
"Mulai sekarang, Kamu telah menempati tubuhku, Jaga baik baik! Meskipun kamu marah dengan kelakuan orang tuaku, Tapi tetap saja, Mereka adalah orang tuaku yang menjagaku selama ini, Meskipun agak kecewa dengan sikapnya! Aku berharap kamu tidak menaruh dendam maupun ingin membunuhnya!" Ucap jiwa Pangeran Qin Diega menatapnya dengan permohonan.
Sebelum Dirga berbicara, Jiwa Pangeran itu menyelanya. "Yah! Meskipun aku bisa merasakan kemarahan di hatimu atas sikap kedua orang tuaku. Tapi aku mohon jangan membunuhnya, Kamu bisa memberikannya sedikit pelajaran! Tapi jangan yang terlalu berat!"
Dirga menatap jiwa pangeran itu dengan pandangan rumit. Ia awalnya tak mau berbelas kasihan dengan orang tua model seperti mereka, Tapi karena tidak tega dengan jiwa pangeran pertama, Ia mengurungkan niatnya.
Seakan mengerti yang di pikirkan Dirga, Jiwa pangeran itu mengangguk dan menyahut. "Terserah apa yang kamu lakukan! Tapi aku mohon dengarkan perkataanku tadi! Untuk keempat orang bajingan tengik tak tahu diri yang membuatku mati! Kamu bisa melakukan apapun dengannya, Asalkan harus berakhir dengan kematian!"
Jiwa pangeran perlahan memudar ketika menyelesaikan kata katanya, Ia menatap Dirga dengan tatapan memohon. "Waktuku tidak banyak! Gunakan tubuhku dengan sebaik baiknya!...Oh ya! Aku memiliki ini! Jika bertemu dengan mereka berdua, Serahkan cincin ini kepadanya!"
Setelah melemparkan sebuah cincin perak ke Dirga, Jiwa pangeran itu perlahan menghilang bersama dengan kata terakhirnya. "Selamat berjuang untuk kehidupan semua orang! Yang Mulia Kaisar!"
Dirga tertegun mendengar suara terakhir jiwa pangeran itu. Sebelum berkata, Tubuhnya seolah di tarik oleh sesuatu dengan kuat.
Sebelum tubuhnya benar benar lenyap, Ia melihat bayangan samar seorang pria tegap dengan wajah tampan serta berambut perak dengan pandangan tajam dan tegas menatapnya sambil tersenyum.
'Siapa itu?' Gumamnya dibenak terakhir kali, Saat kesadarannya kembali gelap.
*
Dunia cermin
Saat ini, Laniya memangku wajah pucat Dirga dengan perasaan campur aduk. Sudah tiga hari berlalu ia tetap berada di posisi ini.
Selain prihatin, Ia juga masih takut dengan Dirga saat ini, Membayangkan kejadian beberapa hari lalu, Tanpa sadar tubuhnya bergidik ngeri.
Menatap lekat lekat wajah tampan Dirga yang kini pucat, Ia menggumamkan kata. "Siapa sebenarnya kamu ini Dirga? Apa kamu sosok reinkarnasi orang kuat?"
Dia berpikir jika sosok Dirga adalah reinkarnasi seseorang kuat yang berada di tubuh Dirga, Meskipun itu hanya pemikirannya saja dan tidak yakin ada halnya tentang sebuah reinkarnasi.
Memang yang di katakan Laniya ada benarnya juga. Dirga adalah sosok reinkarnasi dari masa depan yang terlempar ke dunia antah barantah ini yang di penuhi dengan kekuatan abasolut.
__ADS_1
"Uhuk-Uhuk...!" Suara batuk lemah terdengar.
Seketika Laniya melihat mata Dirga yang kembali perlahan terbuka. Laniya segera memeluk Dirga dengan air mata kesedihan.
"D-Dirga! Ma-Mafkan aku! Ini...Ini semua salahku yang membuatmu marah!" Ucapnya sambil membenamkan ke dada pemuda ini dengan terisak.
Dirga yang bingung dengan ucapan Laniya tertegun. Ia segera merubah posisinya menjadi duduk sambil memegangi Laniya yang masih terisak di pelukannya.
Sebelum bertanya, Ia tercengang dengan mata melebar. Ia melihat banyak sekali gedung dan rumah rumah yang nampak porak poranda, Kecuali istana peraknya.
"Ap-Apa yang terjadi?" Gumamnya terkejut sambil menatap depan.
Laniya yang mendengar gumaman Dirga mengernyit dan menatap pupil mata Dirga yang kini berubah normal seperti orang biasa. Padahal sebelumnya pupil matanya berwarna biru langit.
"A-Ada apa denganmu? Bu-Bukankah kamu sendiri yang membuat tempat ini menjadi kacau?" Laniya bertanya dengan heran serta takut.
Dirga bingung dengan perkataan Laniya, Terakhir kali yang ia ingat adalah insiden saat Laniya menusukkan pedangnya ke arah jantungnya.
Ia menghela napas lega, Laniya menyadari raut kebingungan Dirga bertanya. "Ada apa?"
Dirga menatap mata Laniya lekat lekat. "Tidak ada! Berapa lama aku pingsan?"
"Tiga hari!" Jawabnya singkat.
"Uh? Tiga hari?" Ucap Dirga terkejut.
Pada saat terakhir kali ia berada di ruangan serba putih yang membingungkan itu, Dirinya merasa beberapa menit saja, Tak di duga malah tiga hari terlewati.
Laniya menatap Dirga dengan air mata yang sembab, Sudah di pastikan jika wanita ini menangis selama ini. "A-Aku...Aku minta maaf! A-Aku... Lidahnya tercekat karena ia hampir membunuh seseorang yang baik kepadanya selama ini.
Dirga menggelengkan kepalanya. "Tak sepenuhnya salahmu! Tapi aku paling benci dengan orang seperti itu!" Ucapnya dengan sorot mata dingin dan kembali tenang.
__ADS_1
Laniya menatap Dirga dengan perasaan penuh bersalah. Ia menyesal mengambil tindakan sembrono, Tidak seharusnya ia membela orang seperti itu.
Menggigit bibir bawahnya, Ia berkata pelan dengan penuh penyesalan. "Aku minta maaf! Tidak seharusnya aku membela mereka!
Dirga menggelengkan kepalanya mendengar perkataan maaf Laniya yang beberapa kali. " Tidak masalah! Ak-...Cupp!"
Sebelum menyelesaikan kata katanya, Dirga memperoleh ciuman lembut dari bibirnya. Seketika ia terkejut dengan aksi Laniya.
Ketika ingin berkata, Tubuhnya di dorong paksa oleh Laniya hingga tubuhnya telentang dan Laniya berada di atas perutnya.
Muka Laniya memerah melihat aksinya sendiri. Ia berbisik gugup dan pelan ke telinga Dirga. "A-Aku minta maaf! Ka-Kamu boleh melakukan apapun saat ini!"
Tubuh Dirga sedikit menegang, Ia tak menyangka jika Laniya seaktif ini. Ketika ingin menolak, Laniya tanpa ragu membuka pakaiannya dan menampilkan sosok kulit halus yang indah membuat matanya berbinar.
Pria mana yang tidak tahan dengan semua ini?
Tubuhnya yang sedikit lemah tiba tiba menjadi semangat empat lima.
Pipi Laniya merona, Ia berkata lembut dan lirih. "Tolong pelan pelan!"
"Ah..!"
Mereka berdua pun hanyut dalam waktu sekitar lima jam. Melihat Laniya yang tepar dengan telanjang, Ia menatap depan dan bergumam. "Sistem! Apa ini bisa di perbaiki?"
"Ding! Bisa Tuan! Tuan tinggal memikirkannya seperti pertama kali memasukinya!"
Dirga segera memikirkannya, Dan benar saja, Beberapa bangunan dan tempat yang porak poranda seketika di gantikan dengan yang baru.
Memindahkan tubuh Laniya yang tepar ke suatu kamar, Ia segera keluar dari dunia crminnya.
"Kenapa aku merasa ada yang tidak beres dengan dunia luar?" Gumamnya mengernyit sambil melangkahkan kakinya masuk pusaran hitam.
__ADS_1