
Mereka berdua segera mengumpulkan semua orang dan memberi beberapa pil pemulihan agar vitalitas tubuh mereka memuncak.
Dirga mengabaikan mereka dan bersiap untuk melakukan tugasnya lagi. Tapi tiba tiba terdengar suara pria di sampingnya.
"Tuan muda, Sebenarnya untuk apa kastil sebesar ini?"
Dirga menoleh ke kanan dan melihat tiga pemuda berusia 20 an. Salah satu mereka yang memiliki tubuh kurus berkata. "Perkenalkan namaku Kai, Yang ini Tei Dan yang itu Zei"
Kai memiliki tubuh yang tidak kurus maupun gemuk. Sedang sedang aja. Begitu juga dengan Tei dan Zei. Yang membedakan adalah Kai memiliki tahi lalat kecil di atas pelipis kanan.
Tei di pelipis kirinya, Sedangkan Zei mempunyai tahi lalat tepat di tengah kedua alisnya.
Dirga menatap mereka dengan aneh dan tanpa sadar berkata. "Apa kalian bertiga bersaudara?"
Mereka bertiga saling melirik satu sama lain dan menghela napas panjang. Dirga yang melihat ini mengerutkan keningnya dan bertanya. "Ada apa?"
"Huhft...Sebenarnya kami bertiga bukan bersaudara. Waktu itu kami tidak sengaja bertemu di Kota Mutian dan secara kebetulan, Tei dan Kai juga sedang merampok seorang tuan muda kaya." Orang yang menjawab itu adalah Zei.
"Merampok?" Ulang Dirga seraya menatap Zei dengan tatapan mendelik. Tei yang sedikit takut segera mempertegasnya. "Tuan muda, Jangan marah. Waktu itu kami kelaparan dan melihat seorang tuan muda yang sombong sedang menghina pak tua pedagang makanan"
Kai juga mengangguk menimpali. "Karena aku tidak tahan dengan sikapnya, Jadi aku merampok kereta kudanya dan secara kebetulan mereka berdua juga merampoknya"
Tei berkata mendengus sambil menatap Zei. "Barang rampokan yang kami peroleh di bagi menjadi tiga. Tapi karena si mata tiga ini tidak mau, Jadi kami bertengkar saat itu. Untungnya si Kai menengahinya dan di bagi secara merata." Kai mengangguk dan berkata. "Sejak pertemuan itu, Kami bertiga selalu pergi bersama apapun tempatnya." Mereka bertiga menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Dirga menganggukkan kepala dan mengangkat jempolnya. "Aku mengerti, Berarti kalian saudara yang telah terpisah jauh!"
Mereka bertiga "..."
Mengalihkan pandangannya kedepan, Dirga berkata sambil melangkahkan kakinya perlahan. "Ikuti aku!"
Mereka bertiga bingung, Tapi mereka mengikuti langkah kaki Dirga seraya memandang depan dengan ekspresi kekaguman.
"Kai! Kenapa aku baru mengetahui jika tempat ini sangat indah?" Ucap Tei sambil menatap kiri dan kanan.
Kai hanya mengendikan bahunya dan berkata acuh. "Apa aku ini Dewa yang tahu segalanya? Ck! Aku juga baru tahu jika tempat di sini sebenarnya sangat menenangkan."
Mereka bertiga berjalan dengan langkah kaki yang semakin lama semakin melambat. Zei mengerutkan keningnya. "Kenapa aku merasa tubuhku sedikit berat ya?" Ucapnya sambil memandang kedua temnannya.
Kai mengangguk dan menanggapi dengan ekspresi aneh. "Benar! Tubuhku seakan di tekan oleh benda berat, Tapi aku tidak tahu apa ini!"
Ketika ingin bertanya. Dirga sudah menyelanya dengan cepat. "Jika kalian ingin menjadi kuat, Cobalah sampai di depan danau depan! Aku menunggu di sana!"
Tanpa memerdulikan ekspresi terpana ketiganya, Dirga melangkahkan kakinya menuju depan dekat danau, Dimana ada tiga gazebo untuk bersantai.
Kai menggertakkan giginya. "Sialan! K-kita di jebak olehnya!" Ucapnya dengan kesal merasa di permainkan oleh Dirga.
Tei menoleh kebelakang dan tercengang, Lalu berseru. "Di-Dimana tempat tadi? B-Bagaimana bisa telah berubah?...D-Dan cahaya gelap apa ini?"
__ADS_1
Kai dan Zei yang mendengar seruan Tei menoleh ke belakang dan tercengang.
"B-Bagaimana bisa?" Keduanya berseru serempak.
Apa yang di lihat oleh mereka bertiga saat ini bukan Kota maupun tempat masuk tadi, Melainkan cahaya gelap yang memanjang dan meninggi.
Mereka bertiga memandang ngeri tembok cahaya tembok gelap di belakangnya, Keringat dingin sudah membasahi pelipisnya.
"A-Apa yang harus kita lakukan?" Ucap Tei dengan tergagap takut.
Kai kembali mengalihkan pandangan ke depan. Melihat Dirga yang jauh yang duduk bersila. Ia mengerutkan keningnya.
Zei berkata dengan gigi terkatup. "Brengsek! Apa dia mau membunuh kita bertiga? Bajingan!"
Kai yang memiliki pemikiran berbeda hanya diam tak menanggapi Zei. Ia memikirkan cara agar terbebas dari tempat aneh ini. Seketika, Ia kembali memikirkan perkataan Dirga tadi.
"Kalian berdua! Jangan berdebat! Kita harus melangkah ke depan agar bisa selamat!" Ucap Kai dengan tubuh kembali tegak.
Zei dan Tei tidak tahu maksud Kai. Ketika ingin berkata, Kai memotongnya. "Jangan bertanya! Apa kalian tidak tahu maksud Tuan muda tadi? Dia melakukan semua ini untuk menguji kita bertiga! Ayo! Kita harus sampai kesana! Tidak ada cara lain selain itu"
Mereka berdua benar benar kesal, Tapi tidak ada cara lain selain mengikuti perintah Kai yang ia tidak mengerti.
Dirga yang melihat ketiganya mulai berjalan susah payah kemari, Dia kembali tersenyum tipis. "Kalian layak menjadi kuat! Aku melatih kalian bukan karena apa." Ucapnya dan mengeluarkan kedua gadis kecilnya untuk menghilangkan bosan.
__ADS_1
"Kakak...!"
"Kakak...!"