
Untuk saat ini, Keadaan Kota Luyung jauh lebih baik dari sebelumnya. Banyak dari kota kota tetangga yang tertarik dengan keadaan Kota Luyung dan singgah di sana dan banyak pula pedagang pedagang makanan yang berpindah lapak.
Mereka sebenarnya mengetahui jika pada saat itu Kota Luyung mengalami kekacauan. Tapi tidak ada yang berani bertindak, Selain monster yang jumlahnya banyak, Mereka juga takut dengan orang yang di balik srmua ini.
Tapi sekarang keadaan Kota Luyung malah sebaliknya. Terlepas dari apapun itu, Semua orang mengetahui jika di balik kerombakan kekacauan Kota Luyung adalah Sekte Pedang Langit Abadi yang baru saja di bangun.
Tuan Kota saat ini telah di ganti dengan Sidik Kenta dari Keluarga Kenta. Awalnya mereka menolak karena keberatan, Bagaimanapun, Status mereka hanyalah keluarga kelas bawah yang tak layak di perhatikan.
Tapi Dirga tak peduli. Dia tetap menunjuk Sidik Kenta menjadi Tuan Kota yang baru beserta keluarganya dan akhirnya mereka menerimanya dengan sedikit keberatan namun menginginkan.
Begitu juga dengan para pengikut Dirga. Tetua Shane di tunjuk sebagai Tetua Agung, Arya Tetua pertama, Retania Tetua kedua, Fanni tetua ketiga.
Kai, Tei, dan Zei pun tidak luput. Mereka bertiga di tunjuk sebagai Tetua Balai Penegak Hukum yang bertugas menghukum siapapun itu yang melanggar aturan.
Dan tentu saja Dirga sebagai Master Sekte yang mereka sebut sebagai Master Muda. Meskipun usianya muda, Tak satupun dari mereka yang meragukan akan kemampuannya. Mereka malah berharap jika Dirga bisa membawa nama ini ke atas.
"Booms..!"
"Booms..!"
"Booms..!"
"Hahaha, Mau bertarung denganku? Ayo kesini! Jangan begitu lemah!" Ucap seorang pria berambut perak yang sedang memegangi pedang dengan tatapan mengejek.
Di depannya tak jauh, Seorang wanita berparas cantik berkulit halus sedang berlutut sambil memegang pedangnya untuk menumpu tubuhnya.
__ADS_1
"Hah..Hah..Hah...Ka-Kamu Bajingan! Tidak hanya mengambil kesucianku! T-Tapi juga menghinaku..!" Teriak wanita itu dengan muka merah padam menatap pria depannya dengan raut wajah kesal.
Sedangkan yang di tatap hanya diam, Walaupun di hatinya mengutuk wanita ini. 'Bukankah dia sendiri yang menyerangku duluan? Mengapa harus aku yang di salahkan?' 'Hah! Wanita memang aneh!' Batinnya terus menggerutu di benak.
Melirik mata wanita itu dengan senyum puas, Ia berkata lagi. "Bukankah kamu sendiri yang menyerangku tiba tiba? Mengapa harus menghinamu? Lihat di belakangmu? Itu ulahmu yang membuat beberapa rumahku hancur!"
Wanita itu menoleh dan melihat beberapa rumah rumah serta gedung bertingkat nampak roboh. Wajahnya kembali memerah. "Ka-Kamu..!- Ucapannya terhenti di sela oleh pria tampan. "Dan mengapa aku menghinamu, Tentu saja kamu begitu lemah!...Laniya! Bahkan melukai seorang Pertapa tingkat lima saja tak mampu..!"
Mendengar ejekannya, Wajah Laniya kesal sekaligus marah. "B-Bajingan! Aku akan membunuhmu..!" Teriaknya sambil melesat dengan kecepatannya.
"Wushh!"
"Booms..!"
"Wushh!"
Suara ledakan menggema di mana mana akibat serangan Laniya. Tapi sehebat apapun itu, Dirga tak terluka sedikitpun, Bahkan pakainnya masih sama.
Melihat Laniya melesat kembali kearahnya, Ia menggelengkan kepalanya. "Gadis keras kepala!" Gumamnya dan tubuhnya menghilang lagi ketika Laniya hampir dekat ke arahnya.
"Hilang lagi? Bagaimana dia bisa hilang begitu saja? Bajingan! Aku tidak akan melepaskanmu! Arrgh..!" Laniya berteriak frustasi karena dari tadi tidak bisa menangkapnya sama sekali.
"Sudahlah! Jangan buang buang energimu hanya untuk menangkapku! Sampai kapanpun kamu tidak bisa!" Suara acuh tak acuh terdengar berbisik di telinganya membuat tubuhnya merinding.
"K-Ka- Belum selesai perkataannya, Tubuhnya sudah di dekap kuat dengan tangan kekar serta lembut menuju kebawah dengan tenang.
__ADS_1
Wajah Laniya memerah dan tubuhnya bergetar. Ini pertama kalinya tubuhnya di peluk seorang pria. Meskipun kejadian waktu itu sudah terjadi, Ia hanya memiliki satu pikiran yaitu melampiaskannya.
Ingin berontak, Tapi ia sudah kehabisan energinya membuatnya hanya bisa pasrah.
Memandangi wajah pria tampan berambut perak yang sangat di dekatnya, Membuat ingatannya kembali berlalu dan seketika pipinya merah merona.
Melirik Laniya yang menatapnya lama, Sudut mulut Dirga mengkung ke atas dan berkata. "Pulihkan energimu! Kamu begitu bodoh karena energimu sia sia hanya untuk melawanku!"
Mendengarnya, Rahang Laniya terkatup keras dan mencubit pinggang Dirga dengan keras. "T-Tunggu saja! Aku..Aku tidak akan mengampunimu!"
Dirga meringis memegangi pingganya. "Aku tak peduli!" Ucapnya acuh dan menjauhi Laniya yang cemberut kesal.
'Bajingan! Dasar cabul! Aku akan membunuhmu!' Gerutunya di hati dengan mengepalkan tangannya.
Seakan mengerti yang sedang dipikirkan Laniya. Dirga menghentikan langkah dan berkata acuh tanpa menoleh. "Jika aku mati, Siapa yang ingin menjadi temanmu lagi?"
Laniya terdiam begitu mendengar perkataan Dirga. Memang selama ini yang memahami sifatnya hanya Dirga dan Gurunya.
Jika ia membunuh pria yang selama ini menunjukkan dunia luar, Dia tidak tahu takdir apa yang ada di depannya. "A-Ak-Aku... Ia tak mampu melanjutkan perkataannya.
Dirga hanya tersenyum tipis melihat tidak keberdayaan Laniya. Lalu ia berkata dengan bibir melengkung. "Sudahlah!...Dan terimakasih hadiah untukku waktu itu!...Kamu tahu? Jika itu yang pertama kalinya bagiku..!"
Laniya tak paham mendengar perkataan Dirga. Seketika saja, Wajahnya memerah karena baru mengetahui maksud perkataan Dirga.
Melihat punggung Dirga yang perlahan menjauh, Ia mengutuk keras. "Bajingan! Pria tengik..! Dasar Cabul..! Mesum! Idiot! Gila! K-Kamu gila...!"
__ADS_1