
Keduanya hanya diam dengan jantung berdebar. Dirga yang selama ini tidak pernah intim dengan wanita jantungnya berdebar. Tapi ia segera menenangkannya.
Bagaimanapun, Ini pertama kalinya dia berciuman dengan wanita. Dalam kehidupan sebelumnya, Ia hanya bisa mengobrol santai dengan Olivia, Gadis yang membantunya waktu itu.
Sedangkan Laniya, Saat ini pipinya merona dengan jantungnya yang berdebar kencang melebihi Dirga. Tapi ia tak berniat melepaskan bibirnya.
Dirga yang ingin menyudahi perbuatannya. Ia malah menangkap Laniya yang malah memejamkan matanya seolah dia memperoleh lampu hijau.
Sebagai seorang pria, Tentu saja ia tak mau kesempatannya menghilang begitu saja. Tangan kanannya terangkat dan menekan kepala Laniya membuatnya semakin menempel.
Eemmhhpp...!
Suara erangan Laniya membuat Dirga segera ingin menekannya. Tapi ia tidak ingin bertindak lebih jauh. Mereka berdua menikmati di bawah sinar rembulan malam hari yang menenangkan.
Setelah lama bibir serta lidah mereka menyatu. Dirga menghentikan aksinya dan melepaskan mulutnya yang nampak basah.
Mengelus lembut rambut Laniya, Ia berkata sambil menahan nafsunya. "Aku tidak ingin bertindak lebih jauh, Tapi jika kamu mau lebih jauh, Tentu aku menerimanya dengan senang hati!"
Laniya yang mendengar itu pipinya memerah karena malu. Secara alami, Ia tahu apa maksud Dirga. "Dasar cabul..!" Ucapnya ketus sambil menyenderkan kepalanya di dada bidang Dirga.
"Kamu harus tanggung jawab!" Imbuhnya dengan menutup kedua matanya. Dirga mengernyitkan dahi dan bertanya lirih. "Untuk apa?"
"Kamu mengambil ciuman pertamaku dan kamu harus bertanggung jawab dengan menikahiku!" Serunya dangan wajah kembali memerah.
__ADS_1
Dirga tak menjawab. Matanya tiba tiba menangkap ada sesuatu aneh di kedalaman tubuh Laniya dan tepatnya di bagian perutnya.
Mengaktifkan Mata Surgawinya, Ia melihat jalur jalur meredian Laniya ada yang tersumbat dengan cahaya biru berbentuk bunga seperti teratai.
Dahi Dirga semakin berkerut ketika matanya menangkap seperti ada cahaya biru samar tapi meredup redup dengan rune rune kuno di sekitarnya.
"Nek I Sok Bu Kahk Enn I Kih" Gumamnya ketika membaca rune rune yang mengelilingi cahaya biru samar itu.
'Apa ini yang dimaksud Pak tua Wulyo waktu itu?' Gumamnya di benak.
"Ding! Benar Tuan!"
"Ding! Secara alami, Cahaya teratai biru samar itu adalah dantian sebenarnya yang memiliki efek khusus, Yaitu bisa menyerap energi alam dalam bentuk siluet bunga sesuai dengan nama fisiknya Tubuh Dewi Bunga!"
Mendengar sistem yang menanggapi suara di benaknya, Ia bertanya sekali lagi. 'Kenapa aku baru melihat ada seperti ini di kedalaman tubuhnya?'
"Karena segel itu bagian dari tehnik Segel Semesta yang berada di tingkat tertinggi dan bisa dikatakan itu tehnik segel yang hampir sempurna. Hanya dengan menemukan tehnik Segel Semesta yang lengkap untuk bisa membongkar segel itu."
Begitu mendengar, Dirga terkejut di hatinya. Ia bertanya tanya tentang siapa yang menyegel dantian Laniya.
Sedangkan Laniya saat ini membuka matanya dan mendapati Dirga menatap tubuhnya atau lebih tepatnya di bagian perut yang membuat wajahnya memerah.
"Plakk!"
__ADS_1
"Apa yang kamu lihat bodoh?" Ucap Laniya dengan tamparan yang mendarat di pipi Dirga.
Dirga segera tersadar dan berkata dengan serius ke Laniya. "Aku akan menyembuhkan tubuhmu! Ikut aku!"
Laniya yang mendengar perkataan Dirga membuatnya bingung karena ia tak merasakan adanya penyakit di dalam tubuhnya.
Ketika ingin bertanya maksud Dirga, Ia sudah berpindah tempat di dunia Cermin Kultivasi.
"Duduklah dan lepaskan pakaianmu di bagain punggungmu itu!" Perintah Dirga sambil mengeluarkan beberapa jarum perak.
Wajah Laniya sontak berubah ketika mendengar perkataan Dirga yang aneh. "A-apa yang kamu inginkan? Jangan macam macam kamu!" Serunya dengan gugup.
Dirga menepuk dahinya sendiri menyadari jika dia seenaknya menyuruh Laniya. "Aku tidak bisa memberitahumu! Tapi yakinlah denganku jika aku tidak akan macam macam! Aku hanya ingin menghilangkan sedikit racun di tubuhmu itu!" Kata Dirga berbohong agar Laniya menurutinya.
Dan benar saja, Wajah Laniya berubah ketika mendengar perkataan Dirga. "A-apa aku keracunan?" Gumamnya sambil menatap Dirga dengan takut.
Dirga hanya mengangguk acuh. Melihat ini, Tanpa ragu ragu Laniya melepaskan semua pakaiannya yang hanya menyisakan bagian pinggang kebawah.
Dirga tercengang melihat Laniya yang malah membuka baju atasnya hingga kini terlihat dua tonjolan indah yang terpampang di depannya yang membuatnya tidak bisa untuk tidak menelan air liurnya.
Menyadari tatapan aneh Dirga, Ia menundukkan kepalanya dan tertegun. "Ah- K-kamu! A-apa yang kamu lihat? Mesum..!" Makinya sambil menutup kedua asetnya dengan membalikkan badannya malu.
Dirga menggelengkan kepalanya cepat. Menelan air liurnya beberapa kali, Ia berkata dengan suara rendah. "Baiklah, Gadis! Aku akan memulai untuk mengobatimu dan duduklah!"
__ADS_1
Laniya dengan wajah malu serta kikuk mengikuti perintah Dirga. Dirga juga saat ini langsung menancapkan ke bagian jalur jalur meridian Laniya yang tersumbat.
"Ahk..!"