Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 88


__ADS_3

..............


Satu jam kemudian. Di ruang makan, Sudah tertata rapi makanan makanan yang terlihat memiliki aroma yang menggugah selera.


Dirga duduk di tengah tengah para gadis. Di kedua sisinya dua gadis kecil lucu itu sudah meneteskan air liurnya sambil menatap makanan yang tersaji di depannya.


Dirga tersenyum mengusap rambut keduanya. "Tidak sabar ya! Baiklah! Waktunya untuk makan!" Ucapnya.


Dan seketika kedua gadis kecil itu menyambar mangkuk dan langsung mengambil beberapa hidangan dan langsung memakannya.


Begitupun juga para gadis semuanya. Hanya Dirga yang diam sambil mengernyitkan dahinya menatap kosong ke depan.


'Hm? Tingkat sembilan? Sudah menerobos rupanya?' Batinnya.


Rista yang kebetulan melihat Dirga yang hanya diam, Ia berinisiatif bertanya. "Master! Ada apa?"


Semua gadis menghentikan kunyahan nya ketika melihat raut aneh Dirga. Sedangkan Dirga menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Tidak! Ada seseorang yang kesini!" Ucapnya dan langsung makan membuat para gadis bingung.


"Siapa?" Xiayi bertanya tanpa sadar.


Namun, Tiba tiba pintu ruangan makan terbuka. Sosok kaki putih dan diikuti tubuh ramping terjulur kedepan.


Bersamaan dengan itu, Sosok itu menampilkan penampilannya yang memukau membuat para gadis tercengang.


Wangi harum bunga segera menyebar ke seluruh ruangan membuat suasana hati para gadis tenang sejenak.


Sosok itu berjalan ke arah mereka dengan muka dingin. Ketika tatapannya tertuju ke Dirga, Tatapannya menjadi lembut seketika. Lekuk tubuhnya yang indah itu membuat para gadis seketika terdiam.


Sangat indah dan sangat cantik!


Hanya itu kalimat yang cocok untuk sosoknya. Tentu saja sosok itu adalah Laniya!


Kedua gadis kecil yang makan berhenti sejenak memandang Laniya dengan mata berbinar. "Kak Laniya! Akhirnya kakak keluar juga! Kata kakak, Kak Laniya melakukan latihan tertutup. Jadi kami berdua tidak ingin menganggu kakak!" Suara Cintia memecahkan keheningan mereka.


Ternyata nama wanita ini Laniya! Sangat cocok dengan penampilannya yang sangat cantik! Pikir mereka.


Para gadis itu memandang Laniya dengan sorot mata kagum. Bagaimanapun, Penampilan Laniya sangat cantik dari pada mereka.


Dirga yang melihat kedatangannya tersenyum dan berkata. "Duduklah! Ayo makan!" Katanya sambil memberikan ruang di sisinya.


Laniya mengangguk dan berjalan datar ke sisi Dirga tanpa memperdulikan para gadis yang kini memandangnya dengan iri.


Meskipun penasaran dari mana Dirga mendapatkan dua puluh sosok gadis cantik ini, ia tidak bertanya. Takut kejadian waktu itu kembali terulang lagi.


Mereka segera melanjutkan makannya. Suasana sedikit canggung, Hanya suara dentingan piring dan celotehan Ania serta Cintia yang terdengar.


Sepuluh menit kemudian, Makanan yang tersaji sudah sepenuhnya bersih. Semua para gadis itu keluar dari ruang makan meninggalkan Laniya dan Dirga saja.

__ADS_1


Para gadis itu tentu saja tahu dari sorot mata Laniya yang menunjukkan jika ada hal yang ingin di bicarakan dengan Dirga.


Meskipun begitu, Laniya tidak memandang mereka dengan dingin melainkan tatapannya sangat lembut membuat para gadis menghela napas lega.


Bagaimanapun, Para gadis itu tahu jika Laniya adalah wanita pemuda tampan itu. Meskipun enggan, Mereka tidak ingin hubungan keduanya menjadi renggang.


Meskipun ada sedikit harapan, Kemungkinan besar itu hanyalah sedikit. Jadi mereka hanya bisa menarik napas dalam dalam dengan sedikit harapan berharap menjadi kenyataan.


Setelah semuanya pergi, Ruangan itu menjadi hening. Keduanya sama sama diam tak berbicara.


Laniya yang merasa suasananya sedikit canggung, ia pun berdehem pelan. "Ehem! Terima kasih!"


Dirga menatap Laniya dengan ekspresi aneh, Bingung dan tak tahu. "Terima kasih? Untuk apa?" Dirga benar benar bingung dengan perkataan Laniya ini.


Laniya menatap mata jernih Dirga. "Kamu sudah membantuku menerobos! Kali ini kultivasiku sudah berada di Ranah Pertapa tingkat sembilan! Jadi aku harus berterima kasih kepadamu!" Berhenti sejenak, Ia berkata dengan gembira. "Hehe, Tehnik kultivasi pemberianmu sangatlah hebat! Tubuhku seakan akan merespon tehnik yang kamu berikan waktu itu!"


Dirga tersenyum tipis. Memang sebelumnya ia memberikan Tehnik Kultivasi Dewi Bunga. Tentu saja itu Tehnik yang sangat cocok dan sempurna untuk Laniya.


Karena tubuhnya memiliki fisik istimewa yaitu Tubuh Dewi Bunga!


Dirga tersenyum. Ia mengacak rambut Laniya. "Jangan sombong dulu! Bisa saja kekuatanmu itu bisa menghancurkan dirimu sendiri! Teruskan latihanmu!... Aku ingin latihan tertutup!"


Laniya segera menarik tangan Dirga yang beranjak dari tempat duduknya. "Tunggu! Temani aku mengobrol sebentar, ya?"


Dirga menghela napas dan mengangguk. Ia langsung bertanya aneh. "Aku merasa aneh dengan sikapmu yang nampak berubah ini"


Dirga menggeleng. "Aku merasa kamu seolah olah takut denganku! Tapi aku tidak tahu apa itu benar atau tidak!"


Laniya diam. Ia sebenarnya takut dengan Dirga ketika membayangkan kejadian waktu itu. Dia seolah olah melihat Dirga menjadi sosok yang begitu mengerikan dalam hidupnya.


Menggelengkan kepalanya, Ia berkata. "Mungkin saja hanya persaanmu! Aku tidak merasa jika ada perubahan kecuali tubuhku yang terlihat langsing! Mungkin karena efek Tehnik pemberianmu!" Laniya mengalihkan pembicaraannya.


Bukannya apa, Ketika ingin memberi tahu jika Dirga berubah menjadi sosok mengerikan itu lidahnya tercekat.


Seolah olah ada kekuatan yang membungkam mulutnya sedemikian rupa membuatnya hanya bisa diam menunggu jawaban.


Setelah mengobrol sejenak. Dirga mengeluarkan cincin penyimpanan dan berkata. "Di dalamnya ada beberapa sumber daya kultivasi dan beberapa Tehnik berpedang. Berikan semua itu kepada semua gadis tadi untuk berlatih...! Entah mengapa ada sesuatu yang di sembunyikannya!"


Laniya menerima cincin penyimpanan itu dan membukanya sebentar lalu menatap Dirga. "Kenapa bukan kamu yang memberikannya?"


Dirga tersenyum dan mengacak rambut Laniya kembali hingga berantakan. "Kamu sesama wanita, Mungkin karena aku, Mereka tidak mau mengatakannya atau mungkin malu. Dengan adanya kamu, Setidaknya mudah untuk memberi tahu kamu!"


Laniya mengangguk patuh. Sebelum Dirga benar benar pergi, Ia berjinjit dan mencium pipi Dirga dengan wajah memerah. "Hadiah..!" Ucapnya singkat dan langsung berlari.


Dirga menggelengkan kepalanya melihat kelakuan absurd Laniya. Setelah beberapa saat, Ia berada di kamar pribadinya dan duduk bersila.


Ia mengeluarkan setetes darah berwarna biru pekat dengan aura yang mengerikan terkandung di dalamnya.

__ADS_1


Tanpa berlama lama lagi, Ia pun langsung menelan darah itu dan seketika tubuhnya di penuhi kehangatan yang luar biasa menyebar ke seluruh tubuh.


Dahi Dirga mengernyit, Ia merasakan darahnya mendidih seolah sedang di rebus membuatnya tersentak.


Kembali fokus untuk menenangkan. Di dalam kesadarannya, Dirga melihat ada dua darah yang saling bertabrakan.


Warna biru dan emas. Seketika saja darah itu bercampur hingga menyebabkan ledakan ledakan kecil.


Tak lama kemudian, Darah itu berubah menjadi ungu. Sedwtik kemudian menjadi merah kembali.


Di dunia nyata. Aura di sekeliling Dirga berubah menjadi tekanan yang mengerikan. Benda benda di sekitarnya terbang kemana mana.


Tekanan yang sangat mendominasi menyebar ke seluruh Dunia Cermin!


Dunia Cermin tiba tiba mengeluarkan gempa kecil dan kembali tenang beberapa saat. Wajah para penghuni pun sontak berubah.


"Rooarr...!"


Suara pekikan mengerikan terdengar dari atas langit. Para penghuni Dunia Cermin seketika keluar dari istana untuk melihat keanehan yang terjadi.


Begitu melihatnya. Para gadis itu sontak berseru kaget.


"M-Mata? Mata sebesar apa itu?"


"Ma-Mata itu? Bukankah itu seperti mata seekor Naga..?"


Para gadis itu melihat ke arah langit ada dua mata biru yang cukup besar. Mata itu menatap ke bawah dengan aura yang mengerikan membuat siapa saja ketakutan.


Hanya ada tiga orang yang menatapnya dengan ekspresi rumit namun kagum. Ketiganya adalah Laniya dan Kedua gadis kecil Ania dan Cintia.


"Lihat...! Bukankah itu kakak..?" Seru Ania sambil menunjuk ke atas langit membuat semuanya mendongak ke atas.


Di atas. Terlihat bayangan emas yang cukup besar sedang bersila. Kedua mata sosok bayangan emas itu tiba tiba terbuka dan mendongak ke atas.


"Pergilah! Jangan membuat mereka takut...!"


Suara dinginnya menggema di seluruh penjuru. Mereka semua tentu saja mengetahui jika sosok bayangan itu adalah Dirga!


"Rooaaar"


Suara garang naga itu kembali terdengar dan mata besar di atas langit perlahan lahan menghilang bersamaan dengan bayangan emas itu.


Semua wanita yang ada di Dunia Cermin menahan nafas. Apa yang mereka lihat tadi sangat menakutkan serta mengejutkan baginya.


Laniya yang masih mendongak ke atas dengan ekspresi rumit segera bergumam.


"Siapa sebenarnya kamu Dirga? Apa kamu sosok reinkarnasi dewa? Kenapa kamu begitu misterius?"

__ADS_1


__ADS_2