
Dirga merasakan fluktuasi kemarahan di dalam diri Erga ini membuatnya mengernyit. "Jangan bilang kamu menginginkan tehnik kuat untuk melampiaskan amarahmu." Dirga berkata menatap Erga dengan serius.
"Bagaimana senior tahu??" Erga tanpa sadar bertanya kepada Dirga. Padahal ia sudah menyimpannya rapat rapat namun keceplosan.
"Yah...Tidak sulit untuk mengetahuinya karena aku merasakan fluktuasi kemarahan dalam dirimu!" Dirga berkata sedikit acuh tak acuh.
Erga tertegun sejenak dan mendongak menatap wajah datar Dirga yang dari awal sampai akhir memang seperti itu.
"Senior benar! Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika belum melampiaskan amarahku aku tidak bisa tenang! Bahkan jika aku bersekutu dengan iblis pun aku tak peduli! Asalkan aku sendiri bisa membalaskan dendamku!" Erga berkata dengan penuh niat membunuh di matanya.
Dirga menggelengkan kepalanya melihat keseriusan Erga. Namun ia juga tak ingin Erga untuk berkolusi dengan iblis.
Ia juga tak tahu mengapa Erga menjadi seperti ini. Namun ia juga tak ingin tahu tentang ini.
"Senior! Jika senior bisa membantuku menjadi kuat dan berhasil membalas dendam! Aku berjanji pada senior untuk mengabdi kepadamu!" Erga berkata sekali lagi dengan nada tegas dan bersujud saat itu juga.
Dirga juga sebenarnya kasihan dan tanpa daya ia menyanggupinya.
"Aku memiliki tehnik rumit, Namun tehnikku ini sangat menguras energimu! Tapi kehebatan tehnik ini bisa melawan kultivator yang berada di satu ataupun dua tingkat di atasmu!" Dirga berkata kepada Erga dengan tatapan serius.
Erga mendongak dan matanya memancarkan semangat ketika mendengar perkataan Dirga.
__ADS_1
Entah mengapa perkataan Dirga ini tidak ada nada bualan seperti orang - orang. Perkataan itu begitu meyakinkan membuatnya tak bisa untuk tidak menolak.
"Benarkah senior? Kalau begitu, Tolong ajari aku tehnik itu!" Erga berkata dengan niat membunuh di matanya dan kembali menenangkan hatinya.
"Hm!" Dirga menganggukkan kepalanya dan menyuruh Erga untuk duduk bersila.
Meskipun tak tahu alasan Dirga menyuruhnya duduk bersila, Ia tetap mengikuti arahan itu.
Dirga mendekatkan jari telunjuknya ke dahi Erga dan berkata dalam hati. 'Sistem, Transferkan tehnik Jari Dewa!'
Jari telunjuk Dirga seketika mengeluarkan cahaya emas menuju kening Erga.
"Ding! Mentransfer tehnik Jari Dewa berhasil! Tuan sekarang tidak dapat menggunakan tehnik Jari Dewa selamanya!"
Suara dering sistem bergema di benaknya. Namun Dirga tak memperdulikan tentang kehilangan tehnik ini
Ia berharap dengan tehnik pertama kali di dapatkannya ini bisa membuat pemuda bernama Erga ini tumbuh menjadi hebat.
Setelah beberapa menit, Erga membuka matanya dan tatapan kagum terlintas di wajahnya.
"Jurus Seribu Jari Dewa" Gumamnya ketika membaca tehnik pemberian Dirga.
__ADS_1
"Se- Eh...Dimana dia?" Erga berkata terputus dan terkejut ketika tak mendapati sosok Dirga.
Namun tiba tiba pandangannya tertuju pada sebuah pedang berwarna emas yang tertancap di depannya.
"Pe-pe-pedang tingkat Surgawi...!" Pekiknya terbata kaget ketika melihat keberadaan Pedang itu serta tingkatannya.
Tidak hanya itu, Di atas gagang pedang itu terdapat satu buah cincin penyimpanan!
Dia menebak jika isi dalam cincin penyimpanan itu adalah barang maupun benda berharga untuk berkultivasi!
Buk!
Erga jatuh berlutut di depan Pedang itu dan berkata tegas!
"Guru! Murid berjanji tidak akan mengecewakanmu! Murid akan menggunakan tehnik dan Pedang ini ke dalam jalan yang benar!!!" Erga berkata berkata sungguh - sungguh.
Kini panggilan Dirga berubah menjadi guru. Menurutnya, Dirga lebih pantas di panggil sebagai guru!
Menegakkan kembali tubuhnya dan menatap langit dan bergumam dengan sorot mata dingin.
"Ibu! Jangan khawatir...Putramu ini akan mencarimu bahkan sampai ujung dunia sekalipun! Kalian para iblis benar benar kaum bedebah...!"
__ADS_1