
Dirga keluar dari cermin kultivasi. Lalu melangkahkan kakinya kedepan begitu ia merasakan ada dua aura yang berada di dalam ruangan rapat.
Membuka pintu rapat, Ia melangkahkan kakinya mendekati kedua orang itu.
"Salam Master!" Ucap keduanya menyapa dengan hormat sambil berdiri.
Dirga melambaikan tangannya. "Tak perlu seformal itu!" Setelah duduk, Dirga menyadari raut wajah Tetua Shane. "Ada apa tetua? Apa ada masalah mengenai sekte?" Tanyanya langsung inti.
Tetua Shane mengangguk dan duduk, Lalu berkata. "Ada sedikit masalah tentang Kota Luyung! Beberapa hari lalu saya mendengar informasi tentang beberapa orang yang tiba tiba menghilang dan itupun kesemuanya gadis gadis!"
Tetua Shane menceritakan apa yang ia tahu mengenai informasi itu, Setelah mendengar ceritanya, Dahi Dirga berkerut. "Ada tehnik seperti itu? Apa itu semacam tumbal?" Ucapnya kepada Tetua Shane.
Fanni yang ada di sebelah Tetua Shane menyela. "Ya! Seperti itu! Ta- "
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Pintu ruangan tiba tiba di buka oleh seseorang membuat ketiganya menoleh serempak.
Orang itu adalah seorang wanita yang cukup cantik segera membungkuk hormat. "Master! Tetua! Maafkan atas kelancangan saya! Tapi saya harus mengatakan ini!" Katanya dengan raut wajah serius.
Ketiganya saling berpandangan, Lalu Tetua Shane berkata melambaikan tangannya. "Bicaralah!"
Wanita itu segera berkata dengan ekspresi cemas. "Master! Tadi saya sedang berlatih dengan beberapa saudari! Ketika salah satu saudari kami pamit pergi sebentar, Kami merasa ada yang aneh! Ketika kami mencari keberadaan Riska saudari kami, Kami tidak menemukan jejaknya seolah menghilang begitu saja!"
Berhenti sejenak, Ia lantas melanjutkan. "Setelah lama mencari, Kami menemukan Riska berada di tangan seorang pria berjubah Sekte Langit Surgawi! Ketika kami ingin bertanya, Mereka langsung melesat pergi hingga kamipun kehilangan jejaknya!"
Setelah mengatakan itu, Wanita bernama Saska menatap wajah rupawan Masternya dengan tatapan memohon serta pipi memerah.
Dirga, Tetua Shane dan Fanni mengerutkan keningnya dalam dalam, Mereka tidak menyangka jika ada penyusup yang masuk kedalam sekte tanpa sepengetahuannya. Sudah jelas, Jika mereka menggunakan tehnik menyamarkan aura agar tak ada yang bisa mendeteksi.
Sebelum Dirga menjawab, Matanya melirik tajam ke arah tertentu tanpa ada yang menyadari dan kembali tenang dengan pikirannya.
Menatap Saska sejenak dan bertanya. "Apa orang itu memiliki rambut keriting dan bertubuh kurus?"
Mendengar ini, Saska tertegun dan tanpa sadar berkata "Bagaimana Master tahu?"
Dirga tak mengindahkan pertanyaan Saska. Ia balik bertanya. "Apa kalian mengetahui letak Sekte Langit Surgawi?"
Tetua Shane dan kedua wanita tertegun tidak mengetahui maksud perkataan Dirga. Meskipun begitu, Tetua Shane menjawabnya. "Master! Letak Sekte itu berada di selatan Kota Mutian! Atau lebih tepatnya arah timur dari sini!...Apa...Apa maksud Master menanyakan tempat sekte itu?"
Begitupun juga dengan Fanni dan Saska. Mereka tak mengetahui apa yang direncanakan Master mudanya ini.
Dirga menjawab. "Aku tahu jika ini sedikit tak masuk akal bagi kalian! Tapi kalian percayalah padaku! Tidak akan ada korban satupun dari kita! Aku ingin menghanguskan sekte itu!"
Mereka bertiga tercengang begitu mendengar perkataan Dirga. Bagi mereka, Itu sangatlah mustahil! Karena sekte itu Sekte kelas atas yang statusnya sangat di gadang gadang oleh masyarakat.
Meskipun begitu, Mereka tetap mendengarkan perintahnya. Dirga segera mengumpulkan bawahannya.
Arya, Retania, Tetua Shane, Fanni, Kai, Zei, Tei, dan Saska mengikuti rapat ini. Ketika semuanya sudah berkumpul, Dirga berkata. "Ketika mengetahui Sekte Langit Surgawi banyak melakukan pemerasan kepada masyarakat rendah, Aku ingin menghancurkan Sekte itu dalam waktu singkat ini!"
__ADS_1
Ketika mereka mendengar ini. Beberapa wajah orang berubah, Bahkan ada satu yang wajahnya terlihat pucat ketakutan.
Dirga yang menatap perubahan raut mukanya. Ia bertanya. "Ada apa denganmu Kai? Apa ada sesuatu?"
Kai berdiri dan menjawab gelisah. "Master! Saya tidak yakin bisa menghancurkan Sekte itu! Kami pernah mendengar jika kekuatan Master sektenya berada di Ranah Pertapa tingkat ke enam! Aku takut jika para murid tidak bisa mengalahkannya walaupun bekerja sama!"
Semua yang mendengar menganggukkan kepalanya. Mereka juga berpikir demikian, Meskipun murid murid Sekte dari Langit Surgawi melakukan pemerasan pada beberapa masyarakat,Tindakan sembrono ini juga sangatlah sia sia menurut mereka.
Dirga tak menjawab, Wajahnya berubah dan berkata kepada mereka dengan tegas. "Baiklah! Jika kalian tidak mau! Aku sendiri yang akan menghancurkan Sekte itu!"
Wajah mereka berubah pucat. Bagaimana bisa mereka memiliki Master sekte yang memiliki sifat sesembrono ini.
Fanni dengan wajah muram menggebrak meja dengan keras. "Omong kosong! Kamu! Ketua Sekte macam apa kamu ini! Kamu tidak pantas! Bagaimana bisa ketua sekte memilih tindakan yang berbahaya ini! A-Aku akan keluar dari Sekte ini!"
Teriaknya sambil menunjuk Dirga dengan kekesalannya.
"Fanni!" Tegur Tetua Shane sambil memegang tangan Fanni agar bisa tenang. Namun Fanni menepisnya dan berkata marah. "Ayah! Aku tak peduli dengannya! Dia tidak pantas di sebut Master! Dia hanya pembohong yang hanya menguntungkan dirinya sendiri..! Lihat! Sekarang dia membual ingin menghancurkan sekte itu! Apa kalian sangat mempercayainya?"
Semua orang terdiam dengan menahan nafas. Mereka memandang Dirga agar tidak melakukan hal yang begitu menakutkan bagi mereka.
Dirga masih tetap tenang. Dia memandang Fanni dengan menyunggingkan senyum. "Apa kamu tidak percaya jika aku bisa meratakan Sekte itu?" Katanya sambil memandang ke arah tertentu.
Fanni sangat marah. Dia ingin segera mencabik cabik tubuh pemuda itu hingga menyisakan dagingnya. Menahan napasnya, Ia berkata kesal. "Aku tak percaya! Kamu hanya membual! Apa kamu tahu jika Sekte itu sangat mendominasi akhir akhir ini? Jika kamu bisa membumi hanguskan sekte itu, Aku akan menguras danau depan dengan mulutku sendiri!"
Setelah berkata itu, Ia memandang Dirga dengan sorot mata dingin namun tajam. Dirga juga tak mengindakan perkataan Fanni.
Berdiri dari tempat duduknya, Ia berkata pelan namun penuh tekanan. "Aku harap kamu menepati janjimu! Aku tidak suka dengan orang yang ber omong kosong..!"
Arya dan Retania menatap Fanni dengan tatapan tajam. Ia tak menyangka jika wanita tak tahu diri ini berani bersikap seenaknya terhadap Tuannya.
Tetua Shane yang tadi hanya diam memikirkan kata Dirga sebelumnya. Lalu ia berkata kepada semuanya. "Kita harus menyusulnya! Jangan sampai Master terluka oleh kecerobohannya! Siapkan semua murid dan kita akan pergi saat ini juga!"
Mereka ragu ragu. Tapi kemudian menganggukkan kepalanya dengan ekspresi rumit yang sulit di jelaskan.
Ketika semua sudah bubar, Tertinggal Tetua Shane, Fanni dan Arya. Arya menatap Fanni dengan kesal dan mendengus dingin. "Huh! Kamu membuat Master kesal! Aku berharap kamu menyesalinya!" Dengusnya dan berlalu pergi bersama istrinya.
"Menyesal? Aku malah berharap jika pemuda tak tahu diri itu mati sebelum pertarungannya!" Balas Fanni geram menatap Punggung Arya yang perlahan menghilang.
Tetua Shane menghela napas. "Sudahlah! Kenapa kamu begitu marah dengannya? Meskipun tindakannya berujung sia sia, Tetap saja dia Master Sekte kita!" Ujarnya untuk meredam emosi Fanni.
Fanni tak menjawab, Ia hanya mendengus ke ayahnya. Baginya, Menghancurkan Sekte Langit Surgawi adalah tindakan yang sangat mustahil baginya.
Apalagi ia mengetahui jika Master Sekte itu baru baru ini sudah menerobos ke Pertapa tingkat ketujuh. Bahkan ayahnya sendiri bukan tandingannya sama sekali, Lalu apa yang di harapkan dengan Dirga.
'Huh! Aku harapa kamu mati! Bajingan..!' Gumamnya di hati dengan perasaan kesal.
**
__ADS_1
Di suatu ruangan yang cukup besar. Nampak tujuh lelaki paruh bayaduduk saling berhadapan satu sama lain.
Di sudut ruangan, Terlihat beberapa gadis yang keadaannya telah terikat dengan tali energi yang terlihat gelap.
Seorang lelaki dengan janggut menjuntai ke bawah, Ia berkata. "Bagaimana? Apa kalian tidak mengalami masalah sebelumnya? Atau yang lainnya?"
Lelaki di depannya menjawab. "Tetua Roto! Semua gadis gadis itu sudah kami persiapkan! Untuk masalah, Tidak ada masalah sama sekali saat kami melakukannya!"
Orang yang di panggil Roto menganggukkan kepalanya. Tiba tiba seorang lelaki dengan kumis melengkung ke atas berkata dengan ekspresi aneh. "Tetua Roto! Sebelumnya kami sempat menculik salah satu gadis dari tempat yang sedikit aneh menurutku!"
Tetua Roto dan semuanya melihat ke arah yang berbicara itu. Pria yang sebelumnya menjawab pertanyaan Tetua Roto bertanya. "Tempat aneh? Apa maksudmu Tetua Juyo?"
Orang yang di panggil Juyo menjelaskan. "Kami menculik gadis itu di utara Kota Luyung atau lebih tepatnya di Gunung Kale! Saat itu kami merasakan ada banyak aura yang berkumpul dan semuanya hanya Pemurnian Qi menengah-tinggi."
"Tapi, Kami merasakan ada aura Raja Langit tingkat keempat dan bahkan ada Pertapa tingkat satu!...Itu yang membuatku sedikit aneh dengan tempat itu! Selain itu, Ada beberapa gedung berlantai yang berada di Gunung Kale! Bukankah tempat itu adalah tempat mengerikan? Bagaimana ada gedung gedung di sana?"
Semua yang mendengarnya mengerutkan kening penasaran. Tetua Roto bertanya ke Juyo. "Apa kamu melihat seseorang yang bagimu mencurigakan saat itu?"
Juyo berpikir sejenak dan berkata dengan ekspresi aneh. "Tidak! Tapi aku merasakan tempat itu kini telah berubah! Aku melihat banyak orang yang berlatih beladiri maupun latih tanding! Tapi aku tidak terlalu memperdulikan itu!"
Tetua Roto memincingkan matanya ke arah Juyo untuk mengetahui apakah Juyo berbohong atau tidak. Melihat ekspresi biasa biasa aja, Tetua Toto berkata. "Bukankah kamu menculik gadis di sana? Coba kamu letakkan di sini dan periksa! Aku takut jika ada seseorang yang mematai kita!"
Meskipun bingung, Juyo mengambil tubuh gadis yang tak sadarkan diri itu dalam gendongannya dan meletakkannya ke hadapan semua orang.
Meskipun wajahnya cukup cantik, Nampak sekali jika wajah gadis itu pucat. Tetua Roto melihat gadis yang tak sadarkan diri itu cukup lama.
Setelahnya ia menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang aneh dengan tubuh gadis ini! Bahkan keadannya baik baik saja!" Membalikkan tubuh gadis itu, Nampak ada tulisan di punggung pakain birunya.
"Sekte Pedang Langit Abadi" Gumam semuanya saat membaca tulisan itu.
Mereka mengerutkan keningnya, Salah satu yang bernama Hegu bertanya penasaran. "Seket mana ini? Kenapa aku belum pernah mendengar namanya sama sekali? Apa ada Sekte tersembunyi yang baru menampakkan diri?"
Tetua Roto dan Juyo menatap Hegu dengan ragu ragu. Tetua Roto mengelak. "Tidak mungkin...! Jika ada Sekte tersembunyi yang baru menampakkan diri, Kekuatannya pasti sangat tinggi!...Lihatlah kultivasi gadis ini yang hanya Pemurnian Qi tingkat kelima! Mana ada Sekte tersembunyi yang baru menampakkan diri dengan kultivasi selemah ini?"
Mereka yang mendengarnya pun mengangguk, Tidak mungkinkan jika ada sekte tersembunyi yang menunjukkan diri dengan kekuatan selemah ini.
Juyo mengangguk dan tertawa ringan. "Hahaha! Pasti Ketua Sektenya sangat bodoh hingga mempunyai murid yang lemah juga! Aku tidak tahu apa isi pikiran masternya itu! Hahaha! Benar benar bodoh...!"
Mereka tertawa menghina master sekte yang menurutnya sangat lemah dan tidak memiliki pikiran. Tapi tidak bagi Tetua Roto, Entah mengapa firasatnya merasakan buruk.
Menggelengkan kepalanya dan bergumam di hati. 'Mungkin hanya perasaanku saja!'
Saat ini, Terdengar suara serak dari dalam ruangan sudut yang tertutup pintu besi yang terlihat tebal.
"Juyo! Apa para gadis sudah siap? Jika sudah, bawalah kemari! Waktuku sudah tidak banyak!! Cepatlah..!"
Mendengar suara itu, Ekpresi semua orang seketika berubah. Juyo yang namanya di panggil tubuhnya menggigil ketakutan.
__ADS_1
Temannya yang di sebelah menyikutnya dan berbisik. "Apa kamu tidak dengar? Master sekte tadi memanggil namamu! Cepatlah! Jangan membuat Master marah!"
Juyo menghirup napas dalam dalam dan berdiri dari tempat duduknya. Sebelum pintu besi itu terbuka. Terdengar suara ledakan yang sangat keras dari luar ruangan.