diam sambil melirik tulang belulang yang berserakan di ruangan itu. "Benar! Kita harus keluar lebih dulu agar tidak ada yang mencurigai kita!" Serunya dan berdiri bersiap siap untuk keluar.


Karne tempat tadi berada di ruang bawah tanah, Ketiga orang itu menggeser pintu besi yang berada di sudut ruangan.


Ketika mereka bertiga keluar dari ruangan, Tiba tiba suara dingin menggema di dalam ruangan itu.


"Tidak kusangka jika ada orang yang seharusnya membantu warga malah menjadi pembunuh warganya sendiri. Kalian memiliki perilaku buruk dan tidak memiliki hati nurani hanya untuk meningkatkan kekuatannya sendiri!"


Raut wajah ketiga orang itu berubah panik ketika mendengar suara yang tiba tiba bergema. Tidak ada yang mengetahui jelas suara apa itu, Terdengar seperti suara seorang lelaki tapi juga ada perempuan. Seolah olah berkata secara bersamaan.


"Si-siapa itu..? Tunjukkan dirimu..! Apa maksud perkataanmu itu?" Seru lelaki itu dengan menatap sekelilingnya dengan waspada diikuti dengan dua wanita.


"Apa aku harus mengulangi perkataanku lagi?...Tuan Kota Garden dan Nona Naila??"


Suara itu kembali bergema membuat ketiganya tersentak kaget. "Siapa kamu? Kenapa kamu tahu namaku? Cepat tunjukkan wajah bodohmu itu!" Ucap wanita muda yang ternyata adalah Naila.

__ADS_1


"Tidak perlu! Aku hanya ingin tahu apa alasanmu mengeluarkan monster monster ganas yang membuat kota menjadi semakin kacau!" Ucap suara yang terdengar dingin itu lagi.


"Hahaha! Alasan? Tidak ada!...Aku hanya menginginkan kota ini untuk membuat orang orang tunduk kepadaku!...Selain itu, Para gadis dan anak kecil yang aku bawa akan kujadikan tumbal." Ucap wanita Wije dengan tertawa liar.


Berbeda dengan Garden dan nona Naila. Raut wajahnya berubah ketika mendengar suara yang tidak asing baginya.


Ketika ingin bertanya lebih lama lagi. Tiba tiba saja tubuh ketiganya merasakan rasa sakit yang luar biasa di bagian perutnya.


Baam! Baam! Baam!


Brakk!


Tubuh ketiganya meluncur berputar ke atas dan menghancurkan langit langit ruangan hingga jebol, Dan tubuhnya tidak berhenti masih terus meluncur keatas langit.


Baam! Baam! Baam!


Tubuh ketiganya kembali terlempar ke bawah dengan kecepatan cepat. Tapi sebelum menyentuh tanah, Ketiganya kembali di luncurkan ke atas.


Kebetulan, Banyak orang orang yang tersisa tanpa sengaja melihat ke atas. Nampak dua kilatan cahaya emas dan cahaya biru sedang saling melempar tiga bayangan hitam.


"A-apa itu? Apa itu pertarungan...?"


"Astaga! Apa itu pertarungan tingkat tinggi..?"


"..."


Semua orang yang masih terselamatkan tanpa sadar mendongak menatap ke atas langit. Dua cahaya nampak melesat ke sana kemari.


Kadang ke selatan, Kadang ke utara, Dan kadang ke timur maupun barat. Tapi, Bersamaan dengan lesatannya, Terdengar suara benturan disertai tulang retak dan suara rintihan kesakitan.


Pada saat ini, Retania dan Arya sudah mengumpulkan semua orang yang masih selamat dari terkaman monster.


"Kalian semua! Cepat berkumpul dan jangan berlarian! Masih ada beberapa monster yang masih berkeliaran!" Teriak lantang Arya dari balik topengnya.


Ketika mereka mendengar perkataan Arya, Wajah mereka sontak berubah muram dan ngeri. Bagaimana tidak? Mereka menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri adegan mengerikan para monster monster itu.

__ADS_1


Apalagi sambutan pertama mereka adalah serangan yang cukup besar dan hampir merobohkan setengah Kota Luyung ini.


"Tu-tuan pendekar! Terima kasih telah menyelamatkan kami...!"


"B-benar Tuan! Jika tidak ada kalian bersua mungkin aku sudah mengantri di pengadilan alam baka..."


"...."


Semua orang menyanjung Arya dan Retania dengan ketulusan. Mereka semua mengetahui jika kedua orang bertopeng rubah inilah yang menyelamatkan mereka.


Arya dan Retania hanya tersenyum di balik topengnya, Dan mendongak ke atas menatap kedua cahaya itu dengan kekaguman.


Di area yang lapang saat ini. Terlihat lautan manusia saling berdesakkan tapi raut wajahnya masih linglung dan sedikit shok, Mungkin karena masih nampak ketakutan melihat monster monster yang menyerangnya dengan membabi buta.


Karena suasana hampir gelap. Mereka bisa melihat dua cahaya yang saling menari di atas langit. Saat ini, Terlihat tiga bayangan di luncurkan secara berturut turut ke depan lautan manusia itu.


Baam! Baam! Baam!


"Akh...!"


Ringisan kesakitan terdengar di ketiga orang itu. Semua warga langsung mengerumuni ketiganya untuk melihat jelas siapa itu.


Saat ini, Kedua cahaya itu langsung melesat kebawah dan mencapai tanah.


"Dialah dalang sebenarnya yang membuat kekacauan di Kota ini dengan cara mengontrol kesadaran para monster monster itu!" Ucap Dirga dengan dingin tapi mengandung tekanan.


Semua orang yang mendengar perkataan Dirga tanpa sadar menatapnya dengan raut muka terkejut. Semua orang tanpa sadar lagi menoleh serempak kebelakang menatap kedua orang bertopeng rubah yang tak jauh dari sana.


Karena orang yang berbicara barusan mengenakan pakaian sama dan topeng sama dengan Arya dan Retania.


Arya tersenyum di balik topengnya dan berkata. "Aku hanya bawahannya! Aku hanya mengikuti lerintahnya saja!"


Semua yang mendengar itu tersentak kaget. Dan tanpa sadar mundur jauh. Bagaimanapun acara hantaman yang di tunjukkan di atas langit cukup ngeri untuk di bayangkan.


"Tidak perlu takut! Aku hanya melakukan seperti ini karena mereka bertiga telah menggunakan cara bajingannya dan pantas mendapatkan hukuman!" Ucap Dirga kembali dengan tenang.

__ADS_1


Saat ini. Diantara kerumunan, Salah satu mereka berteriak mengejutkan.


"Tunggu!...Bu-bu-bukankah ini Tuan Kota...?"


__ADS_2