
Dirga melihat kondisi Cindy sejenak dan merasa tidak mengalami luka serius. Hanya pingsan kehabisan energi dan sedikit sayatan di bagian wajahnya.
Memindahkan tubuh Cindy ke dunia cermin nya dan meminta Laniya untuk mengurusnya.
Dia tahu kemungkinan gadis ini akan mengalami masalah dan itu benar benar terjadi.
Alasan mengapa ia mengatakan kepada Cindy waktu lalu. Waktu itu ia tak sengaja mendengar perkataan pria dewasa yang bernama Dahui itu telah merencanakan sesuatu.
Setelah mengurus sisanya, Dirga mengirim informasi kepada Arya dan lainnya lalu pergi.
•••
Perbatasan Ibu Kota
Arya, Kai, Leluhur Suwi Lapo, dan seratus anggota Sekte Pedang Langit Abadi saat ini berada di hutan belantara yang di penuhi pohon pohon yang menjulang tinggi.
Beberapa hari lalu mereka melakukan perjalan ke arah Ibu Kota sesuai perintah Dirga.
Meskipun masih ada beberapa Kota yang belum di taklukan oleh Dirga, Ia bisa mudah melakukannya.
"Saudara Arya, Dua puluh kilo dari sini kita sudah mencapai Ibu Kota. Apakah kita lanjutkan perjalanannya?" Kai bertanya karena hari sudah menjelang gelap.
Arya termenung sejenak dan tiba - tiba cincin nya bergetar. Ia memeriksanya sejenak dan berkata kepada Kai.
"Lanjutkan saja! Tapi kita di suruh Tuan muda agar melalui jalan pintas arah timur agar tidak mencolok dan kita harus memakai baju biasa agar tidak ada yang mencurigai."
Kai mengangguk dan menyuruh semua anggotanya untuk berganti pakaian.
Arya melirik sejenak leluhur Suwi. Dari waktu ke waktu si tua itu hanya menenggak anggur dari tadi. Hingga kini wajahnya nampak kemerahan mabuk.
"Leluhur, Apa perutmu tidak terasa panas? Aku lihat dari tadi leluhur hanya minum anggur saja." Arya bertanya dengan alis terangkat.
Leluhur Suwi melirik tatapan aneh Arya dan kembali menenggak anggur itu dan bersendawa keras membuat tubuh Arya merinding.
'Hihh...Si tua ini mengerikan jika terus mabuk seperti ini!' Batinnya.
"Ini anggur yang berkualitas! Mana bisa membuat perutku menjadi panas....Haikk!...Bahkan perutku saat ini sangat hangat dan nyaman!" Leluhur Suwi berkata diiringi suara sendawa di sela perkataannya.
"Terserah leluhur! Aku hanya tidak ingin leluhur kenapa napa hanya karena minum anggur terlalu banyak!" Arya tak berdaya berkata kepada si tua ini.
"Pak tua! Aku rasa tidak lama lagi kamu akan muntah!" Kai menimpalinya ketika kembali ke keduanya.
"Mana ada! Aku sudah ratusan tahun minum anggur enak ini! Tidak pernah sekalipun aku muntah saat aku minum - minum...Bahkan pertama kali aku bisa menghabiskan dua puluh kendi anggur!" Leluhur Suwi menyanggahnya dengan nada sombongnya.
Arya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan leluhur Suwi ini. Namun berbeda dengan Kai, Terlihat sudut mulutnya melengkung sedikit menatap wajah leluhur tua itu.
"Saudara! Ayo kita lanjutkan perjalannya! Pagi besok kita harus mencapai Ibu Kota dan istirahat di sana sejenak!" Kai mengajak Arya dengan merangkul pundak Arya.
Arya mengangguk. Ketika baru beberapa langkah, Ia mengernyitkan dahinya ketika mendengar suara tak asing di belakangnya.
Menoleh sejenak dan tercengang begitu melihatnya.
Leluhur Suwi yang tadi menyombongkan diri kini nampak muntah-muntah terus menerus.
"I-ini? Apa yang terjadi? Bukankah si tua itu biasanya sangat hebat minum minum tanpa muntah?" Arya bertanya - tanya menatap terkejut lelaki tua itu.
__ADS_1
"Hoeekk...! Apa yang terjadi denganku? Baga- Hooeekkk...!!" Leluhur Suwi berkata sambil terus memuntahkan isi perutnya.
Ia merasakan perutnya panas dan terasa ada yang ingin keluar saat itu juga.
Tuuttt~ 8×
Brruuoottt~ 10×
Suara kentut terus menerus keluar dari pantat leluhur Suwi membuat mereka semua tercengang.
"Ahhh...Bau sekali kentutnya...!"
"Huwek! Apa tetua sudah salah makan...?"
"Hooeekk...!"
"...."
Karena para anggota Arya sedang berkelompok, Mereka semuanya bisa menghirup udara tak asing nan mengerikan ini.
Para anggota Arya seketika menutup hidungnya dan mereka mengutuk bau kentut yang tak sedap bagi mereka.
Arya tambah tercengang melihat kejadian tak terduga ini. Ia menoleh ke arah Kai yang kini malah sedang tertawa lepas.
Dahinya mengernyit dan ia tak bisa untuk tidak bertanya sambil menutupi hidungnya. "Apa yang terjadi? Kenapa leluhur tiba - tiba seperti ini??"
Masih dengan tawanya, Kai berkata. "Haha! Leluhur tua itu tidak tahu jika anggurnya sudah aku masuki serbuk buatanku!"
"Aku juga tak tahu jika efeknya benar - benar secepat ini!" Ucap Kai.
"Haha...Saudara! Kamu benar - benar telah membalas dendamku waktu itu! Kini pak tua itu benar benar sial! Hahaha....." Arya tertawa lepas sambil menepuk pundak Kai berterima kasih.
Dia masih ingat waktu sedang mabuk itu, Ketika dirinya dalam pengaruh anggur itu, Si tua leluhur itu malah terus menerus menuangkan anggur kepadanya.
Kini ia merasa senang melihat kesialan lelaki tua itu!
Wajah leluhur Suwi saat ini benar benar merah padam. Antara malu dan bingung.
Malu karena saat ini ia di lihat oleh anggota Sekte nya dalam kondisi memalukan baginya.
Bingung karena ia tak biasanya mengalami hal aneh seperti ini.
Ketika melihat tawa lepas Arya dan Kai, Ia menduga jika semua ini karena ulah keduanya.
"Ka-kalian?! Apa yang kalian lakukan padaku? Ce-cepat berikan penawar kepadaku! Pantatku sudah terasa panas seperti di rebus air panas!!" Leluhur Suwi meraung ke arah Kai dan Arya dengan kesal.
Namun keduanya mengabaikannya, Kai membalikkan badan Arya dan berkata pada para murid. "Ayo kita pergi dari sini! Leluhur tua itu sedang sial dan akan memuntahkan isi pantatnya! Daripada kalian menghirup aroma tak sedap itu...Lebih baik kita menjauhinya!"
"Te-tetua Kai! Apa tidak apa - apa kita meninggalkannya?" Salah satu murid bertanya kepada Kai dan di angguki oleh yang lain.
Kai melirik santai murid itu dan mengalihkan pandangannya ke arah leluhur Suwi yang kini sudah jongkok sambil melorotkan pakaiannya.
"Dia memiliki kultivasi tinggi! Tidak mungkin dia tersesat di hutan ini...!" Kai menanggapinya dengan senyumnya.
Sebelum murid itu berkata lagi, Arya dengan cepat menyelanya. "Kita pergi dari sini! Lihatlah dia sudah siap untuk mengeluarkan isinya...!"
__ADS_1
Para murid melihat kebelakang dan memang benar leluhur Suwi itu nampak berjongkok dan mereka juga tahu apa yang di lakukan olehnya.
"Ayo pergi!"
"Baik!"
Para murid pun mengikuti langkah Arya dan Kai menjauhi leluhur Suwi. Siapa juga yang mau menunggu seseorang sedang panggilan alam.
"Saudara! Racunmu tadi sangat hebat! Jika seperti itu, Bolehkah aku minta sedikit??" Setelah menjauh, Arya berkata kepada Kai.
Kai tersentak kaget. Ia tak mau memberikan racun ini karena racun itu adalah serbuk yang ia secara tak sengaja menemukannya.
Dengan gelengan kepala dan wajahnya di buat serius, Kai berkata. "I-itu tidak mungkin! Racun tadi saja tidak sengaja aku menemukannya! Selain itu, Serbuk itu sudah habis!"
Arya menghela napas ketika mendengarnya dan menggumam. "Hahh! Jika racun itu masih ada, Mungkin kita bisa menggunakannya untuk mempermainkan musuh!"
Kai melirik wajah Arya sejenak dan senyum pun muncul ketika mendengar perkataan terakhir Arya.
•••
Pada saat bersamaan, Dirga saat ini sedang berdiri di tebing yang curam nan tinggi.
Tatapannya tajam seolah bisa menusuk tulang siapapun yang melihatnya.
Di kejauhan, Ia melihat siluet kereta kuda yang nampak sedang terbang di langit malam.
Ia tahu jika di dalamnya ada seseorang yang ia kenal dan sangat di bencinya!
Dia adalah Pangeran Qin Rama!
"Jika bukan karena rencana, Mungkin kamu sudah hilang di dunia saat ini!" Dirga bergumam dengan sorot mata dingin.
Ia tak bertindak pebih dulu karena ia melihat kereta kuda itu sepertinya sedang terburu - buru.
Ia hanya bisa mengintainya dari kejauhan!
Di dalam kereta kuda, Seorang pemuda tampan sedang duduk di dalamnya. Dia Qin Rama! Pangeran kedua setelah Qin Diega!
Namun kini dia sudah naik statusnya menjadi Pangeran Pertama!
Di depannya ada lelaki tua yang memakai jubah Kerajaan. Dia bernama Penasehat Fe'a, Penasihat Pangeran Qin Rama!
"Pangeran! Kerajaan kita sedang di datangi oleh tamu dari Jenderal kekaisaran Zhan!" Lelaki tua itu buka suara dengan nada hormat.
"Apa?! Dari benua tengah? Apa tujuan mereka kemari?...Sialan! Jika begini rencanaku menjadi tertunda!" Pangeran Qin Rama berteriak memekik membuat Penasehat Fe'a terkejut.
Untuk menenangkan hatinya, Penasehat Fe'a berujar. "Pangeran tenang saja! Untuk saat ini, Para utusan itu belum memasuki wilayah Kerajaan...Di perkirakan dua hari kemudian mereka akan sampai! Untuk tujuan mereka, Saya tidak memiliki hak untuk mengetahuinya...Dengan begini, Pangeran bisa menata semuanya agar tidak ada yang mencurigakan!"
"Huft...Untunglah! Jika mereka saat ini sudah sampai ke wilayah Kerajaan, Mungkin kita dengan mudah di ketahui dan aku akan di bunuh oleh Ayah!" Qin Rama mengelus dadanya dan kembali tenang usai berkata.
Mereka pun melanjutkan perjalannya tanpa ada yang menyadarinya sama sekali, Jika ada sepasang mata yang mengintainya dari kejauhan.
"Hm? Orang - orang dari Benua Tengah, ya? Apa mereka sedang mencari sesuatu di daratan ini?"
Dirga bergumam dengan wajah terkejut. Namun segera ekspresinya kembali tenang seperti semula dan bergumam.
__ADS_1
"Hmph!! Tidak peduli di pihak siapapun itu, Jika mereka mencampuri urusanku...Maka bunuh!!"