Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 111


__ADS_3

Tubuh Tetua Ciq dan Tetua Cuq ambruk ketanah dengan mata melebar.


Melihat ini, Wajah Ketua Guandong memucat. Dia belum tau siapa yang memulai semua ini. Pada saat ini. Tiba tiba...


Wushh!


Wushh!


Suara hembusan angin disertai munculnya dua pria dan juga di belakangnya ada seratusan orang yang nampak melayang.


"K-kalian Sekte Pedang Langit Abadi?!" Seru tergagap Ketua Guandong.


Dia tak menyangka jika yang melakukan ini semua adalah Sekte yang baru baru ini menggemparkan Benua Timur.


Namun ketika melihat ini semua, Muncul senyum mengejek di bibir pucatnya dan mencibir. "Huh, Dengan membawa seratus pasukan saja ingin bisa menghancurkan markas kami? Huh! Jangan harap!"


Dia pun menoleh ke arah kebelakang. Dimana dua ribu anggota nya sudah berbaris rapi sambil mengeluarkan aura membunuhnya.


Melihat ini, Sudut mulut Ketua Guandong menyeringai penuh kemenangan. Tanpa menunggu respon Dirga, Ia melambaikan tangan dan berseru.


"Serang dan bunuh mereka semua....!!!"


Seketika saja, Semua anggotanya langsung melesat sambil mengeluarkan senjata andalannya dengan teriakan yang mengandung cibiran.


"Serang! Mereka hanya membawa sedikit pasukan! Jangan sisakan satupun dari mereka...!"


"Bedebah! Mereka meremehkan kekuatan kita...!"


"...."


Dirga yang melihat ini menyeringai, Ia melambaikan tangannya tanpa bersuara namun keseratus pasukannya semua melesat ke depan namun berbeda beda tempat.


Dentang! - Dentang! - Dentang! — Trang! - Trang! - Trang! - Trang!


Booms! Booms! Booms! Booms! – Dhuar! Dhuar! Dhuar!


Slash...!


Bunyi tabrakan senjata apapun itu bergema diiringi suara ledakan energi serangan dari mereka.


Dirga yang melihat ini hanya menatapnya dengan wajah datar. Dari awal ia terus menjentikkan jarinya terus menerus.


Menoleh ke Leluhur Sido Lawang yang tercengang menatap depan, Dirga berkata bingung. "Leluhur, Apa leluhur tahu siapa Pangeran pertama itu?"


Padahal sejatinya yang harus di panggil Pangeran pertama adalah dirinya. Namun mengapa mereka menyebut nama Pangeran pertama layaknya orang berbeda.


Leluhur Sido Lawang tersentak dan menoleh ke pemuda di sampingnya ini. Dengan wajah terkejut, Ia berkata. "A-apakah Tuan muda tidak tahu siapa Pangeran pertama?"


Bukannya menjawab, Ia malah balik bertanya membuat Dirga menyatukan kedua alisnya. Ia berkata tidak puas. "Jika aku sudah mengetahuinya,Tidak mungkin bukan aku bertanya kepadamu?"

__ADS_1


Leluhur Sido Lawang tersentak dan menyadari akan kebodohan ucapannya karena mungkin masih tercengang dengan aksi Dirga.


Sedikit melirik ke arah jentikan jari pemuda itu, Ia menjelaskan. "Pangeran Pertama saat ini bukanlah Pangeran pertama Qin Diega. Satu tahun yang lalu ketika Pangeran Qin Rama dan Pangeran Qin Arma menyatakan bahwa Pangeran Qin Diega sudah hancur kultivasinya, Banyak para masyarakat yang mencemoohnya hingga membuat reputasi Pangeran Qin Diega sangat buruk di mata masyarakat, Begitu pun juga denganku!"


Lalu ia menambahkan dengan gelengan kepala.


"Tak habis pikir mengapa ada seorang Pangeran dan itu adalah Pangeran pertama yang tidak dapat melakukan kultivasi!"


Ucapan terakhirnya terhenti ketika menatap tatapan tajam dari pemuda itu dan seketika pemandangan di sekitarnya sudah berubah.


Kegelapan abadi yang tak dapat dilukiskan menyelimuti dirinya hingga membuat penglihatannya gelap.


Kemudian terdengar suara jeritan jeritan tragis yang mengerikan hingga memekakkan telinga. Jeritan - jeritan itu layaknya berasal dari neraka!


Begitu menakutkan dan membuat tubuh basah kuyup keringatan!


Hingga muncul cahaya merah dan langsung membuat matanya kembali bisa melihat.


"A-Apa ini?...Di-dimana ini? Akh....!"


Yang di lihat saat ini berbeda dari sebelumnya. Apa yang nampak di sekelilingnya adalah makhluk makhluk yang mengerikan baginya.


Hanya memiliki kepalanya saja dan rambutnya acak acakan memanjang, Mulutnya terbuka hingga menjuntai ke bawah. Terdapat taring mengerikan di sudut mulutnya. Wajahnya rusak dan mengeluarkan bau busuk.


Tidak hanya itu, Matanya yang merah menyala membuat sosok itu sangat menyeramkan. Jumlahnya juga tak main main. Terdapat makhluk itu di mana mana yang beterbangan sambil membuka mulutnya yang lebar itu.


"Arghh...!!"


Jiwa nya terasa seolah ada serangan misterius yang membuatnya menjerit kesakitan yang amat teramat luar biasa.


Padahal, Di dunia aslinya Leluhur Sido Lawang hanya diam melayang namun semenit kemudian tatapannya memutih dan tubuhnya terjatuh ketanah dengan darah yang ia muntahkan.


Leluhur tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Saat ini jiwanya benar benar shock karena kejadian yang menakutkan tadi.


"Apa yang terjadi? Apa semua tadi?" Gumamnya dengan nafasnya yang terengah engah.


Tubuh tuanya saat ini tidak bisa di gerakkan sama sekali. Bahkan menggerakkan jarinya sangat kesusahan.


Menatap ke depan, Ia melihat cahaya putih perak di selingi cahaya emas nampak melesat ke sana kemari dengan kecepatan yang gila.


Setiap lesatannya, Sepuluh hingga dua puluh tubuh seseorang akan terbelah menjadi dua.


Semua yang melihat ini terdiam membisu. Tanpa sadar pertarungan yang tadinya menegangkan berubah menjadi menakutkan.


Para anggota Organisasi Serigala Hitam yang hatinya tadi merasakan hawa kemenangan berganti dengan hawa yang dingin.


Tak terkecuali Ketua Guandong dan Jenderal Gudik yang kebetulan menyaksikan aksi liar cahaya itu.


Slashh! Slashh! - Dhuar!

__ADS_1


"Cepat lari...! Orang ini sangat gila...!"


"Lari...! Orang ini sangat menakutkan! Cepat...!"


"Lari cepat....!"


"...."


Para anggota Organisasi Serigala Hitam berteriak penuh ketakutan. Apa yang di harapkan saat ini hanyalah satu, Yaitu lari dari orang ini sejauh mungkin!


Kejadian ini membuat pasukan Organisasi Serigala Hitam kalang kabut. Ketua Guandong yang melihat ini berteriak pucat.


"Bajingan! Bedebah! Brengsek! Cepat...! Hadang dia...! Jangan sampai memusnahkan semua anggota kita...!"


Para anggota Sekte Pedang Langit Abadi yang mendengar suara menggelegar Ketua Guandong seketika tersadar.


Salah satu dari mereka berteriak. "Cepat! Kita harus membantu Master...!"


Seketika pertarungan yang terhenti pun berlanjut dan saat ini wajah pasukan Sekte Pedang Langit Abadi penuh dengan kegembiraan.


Berbeda dengan pihak musuh. Saat ini pihak lain sedang kalang kabut membuat pasukan Dirga dengan mudah membantainya.


Slashh! - Booms!


Suara pertarungan kembali berlanjut. Cahaya putih keemasan itu menghentikan lajunya dan membuat siapapun bisa melihatnya.


Tidak ada yang mengenali siapa itu karena tubuh sosok itu telah di penuhi darah. Dari atas sampai bawah yang nampak hanya darah yang menutupi seluruhnya.


Tentu saja kecuali Sekte Dirga. Mereka mengenali sosok itu adalah Dirga! Master Sekte Pedang Langit Abadi!


Sosoknya bagaikan iblis yang haus akan darah!


Sosok itu mengangkat pedangnya tinggi tinggi.


"Jiwa Pedang Keabadian — Pedang Penghakiman Surgawi!"


Suara yang amat menyeramkan itu bergema. Dari atas pedang tajam Dirga, Muncul siluet pedang cahaya perak.


Cahaya itu melesat keatas dan keatas lalu membentuk silet pedang raksasa yang ketinggiannya mencapai belasan kilometer!


"Bunuh dan hancurkan!"


Teriak Dirga dengan dingin. Dan seketika siluet pedang itu memancarkan cahaya putih sesaat, dan kemudian menebas ke bawah.


Semua mata yang memandang ini seketika berubah pucat ketakutan. Tak terkecuali Jenderal Gudik dan Ketua Guandong.


Bahkan para pasukan Dirga terperangah dengan punggung yang sudah berkeringat, Bahkan Leluhur Sido Lawang yang saat ini masih lemah melebarkan matanya.


"I-ini?! Tehnik pedang seperti apa ini?...Sangat mengerikan...!!" Ucapnya tak percaya.

__ADS_1


Tidak ada yang bisa bergerak satu inci pun. Tubuh kesemuanya telah di tekan oleh aura mengerikan Tehnik Pedang milik Dirga itu.


__ADS_2