
Wush! Wush!
Mereka berdua menapaki tanah. Di depan mereka ada sebuah hutan yang di tumbuhi pohon pohon tinggi dan cukup besar.
Dirga mengernyitkan dahinya. Sebelum bersuara, Tiba tiba suara tawa seseorang terdengar di balik pohon itu dan diikuti seratusan pemuda pemuda.
"Hahaha, Cindy! Ternyata kamu berani kembali, Apa kamu sedang merindukan ayahmu itu?" Ejek seorang pemuda yang cukup tinggi dengan pakaian coklat bergambar dua pedang menyilang di dadanya dengan wajah terlihat sayatan.
Wajah Cindy menegang. Lalu berkata dengan muram. "Gya Thel, Aku tidak ada urusan denganmu! Sebaiknya kamu pergi!"
Orang yang di panggil Gya Thel maju selangkah dan matanya berbinar menatap kemolekan tubuh Cindy. "Hohoho, Sudah dua hari tidak bertemu, Ternyata kamu semakin cantik saja, Cindy!" Ucapnya seraya menjilat bibir bawahnya.
Salah satu pemuda di belakangnya maju di sisi Gya Thel. "Tuan muda, Apa kami tidak di beri bagian? Bagaimanapun dia sangat cantik!" Ucapnya seraya mengalihkan pandangannya ke Cindy sambil mengerlingkan matanya cabul.
Gya Thel berkata bangga. "Tentu saja boleh! Ketika aku tidur sehari dengannya, Kalian boleh melakukan apapun terhadapnya."
Raut wajah pemuda di belakangnya berubah seri seraya memandang lekuk tubuh Cindy sambil membayangkan hal tak senonoh.
"Tuan muda, Anda benar benar murah hati, Paling nanti kami tidak keluar selama tiga hari, Hehe" Ucap salah satu dari mereka sambil mengangkat jempolnya ke Gya Thel, Membuatnya semakin tersenyum lebar dan membusungkan dadanya.
Raut wajah Cindy berubah tegang melihat kelaukan mereka. "Apa yang kalian lakukan? Apa kalian tidak tahu aku?" Ucapnya dengan menggertakkan giginya marah.
Alis Gya Thel mengernyit ketika pandangannya tertuju ke pemuda berambut perak di belakang Cindy. "Oh, Bukankah ini pemuda yang menyelamatkanmu waktu itu?...Cindy oh Cindy, Apa kamu sekarang menjadikan bocah ini sebagai pengawalmu?" Cibirnya sambil melipatkan tangan di dadanya.
Wajah Cindy berubah muram begitu mendengar perkataan tuan muda Gya Thel. "Kamu-
"Apa? Bukankah aku benar? Bagaimana bisa bocah tengik ini menjadi pengawalmu? Apa seleramu sudah menurun selama ini?" Sela Gya Thel sambil tertawa liar diikuti ratusan pemuda di belakangnya.
Raut wajah Cindy berubah muram, Mendekat ke sisi Dirga, Ia berkata lirih. "Dirga maafkan aku!"
__ADS_1
Dirga tidak menanggapi permintaan maaf Cindy. Ia masih fokus menatap jauh ke depan.
Dirinya melihat sebuah bayangan gedung tinggi yang berada di bukit yang tinggi. Meskipun samar samar, Dirga juga bisa merasakan ada banyak orang yang sedang bersembunyi di balik kehampaan mengitari gedung tinggi itu dan area sekitarnya.
Selain itu, Dirga merasakan aura yang tak asing di depannya, Membuat matanya menyipit menatap lurus ke depan.
Melihat pemuda berambut perak itu yang hanya diam sambil menatap depan. Tuan muda Gya Thel membentak marah. "Hei! Apa yang kamu lihat lihat?"
Dirga menjawab acuh tanpa mengalihkan pandangannya. "Apa kalian memelihara iblis?"
Begitu perkataan terucap dari mulut Dirga. Semua orang yang berada di belakang tuan muda Gya Thel menunjukkan sikap waspada.
"Siapa kamu? Apa tujuanmu kemari? Apa kamu di suruh oleh seseorang?" Ucap salah satu dari mereka sambil menunjuk ke arah Dirga dengan mata awas.
Begitu juga dengan yang lainnya menatapnya dengan waspada, Bahkan ada beberapa yang mengeluarkan senjatanya menghunus ke depan.
Tapi, Ekspresi Dirga tetap datar dan berkata acuh. "Aku bukan berasal dari organisasi atau apalah itu! Aku hanyalah sorang pemuda yang kebetulan lewat kesini!"
Dahi tuan muda Gya Thel mengernyit, Lalu membentak marah. "Bocah! Aku tahu tahu kau menipuku, Aku yakin kau adalah mata mata untuk menelusuri sekte kami, Cih!"
Belum sempat menjawab, Sekumpulan pemuda itu sudah melesat ke arahnya sambil mengeluarkan beberapa senjatanya.
Ekspresi Cindy berubah jelek, Sebelum dirinya tersadar kembali, Sebuah tangan meraih pinggangnya dan menghilang dari pandangan semua orang membuatnya tertegun.
"Hilang? Di mana dia?" Gumam salah satu orang dengan wajah bodohnya menatap tempat Dirga dan Cindy menghilang.
Tuan muda Gya Thel menunjukkan wajah serius. Lalu ia merintah melengking. "Cepat! Cari kedua bajingan itu! Jangan sampai mereka melarikan diri!" Mereka mengangguk kemudian melesat ke segala arah.
Sedangkan Dirga dan Cindy saat ini berada di dahan pohon yang tinggi. Dirga menyelimuti tubuh Cindy dengan energi mental sejati.
__ADS_1
"Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka seperti takut jika kita melarikan diri?" Gumam Cindy ketika baru sadar dengan lamunannya.
Dirga tak menjawab, Ia balik bertanya. "Apa aku boleh membunuh semua orang ini? Saat ini, Tubuh mereka sudah terkontraksi dengan aura iblis, Jadi mereka tak ada bedanya dengan iblis!"
Cindy tercengang, Lalu berkata dengan marah. "Itu tidak mungkin! Mereka bukanlah seorang iblis! Mereka seorang murid sekte, Bagaimana bisa kamu menuduh mereka dengan seorang iblis? Kamu hanyalah orang luar yang tidak mengerti apa apa! Kamu itu yang sebenarnya iblis!"
Dirga terdiam, Ia tidak bisa membuktikan jika orang di bawahnya ini semuanya sudah terkontraksi dengan aura iblis. Bagaimanapun, Dia memiliki pernapasan dewa, Jadi indra penciumannya sangat tajam dari kultivator biasa itulah dia bisa mengetahuinya.
Menoleh ke Cindy yang masih marah, Ia berkata sebelum tubuhnya menghilang. "Kamu tunggu di sini saja."
Cindy yang masih kesal menjadi sangat marah begitu ia ditinggalkan sendirian. 'Sialan! Apa yang dia inginkan?'
Saat ini, Seratusan pemuda sudah kembali kesisi Tuan muda Gya Thel. Salah satu dari mereka bicara. "Tuan muda, Kami tidak menemukan mereka, Bahkan kami tidak merasakan auranya sama sekali sejauh dua kilo meter."
Raut wajah Gya Thel berubah, Lalu berkata dengan muram. "Bajingan! Bagaimana bisa dia kabur secepat itu? Bukankah kamu memiliki kultivasi Alam Bumi tingkat menengah? Kenapa kamu tidak bisa melihatnya sama sekali?"
Raut wajah yang di bentak Gya Thel berubah pucat ketakutan, Lalu menjawab dengan gugup. "Tu-tuan muda, K-kami benar benar tidak mendeteksi keberadaannya, Seolah olah merrka berdua menghilang begitu saja!"
Raut wajah Gya Thel berubah semakin jelek. Sebelum bersuara, Tiba tiba terdengar suara tebasan di belakangnya.
Slassh! Slassh! Slassh!
Begitu dia menoleh kebelakang. Dirinya sontak tercengang melihat sekelebat bayangan yang melesat dengan kecepatan cepat bersamaan dengan kepala mereka yang terpenggal.
Dengan wajah pucat, Gya Thel mengeluarkan pedangnya dan menunjuk depan dengan tangan sedikit gemetar. "Si-siapa kamu? Berani beraninya kamu membunuh murid sekte seribu pedang, Apa kamu tidak takut konsikuensinya?" Ucapnya dengan terbata bata.
Saat ini sekelebat bayangan itu berhenti bergerak, sosok itu mengenakan jubah hitam dengan wajah tertutup kain hitam, Jadi hanya kedua matanya yang terlihat.
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku, Kamu sudah menghianati bangsamu sendiri bersekutu dengan iblis! Apa aku salah membunuhnya?" Ucap serak sosok itu sambil menatap depan yang kini hanya tersisa tuan muda Gya Thel dan sembilan pemuda di belakangnya.
__ADS_1