
"Hehe, Nak! Sangat disayangkan wajah tampanmu itu, Tapi aku akan menggantikan wajah yang lebih baik untukmu." Ucap salah satu pengawal tuan muda Pwa Nhu sambil terkekeh.
Pengawal disebelahnya berkata. "Jangan bertele tele lagi! Sebaiknya kita pukuli wajahnya saja!" Sambil mengerahkan tinjunya yang di selimuti energi ke arah Dirga diikuti pengawal sebelahnya.
Tuan muda Pwa Nhu tertawa terbahak - bahak. "Hahaha, Bocah! Nasibmu sedikit sial karena ketemu aku!"
Dirga tetap acuh tak acuhnya. Melihat tinju keduanya hampir mengenainya. Ia menangkap salah satu tinju dan dengan cepat kakinya menjulur kedepan. Begitu juga dengan pengawal sebelahnya.
Bang!
Bang!
"Uwek...!" 2×
Keduanya terlempar di depan Tuan muda Pwa Nhu sambil memuntahkan darah. Tuan muda Pwa Nhu tertegun melihat kedua pengawal terkuatnya tiba tiba terlempar di depannya. Begitu juga dengan kerumunan pengunjung tercengang.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian malah terlempar balik?" Bentaknya ke pengawalnya.
"T-tu-tuan muda! Pe-pemuda itu sangat kuat." Ucap salah satu pengawal dan di timpali satunya. "B-benar tuan muda!" Lalu keduanya pingsan.
Tuan muda Pwa Nhu tertegun, Ketika mengalihkan pandangannya ke arah Dirga. Ia sama sekali tak melihat adanya perubahan apapun, Bahkan letak tubuhnya tidak bergeser sama sekali.
"Apa yang terjadi?" Gumamnya dengan wajah bodoh.
Saat ini, Dirga berkata dengan mencibir. "Tuan muda kotoran! Sebaiknya latih dulu pengawalmu itu! Kekuatannya tidak lebih dari pukulan balita! Bahkan lebih lemah!"
Wajah Tuan muda Pwa Nhu merah padam ketika Dirga menghinanya dengan kata tai. "Bajingan! Apa yang kamu maksud kotoran itu? Kamu itu kotoran! Bajingan!"
Dirga menyipitkan matanya menatap Tuan muda Pwa Nhu sambil berkata datar. "Aku rasa kamu itu yang kotoran! Lihat! Pakaianmu kuning! Rambutmu juga kuning, Kulitmu juga sedikit kuning. Terus apa jika kamu tidak seperti kotoran makhluk hidup?"
Begitu kata Dirga terlontar. Semua kerumunan menatap Tuan muda Pwa Nhu dengan seksama, Lalu mereka tertawa teredam dengan menutup mulut dengan kedua tangannya, Takut jika sewaktu waktu di ancam.
__ADS_1
Bahkan Naila menutup mulutnya tidak bisa meredam tawanya.
Tuan muda Pwa Nhu tertegun, Menundukkan kepala dan melihat pakaiannya langsung tercengang. Dengan marah ia membentak. "Bocah! Kau itu kotoran macam tai! Aku akan membunuhmu!"
Dirinya sangat malu di permainkan oleh pemuda tak di ketahui etintasnya ini, Apalagi melihat Naila yang sepertinya mengamini perkataan Dirga.
Begitu memikirkannya. Wajahnya menghitam marah dan langsung melesat sambil mengeluarkan pedangnya ke arah Dirga.
Mata kerumunan melebar melihat tindakan berabi Tuan muda Pwa Nhu, Begitupun juga dengan Naila.
Apa dia tidak memikirkan nasibnya jika bertarung di sini? Pikir mereka.
Ketika pedang Tuan muda Pwa Nhu hampir mengenai kepalanya. Dirga dengan cepat menjulurkan tangannya ke atas. Menyesuaikan jari telunjuk dan tengah, Ia menangkap pedang itu.
Ting!
Suara benturan logam terdengar berdenting. Mata Tuan muda Pwa Nhu melebar melihat pedangnya di tangkis hanya dengan dua jari.
Tapi, Saat ini matanya kembali melebar selebar - lebarnya begitu mendengar suara tidak asing di pedangnya.
Krakk...Krakk...Krakk...Pyar!
Pedang Tuan muda Pwa Nhu pecah menjadi serpihan besi tak berguna. Belum sempat berbicara. Perutnya terasa di hantam oleh balok baja yang sangat keras.
Bang!
"Uwek!"
Tuan muda Pwa Nhu terlempar sejauh sepuluh meter dengan seteguk darah di muntahkan. Saat ini, Suasana menjadi hening.
Mereka tercengang begitu melihat adegan pertama kali di hidupnya. Bukan karena melihat kekalahan Tuan muda Pwa Nhu. Melainkan melihat pedang yang terpecah menjadi serpihan besi tak berguna akibat jepitan dua jari seorang pemuda.
__ADS_1
Saat ini, Suara Tuan muda Pwa Nhu kembali terdengar meratapi gagang pedangnya. "Pe-pedangku! Pedangku berada di tingkat Bumi kualitas tinggi, Bagaimana bisa hancur ditangannya?"
Sambil menatap Dirga yang tanpa ekspresi dengan ngeri. Kini ia tahu siapa yang ia singgung.
Jika dua jari saja bisa menghancurkan pedang, Lalu bagaimana dengan empat, lima jari, lalu kesemuanya?
Bukankah cukup dengan remasannya, Tulang seseorang akan retak tak berbentuk?
Begitu membayangkannya, Tubuhnya gemetar ketakutan.
Saat ini, Seorang lelaki dewasa memasuki kerumunan dan melihat ada tiga orang tergeletak. "Ada apa ini? Apa ada seseorang yang sedang bertarung? Siapa dia? Cepat tunjukkan!" Ucapnya dengan nada tegas sambil mengitari pandangan ke semua kerumunan.
Seorang lelaki maju selangkah sambil membungkuk hormat. Lalu ia berkata. "Tetua Shane, Begini ceritanya...
Begitu mendengar cerita lelaki tua itu, Ia mengalihkan pandangannya ke arah Dirga yang juga menatap dirinya dengan tenang. Mengerutkan keningnya, Ia lantas membatin. 'Siapa pemuda ini? Kenapa aku tidak bisa melihat kultivasinya sama sekali? Padahal aku berada di tahap Raja Langit tingkat sembilan, Apa dia berada di atasku? Mustahil!'
Mendekati Dirga, Lelaki dewasa berkata dengan membungkuk yang mengejutkan semua orang. "Tuan muda, Dengan nama rumah Lelang Surgawi, Kami minta maaf jika ada kesalahan! Kami akan membereskan ketiga bajingan ini sesuai dengan peraturan kami!"
Dirga mengangguk dan membalas acuh. "Tidak masalah! Aku hanya menemani Nona Naila di pelelangan ini, Tapi dia mengganggunya dengan arogan. Jadi aku menghukumnya!"
Tetua Shane juga mengangguk lega, Meskipun ia tidak senang melihat sikap acuh tak acuhnya pemuda ini, Ia tidak mempermasalahkannya.
Dia takut jika tetua lain maupun pemimpin rumah lelang menghukumnya. Bagaimanapun, Ini pertama kalinya ada seorang yang berani bertarung dengan murid Sekte Giok Abadi secara terang terangan, Dan itu di lakukan oleh seorang pemuda tak dikenal sama sekali.
Meskipun rumah lelang surgawi di sini hanya cabangnya saja, Tetap saja tidak ada yang berani mengusiknya, Bahkan anggota kerajaan tidak berani karena ada orang kuat yang berada di balik bayang bayangnya.
Adapun sekte giok abadi ini, Ketika ada anggota sekte yang berani memusuhinya. rumah lelang surgawi akan meladeni,Tapi tetap di balik kegelapan.
Memikirkan ini, Ia menghela napas lega. Setidaknya ia bisa memikirkan dengan cepat.
Menatap Naila di sebelah Dirga, Ia kaget dan menyapa dengan sopan. "Oh, Ternyata ada Nona Lala, Maaf aku tidak melihat anda! Sebaiknya kita masuk dulu, Acaranya akan segera dimulai!" Menatap kerumunan dan bicara lantang. "Kalian! Cepat bubar!"
__ADS_1