Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 114


__ADS_3

Selang beberapa menit saling tatap tatapan. Pria dewasa itu membuka mulutnya dan berbicara. "Aku tahu apa yang kamu rasakan, Tapi tidak seharusnya kamu langsung emosi dan melampiaskannya detik itu juga. Ingatlah, Pengkhianatan yang sebenarnya adalah mengabaikan dirimu sendiri."


"Pengkhianatan memang sangat menyakitkan, tapi rasa sakit itu jangan sampai membuatmu melukai diri sendiri. Tidak hanya melukai dirimu sendiri, Tapi kamu hampir melukai pasukanmu. Beruntung kamu memiliki sedikit kesadaran, Jika tidak, Kemungkinan mereka sudah mati akibat ulahmu sendiri!"


Dirga terdiam dengan kata kata pria dewasa itu. Dia ingin mengucapkan sesuatu, Namun mulutnya susah untuk di gerakkan.


Pria dewasa itu tersenyum. Seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Dirga, Ia kembali berkata. "Aku tahu bagaimana rasa kekecewaan, marah, emosi, sepi yang datang pada waktu bersamaan. Bahkan yang membuat seperti ini adalah orang yang kita pikir sayangi namun membohongi."


"Sekarang, Buatlah kepercayaan dirimu sendiri agar tidak terjatuh dalam jurang kegelapan. Ingatlah, Masih banyak orang yang mempercayaimu. Jangan sampai kamu membuatnya kecewa hanya karena kelalaianmu! Buat mereka lebih percaya kepadamu agar kamu tidak berujung seperti ini lagi!"


Lalu, Tubuh pria dewasa itu perlahan memudar. "Baiklah, Kita bisa bertemu di alin waktu namun aku tidak tahu kapan. Ingatlah! Akan selalu ada pelajaran hidup yang bisa diambil dari pengkhianatan!" Ucapnya dan seketika pria dewasa itu menghilang dari pandangan Dirga.


Dirga yang tidak bisa berkata apa apa pun terdiam. Namun kemudian kesadarannya meredup dalam hitungan detik.


••


"Ugh! Sial! Apa yang terjadi? Kepalaku sakit sekali..." Suara lemah terdengar dari mulut seorang pria yang kini nampak bertelanjang tanpa sehelai benang. Tentu saja pria itu adalah Dirga!


"Sayang....Tuan muda?" 3×


Pekik tiga orang dengan wajah kaget dengan panggilan berbeda. Laniya dan Fanni yang melihat Dirga sadar membuatnya senang.

__ADS_1


"Sayang! Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu bisa menjadi seperti ini?"


"Iya? Mengapa disaat kamu melakukan pertarungan selalu saja ada hal yang tak terduga denganmu?"


Kedua wanita cantik itu memeluk tubuh Dirga dari kanan dan kiri, Sedangkan Xenia Xu sedang di belakanginya seolah dia adalah angin lalu.


Di sisi Dirga, Dia bukannya menjawab atas pertanyaan rentetan kedua wanita itu. Ia melenguh secara tiba tiba. "Uhhh...!!"


Laniya dan Fanni yang melihat ekspresi aneh Dirga membuatnya heran. Lantas mereka melepaskan pelukannya dengan enggan.


Dirga berkata dengan suara payau sambil melirik benda keramatnya.. "Ah! Itu? Siapa itu?"


Sontak, Kedua wanita itu tercengang dan tanpa sadar menoleh ke arah lirikan mata Dirga dan seketika kedua mata Laniya dan Fanni pun membulat kaget.


Tangannya yang terbilang lembut nan kecil itu hanya bisa menggenggam setengah benda gagah itu. Tanpa sadar, Dirga berseru kaget. "Si-siapa kamu? Kenapa kamu melakukan itu??"


Xenia Xu yang memang dalam keadaan tidak sadar pun menjadi linglung ketika di tanyai oleh Dirga. Belum sempat bersuara. Laniya menunjuknya dengan aneh. "I-i-itu?"


Xenia Xu yang bingung menatap Laniya sejenak dan tanpa sadar mengalihkan pandangannya ke arah tunjukan jari Laniya.


Sontak saja matanya melebarkan. Dirinya langsung buru buru melepaskannya dan wajahnya bersemu merah sampai ke leher.

__ADS_1


Dia berkata gugup sambil menundukkan kepalanya takut setengah mati. "I-itu?! M-ma-maafkan saya! Ta-tadi saya terkejut melihat Tuan muda tiba tiba tersadar dari pingsannya!"


Buk!


Xenia Xu pun berlutut dengan punggung basah keringat. Dia tak tahu mengapa dirinya bertindak sebodoh nan memalukan ini.


"Xenia Xu?" Gumam Dirga dengan tak percaya ketika mendengar suara tak asing gadis itu.


Dia awalnya tidak tahu jika gadis cantik itu ternyata Xenia Xu. Memang, Dirga sedikit terkejut atau lebih tepatnya terpesona dengannya.


Wajah lusuh nan pakaian compang camping saat itu kini digantikan wajah seorang gadis cantik yang nampak seperti peri kahyangan.


Dia buru buru bangkit dari tidurnya dan membantu Xenia Xu mengangkat tubuhnya. "Apa yang kamu lakukan? Tidak seharusnya kamu berlutut di depanku!" Ucapnya yang tidak sadar jika benda besar nan gagah itu sudah berada di depan Xenia Xu bahkan sedikit terkena lengan lembut gadis itu.


Sedangkan kedua wanita yang lain tak bereaksi. Ini adalah situasi yang tak terduga yang membuat mereka canggung.


Berbeda dengan Xenia Xu. Jantungnya berdebar debar ketika melihat pria tampan nan berotot kekar Dirga itu berjarak dekat dengannya.


Pipinya merona dan wajahnya kembali di tundukkan dan matanya membola kembali. Karena benda besar itu mengacung bebas seolah menantang dirinya.


"I-itu? A-apa tidak sebaiknya anda menutupinya?" Ucap Xenia Xu menunjuk bawah sambil memalingkan mukanya malu.

__ADS_1


Dirga tertegun dan kemudian tersadar. Ia menepuk dahinya sambil menggerutu di benak. 'Sialan! Bagaimana bisa aku telanjang? Bukankah terakhir kali aku masih berpakaian?'


__ADS_2