
Seketika, Sekitar lima ratus lima puluh pria berbeda usia di selimuti ribuan Bintang Bintang emas dan tubuh mereka seketika melemas. Tulang mereka seakan melarikan diri dari tempatnya dan merasa tinggal dagingnya saja.
"Ahkk! Sa-Sakit sekali..!"
"I-Ini? Ini menyakitkan! Akh.."
"Akh! Brengsek! Ada apa dengan tubuhku ini..?"
"Arhg...!"
"..."
Semua orang memaki entah kepada siapa. Dirga tak memperdulikan semua itu, Ia ingin mengubah tulang mereka semua agar menjadi lebih keras dan lebih kuat.
Melihat di sebelah Formasi masih ada seratusan gadis gadis yang melihatnya dengan menelan ludah. Ia berkata lagi. "Jangan khawatir! Mereka sebenarnya aku tempa fisiknya agar menjadi keras!...Apa kalian ingin seperti mereka juga?"
Para gadis yang di tanyai Dirga seketika tersentak. Mereka tidak menyangka jika pelatihan pemuda tampan ini sangat menakutkan membuatnya ngeri.
Mereka mengira jika latihannya seperti melakukan gerakan gerakan atau apalah itu, Tidak di sangka latihannya malah seperti di siksa.
Seolah mengerti dengan pikiran para gadis. Dirga berkata acuh. "Mereka ku tempa fisiknya agar nanti jika bertarung tidak harus mengandalkan kekuatan energinya saja. Kekuatan fisik juga penting!"
Salah satu gadis berusia 20 an maju selangkah dan bertanya. "Tuan muda! Apa itu menyakitkan?" Dia memandang para pria yang berlutut kesakitan itu membuatnya ngeri. Meskipun tidak mendengar teriakannya, Dia bisa melihat dengan ekspresi mereka.
__ADS_1
Dirga melambaikan tangannya. "Tergantung dengan tekadmu, Semakin tinggi tekadnya akan semakin cepat kamu memahaminya!" Ucapnya dan ingin berlalu pergi.
Gadis tadi menghentikannya. "Tunggu!" Dengan menggigit bibir bawahnya, Ia berkata gugup. "A-Apa aku bisa mengikuti latihan ini?"
Dirga berbalik dan melihat wajah para gadis yang menatapnya dengan pipi merona. Ia mengabaikannya dan bertanya ke gadis cantik depannya. "Apa kamu yakin?"
Gadis itu menganggukkan kepalanya. "Quing He yakin tuan muda!" Ucapnya dengan pipi memerah.
Salah satu gadis menimpalinya juga. "K-Kami juga..!"
"A-Aku juga!"
"..."
Dirga menganggukkan kepalanya dan menyuruh para gadis berbaris sesuai arahannya. "Kalian bisa bertahan selama beberapa hari. Jika tidak kuat maupun pingsan, Kalian secara otomatis akan di keluarkan dari Formasi ini!"
Dirga berbalik menatap Tetua Shane dan lainnya yang sedang menatapnya sambil menelan ludah kasarnya dari tadi. Sedangkan kedua gadis cilik menatapnya dengan mata besarnya yang berkedip lucu nan menggemaskan.
"Kakak! Apa si kurus ini tidak di masukkan ke sana?" Ucap Cintia sambil menunjuk Tei yang bersembunyi di belakang Zei.
"Hehe! Gadis kecil! Bukankah aku sudah melakukannya beberapa hari yang lalu?" Ucap Tei dengan terkekeh tapi juga sedikit takut.
Pada waktu itu, Ketika Tei dan kedua saudaranya sudah mendekati danau. Kedua gadis kecil ini malah datang entah dari mana dan mengerjainya.
__ADS_1
Ada yang di gelitik pinggangnya, Ada yang menawarkan gula gula, Terus pula telinganya memerah dengan jewerannya dan Tidak jarang pula mereka di pukuli wajahnya oleh kedua gadis kecil ini.
Ini yang membuatnya sedikit ketakutan dengan kedua iblis kecil ini. Bagaimana tidak? Saat itu, Dia melihat kedua gadis kecil ini tidak berpengaruh sama sekali terhadap dengan tekanan yang menimpa tubuhnya pada waktu itu.
Apalagi mereka bertiga tidak bisa mendeteksi kultivasi kedua iblis cilik ini. Padahal mereka sudah berada di Ranah Pemurnian Qi tingkat tinggi. Mereka menduga jika mereka berdua memiliki kultivasi yang lebih tinggi darinya, Meskipun sangat mustahil di usianya yang delapan tahun.
Cintia mendelik tajam ke arah Tei dan Zei. "Huh!...Kakak! Kedua orang ini telah mengutukmu sebagai bajingan waktu itu! Jadi aku memberi pelajaran kepadanya!"
Ania menimpali dengan cepat. "Benar kak! Mereka mengutukmu dengan sebutan orang brengsek juga!"
Tei dan Zei takut dan berkata lirih sambil melihat ekspresi dingin Dirga. "Kapan aku mengutuknya? Waktu itu aku memujinya, Hanya saja sedikit salah!"
"Sedikit salah katamu?" Potong Ania dan Cintia dengan cepat.
Tei dan Zei memandang satu sama lain dan melarikan diri. "Larii..!"
"Hei! Jangan sampai mereka berdua kabur lagi!" Ucal Ania dan Cintia. Lalu melesat bebarengan dengan munculnya sayap hijau kecil di antara punggunya meninggalkan hembusan angin menerpa wajah orang yang sedang tercengang.
"Wushh!"
"...."
"S-Sayap apa itu tadi?" Gumam Fanni yang memecah keheningan.
__ADS_1
Tetua Shane, Sidik Kenta dan Dirga saling berpandangan satu sama lain dan berseru serempak sambil melebarkan mata.
"Elemen angin...!"