Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 134


__ADS_3

"Ding! misi sistem dipicu!"


"Selamatkan seorang gadis dari pelecehan"


"Hadiah:5 butir pil pondasi abadi"


 Suara notifikasi sistem tiba tiba bergema di benaknya dan menyuruhnya untuk mengambil misi.


 "Hm? Pil pondasi abadi?" Gumam Dirga dengan alis mengkerut.


 Karena ini adalah pil yang di dibutuhkannya saat nanti menerobos ke ranah half immortal. Tau saja sistem jika ia sedang membutuhkannya.


 Namun saat ini fokusnya adalah mencari gadis yang di maksud sistem. Menyebarkan persepsi untuk mendeteksi.


 Di Hutan lebat dekat Kota Lewai.


 "Brengsek! Apa yang kau lakukan ha? Cepat! Lepaskan aku!"


 Seorang gadis dengan kondisi tubuhnya diikat oleh rantai energi itu meraung marah kepada pemuda di depannya.


 Rantai itu berwarna hitam pekat dan terlihat mengerikan bila ada yang melihat serta merasakan aura gelap itu.


 Di depannya ada satu pemuda dan lima pengawal kekar yang mendampinginya.


 Pemuda itu maju selangkah menghampiri gadis itu dan berkata seraya menjilat bibir bawahnya.


 "Hehe, Indira! Sudah lama aku menginginkan ini, Tak kusangka hari ini benar - benar terkabul. Ohh...betapa baiknya langit kepadaku..."


 Gadis itu terus meronta ketika pemuda itu mendekati dirinya. Dia meraung marah. "Bajingan kau Wira! Kau tidak bisa menyentuhku! Aku adalah putri Keluarga Kintang! Ayahku menjabat sebagai mentri di Kerajaan!"


Gadis bernama Indira terus menerus meronta dan meraung menunjukkan identitas keluarganya.


 Namun pemuda yang di panggil Wira itu tak bergeming. Ia meraih pakaian gadis itu dan merobeknya tepat di dadanya.


 "Tidak! K-kau?! Brengsek kau Wira...Akh!" Indira meraung marah ketika tubuhnya di jamah oleh Wira dengan kasar.


 Wira menutup mulut Indira dengan tangannya. "Diamlah! Lebih baik nikmatilah hadiah dariku Indira! Hehehe..." Ucapnya dan tangannya terus meraba tubuh Indira dengan penuh nafsu.


 "Emmcchhh" Mulut Indira di sumpal oleh tangan kasar Wira.


 Buliran mata kesedihan muncul dan terus menggelengkan kepalanya.


 "To-tolong aku-..." Indira bergumam lirih menangis ketika melihat tangan pemuda itu hampir menyentuh dadanya.


 Tiba tiba sebuah angin besar menghempaskan tubuh pemuda itu dan kelima pengawalnya yang sejak tadi hanya diam.

__ADS_1


 Bruakk! 5×


 Tubuh mereka menabrak pohon segala arah dan menyemburkan darah di mulutnya.


 "Si-sialan! Brengsek! Siapa itu?? Cepat keluar! Berani beraninya menyerang ku diam - diam!" Wira meraung marah karena ada seseorang yang mengganggu aktifitas bejadnya.


 Muncul sesosok tubuh berjubah hitam dan kepalanya tertutup hingga tidak ada yang bisa melihatnya rupanya.


 Sosok itu tak menjawab melainkan menatap sosok Indira acuh.Meskipun lekuk tubuhnya menggoda dan terlihat gunung kembar yang mencuat, Tetap saja tidak membuatnya tertarik.


 Ia menjentikkan jarinya dan terdengar bunyi 'Ctah!' Rantai energi yang melilit tubuh Indira seketika lepas dan itu membuat semua mata melotot tak percaya, Apalagi Indira.


 "Ti-tidak mungkin! Itu senjata pusaka keluargaku! Tidak mungkin bisa di hancurkan dengan mudah oleh jentikan jarinya!!" Wira meraung tak percaya melihat kejadian ini.


Rantai energi itu adalah harta pusaka keluarganya. Sudah lama ia mengincar benda itu dan ia berhasil mencurinya dari kepala keluarga.


 Kini rantai itu hancur dan menjadi butiran cahaya lalu menghilang dari dunia.


 "Tuan muda Wira Marde, Sebaiknya kita kabur dulu dari sini! Orang berjubah itu aneh dan saya tidak dapat mendeteksi kultivasinya sama sekali!" Salah satu pengawal menghampiri Wira yang masih terbengong.


 "Ya! Benar tuan muda! Kita tahu jika rantai itu hanya bisa di hancurkan oleh ranah setengah immortal saja!" Pengawal lainnya menimpali dengan ngeri dan di angguki oleh pengawal lain.


 Wira tersadar dari lamunannya dan ia merasa ngeri dengan munculnya sosok tak di kenal ini.


 Namun sebelum ia benar benar pergi. Kedua tangannya yang baru bergerak tiba - tiba jatuh sendirinya membuatnya tersentak.


 "Argh...!!" Wira meraung kesakitan ketika menyadari dua tangannya sudah berada di tanah.


 Kelima pengawalnya tersentak kaget melihat kondisi tuan mudanya yang tiba - tiba berubah.


 Melirik ke arah sosok yang sejak tadi hanya diam tanpa berpindah seinci pun.


 Mereka yakin jika yang membuat tuan mudanya begini pasti sosok itu.


 "Ce-cepat bawa tuan muda!" Pengawal lainnya berseru menyadarkan.


 Mereka pun buru buru membawa tubuh Wira pergi dan tak lupa membawa dua tangan tuan mudanya yang tergeletak.


 Setelah mereka pergi, Dirga melirik gadis itu yang masih terbengong dengan mulut ternganga seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


 Dia tak banyak bicara sepatah katapun. Ia melangkahkan kakinya bersiap pergi.


 Saat ini ia sangat penasaran dan ingin mencoba hadiah misi sistem kali ini.


 "Tu-tunggu!!" Gadis itu tiba - tiba memanggilnya membuatnya menghentikan langkahnya.

__ADS_1


 Gadis itu segera menutupi tubuhnya dengan pakaian lainnya yang tersedia di cincin penyimpannya dengan wajah merah.


 Malu karena ada orang yang melihat tubuhnya. Apalagi orang itu tidak ia kenal sama sekali.


 Setelah selesai ia membungkuk ke arah Dirga yang masih membelakanginya.


 "Tu-tuan! Terima kasih telah menolongku! Namaku Indira dari Keluarga Kintang Kota Endise!" Indira berkata gugup namun hormat kepada Dirga.


 Bagaimanapun Dirga sudah menolongnya dari adegan pencabulan ini. Sudah sepantasnya ia berterima kasih dengannya.


 Dirga melambaikan tangan santai. "Tak masalah! Jika begitu aku pergi." Ucapnya dan tubuhnya seketika menghilang.


"Ding! Tuan rumah berhasil menyelesaikan misi sistem!"


"Hadiah 5 buah pil pondasi abadi di tempatkan di ruang penyimpanan sistem"


 Indira tertegun melihat tiba - tiba hilangnya sosok itu. Entah mengapa ia tertarik dengan orang tadi.


 "Apa yang aku pikirkan? Dia bukan siapa siapa! Hais...Lebih baik aku menginap di Kota ini dulu." Gumamnya menggelengkan kepalanya dan berlalu pergi.



 Saat ini, Dirga duduk bersila di atas batu besar. Di telapak tangannya ada satu butir pil berwarna emas mengeluarkan aura begitu luar biasa.


 Tanpa menunggu lama, Ia melemparkan pil itu ke dalam mulutnya.


 Selang beberapa menit, Ia menautkan kedua alisnya dan bergumam. "Apa yang terjadi?Mengapa tidak ada perubahan di tubuhku?"


 Karena tidak ada perubahan sama sekali di dalam tubuhnya. Ia mengeluarkan dan melemparkan satu pil lagi di mulutnya.


 Segera setelah itu, Tubuh bagian pusar merasa hangat.


 Meridian meridian nya terbuka semakin lebar. Dantian nya yang kokoh menjadi lebih kokoh berkali kali lipat!


 Selang beberapa menit ia menyudahinya dan melihat langit sudah hampir gelap menjelang malam.


 Oleh karena itu, Ia mengeluarkan dua gadis kecilnya karena sudah berjanji akan mengajaknya bermain di ibu kota.


 "Oke, Kebetulan di depan sana ramai pedagang. Kakak akan mentraktir kalian sebanyak - banyaknya!" dDirga berkata kepada dua gadis ciliknya sambil mengusap dua kepala kecil itu dengan lembut.


 "Emm~ Gendong dong kak..." 2×


 Dua gadis kecil itu menjulurkan dua tangan mininya ke arah Dirga sambil mengerang nikmat karena kepalanya di elus oleh Dirga.


 Dirga tak berdaya. Sambil memegang dua loli kecilnya, Ia terbang menuju ibu kota tanpa ada yang mencurigainya sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2