
Setelah berkata, Dirga mengeluarkan Pedang tingkat Surgawi yang sudah ia lapisi dengan energi mental dan melemparkannya ke hadapan Tuan Jing.
Tuan Jing yang masih tercengang belum sadar jika ada Pedang yang sudah menancap di depannya.
Ia masih terngiang ngiang dengan ucapan Dirga barusan yang menurutnya di luar nalar.
Dirga tak peduli dengan reaksi orang ini. Ia berkata santai. "Pergi dan lakukan apa yang aku perintah!"
Entah mengapa Tuan Jing hatinya seolah harus mengikuti apa yang di ucapkan Dirga. Maka dari itu ia berucap hormat. "Baik tuan!"
Dirga mengangguk dan berkata singkat. "Bagus!"
Beberapa tarikan napas kemudian, Tubuh Tuan Jing berubah menjadi kabut hitam dan menghilang.
Dirga menyeringai sesaat dan ekspresinya kembali tenang.
Di ruang Istana Sekte
Saat ini Laniya berada di atas kasur, Pingsan. Tadi setelah mengkonsumsi Pil penyembuh lukanya bukannya menghilang malah bertambah buruk.
Di samping kiri kanan kasur, Ada Tetua Shane, Tei, Zei, Retania, dan Rista yang menemaninya dengan ekspresi cemas.
"Tetua, Bagaimana keadaan saudari Laniya?" Tanya Tei kepada Tetua Shane yang telah memeriksa keadaan Laniya.
Kini, Wajah Laniya nampak pucat dan ada sedikit tanda hitam di antara dahinya yang berarti terkena energi korosif.
Tetua Shane menghela napas. "Hah, Kondisinya semakin buruk. Aku tidak tahu apa penyebabnya padahal dia sudah menelan beberapa pil penyembuh." Ucapnya menggeleng tak berdaya.
"A-apa tidak sebaiknya Kak Laniya menelan pil penyembuh lagi?" Rista angkat bicara dengan ekspresi agak cemas.
Ia telah melihat pertempuran antara Laniya dan Tuan Jing tadi. Meskipun berakhir sia - sia, Ia masih tetap kagum dengan keberanian Laniya.
Ia berjanji akan latihan sungguh sungguh untuk mengikuti jejak Laniya.
Semua menatap Tetua Shane dengan berbagai ekspresi menunggu jawaban. Belum sempat menjawab, Terdengar suara tak asing dari arah pintu kamar.
"Tidak perlu! Kalian keluar saja biarkan aku sendiri yang menyembuhkannya!"
Tetua Shane dan yang lainnya pun menoleh dan sedikit terkejut dengan kedatangan Dirga yang masih baik - baik saja.
Namun mereka tetap bersikap hormat kepada Dirga. "Master!" Ucapnya serempak membungkuk.
Dirga melambaikan tangan dan berkata tenang. "Aku tahu apa penyebabnya dan aku juga tahu cara menyembuhkannya. Lebih baik kalian bantu para murid yang masih terluka atau lainnya!"
Mereka yang mendengarnya tentu percaya dengan ucapan Dirga. Maka dari itu, Mereka pun pergi setelah memberi hormat terakhirnya.
Dirga tersenyum masam ketika dirinya di lakukan seperti ini. Namun ada perasaan hangat menyapu hatinya.
Mengalihkan pandangannya ke Laniya dan mengernyit ketika ada satu sosok perempuan cantik yang masih berdiri di sebelah ranjang.
__ADS_1
Sosok itu terlihat memainkan jarinya satu sama lain nampak ragu.
Dirga memahami apa yang di pikirkan oleh sosok itu. "Tenang saja..Suami mu, Arya baik baik saja!" Ucapnya sedikit menghibur.
Ya, Sosok perempuan cantik itu adalah Retania. Ia ingin bertanya dengan Dirga mengenai sosok suaminya tapi masih ragu.
Ketika mendengar perkataan singkat Dirga barusan membuatnya lega. "Benarkah?"
Dirga menganggukkan kepalanya. Ia mengeluarkan tiga buah butir pil berwarna hijau bersih.
"Untukmu agar suamimu menjadi semakin cinta kepadamu!" Ucap Dirga.
Retania bingung mendengar itu dan melihat pil aneh yang ada di telapak tangan Dirga. Menerimanya dan melihat sesaat lalu bertanya agak ragu. "Pil apa ini?"
Dirga menjawab agak terputus. "Itu Pil yang aku buat sendiri dan untuk namanya?....Pil Kecantikan Abadi!"
"Pil Kecantikan Abadi?!" Retania terkejut sesaat dan kemudian matanya berbinar cerah.
Wanita mana yang tidak suka dengan kecantikan. Ketika Dirga menyebut pil tadi, Ia tentu tahu khasiat pil itu. Dan tentunya ia sangat percaya dengan omongan Tuan muda nya.
"Iya." Jawab singkat Dirga seraya mengangguk.
"T-tuan muda! Terima kasih!" Retania berkata seraya membungkukkan badannya gembira.
Dirga mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju ke arah Laniya.
Retania yang melihat ini pun mengerti dan segera keluar kamar dan tak lupa menutup pintunya.
Tak mau memikirkannya lebih lama lagi, Ia menempelkan kedua telapak tangannya. Satu di dahi dan satunya di antara dadanya.
Seketika, Muncul cahaya putih samar yang mengeluarkan aura menenangkan jiwa bagi siapapun yang melihatnya.
Tentu saja itu adalah elemen cahaya nya yang pertama kali ia gunakan!
Selang beberapa menit, Laniya mengerjapkan matanya dan mengerang nikmat membuat Dirga sedikit goyah.
Namun ia masih tetap melanjutkan.
Hitam di dahinya dan dadanya kini sedikit menghilang. Ia sengaja tidak menghilangkan luka itu sepenuhnya agar Laniya sendiri yang melakukannya.
Lalu ia pun melepaskan tangannya ketika melihat Laniya yang sudah membuka matanya.
"Ehhnng...." Erangnya sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Masih ada sedikit sisa lukamu. Sekarang kamu pejamkan matamu dan ikuti apa yang aku katakan!" Suara Dirga terdengar di sampingnya.
Namun ia mengikuti apa yang di katakan Dirga tadi. Selain itu ia masih merasakan pusing ketika melihat sekitar.
Setelah di rasa pas, Dirga menempelkan jari telunjuknya ke kening Laniya dan sebuah energi mental merasuk ke dalam.
__ADS_1
Laniya merasakan adanya energi asing namun sangat kuat mencoba menerobos maauk kedalam tubuh atau lebih tepatnya ke arah perutnya.
Satu tarikan napas kemudian tubuh Laniya tiba - tiba memancarkan cahaya putih samar dan terus menjadi terang.
"Ahk!"
Teriaknya kesakitan terpejam di area perutnya seolah ada sesuatu yang mencoba keluar dari tubuhnya secara paksa.
"Tahan dan tenangkan dirimu! Sekarang, Lakukan dirimu seolah sedang berkultivasi!" Dirga mencoba berkata serius ke Laniya.
Laniya yang mendengar suara Dirga segera melakukan tehnik kultivasinya dalam keadaan masih berbaring.
Tak lama itu, Cahaya putih itu saling mengalir tak menentu. Tubuh Laniya tiba tiba terangkat sendirinya dan berubah menjadi posisi bersila melayang satu meter.
Wushh!
Cahaya putih semakin bersinar terang namun tak menyilaukan. Satu tarikan napas kemudian cahaya putih langsung membentuk dua bunga teratai indah.
Satu di bawah bersilanya dan satunya lagi di atas kepalanya. Dua Bunga teratai putih itu saling berputar lembut.
Tubuhnya di selimuti lima cahaya membentuk benang sebesar lengan tangan dewasa. Cahaya itu saling mengalir antara bunga teratai atas dan bawah.
Dirga mengangguk puas melihat ini. Namun kemudian matanya terbelalak lebar menyaksikan adegan depan.
Pakaian yang di kenakan Laniya tiba - tiba terlepas mengendur ke bawah.
Sekarang, Tubuh Laniya benar benar polos tanpa sehelai benang yang masih bersila menampilkan tubuh putih mulus yang indah.
Luka hitam tadi, Sudah menghilang entah kemana. Dirga menelan ludah dengan susah payah. Siapa yang tidak tahan melihat keindahan ini?
Tiba tiba saja gairahnya memuncak. Ingin sekali ia menerkam Laniya saat ini juga. Tapi ia tidak ingin mengganggu proses pembangunan elemen cahaya milik Laniya.
Beberapa menit kemudian. Cahaya putih itu bersinar semakin terang hingga membuat Dirga menutup matanya.
Ketika membuka matanya kembali. Kebetulan matanya menatap mata Laniya yang juga menatapnya dengan aneh.
Laniya menatap Dirga yang menatapnya dengan mata merah seolah ingin melampiaskan nafsu kepadanya.
"Ahk!'
Tiba - tiba ia menjerit kaget karena sosok Dirga sudah berada di belakangnya seraya memeluknya dari belakang.
"Tubuhmu benar - benar menggoda, Laniya...Jadi aku tak tahan dengan itu!" Dirga berkata dengan suara serak karena nafsu.
Tubuh Laniya agak sedikit bergetar merasakan hembusan napas Dirga menerpa lehernya yang putih mulus.
Namun ia tiba - tiba tersenyum hangat dan menangkap tangan Dirga yang sudah berada di dadanya.
"Lakukanlah! Kita sudah lama tidak melakukan ini. Dan juga, Ini hadiah dariku yang sudah membangunkan elemen yang bahkan aku sendiri tidak mengetahuinya." Ucap Laniya dengan nada yang merdu terdengar di telinga Dirga.
__ADS_1
Mendengar perkataan Laniya barusan. Gairahnya seketika bertambah liar.
Ruangan yang tadi hening, Kini berubah menjadi suara erangan panas akibat pergulatan dua insan berbeda jenis.