
Dirga saat ini berjalan menuju arah barat dunia cerminnya. Area barat adalah letak khusus yang di buat oleh Dirga.
Dia area itu, Terdapat bukit yang tidak tinggi. Dan di sini, Ada tiga sosok yang keadaannya telah terikat di semua bagian tubuhnya.
Dengan jelas, Tiga sosok itu adalah Tuan Kota Garden beserta istri dan anaknya. Tatapan mereka bertiga nampak kosong yang seolah tidak memiliki jiwa.
Mereka bertiga telah Dirga keluarkan dari Tabung Kehampaan sehari sebelum pembangunan sekte. Meskipun mereka berada di tempat itu hanya sehari. Mereka merasakan jika itu seribu tahun lebih lama.
Dirga menatap mereka dengan dingin namun sorot mata yang tajam. "Kenapa kalian menghianati bangsa kalian sendiri? Apa kalian tidak takut konsekuensinya?" Ucapnya.
Mereka bertiga tetap diam kosong meskipun mendengar suara dingin Dirga. Dirga sedikit menyesali perbuatannya.
Dia sedikit lengah karena mereka ia letakkan selama seharian penuh di dalam tabungnya. Oleh sebab itu, Efek nya saat ini mereka shok berat dan hanya bisa diam saja.
'Hah! Kenapa aku sedikit bodoh?' Rutuknya di benak mengutuki kebodohannya.
Meskipun begitu, Ia tidak memperdulikannya karena mengingat perbuatan mereka yang di luar batas. Mengepalkan tinjunya dengan erat erat, Ia menahan sakit di dadanya.
__ADS_1
Entah mengapa ketika melihat maupun mendengar seseorang yang berkhianat, Ia merasakan kemarahan yang tak terkendali.
Di kehidupan sebelumnya, Ia di buang oleh keluarga angkatnya dan di caci maki teman temannya hanya karena menumpang rumah atau apalah itu.
Dan saat ini, Kehidupannya sama seperti sebelumnya, Bahkan kehidupan saat ini bertambah dua kali lipat dari sebelumnya. Padahal ia menginginkan apa itu orang tua yang sebenarnya meskipun sangat kecil keinginannya.
Menjambak rambut Naila dengan gertakkan gigi, Ia berkata geram. "Aku sudah membantumu menyelamatkanmu dari tiga orang saat itu dan aku menyelamatkan ibumu dari kelumpuhannya, Sekarang? Mengapa kamu melakukan tindakan keji seperti ini?"
Tubuh Naila sontak bergetar hebat ketika mendengar suara penuh amarah yang di kenalinya. Meskipun pandanganmya kosong, Ia masih bisa melihat wajah Dirga yang geram meskipun samar samar.
"A-A-A-Ak..."
"Plak!"
Di sisi Tuan Kota dan istrinya, Ia sontak gemetaran marah kesal dan bercampur aduk melihat Dirga menampar putrinya.
"Plak!" 5×
__ADS_1
Tubuh ketiganya bergetar hebat ketika merasakan pukulan yang dilayangkan oleh Dirga. Mereka saat ini sangat menyesali perbuatannya, Tapi tidak ada waktu untuk menyesal, Karena sudah begitu banyak nyawa yang hilang karenanya.
Dirga melayangkan tamparan yang sangat keras ke arah wajah Naila beserta keduanya. Ia tak peduli, Meskipun pihak lain adalah dua wanita, Dia tidak berbuat lembut kepada siapapun yang berkhianat, Apalagi berkhianat kepada seorang iblis, Muauh terbesar ras manusia.
"Kalian tahu? Aku paling tidak suka dengan wajah wajah seorang penghianat!" Ujarnya dan memasang dua formasi yang mengurung mereka.
Istri tuan kota ia kurung di formasi kubah yang terlihat hitam pekat karena ia menyuntikkan elemen kegelapannya.
Sedangkan di kedua. Formasi itu terdapat ayah dan anak yang mengurungnya, Tidak luput juga warna kubahnya hitam pekat.
Sebelum pergi, Ia memasukkan sebutir pil yang ia masukkan ke dalam mulut Tuan kota.
"Selamat menikmati hari kehancuranmu!" Gumamnya dan keluar dari formasi meninggalkan teriakkan Naila yang seperti ketakutan menghadapi keganasan monster.
Belum sempat pergi menjauh, Dirga mendengar suara tanya serta kesal Laniya di sampingnya. "Apa yang kamu lakukan dengannya? Kenapa gadis itu teriak teriak?"
Dirga membalikkan badannya dengan raut muka datar. Ia duduk bersila sambil menghela napas. "Aku sedikit memberinya pelajaran untuk keduanya!" Ucapnya menatap kosong ke depan.
__ADS_1
Laniya memincingkan matanya melihat sikap Dirga yang berubah. "Apa kamu tidak berbohong? Kenapa aku merasa gadis itu teriak teriak kesakitan? Apa sebenarnya yang kamu berikan padanya?" Ucap Laniya mendelik tajam ke arahnya.