
Cindy tertegun begitu mendengar perkataan lebar Dirga, Ini pertama kalinya mendengar perkataan panjang dari pemuda yang menolong dirinya.
Lalu ia menggelengkan kepalanya dan tak terlalu memperdulikan omongan Dirga sebelumnya. Selain itu, Dia tidak mengerti apa maksud perkataannya tadi.
Menatap benda kotak di genggamannya, Ia melemparkan benda itu ke depan, Tempat dimana Dirga sebelumnya berada disitu dan berteriak lantang. "Aku tidak memerlukan benda jelek itu!"
Tubuhnya berbalik dan melesat ke dalam hutan tempat di mana sekte itu berada.
Sedangkan di atas langit, Dirga hanya menggelengkan kepalanya tak berdaya dan bergumam lirih. "Gadis naif!" Tubuhnya menghilang dan muncul di bawah sambil mengambil benda yang ia keluarkan sebelumnya dan menyimpannya.
Wushh!
Di tempat yang agak jauh, Dua orang lelaki tua sedang berjongkok menatap depan.
Salah satu dari mereka berkata. "Saudara Sing! Sepertinya pemuda itu sudah pergi, Apa kita harus mengikutinya?"
Orang yang di panggil Sing diam menatap lurus ke depan. "Pemuda itu benar benar aneh, Aku tidak bisa melihat kultivasinya sama sekali, Tapi dia bisa di terbang! Apa dia berada di Alam Bumi tingkat tinggi atau Alam Langit? Ataukah lebih tinggi lagi?" Gumamnya dengan bingung.
"I-itu tidak mungkin! Aku sudah melihat usia tulangnya delapan belas tahun, Tidak mungkin sudah berada di tahap Alam Langit, Kecuali dari sekte benua tengah! Itupun hanya beberapa saja!" Sanggah lelaki Thing tak mempercayainya.
Lelaki Sing mengangguk mengamini perkataan Thing. Ketika ingin berkata lagi, Sebuah suara terdengar di belakang nya.
"Yo! Apa yang kalian lihat? Bukankah kalian sedang menungguku? Mengapa tidak keluar?"
Sontak saja lelaki Sing dan Thing menoleh kebelakang dengan mata melebar.
Sing menunjuk sosok itu dengan tergagap. "Bu-bu-bukankah kamu berada jauh di sana? Bagaimana kamu bisa disini secepat itu?"
Sedangkan, Lelaki Thing hanya diam sambil menyipitkan mata menatap depan. 'Benar benar aneh! Kenapa aku tidak bisa melihat kultivasi anak ini sama sekali??' Batinnya bingung.
Dirga tetap tenang, Tapi tatapannya tajam menatap mereka berdua. "Siapa kalian? Kenapa kalian mengikuti sejak tadi? Apa yang kalian cari?"
Kedua lelaki tua itu hanya menyunggingkan senyumnya yang tidak ada menawan. "Hehe, Bocah! Aku tidak perlu mencarimu lagi, Karena kamu sudah berada di sini, Aku tidak akan segan melukaimu dan membawamu ke tuan Agasta! Hahaha...!" Ucap lelaki Sing sambil tertawa renyah.
Dirga tanpa ekspresi berkata. "Siapa tuan Agasta? Apa itu pemimpin organisasimu?"
Begitu mendengar perkataan Dirga, Wajah kedua orang itu berubah muram dan terkejut. Mereka tidak menyangka jika pemuda aneh di depannya ini bisa menebaknya.
Lelaki Thing mengeluarkan pedangnya dan terkekeh pelan. "Hehe, Bocah! Ternyata kamu hebat bisa menebaknya, Tapi hanya itu saja, Nanti kamu akan mati juga!"
Lelaki Sing menganggukkan kepalanya. "Saudara, Jangan bertele tele lagi, Kita harus menangkap dan memberikannya ke tuan Agasta, Lalu kita akan di berikan hadiah batu roh yang banyak, Hahaha!" Ucapnya sekaligus mengeluarkan pedangnya.
__ADS_1
Dirga tetap tanpa ekspresi dan berkata mengejek. "Mau bertarung? Kemarilah! Aku akan meladenimu!" Sambil mengeluarkan pedang peraknya.
"Bocah! Sombong sekali dirimu, Aku yakin jika terkena tebasanku, Tubuhmu bisa terbelah menjadi dua, Hahaha!" Ucap lelaki Thing sambil melesat menebaskan pedangnya kedepan.
Dirga juga tak mau ketinggalan. Mengangkat satu pedangnya keatas dan mengalirkan energinya ke pedangnya, Lalu menangkis serangannya.
Trang!
Wush!
Suara benturan pedang Dirga dan lelaki Thing bergema menciptakan gelombang energi. Lelaki Thing terdorong mundur sepuluh kaki.
Tatapan terkejut muncul di mukanya. Tapi Lelaki Thing tidak terkejut lagi, Ia menyeringai menatap depan berkata. "Saudara, Cepat giliranmu!"
Dirga juga tak bodoh. Ia merasakan pergerakan di atasnya. Tanpa menoleh atas, Ia mengangkat pedangnya dengan di aliri energi untuk menangkis serangan.
Trang!
Wush! Bruak!
Tubuh lelaki Sing terpental mundur dua puluh meteran dan menabrak pohon. Lelaki Sing terkejut begitu melihat reflek cepat pemuda di depannya.
Dia tidak mau kalah dengan seorang bocah, Bagaimana ia bisa menunjukkan mukanya di petknggi organisasi jika dirinya kalah dengan seorang pemida.
Dirga tetap acuh tak acuhnya. "Tak perlu omong kosong! Aku hanya ingin melihat kekuatanmu! Apakah sebesar omonganmu atau memang lemah!" Cibirnya, Lalu tubuhnya menghilang.
"Apa??
Kedua lelaki Sing dan Thing terkejut begitu melihat pemuda yang baru saja di depannya menghilang begitu saja.
Karena jarak kedua lelaki ini hanya sepuluh meter, Jadi mereka bisa melihat satu sama lain, Apalagi sedang berhadapan.
Wush!
Sebuah serangan energi pedang terlihat di belakang lelaki Thing. Sedangkan Sing yang melihat itu berteriak. "Saudara, Di belakangmu!"
Mendengar pekikannya, Lelaki Thing ingin menghindar. Tapi terlambat karena kecepatan serangan energi pedang itu terlalu cepat menurutnya.
Boom!
Suara ledakan bergema dan menciptakan debu debu menutupi area lelaki Thing.
__ADS_1
"Uhuk! Uhuk!"
Terlihat keadaan lelaki Thing cukup mengenaskan, Pakaiannya compang camping dan bagian punggunnya ada sayatan panjang serta mulutnya yang mengeluarkan darah.
Melihat ini, Lelaki Sing sangat marah. "Bajingan! Cepat keluar! Jangan hanya bisa bersembunyi! Aku akan mencincang tubuhmu!"
"Jangan alihkan fokusmu!"
Sebuah suara dingin terdengar di belakangnya di sertai siulan angin tajam yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Boom!
"Uhuk! Huek!"
Ledakan terjadi lagi. Kali ini tubuh lelaki Sing lebih parah dari Thing. Pakaiannya compang camping dan menyisakan pakaian dadanya.
Dirga muncul tiga meter di depannya sambil menatap tajam keduanya. Mulutnya menyeringai. "Semut tetaplah semut! Hanya tahap Alam Langit berani bertarung denganku! Kalian tak layak!" Cibirnya sambil menatap keduanya yang hanya bisa terbaring lemah tak berdaya.
Lelaki Sing yang melihat dirinya di kalahkan dengan mudah oleh bocah bau kencur menurutnya, Membuat dirinya marah.
Tapi tubuhnya lemah tak berdaya yang membuatnya hanya bisa menggertakkan giginya.
"Katakan! Kenapa kalian mengikutiku? Apa yang kalian cari? Dan siapa itu tuan Agasta?" Ucap Dirga sambil mengerahkan aura penindasannya.
Mata kedua lelaki melebar begitu merasakan aura kuat yang membuat organ dalamnya serasa ingin kabur. 'T-tahap Pertapa tingkat tinggi!' Batin mereka berdua kaget melihat kultivasi Dirga yang sebenarnya.
Kedua lelaki ini menatap Dirga sambil menelan ludahnya tapi tidak satupun yang menjawabnya.
"Cepat katakan! Jika tidak, Aku akan membunuh kalian berdua!" Pinta Dirga sambil menambah auranya.
Kini mereka berkeringat dingin begitu merasakan penindasan yang selalu bertambah. Lelaki Thing berkata dengan tergagap. "A-a-aku akan katakan! Aku katakan! Tolong ampuni aku!"
Mata lelaki Sing melotot kearahnya sambil berakata marah. "Thing! Apa yang kamu lakukan? Kamu pengkhianat! Kamu benar benar laknat!"
Lealki Thing menoleh ke Sing sambil berkata rendah. "Saudara, Jika kita tidak memberitahunya, Kita akan di bunuh olehnya! Apa saudara tidak memikirkannya?"
Lelaki Sing berpikir sejenak dan menatap Dirga yang hanya tanpa ekspresi. "Tu-tuan, Jika aku mengatakannya, Apa tuan melepaskan kami?"
Dirga tanpa pikir panjang mengangguk. "Tentu saja!"
Lelaki Sing menelan ludah dan berkata gugup. "T-tuan, Kami di perintahkan oleh tuan Agasta untuk mencarimu karena telah membunuh ketiga bersaudara waktu itu! Tapi kami berakhir seperti ini" Sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecut.
__ADS_1