
Mereka semua yang melihat terkejut. Seperti namanya, Organisasi ini tidak hanya membahayakan warga, Tapi juga suka bertindak sembarangan.
Seperti tadi, Mereka tiba tiba muncul dan menghancurkan halaman penginapan.
Naila kembali memeluk Dirga dan bergumam. "Aku tidak menyangka jika mereka berasal dari organisasi bajingan itu, Tapi kenapa mereka mencariku?"
Dirga hanya diam tak menjawab. Lalu berkata. "Sepertinya aku harus pergi dulu." Berniat berjalan pergi.
Naila yang mendengarnya berkata. "Tunggu!" Dirga berhenti dan tanpa menoleh berkata. "Ada apa?"
Dengan kepala menunduk, Naila berkata lirih. "Terima kasih!"
Dirga hanya mengangguk dan tersenyum tipis. "Tidak masalah, Sudah kewajibanku untuk menolong orang." Jawabnya dan tubuhnya menghilang dari pandangan semua orang membuatnya tertegun.
Salah satu orang berpakaian hitam berkata. "Nona, Apa nona mengenal pemuda tadi? Aku belum pernah melihatnya selama ini."
Naila mengangguk, Sebelum menjawab terdengar suara khawatir seseorang. "Dimana putriku? Dimana putriku? Apa kalian melihatnya?"
Naila melihat pria yang sedikit tua tapi nampak masih bugar dan berseru. "Ayah! Aku baik baik saja!"
"Tuan kota!" Ucap serempak kelima orang berpakaian hitam dengan hormat.
Pria tua itu adalah tuan Kota Luyung. Ia mengangguk sebagai jawaban, Lalu mendekati putrinya. "Syukurlah jika kamu tidak ada apa apa, Ayah tadi menerima kabar jika ada orang jahat yang ingin menculikmu!" Katanya sambil melihat keadaan Naila yang baik baik saja dan menghela napas lega.
Naila menjawab. "Lala tidak apa apa ayah, Tadi ada seorang pemuda hebat yang mengalahkan mereka bertiga!"
"Pemuda?" Ulang tuan kota dengan dahi mengernyit, Lalu berkata. "Dimana pemuda itu? Aku ingin berterima kasih dengannya!" Imbuhnya.
"Dia sudah pergi ayah- Belum mengatakannya, Tapi di sela oleh ayahnya. "Sudah pergi?"
__ADS_1
Naila mengangguk dan berkata lagi. "Tapi ayah tenang saja, Dia saat ini menginap di penginapan Samora kita!"
Tuan kota menjawab antusias. "Begitukah? Baguslah kalau begitu dan nanti aku akan berbicara dengannya!" Berhenti sejenak sambil melihat ketiga bersaudara yang mati dalam keadaan tubuh terikat dan mengerutkan keningnya.
'Niat pedang??' Batinnya terkejut, Ketika merasakan adanya kandungan energi samar samar yang masih tersisa di tubuh mereka lalu berkata memberi perintah. "Bawa mereka ke markas! Kita akan memeriksanya!"
Kelima orang berpakaian hitam mengangguk dan membawa tubuh ketiganya pergi.
.................
Dunia cermin
Saat ini, Dirga memasuki sebuah kamar tanpa pintu dan melihat Laniya, Tia dan Cindy yang sedang bercengkrama.
Merasa ada kehadiran seseorang. Mereka bertiga mengalihkan pandangannya dan melihat Dirga memasuki kamarnya.
Cindy tertegun, Begitu melihat ketampanan pemuda asing yang ia tidak kenal. 'Tampan sekali' Batinnya dengan rona merah di pipinya.
Cindy tersadar dan melihat pil yang ada di telapak tangan Dirga lalu berseru kaget. "B-bukankah i-ini pil pemulihan bintang tujuh??" Dirga mengangguk ringan membuatnya tertegun. "T-tapi, Ini sangat mahal, A-aku tidak bisa membayarnya!" Tolak Cindy meskipun ia menginginkannya.
Laniya tersenyum dan berkata ringan. "Tidak masalah, Dia memiliki banyak pil seperti itu!"
"Banyak?" Ulang Cindy tertegun dan melihat Dirga mengangguk lagi. Dengan malu malu, Ia mengambilnya dan bersila lalu menelannya.
Dirga yang melihatnya tersenyum tipis. Mengalihkan pandangannya ke Laniya dan mengeluarkan sebutir pil berwarna emas lalu menyerahkannya.
Laniya bingung dengan pil ini. "Pil apa ini?"
"Itu pil peledak energi tingkat tinggi, Kamu bisa menerobos tingkat delapan Pertapa saat ini!" Jawab Dirga ringan.
__ADS_1
Laniya yang mendengarnya terkejut, Menatap Dirga sambil tersenyum dan berkata lembut. "Terima kasih."
Dirga mengangguk dan mengambil tubuh kecil Tia dengan lembut, Sebelum keluar ia mengusap rambut Laniya dengan lembut membuat wajah si empu memerah malu tapi di hatinya gembira.
***
Saat ini, Di dalam ruangan yang agak remang. Seorang lelaki tua tapi penuh energik sedang bersila di sertai aura iblis yang kental di sekitarnya.
Saat ini, Pintu ruangan terbuka dan pria dewasa masuk sambil bertekuk lutut di depannya dan berkata dengan hormat. "Salam tuan Agasta!"
Orang yang di panggil tuan Agasta membuka matanya, Lalu berkata dengan muram di sertai aura penindasan. "Ada apa Chu Lung?"
Pria yang di panggil Chu Lung tubuhnya bergetar dan menjawab dengan gugup. "Tu-tuan Agasta, Ketiga bersaudara itu telah gagal menyelesaikan misinya-
"Oh tidak masalah, Dimana ketiga saudara itu?" Sela tuan Agasta dengan ringan.
Chu Lung menelan ludahnya. Dengan ragu ragu ia menjawab. "Me-mereka sudah mati tuan"
"Apa?? Bagaimana mereka bisa mati begitu saja? Bukankah mereka bertiga sudah berada di ranah Alam Langit?" Ucap Agasta kaget dengan wajah marah sambil menatap Chu Lung penuh kebencian. "Katakan!! Siapa yang membunuh mereka bertiga?"
Punggung Chu Lung berkeringat dingin melihat kemarahan tuannya. "Be-begini tuan...
Chu Lung menceritakan kejadian aslinya dari batu rekaman bawahannya. Agasta mengerutkan keningnya.
"Pemuda berambut perak? Siapa dia? Dan bagaimana dia bisa membunuh mereka bertiga? Apa pemuda itu memiliki ranah di atasnya?" Gumamnya sambil mengingat ingat siapa pemuda yang dimaksud itu.
Chu Lung hanya diam saja sambil menahan nafasnya. Takut sang tuan kembali memarahinya.
Menoleh ke Chu Lung, Ia berkata dengan suara dalam. "Kamu selidiki siapa pemuda itu secara diam diam. Jika kamu melihatnya, Serang saja dia, Tapi jangan sampai ada orang yang tahu!"
__ADS_1
"Dimengerti tuan Agasta!" Jawab Chu Lung dengan hormat lalu pergi dari ruangan.
'Siapa pemuda itu?...Sepertinya aku harus menyampaikan masalah ini ke kakak Thu Whek' Batinnya dan langsung menghilang dari tempatnya.