Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 124


__ADS_3

Erga menatap langit dengan sorot mata ketegasan. Tangannya mengepal erat dengan segudang rencana.


"Guru, Muridmu ini berjanji tidak akan mengecewakanmu!" Gumam Erga.


Meskipun ia terbilang mengklaim sebagai murid Dirga. Erga tak peduli, Ia akan membuktikan jika ia pemuda hebat yang cocok menjadi murid Dirga.


meskipun belum terbukti.


Beberapa menit kemudian. Erga pergi membawa pedang emas di pundaknya seolah pedang itu adalah bebannya.


Selang beberapa detik. Dari tempat Erga berdiri tadi, Tiba tiba muncul asap hitam pekat dan terus menebal hingga menampilkan sosok mengerikan.


Sosok itu memiliki tubuh hitam legam dengan tinggi nyaris lima meter dan dua taring kuning nampak mencuat di sudut mulutnya.


Hanya saja, Sosoknya terlihat setengah badannya saja dan tubuhnya seperti kepulan asap yang kapan saja bisa tertiup angin.


Sudah jelas, Sosok besar itu adalah iblis pangkat tinggi!


"Hm? Sudah ribuan tahun aku hidup ternyata masih ada yang berani mengusikku!!" Suara sosok itu terdengar geram.


"Kaisar Lin Tianzhong sialan! Gara - gara dia, Aku harus memecah jiwaku. Brengsek!!" Sosok itu mengutuk marah kepada seseorang.


Meskipun bicara mengutuk, Terlihat badan sosok itu gemetar tak terkendali seolah ada sesuatu yang menyengatnya secara tiba - tiba.


Dia masih ingat sebelum ia memecah jiwanya. Sesosok pria tegap berambut perak dengan aura penindasan yang terasa mencekik berputar di dalam ingatannya.


Tidak hanya itu, Sosok pria berambut perak itu menampilkan dirinya ketika membantai ratusan ribu iblis seorang diri!


"Sialan! Sudah ribuan tahun kau masih menampakkan di pikiranku. Kaisar Lin TianZhong bajingan...!!" Sosok itu kembali mengutuk seseorang yang bernama Lin Tianzhong.


"Tapi tak kusangka engkau bisa di kalahkan oleh Tuanku meskipun tuanku harus kembali ke alam kegelapan bersama tujuh Jenderal Iblis lainnya, Kecuali diriku yang malang ini!" Sosok iblis itu mendengus dingin setelah memutar ingatannya.


Namun, Ekspresi sosok iblis besar itu tiba - tiba mengernyit ketika menyadari sesuatu.


"Siapa? Siapa yang telah melenyapkan pelayan setiaku? Bagaimana ini bisa terjadi??" Iblis besar itu tiba - tiba mengumpat marah dengan suara menggelegar hingga membuat tanah di sekitarnya sedikit bergetar.


"Hmph!! Tak peduli siapa itu, Kamu sudah melenyapkan pelayan setiaku yang aku tunggu-tunggu kebangkitannya. Bajingan!!"


Sosok iblis besar itu kembali mengumpat dan tidak lama tubuhnya menghilang dari tempatnya.


•••

__ADS_1


Di sisi lain


Pada saat ini, Dirga sedang bertengger di dahan pohon sambil mengawasi depan dengan tenang.


Ia tak tahu jika dirinya telah di sumpah serapah oleh iblis.


Walaupun tahu, Dirga juga tak peduli!


Saat ini, Di depannya ada sekelompok pria. Di perkirakan jumlahnya ada 30 an.


Dari kultivasi mereka, Dirga mengetahui jika Ranah mereka semua rata - rata berada di Alam Bumi berbagai tingkat.


Pakaian mereka polos berwarna coklat sedikit kehitaman.


Hanya satu yang berada di Alam Langit bintang dua.


"Siapa mereka ini? Apa dari organisasi atau kelompok lain yang aku tak tahu?" Dirga bergumam dengan alis mengkerut.


Dia tak tahu karena dirinya tak mendeteksi adanya aura iblis maupun tato berbentuk serigala.


Maka dari itu, Ia tak membunuh mereka dulu untuk mengetahui siapa mereka dan apa yang mereka cari.


Salah satu pria dewasa menghampiri seorang pria Alam Langit bintang dua itu dan berkata sedikit menyeringai.


"Tetua, Saya sudah menyelidiki tentang keberadaan markas Sekte Pedang Langit Abadi! Dari perkataan orang - orang, Markas itu berada di utara Kota Mutian!"


"Apa? Kamu sudah menemukannya? Bagaimana bisa? Kita sudah dua hari saja sulit menemukan markasnya, Bagaimana kamu bisa menemukan secepat ini??" Pria Alam Langit mencecar pertanyaan dengan tak percaya.


Pria di depan menyeringai dingin dan berkata sombong. "Huh, Mudah bagiku untuk mencari markas Sekte kecil itu! Bahkan di antara semua pemimpin hanya aku yang sudah mengetahuinya!!"


Pria Alam Langit mengerutkan keningnya menatap bodoh Pria ini.


Dia sudah mengenal tentang sombongnya pria ini yang kesombongannya kini sudah mencapai langit entah ke berapa.


"Jika begitu, Cepat tunjukkan jalannya! Jika katamu itu benar, Kita harus memberi tahu Master sekte dan kita semua dapat hadiah darinya! Hehehe..." Pria Alam Langit tak peduli atas sikap sombongnya pria itu.


Di berkata terkekeh hanya menginginkan hadiah yang di tawarkan oleh Master nya ketika di beri misi untuk menyelidiki dimana markas Sekte Pedang Langit Abadi!


"Jika Sekte itu berhasil di hancurkan, Maka Sekte Seribu Pedang kita akan meningkat level! Hahaha...!" Lanjutnya sambil tertawa mencemooh.


"Huh, Jangan mimpi! Begini saja, Bagaimana kalau kamu dapat 5% dan sisanya biarkan aku yang mengurusnya..." Pria itu menawarkan pendapatnya dan di jawab pelototan mata oleh Pria Alam Langit.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kamu membagi seperti itu? Bukankah ini tidak adil??" Pria Alam Langit berkata dengan wajah muramnya.


Pria dewasa itu menyeringai dan mendengus acuh. "Huh, Tidak adil? Kamu harusnya bersyukur aku beri meskipun sedikit. Padahal yang jelas-jelas dapat seharusnya aku sebagai pemimpin kelompok ini!"


Pria Alam Langit terdiam tak bisa berkata apa apa. Dia kesal setengah mati dan mengutuk lelaki ini di dalam hatinya.


Meskipun begitu, Di permukaan tetap menunjukkan senyum manisnya meskipun terpaksa karena statusnya sebagai murid lebih rendah di bandingkan pria di depannya ini.


Sebelum berkata, Sebuah suara dahan jatuh terdengar di depan mereka yang membuat keduanya terkejut dan melompat mundur.


"Siapa di sana? Cepat keluar?" Pria Alam Langit memekik marah menatap depan.


Seketika saja, Kedua kelompok itu berdiri dari peristirahatannya dan bergegas seolah waspada.


Namun yang di harapkan mereka membuatnya tercengang.


Seorang pemuda berambut perak tanpa aura sedikit pun muncul dari salah satu pohon besar dan menatap kedua kelompok itu dengan raut tenang.


Pemuda itu mengenakan pakaian biru langit dan terlihat tidak seperti pemuda kaya.


Pria Alam Langit itu mengerutkan kening merasa aneh dengan kehadiran pemuda itu yang tak terdeteksi kemunculannya.


"Bocah! Siapa kamu? Cepat pergi dari sini sebelum aku membunuhmu..!" Seruan dari Pria dewasa itu terdengar memekik.


Pemuda itu tetap di tempatnya tak bergeming menatap mereka semua. "Ingin membunuhku? Kau tak layak untuk menyentuhku, Apalagi membunuhku!" Pemuda itu berkata tanpa merubah ekspresinya sama sekali.


Pria dewasa itu terkejut mendengar perkataan pemuda yang tak di kenalnya. Lalu kemudian ia tertawa mencemooh. "Hahaha, Kau hanya manusia tanpa kultivasi bagaimana bisa menyombongkan dirimu itu?"


"Aku tak menyombongkan diriku sendiri, Tapi memang itu sebenarnya!" Pemuda itu menanggapi cemoohan dengan senyum tipis.


"Sial! Bocah! Apa kamu meremehkan-ku hah?" Pria dewasa itu kesal.


"Pemimpin! Bunuh saja bocah itu! Dia sudah meremehkan kita...!"


"Benar pemimpin! Mungkin bocah itu menguping kita dari tadi...!"


"Bocah! Lihatlah kesombonganmu itu yang membuatmu harus mati sekarang juga...!"


"...."


Sesaat, Terdengar suara geram dari kedua kelompok itu.

__ADS_1


__ADS_2