
Namun ada yang mencengangkan saat ini. Para murid Sekte Pedang Langit Abadi tidak ada satupun yang tewas.Meskipun semuanya mengalami luka serius. Tetap saja itu sangat mengejutkan.
"Obati para murid yang terluka! Sisanya kumpulkan para mayat mereka dan tumpuk menjadi satu!" Arya memberi perintah dengan lemah.
"Tetua...-" Arya menyelanya karena tahu anggota nya mengkhawatirkannya. "Tidak apa apa! Aku hanya terkena luka ringan saja! Nanti juga akan sembuh!"
Para murid yang mendengar pun mengangguk patuh dan melaksanakan perintah Arya.
Arya sedikit menghela napasnya ketika melihat pertempuran di luar nalar nya ini. Melihat Kai yang berjalan kearahnya, Ia segera berjalan menghampiri.
"Jangan terburu buru! Tubuhmu masih sangat lemah. Lebih baik kamu minum pil ini!" Kai memapah tubuh lemah Arya dan membantu memasukkan pil kedalam mulutnya.
Arya hanya bisa menjawab anggukan kepalanya lemah dan menikmati pemulihan tubuhnya.
Tiba tiba...
Bhooms...!
Suara benda jatuh terdengar di depan keduanya membuatnya tersentak kaget.
"Hm, Apa dia di bawa ke Sekte atau dibunuh saja?" Suara Leluhur Suwi juga terdengar di sebelahnya.
Kai menoleh dan mengalihkan pandangannya ke benda jatuh itu dan membuat matanya membelalak lebar.
Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah Leluhur Suwi tanpa mengubah ekspresi tercengangnya.
Leluhur Suwi yang di tatap lama oleh Kai mengangkat bahunya seraya berkata mendesah. "Jangan menatapku seperti itu! Aku masih normal! Aku menyiksanya seperti ini karena tak tahan ketika melihat tehnik yang di keluarkannya tadi!"
"Lihat saja tadi, Siluet iblis itu sangat buruk bahkan aku ingin muntah ketika melihat semua rambutnya yang berdiri tegak. Huh! Tehnik yang menjijikkan!"
Kai tersentak mendengar tanggapan leluhur tua itu yang menurutnya aneh namun sangat aneh itu.
"Hanya itu?" Tanya Kai tanpa sadar dan di angguki leluhur Suwi tanpa rasa bersalah.
Hanya karena pihak musuh mengeluarkan tehnik yang tidak di sukainya. Leluhur tua ini menghajarnya sampai babak belur.
Ia menoleh melihat keadaan pria tua itu yang kini baginya sangat menyedihkan. Wajah pria tua itu babak belur seolah habis dikeroyok masa.
Kedua kakinya membentuk huruf V sempurna. kedua siku tangannya tampak bergeser dari tempat seharusnya.
Pakaiannya berlumuran darah dan compang camping layaknya gelandangan.Arya yang mendengar suara berisik pun membuka matanya dan tersentak kaget.
Sebelum berkata, cincin penyimpanannya bergetar dan Arya pun memeriksanya.
Sejenak ia diam dan menatap Kai serta leluhur Suwi yang juga menatapnya.
"Ada apa? Apa ada perintah lain dari Tuan muda?" Tanya Kai mengetahui jika Arya menerima pesan dari Dirga.
Arya menggeleng pelan dan menjawab. "Tidak! Kita semua di suruh kembali ke Sekte. Untuk si pria tua itu, Tuan muda menyuruhnya agar di bunuh saja karena dia hanyalah sebagai pion. Masih ada seseorang di belakangnya."
"Baiklah!" Kai mengangguk. Leluhur Suwi yang di sebelahnya menyeringai menatap si pria tua itu yang sudah ketakutan setengah mati.
"Ja-jangan b-bunuh aku! " Ucapnya terbata ketika melihat tatapan leluhur Suwi.
Keringat deras membanjiri punggungnya. Leluhur Suwi tak peduli, Ia mengangkat pedangnya dan menusuk jantung si pria tua itu.
__ADS_1
Jleb!
"Mau mati saja banyak omong, Huh!!" Dengusnya dan mencabut pedangnya kembali di bawah tatapan putus asa kematian pria tua itu.
Beberapa menit kemudian, Semua para murid sudah menyelesaikan tugasnya.
"Tetua, Semua mayat mereka sudah kami tumpuk! Apa kita harus membakarnya?" Seorang murid menghampiri Arya dan bertanya.
Arya melambaikan tangannya. "Tidak perlu! Akan membutuhkan waktu banyak jika kita membakar seluruhnya! Lebih baik kita kembali ke Sekte!" Ucapnya.
Dia tahu jika membakar tumpukan mayat yang menggunung itu akan membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
Takutnya pihak musuh mengetahuinya lebih awal dan memeriksa kemari.
"Baik!" Murid itu mengangguk patuh. Lalu ia menyerahkan beberapa cincin penyimpanan. "Tetua, Di dalam sini terdapat rampasan harta, Lebih baik tetua saja yang menyimpannya."
Belum sempat menjawab. Sebuah tangan menyambut semua cincin penyimpanan itu dengan cepat.
"Biar aku saja! Nanti aku menyerahkan ke Tuan muda biar dia yang mengurusnya." Ucap orang itu yang ternyata adalah Kai.
Arya menggelengkan kepalanya dan menatap semuanya. "Kita kembali ke Sekte!" Ucapnya singkat dan di angguki semuanya.
Ketika sudah bersiap melesat.
Tiba - Tiba.....
Booms...!
Suara ledakan di belakang terdengar cukup keras membuat Arya dan lainnya tersentak kaget. Suara ledakan itu berasal dari belakang.
Seorang lelaki tua muncul dari balik debu dan berkata acuh. "Dari pada tidak berguna, lebih baik aku hancurkan saja tempat busuk itu!" Ucapnya.
Arya, Kai dan lainnya menggelengkan kepalanya. Mereka tak habis pikir dengan sikap bodoh lelaki tua itu yang ternyata adalah Leluhur Suwi.
Mereka semuanya pun melesat kembali meninggalkan tempat itu yang kini sudah menjadi hening, namun tercium bau darah yang kental.
•••
Di sisi lain tak jauh. Satu pria dan tiga wanita sedang menatap layar hologram di depannya dengan aneh.
Ada yang kagum, Bingung, Penasaran dan terkejut. Ketiga wanita itu adalah Laniya, Fanni dan Xenia Xu. Sedangkan pria itu adalah Dirga.
Sejak awal hingga akhir, Dirga mengawasi pertempuran para murid Sektenya. Meskipun bagi semua orang tindakan seperti itu adalah membahayakan, Namun Dirga tak peduli.
Dia sudah menggunakan energi mental sejatinya diam diam untuk melindungi tubuh para murid Sektenya.
Dia ingin membuktikan jika kalah jumlah bukan berarti kalah mutlak. Meskipun dia membantu secara diam diam, Tidak ada yang bisa menyadarinya.
Bukan hanya itu. Jika berita ini tersebar, Kemungkinan Benua Timur akan gempar. Tapi Dirga ini hanyalah permulaan, Masih ada satu lagi yang akan di pertunjukkan.
"Ayo! Masih ada pertunjukkan yang belum kita lakukan!" Dirga melambaikan tangan dan layar hologram di depannya itu hilang tanpa jejak.
Ketiga wanita itu yang tertegun dalam waktu lama seketika tersadar. Laniya menatap wajah tampan pemuda itu dengan aneh. "Dirga, Apa itu tadi? Kenapa bisa memunculkan adegan pertempuran tadi dengan jarak sejauh ini?" Tanya nya karena penasaran.
Fanni di sampingnya mengangguk dan menimpali. "Emm! Aneh, Baru kali ini aku melihat layar aneh ini!"
__ADS_1
Sedangkan Xenia Xu hanya diam. Tapi dalam hatinya dia terkejut serta penasaran bagaimana pemuda itu mengeluarkan layar dengan mudahnya.
Dirga menjawab acuh. "Itu tehnik rahasiaku! Sudahlah, Jangan di bicarakan itu tidak penting! Lebih baik pergi dari sini!" Setelah berkata, Ia mengalihkan pandangannya ke Xenia Xu. "Kamu pimpin jalannya!" Katanya.
"Apa?" Xenia Xu berkata bingung. Mengapa pemuda ini malah menyuruh memimpin jalan?
"Nona, Kamu paling tahu tentang Kota Mutian. Bukankah tadi ada seorang Patriak ingin membunuhmu?" Jawab Dirga sambil menatap Xenia Xu.
Xenia Xu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Pipinya bersemu merah ketika di tatap pemuda tampan seperti itu.
"Ti-Tidak tidak! Biar saya saja yang melakukannya sendiri! Saya tidak ingin merepotkan kalian." Jawabnya gugup sambil menggelengkan kepalanya.
Namun ekspresi nya tidak bisa membohongi. Tercetak raut pasrah di wajah cantiknya itu meskipun masih kotor.
Laniya berkata sebelum Dirga bersuara. "Tunjukkan saja jalannya! Apa kamu tidak tahu jika aku yang membunuh ketiga anak muda itu?"
"A-Anda?" Xenia Xu gugup serta kaget. Namun ketika pikirannya kembali ke waktu pelayannya membisikkan sesuatu, Dia kembali menggelengkan kepalanya.
"I-itu..." Laniya menggelengkan kepalnya dan menyela. " Tidak usah seformal itu, Oke? Benar, Aku yang membunuh ketiganya. Bagaimanapun, Aku juga harus membereskan sampai ke akar akarnya."
Xenia Xu menatap wajah cantik Laniya itu yang senyum kepadanya. Fanni di sebelahnya juga menimpali dengan senyum manisnya. "Sudahlah, Jangan dipikirkan lagi. Lebih baik turuti saja perintahnya!"
"Hm, Baiklah." Xenia Xu pasrah dan menganggukkan kepalanya meskipun agak khawatir.
Dahi Dirga mengernyit ketika melihat kedua wanitanya sangat akrab dengan gadis itu. Dirinya merasakan suatu firasat namun bukan firasat buruk.
Mereka pun berempat melesat kembali.
*
Keluarga Tenu
Di ruang tamu, Nampak dua pria paruh baya yang sedang minum anggur sambil bersendawa keras.
Di belakangnya masing masing, Terdapat dua pelayan wanita cantik yang sedang memijit bahu kedua pria itu.
"Ahhm! Yah begitu, Sangat enak!" Racau Patriak Tenu memejamkan mata ketika merasakan bahunya yang di pijat oleh tangan lembut itu.
"Bagaimana? Apa sangat enak tangan wanita ini? Apa kita melanjutkan ronde selanjutnya?" Ucap pelayan itu dengan genit.
Namun sorot matanya terlintas jijik. 'Sial! Pria cabul ini malah terangsang!' Batinnya ketika merasakan dadanya di remas oleh tangan kasar.
Sedangkan pria paruh baya satunya sudah keenakan di pijat sambil meletakkan satu tangan di bokong besar wanita pelayan itu.
"Ahm, Bokongmu ini sangat lembut. Apa kamu merawatnya untukku?" Racau nya sambil ******* ***** bokong wanita itu.
"Ehkm...Ya Tuan!" Racaunya pasrah ketika di sentuh oleh tangan nakal si pria cabul ini.
"Bagus! Jika yang masih bersembunyi itu bisa memuaskan batang perkasa tak terkalahkan ini, Aku akan memberimu hadiah." Patriak Tenu berkata sambil meraba raba dengan penuh nafsu.
Ketika dua pria itu sedang di landa nafsu penuh kecabulan. Tiba - Tiba....
Dhuarr!
Suara ledakan menggelegar mengagetkan seisi mension Keluarga Tenu. Di iringi suara wanita yang dingin.
__ADS_1
"Keluarlah!! Aku tak ingin berbasa basi dengan kalian...!"