
Dunia kultivasi memiliki tingkatan kultivasi dan beberapa bintang seperti:
Ranah Fana
1.Kelahiran
2.Penyempurnaan Tulang
3.Fondasi Tubuh
4.Penyempurnaan Roh
5.Pemurnian Qi
6.Alam Bumi
7.Alam Langit
8.Raja Langit
9.Pertapa
Di ranah fana memiliki 9 tingkatan bintang.
Setengah Immortal /Half Immortal
1.Saints
2.Holy Saints
3.Saints Monarch
4.Holy Emperor
5.Grand Emperor
7.Surgawi
8.Raja Surgawi
9.Nirwana
10.Mahayana
11.Grand Dao
Ranah Dewa
••••••••••
"Ayah! Ibu! Adik!"
Laniya terbangun dari pingsannya dan tubuhnya di penuhi keringat deras seraya berseru terengah.
"Tuan putri! Apa anda tidak apa - apa??" Suara pria terdengar dari sampingnya.
Laniya menoleh dan melihat sesosok pria dewasa yang memandangnya dengan raut wajah khawatir.
Laniya berkata tergagap. "Pa-paman!"
Pria yang di panggil paman adalah Jenderal Tanbi. Dirinya tertegun sejenak sebelum sadar ketika Laniya memeluknya erat - erat.
"Huhu...Paman! Aku merindukanmu! Laniya merindukan ayah, ibu dan adik!"
Laniya menangis tersedu sedu sambil memeluk pamannya yang sudah lama tidak bertemu.
Jenderal Tanbi terharu melihat keponakan tersayangnya. Ia tidak bisa untuk tak mengusap rambut Laniya.
"Paman juga merindukan Tuan putri...Kamu sudah tumbuh besar seperti ini. Cantik seperti ibumu waktu muda!" Ucap Jenderal Tanbi mencubit lucu pipi Laniya.
Laniya cemberut dan berkata seolah kesal meskipun pipinya merona karena di panggil cantik oleh pamannya.
"Jangan panggil aku tuan putri, Paman! Aku tidak senang dengan itu. Panggil saja seperti paman memanggilku waktu kecil."
Dan menambahkan seraya duduk kembali di ranjang. "Laniya masih ingat ketika Paman dulu yang mengajakku jalan - jalan bersama Adik Lingxi!"
__ADS_1
"Oh, ya! Bagaimana dengan keadaan mereka?"
Jenderal Tanbi tersenyum melihat keponakannya berceloteh. Namun senyumnya menghilang ketika mendengar perkataan terakhir keponakannya.
Laniya mengerutkan kening menyadari raut wajah pamannya. Namun sebelum bertanya, Tiga sosok perempuan cantik memasuki ruangannya.
"Saudari Laniya, Akhirnya saudari sudah sadar. Kami mencemaskan saudari Laniya..."
"Benar, Kami khawatir melihat Kak Laniya tiba - tiba pingsan tadi. Hah, lega hatiku melihat Kak Laniya sadar..."
"Iya, Saudari..."
Fanni, Xenia, dan Bai Lubai yang baru memasuki ruangan langsung berseru senang melihat Laniya sudah sadar.
Mereka menghampiri keduanya dengan sedikit ragu - ragu.
Laniya tersenyum melihat keraguan ketiganya. Maka dari itu, Ia memperkenalkan Pamannya.
"Kalian bertiga duduklah! Perkenalkan dia adalah Pamanku, Paman Tanbi!" Ucap Laniya kepada mereka.
"Paman?" 3 ×
Ketiga wanita cantik itu bergumam bersamaan ketika mendengar perkataan barusan.
Ketiganya tau identitas pria dewasa ini yang adalah Jenderal Besar Kekaisaran.
Mereka terkejut mendengar kenyataan jika Jenderal Besar ini ternyata adalah Paman Laniya.
Jenderal Tanbi juga agak terkejut mendengar perkataan ketiganya yang memanggil keponakannya dengan sebutan 'Saudari'.
Dia berpikir sejenak sebelum tersenyum ke arah Laniya. "Ternyata keponakan paman sudah memiliki saudara. Bisa kamu jelaskan mereka semua?" Ucapnya penasaran akan identitas mereka.
Laniya mengangguk dan berkata cepat. "Tentu boleh...Mereka bertiga adalah Saudariku.....
Laniya memperkenalkan satu persatu tiga wanita cantik itu. Dari awal bertemu hingga terbangunnya Sekte Pedang Langit Abadi.
"Paman tau? Kita berempat juga memiliki seorang pria yang sama!" Kata akhir Laniya tanpa sadar berucap.
Namun ia seketika tersadar ucapannya dan membekap mulutnya sendiri.
"Pria?" Ulang Jenderal Tanbi mendengar akhir perkataan Laniya barusan. Dia menatap satu persatu wanita yang ada di ruangan itu membuat keempatnya menunduk dengan pipi merona.
"Hehe, Ternyata ponakan dinginku sudah memiliki seorang pria juga! Paman jadi penasaran dengan pria itu dan bagaimana dia bisa mendapatkan ponakanku yang dingin ini!"
Kata Jenderal Tanbi tersenyum dan sesekali melirik wajah Laniya yang merona.
Namun dalam hatinya ia bertanya - tanya siapa pria itu?
Ia tahu sikap Laniya dari kecil yang dingin kepada seorang laki - laki dari keluarga manapun!
Kecuali dengannya maupun Keluarganya sendiri, Laniya tidak dingin meskipun ekspresinya tetap datar.
"Ish! Paman!!" Ucap manja Laniya sambil memukul bahu pamannya sedikit keras membuat sang empu menahan ringis nya.
Sedangkan ketiga wanita cantik itu melongo melihat perubahan Laniya.
Baru kali ini mereka melihat seorang Laniya bersikap manja kepada seseorang.
Dari awal mereka kenal, Laniya irit bicara dan sesekali mengangguk meskipun suka main tangan. Apalagi Fanni dan Xenia yang mengenal cukup lama Laniya.
Tiba - tiba pintu ruangan terbuka dan sesosok wanita cantik, Retania memasuki ruangan dengan ekspresi masam.
"Kak Reta? Kenapa dengan wajahmu? Apa ada sesuatu?" Tanya Laniya yang menyadari raut wajah Retania itu.
Retania melirik Jenderal Tanbi sejenak dan kembali berbicara serius.
"Wakil Ketua! Sekte kita sedang di serang! Dari perkataan murid, Tiba - tiba seorang murid laki - laki menyebarkan sesuatu seperti serbuk di Pelataran Luar. Banyak murid yang terkena bubuk itu dan hanya bisa terbaring lemah tak berdaya di tempat!"
Mendengar itu, Sontak raut keempat wanita cantik itu mengernyit.
Jenderal Tanbi yang juga mendengar itu pun mengangkat satu alisnya. "Apa warna serbuk itu?" Tanya Jenderal Tanbi melirik Retania.
Retania yang di lirik seperti itu menjadi gugup. Bagaimanapun yang meliriknya adalah seorang Jenderal besar!
Menenangkan hatinya dan menjawab perlahan. "Wa-warna bubuk itu putih! Tapi ada sedikit keunguan!"
__ADS_1
"Serbuk Pelumpuh Organ?!" Seru kaget Jenderal Tanbi mendengar ciri - ciri yang di katakan Retania.
"Serbuk Pelumpuh Organ? Kenapa aku baru pertama kali mendengarnya?" Gumam Laniya mengernyit dan di angguki polos mereka.
"Kita harus cepat mengobatinya! Jika tidak, Dalam waktu kurang sehari mereka bisa tewas sendirinya! Karena organ dalam mereka terus di gerogoti oleh racun itu!" Kata Jenderal Tanbi menampilkan wajah seriusnya.
Hi!
Lima wanita cantik itu merinding ketika mendengar perkataan Jenderal Tanbi.
"Di mana tempat itu?" Tanya Jenderal Tanbi.
"Di sana paman! Ikuti aku!" Jawab Laniya menunjuk arah tertentu dan berdiri dari ranjangnya diikuti yang lain.
Namun Jenderal Tanbi tiba - tiba sudah menghilang dari pandangan mereka membuat mereka semua terpana.
Sebelum suara Laniya menyadarkan mereka. "Cepat! Kita harus membantu mengobati para murid!"
"Baik!"
............
Di Pelataran Luar Sekte
Seribuan lebih manusia tampak terkapar di tanah dengan tubuh yang menunjukkan warna biru agak ungu.
Wajah mereka pucat meskipun matanya terbuka dan bisa berbicara meskipun agak kesulitan.
"A-Ah! T-tolong aku! Jantungku seperti di remas..."
"To-tolong! Dadaku seperti ada yang memakannya..."
"Ahk!..."
Terdengar rintihan lemah dari mereka yang terkapar.
"Siwa! Bagaimana? Apa kamu bisa menyembuhkan para murid?"
Leluhur Sido Lawang yang mencoba mengalirkan energinya ke tubuh salah satu murid bertanya ke Leluhur Siwa yang berada di sampingnya.
Leluhur Siwa menggelengkan kepalanya mengernyit.
"Aneh! Racun ini sangat berbeda seperti racun pada umumnya. Jika seperti ini terus, Energi kita bisa terkuras semuanya!" Ucapnya sambil terus menerus mengalirkan energinya membantu memberhentikan racun kepada tubuh murid.
"Leluhur! Coba berikan pil ini! Ini Pil pemberian Master dan terbukti salah satu murid sembuh meskipun tidak sepenuhnya."
Tetua Shane tiba - tiba sudah berada di dekatnya sambil menyodorkan beberapa pil berwarna hijau.
Tanpa ragu sedikit pun, Dua leluhur itu mengambil dan melesatkan ke mulut murid.
Seketika tubuh dua murid itu bersinar putih tipis dan juga nampak warna biru keunguan pada tubuh murid itu perlahan menghilang.
"Berhasil! Tapi tetap saja ini tidak menyembuhkan sepenuhnya. Tapi tidak apa - apa! Kita obati para murid dulu sambil menunggu Master Sekte datang!"
Kata leluhur Sido Lawang mengangguk. Lalu mereka yang tidak terkena racun pun membantu para murid yang terkena racun.
Di saat mereka sedang serius membantu semua murid. Tiba - tiba terdengar suara ledakan yang cukup menggelegar di atas langit Sekte.
Boom!
Boom!
Boom!
.....
Mereka yang ada di dalam wilayah Sekte pun terkejut dan mendongak menatap langit.
Dua sosok tubuh berpakaian hitam bertopeng mengerikan dan bertanduk dua muncul di atas langit.
Sedetik kemudian selusin sosok muncul di belakang keduanya. Lalu selusin lagi bertambah dan terus bertambah di belakangnya.
Di perkirakan lima ribu sosok muncul di atas langit.
Salah satu sosok bertopeng iblis mengacungkan jarinya ke atas.
__ADS_1
"Serang mereka semua!!"