Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 130


__ADS_3

Setelah mencapai jarak hampir satu meter dari tempat Dirga, ia tiba - tiba menghentikan langkahnya.


Raut wajahnya berubah seiring dengan dadanya yang terasa seperti cabik - cabik oleh benda tajam. Menundukkan kepalanya dan tercengang.


"Pe-pedang!? Pedang ini berada di tingkat langit belaka tapi bisa menembus tubuhku??" Pekiknya dengan wajah berubah - ubah tak percaya.


Kakek tua itu benar benar tercengang dengan apa yang dilihatnya.


( Senjata apapun itu memiliki berbagai tingkat dan kualitas. Hitam. Bumi. Langit. Surgawi. Immortal. Dewa dan legendaris. Kualitas:rendah,menengah,tinggi dan sempurna )


Namun tiba tiba ada suara dingin terdengar di sampingnya.


"Iblis tetaplah iblis! Inilah balasanmu sendiri karena sudah berani berkolusi dengan musuh kaum manusia!"


Kepalanya tanpa sadar menoleh kesamping kanan dan wajahnya tiba - tiba berubah.


Tidak tahu kapan pemuda tadi yang berada di depannya tadi kini sudah ada di sampingnya.


Melihat senyum menyeringai dan sorot matanya yang tajam pemuda itu tanpa sadar merasa ngeri.

__ADS_1


"Tu-tuan ma-ma-....." Ucapannya terhenti karena di sela Dirga ringan. "Aku tak butuh permohonan maafmu! Aku hanya menginginkan kematianmu saja!"


Di bawah tatapan putus asa lelaki tua itu. Dirga mengambil cincin penyimpannya yang tersemat di jari kelingking kakek tua itu.


Lalu dengan menambah sedikit tekanan pedang yang menancap itu tanpa rasa belas kasihan.


Tanpa berlama - lama dan juga tanpa membakar mayat tua itu, Dirga menghilang dari tempat itu.


Wushh!


Selang beberapa detik setelah menghilangnya Dirga. Dua cahaya hitam keabuan melesat ke tempat itu.


"Bajingan! Dia adalah tetua sekte kita! Tetua kedua puluh...Bagimana bisa dia terbunuh di tempat ini dan kenapa tidak ada yang mendeteksi keberadaan musuh sama sekali??" Salah satu dari mereka berkata dengan kemarahan membuat urat urat di dahinya menonjol.


"Tetua Hua Bhot! Kita juga tidak mendeteksi adanya pihak lain sebelumnya! Ini benar benar aneh...!" Satu nya lagi menimpalinya dengan raut aneh.


Tetua Hua Bhot mengamati tubuh kakek tua itu sejenak dan mengerutkan keningnya lalu bergumam.


"Aneh, Mengapa aku tidak bisa mendeteksi adanya aliran energi dari pedang ini?? Apa tetua tua bangka ini sedang melakukan bunuh diri??"

__ADS_1


Temannya yang berada di sebelahnya juga mengangguk mengamini lantas berkata bingung.


"Tapi, Apa tujuan dia bunuh diri? Bukankah itu hanya tindakan sia - sia belaka dan membuat anggota kita berkurang?"


Tetua Hua Bhot terdiam dan merenung sebentar.


"Tapi apa yang kita lihat memang seperti ini! Kita berdua sudah mencapai Ranah Setengah Immortal awal, Seharusnya mudah untuk mendeteksi adanya aliran energi dari pedang ini! Namun ini?...." Tetua Hua Bhot berkata menurut pemikirannya.


Temannya di sampingnya mengangguk lagi dan berkata. "Apa yang harus kita lakukan? Sangat tidak mudah untuk membuat alasan tentang kejadian ini kepada Ketua Sekte!"


Tetua Hua Bhot menatap temannya dan berdiam sejenak seolah memikirkan sesuatu.


"Dai Wuye! Bagaimana jika kita angkat tubuh tua ini dan kita buang saja ke tempat terlarang pinggir sana!...Bukankah di arah sana ada sungai mendidih? Dari pada berurusan dengan masalah ini lebih baik kita buang saja!" Tetua Hua Bhot mengusulkan pemikirannya sambil menunjuk depan jauh.


Dai Wuye mengangguk dan matanya berbinar. "Kamu benar..Hua Bhot! Tidak salah lagi aku berteman denganmu! Semoga saja Ketua tidak mengetahui ini!"


Hua Bhot yang di puji tidak membuatnya senang melainkan mendengus. "Huh, Kamu ingin berteman denganku hanya karena aku punya Penginapan Indah agar kamu bisa menikmati semua para pelayanku!"


Dai Wuye yang mendengar temannya seperti menunjukkan marah hanya bisa nyengir kuda dan berkata. "Hei! Ayo cepat! Keburu ada orang yang kemari!"

__ADS_1


"Huh!"


__ADS_2