Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 144


__ADS_3

Boom!!


 Suara ledakan terdengar cukup keras. Di dalam ledakan itu terdapat potongan potongan tubuh pasukan lawan yang menyerang.


 "B-bagaimana bisa?" Pria di atas langit yang melihat ini matanya melebar tak percaya.


 Melihat pasukannya yang banyak tewas membuatnya menggertakkan giginya marah.


 "Brengsek!" Makinya dan menoleh samping melihat dua pria. "Dai Wuye, Hua Bhot! Coba kalian berdua serang formasi ini!" Ucapnya memberi perintah.


"Baik! Tuan Jing!" Dai Wuye dan Hua Bhot menjawab hormat membungkukkan badan.


Keduanya melayang tepat di atas tengah formasi bintang yang tampak berkedip - kedip itu.


Mengangkat pedangnya tinggi tinggi dan menebaskan ke arah bawah dengan arah vertikal.


Woshh!


Dua kilatan cahaya ke abuan dengan panjang ratusan meter keluar dari ujung pedang mereka berdua dan melaju ke bawah dengan cepat.


Boom!!!


Krakk!


Suara ledakan kembali terjadi kali ini. Tetua Shane dan yang lainnya yang melihat ini pun wajahnya sontak muram.


"Formasi ini nampaknya tidak bisa bertahan lama. Cepat laporkan ini ke Master!" Tetua Shane segera memberi perintah kepada para bawahan Dirga.


Leluhur Siwa Kenta menatap atas dengan raut wajah muram. "Sialan! Jika formasi hancur maka semua murid akan terbunuh!" Gumamnya dengan wajah geram.


"Kalian semua! Dengarkan aku! Berpencar ke segala arah dan jangan sampai keluar formasi. Serang mereka dari dalam!" Ucap leluhur Sido Lawang memerintah kepada semua murid.


Saat ini murid yang ada di Sekte hanya ada ratusan saja. Sisanya ada di tangan Arya dan Dirga yang di dunia cermin nya.


Segera, Para murid yang mendengar perintah itu pun segera melakukannya dan menyebar ke segala arah dengan kelompok berbeda.


Boom!! Boom!! Boom!! Boom!!


Tanpa peringatan, Para murid langsung mengeluarkan serangan bola bola energi yang langsung menghempaskan tubuh para musuh.


Ada beberapa yang langsung terbunuh saat itu juga, Namun jumlah mereka masih banyak jadi para murid harus berusaha lebih.


Pertempuran pun kembali lagi.


Leluhur Siwa Kenta menatap Leluhur Sido Lawang dengan tatapan serius dan berkata. "Kita keluar dari formasi ini dan bertarung!"


Namun leluhur Sido Lawang menggeleng. "Jangan! Itu bukanlah ide yang bagus. Apa kamu yakin bisa melawan dua tahap menengah itu? Belum lagi ada yang di tahap akhir." Ucapnya menjelaskan ke kebodohan Siwa.


"Kalau begitu, Kita serang saja dari dalam.formasi ini. Meskipun tidak dapat membunuh kelimanya, Tapi kita bisa membunuh seluruh pasukannya dengan mudah!" Ucap Leluhur Siwa Kenta menyeringai dingin.


"Kalian juga serang mereka!" Tambah Leluhur Sido Lawang menatap Retania, Rista, Tei, Zei dan Tetua Shane.


Mereka menganggukkan kepala dan melesat untuk bertempur.


Dhuarr!! Dhuarr!! Dhuarr!! Dhuarr!! Dhuarr!!

__ADS_1


Suasana kembali tegang. Para murid dan para petinggi sekte langsung menggempur dari dalam formasi menyebabkan mayat bertambah banyak.


"Sialan! Kita maju bersama dan hancurkan Sekte bedebah ini!" Tuan Jing berkata dengan aura membunuh yang kuat melihat pasukannya banyak yang terbantai.


Seketika, Keempat bawahannya yang lain pun ikut membantu tuannya yang melesatkan serangan bola energi besar.


Boom...!!!


••


Di tempat lain


Dirga saat ini sudah keluar dari kedai makan bersama dengan dua gadis kecilnya yang berada dalam gendongannya.


Dia tidak tahu jika tempat sektenya saat ini sedang dalam masalah.


"Kalian makan begitu banyaknya, Apa kalian tidak takut perut kalian meledak?" Dirga berkata kepada kedua adiknya yang matanya sayup - sayup itu.


"Emm~ Takut sih kak, Tapi entah kenapa Ania kalau di hadapkan dengan makanan nafsu makanku jadi bertambah." Ucap Ania lirih dengan tangannya yang yang selalu mengusap perutnya.


"Tia juga kak!" Tambah Cintia yang juga sama.


Dirga tersenyum samar karena sebenarnya tahu kenapa kedua gadis kecilnya ini makannya banyak.


"Yasudah, Kalian lebih baik tidur saja di dunia cermin!" Dirga berkata sambil mengecup pucuk kepala keduanya membuat kedua gadis cilik itu tersenyum.


"Emm...Baiklah kak." Keduanya menganggukkan kepala setuju sedikit enggan berpisah dengan kakaknya.


Tapi karena rasa kantuknya, Keduanya hanya bisa menuruti perkataan kakak tampannya.


"Benarkah??" Keduanya berseru serempak dan terlihat matanya berbinar.


Dirga mengangguk dan memberi tahu kepada keduanya tentang itu.


Lalu, Dirga pun memasukkan kedua gadis kecilnya ketika sudah berada di tempat yang agak sedikit sepi.


Tiba tiba suara yang di kenalnya terdengar dari belakangnya.


"Tuan muda! Tunggu!"


Dirga menoleh dan melihat seorang gadis berpakaian ungu dengan wajah cantiknya. Meskipun begitu ia tetap memasang wajah datar.


"Ya? Ada apa nona Indira?" Dirga berkata acuh meskipun tahu apa yang gadis itu ucapkan.


"Emm..Itu, Terima kasih telah menyelamatkanku tadi malam!" Indira berkata ramah sambil membungkukkan badan ke arah Dirga.


Dia tahu jika sosok pemuda tampan inilah yang telah membantu dirinya yang hampir di lecehkan oleh tuan muda Marde itu.


Dan dia juga tahu kenapa dia berada di tempat asing yang penuh keindahan di dalamnya karena ada banyak sosok.gadis cantik yang melebihinya yang ada di dalamnya.


Memikirkan ini, Entah kenapa hatinya sakit ketika menyadari pemuda ini telah memiliki banyak gadis yang memilikinya. Namun begitu ia memiliki harapan berada di sisinya.


"Tidak masalah, Bagaimanapun dia berani ingin menculik kedua adikku!" Dirga tetap berkata acuh tak acuh.


Indira mengerucutkan bibirnya melihat ekspresi yang biasa biasa aja pemuda tampan itu.

__ADS_1


Lalu ia sedikit tertegun karena baru menyadari jika saat ini sudah tidak ada dua gadis kecil itu.


Namun karena ia masih ada urusan, Indira pun berkata. "Sekali lagi, Terima kasih tuan muda! Kalau begitu, Saya permisi dulu!"


Ketika membalikkan badan dan bersiap untuk pergi, Dirga memanggilnya. "Tunggu!!"


Indira menoleh dan menatap Dirga sejenak dengan bingung.


"Semoga ini bisa membantumu!" Dirga berkata sambil mengulurkan tangannya yang ada benda di telapak tangannya membuat mata Indira terbelalak lebar.


"I-ini? Ini eliksir Ketumbar Dua warna!!!" Serunya tergagap dan tanpa sadar ia menerima eliksir itu dan matanya tetap tidak lepas dari benda itu.


Dia tahu akan kegunaan eliksir itu dan salah satunya bisa menyembuhkan luka racun yang diidap ayahnya saat ini.


"I-ini? Tuan mu- Eh? Dimana dia?" Indira baru menyadari jika sosok pemuda tampan utu sudah tidak ada di depannya.


Tanpa sadar air mata kebahagian muncul dari pelupuk matanya yang indah. Menggenggam erat erat eliksir itu dan bergumam pelan. "Tuan muda, Meskipun aku tidak tahu siapa dirimu aku akan berusaha mencari mu!"


Dia bertekad untuk mencari sosok pemuda itu yang tanpa sadar telah membantu ayahnya. Dia ingin berterima kasih sekali lagi kepadanya, Bahkan untuk di jadikan budak pun tidak masalah.


Asalkan ada di sisi pemuda itu!


•••


Di sisi lain, Dirga muncul di tempat gersang luas yang agak sedikit sepi dan di depannya ada sekitar tujuh ratus yang sedang memandangnya.


Ketika ingin berkata memberi perintah, Tiba tiba cincin penyimpanannya bergetar dan memeriksanya sebentar.


Raut wajahnya berubah serius ketik mendengar jika pesan itu dari Te dan Zei yang memberi informasi tentang keadaan Sektenya.


Mengangkat kepalanya dan menatap tajam semua murid membuat tubuh kesemuanya bergetar sesaat.


Mereka bertanya tanya mengapa Master nya menatapnya seperti itu?


"Tiga ratus Alam Langit dari kalian patuhi perintahku dan pergi ke arah Selatan agak ke timur! Di sana ada bendera formasi yang sudah aku tancapkan. Kalian tinggal aktifkan dengan mengaliri energi kalian! Aku tidak mau tahu, Kalian harus menghancurkan tempat itu tanpa ada yang tersisa!"


Dirga memberi perintah ke apada para muridnya dengan tatapan serius.


"Baik Master!" Seratus orang yang di suruh Dirga pun menjawab serempak dan Dirga segera menjelaskan apa yang harus mereka lakukan.


Setelah melihat semua pergi, Kini di depannya hanya tersisa enam ratus lebih murid sekte nya.


" Kalian kembali ke Sekte dan bantu saudara kalian! Sekte kita di serang oleh orang asing. Tapi ingat! Jangan bertindak gegabah dan incar saja yang menurut kalian bisa kalian lawan. Jangan bertindak bodoh!" Ucap Dirga kepada mereka yang mengejutkan mereka karena baru mengetahui jika kediaman sekte nya ada yang menyerang.


Segera Dirga pun menjelaskan tentang apa yang harus mereka lakukan. Bagaimanapun, Di sana ada lima keberadaan yang membuatnya harus waspada.


Bahkan dirinya sendiri tidak yakin mengalahkan mereka semua. Apalagi dari pesannya ada satu yang di tahap akhir.


Wushh!! ×


Setelah melihat ke semua murid nya pergi, Dirga pun memutuskan untuk ikut juga karena dia tidak akan melepas tangan jika ada masalah seperti ini.


Namun matanya tidak sengaja menangkap sosok yang tidak asing sedang berjalan gontai menunduk seakan tidak mempunyai tujuan hidup.


"Dia?" Kata singkat yang keluar dari mulut Dirga.

__ADS_1


Wushh!


__ADS_2