
Seorang gadis berusia tujuh belas tahunan berwajah cantik jelita dengan pakaian sederhana muncul dari dalam toko. Tapi yang membuat Dirga menaikkan satu alisnya. Semua pengunjung toko tidak ada yang berani menatapnya dan mendekatinya, Seolah olah takut kepadanya.
Si gadis itu mengerlingkan matanya menatap ke dua penjaga tokonya yang kini sudah terkapar pingsan. Mengalihkan pandangannya ke depan, Ia melihat wanita cantik berekspresi datar sedang menatapnya.
Wajahnya seketika menegang mendapati bahwa dia tidak bisa melihat kultivasinya sama sekali, Padahal ia sudah mencapai ranah Alam Bumi tingkat kelima.
'Siapa wanita ini sebenarnya?' Pikirnya. Sebelum dia berkata, Suara lembut Laniya telah mendahuluinya. "Apa kau manager di sini? Kedua penjaga tokomu telah mempersulitku masuk hanya karena pakaian kami yang miskin."
Begitu mendengar pernyataan Laniya, Hatinya seketika marah, Tapi di permukaan tetap senyum. "Ah- Maafkan kedua penjagaku nona! Perkenalkan namaku Naila pemilik toko ini, Nona boleh masuk sekarang juga dan membeli pakaian yang nona suka." Ucapnya dengan ramah takut menimbulkan kerusakan di tokonya.
"Bukan aku yang membeli pakaian, Tapi dia!" Jawab Laniya sambil menunjuk ke Dirga yang saat ini sedang asyik mengobrol dengan Tia di pelukannya tanpa memperdulikan sekitar.
Si gadis pemilik toko yang bernama Naila mengikuti arah tunjukkan Laniya dan tercengang begitu melihat wajah tampan pria berambut perak. 'Sangat tampan!' Batinnya dengan pipi bersemu merah.
"Ah- Ma-maafkan saya jika layanan toko kami tidak baik, Tuan muda dan Nona muda boleh masuk dan kami akan memberi anda diskon lima puluh persen." Ucapnya dengan gugup.
Dirga yang mendengarnya tersenyum lebar dan berjalan menghampiri Laniya. "Kalau begitu, Aku tidak akan sungkan!" Ucapnya sambil berlalu masuk bersama Laniya di bawah pandangan tercengang semua pengunjung.
'Ada apa dengan monster kecil ini? Bagaimana bisa dia tidak di pukuli seperti orang sebelum sebelumnya?' Pikir mereka bingung.
Naila tak peduli, Ia menatap semua kerumunan sambil berkacak pinggang dengan mata melotot lalu masuk membuat pengunjung tanpa sadar mundur ngeri.
"Tuan muda, Total semua pakaian ini lima juta seratus koin emas!" Ucap pelayan toko dengan senang karena mendapatkan pelanggan yang membeli pakaian dengan harga sangat fantasis baginya.
Dirga tak peduli, Ia menyerahkan koin emasnya untuk membayarnya. "Apa adikku ini bisa ganti baju di sini?" Tanyanya dan di jawab cepat oleh pelayan. "Tentu! Tentu saja bisa tuan muda, Apa tuan muda ingin adik anda kami rias juga?"
Dirga mengangguk dan menjawab acuh. "Sedikit saja!" Sang pelayan lalu menggiringnya dan membawanya keruangan tertentu.
Setelahnya, Dirga menoleh ke sudut ruangan dan mengangguk sambil tersenyum. Membuat si empunya terkejut sambil waspada, Tapi Dirga hanya mengangkat jempolnya acuh tak acuh.
__ADS_1
Setelah beberapa saat menunggu, Akhirnya Tia keluar sambil berjalan ke arahnya. Dirga tertegun melihat gadis kecil berambut sebahu lebih sedikit dengan wajah yang imut serta lesung pipi kanannya terlihat sangat lucu.
"Tia?" Gumamnya dan langsung mengambilnya dengan cepat membuat si empu terkekeh pelan.
"Maaf tuan muda, Kami sedikit meriasnya." Kata pelayan dengan ramah.
"Tidak masalah! Ini terlihat sangat cantik!" Ucap Dirga sambil menyerahkan beberapa koin emas lagi ke pelayan toko membuatnya ingin melompat senang.
Setelah urusan dengan pakaian selesai, Dirga mencari penginapan terlebih dahulu. Selain itu, Ia juga ingin melihat keadaan Cindy yang masih ia letakkan di cermin kultivasinya.
Setelah memesan penginapan. Dirga dan kedua wanitanya masuk ke dalam kamar. Ketika ingin membuka gerbang cermin kultivasinya.
Dahinya tiba tiba mengernyit lalu berkata sambil tersenyum tipis. "Apa kamu tidak mau keluar sekarang? Jika kamu tidak keluar! Aku akan mengeluarkanmu paksa!"
Laniya yang mendengar perkataan Dirga seketika wajahnya berubah. Tapi sebelum itu ada bunyi gedebuk di sudut ruangan kamar di ikuti umpatan.
"Aduh Aduh Aduh, Pantatku brengsek!"
Sontak saja, Orang yang mengikuti, Ternyata gadis kecil berkeringat dingin sambil menelan ludah kasar begitu merasakan penindasan aura Laniya. 'Sangat kuat!' Batinnya.
Dirga juga dari tadi mengetahui jika dirinya sedang diikuti. Tapi ia membiarkan saja karena tidak ingin membuat keributan.
Dirga meletakkan tubuh kecil Tia di kasur, Lalu berjalan menghampiri orang itu. Ketika melihat siapa orang itu, Ia melengkungkan sudut mulutnya.
"Oh, ternyata nona Naila, Kenapa anda mengikuti kami? Apa kami membuat kesalahan sebelumnya?" Tanya Dirga sambil menatapnya tajam.
Si gadis yang ternyata Naila itu ketakutan ketika di tatap tajam Dirga. Menelan ludahnya beberapa kali ia berkata dengan gugup. "M-ma-maafkan aku tu-tuan muda! Hanya saja-
"Hanya saja apa?" Sela Dirga kesal karena gadis di depannya terlalu bertele tele.
__ADS_1
"Hanya saja aku penasaran dengan kalian!" Jawabnya dengan cepat karena takut di tatap tajam oleh Dirga.
Dirga mengerutkan keningnya merasa aneh dengan jawaban gadis bernama Naila ini. Menatap mata Naila lagi dan meluncurkan energi tak kasat mata menuju mata Naila.
"Cepat katakan! Apa maksud kamu sebenarnya?" Tanya Dirga setelah melihat tatapan kosong Naila.
"Sebenarnya aku berasal dari Organisasi Bayangan. Organisasi Bayangan di pimpin oleh tuan kota Luyung ini yang kebetulan juga ayahku. Beberapa hari lalu, kota ini di jadikan tempat pertarungan oleh orang Sekte langit surgawi dan Sekte seribu pedang. Mereka tidak hanya menghancurkan tempat di sekitarnya, Tapi juga membunuh penduduk kota yang tak bersalah. Oleh sebab itu, Ayahku mengantisipasi anggota organisasi agar waspada dengan orang asing, Takutnya mereka adalah orang orang yang berasal dari kedua sekte itu. Meskipun Organisasi Bayangan tidak sehebat dengan organisasi Naga langit dan phoenix langit, Tetap saja, organisasi kami tidak kalah hebatnya dengan mereka."
Dirga yang mendengar penjelasan tersebut kini mengangguk puas. Sebelumnya, Ketika ia masuk kedalam kota ini, Ia terus di tatap oleh beberapa orang, Seolah ingin menerkamnya membuatnya risih.
Selain itu, Saat membeli pakaian tadi, Ia sempat merasakan aura beberapa orang yang sedang sembunyi di balik bayangan membuatnya terkejut.
Dirga melepaskan tatapan matanya yang membuat Naila tadi linglung kini tersadar. Dia bingung dengan dirinya sendiri. 'Apa yang terjadi?' Batinnya.
Dirga tak peduli dengan Naila yang bengong. Ia mengeluarkan pil warna hijau dari cincin penyimpanannya dan menyerahkan ke Naila. "Minumlah!"
Naila dengan linglung menerimanya dan menatapnya dengan serius. "Pil apa ini?" Tanyanya karena tak mengetahui apa itu.
Dirga menjawab acuh. "Kamu akan mengetahui jika menelannya."
Naila ragu ragu sejenak, Setelah mempertimbangkannya ia menelan pil itu dan seketika pikirannya yang kosong menjadi tenang. Selain itu, Kekuatan jiwanya juga meningkat pesat membuatnya terkejut.
"Ini..?"
Dirga tidak terlalu peduli, Bagaimanapun teknik mata hipnotisnya membuat lawan terkena shock ringan, Jadi dia harus bertanggung jawab dengan aksinya.
Selain itu, Dari informasi yang di dengarnya, Ia menjadi senang karena tak perlu susah payah untuk mencari koin systemnya. Tentu bukan karena itu saja, Ketika mendengar pertarungan kedua kubu itu yang membuat penduduk mati karenanya, Ia marah dan harus memberi mereka pelajaran.
'Sepertinya membangun kekuatan sendiri tidak terlalu buruk' Pikirnya sambil tersenyum licik.
__ADS_1
Karena ia bisa meringankan tenaganya untuk membalas dendam pemilik tubuh sebelumnya. Cukup mudah baginya. Ia memiliki banyak sumberdaya untuk merekrut beberapa orang yang berkultivasi dan membuatnya berlatih beladiri.