
Saat ini, Dirga berada di sisi utara Kota Luyung. Di depannya Dirga melihat pemandangan alam yang sangat indah.
Dua gunung mati dan di tengah tengah gunung itu ada sebuah danau yang cukup luas. Hanya saja, Isi airnya tidak sampai sebetis.
Mengeluarkan sayap Dewanya, Dirga mendekati dua gunung itu. Mengamati sejenak sambil berpikir. 'Mungkin tempat ini sangat cocok untuk markas sekte.'
Mengeluarkan sebongkah Batu Immortal, Dirga mengernyitkan dahinya. "Apa batu ini tidak bisa di ubah menjadi besar?" Gumamnya.
Sistem tiba tiba terdengar di benaknya.
"Ding! Bisa Tuan. Tuan rumah hanya perlu memfokuskan pikiran untuk mengubah bentuk Batu Immortal."
Begitu mendengarnya. Dirga memfokuskan pikirannya untuk mengubah batu itu menjadi lebih besar.
Seketika saja, Batu yang ada di genggamannya berubah menjadi persegi panjang yang amat luas dan tebal.
"Hebat! Benar benar hebat!" Serunya takjub melihat batu itu yang berubah.
Segera setelah itu, Dirga mulai fokus untuk membuat sebuah bangunan tepat berada di tengah tengah dua gunung.
Tidak hanya itu saja, Para warga Kota Luyung juga tidak membuang buang waktu mereka. Mereka semua bekerja secara kelompok untuk merenovasi bagian bagian bangunan yang tidak layak di tempati.
__ADS_1
Menjelang sore, Semua orang berkumpul di sisi utara Kota. Mata mereka melebar dengan rahang terbuka takjub.
"Siapa yang membuat bangunan sebesar itu..?"
"Benar benar hebat, Membangun bangunan sebesar itu hanya butuh waktu yang tidak lama..!"
"..."
Mereka semua memandang bangunan itu dengan takjub sambil menunjukkan jari telunjuk mereka. Tidak ada yang menyangka jika ada seseorang yang bisa membangun bangunan itu dalam.waktu yang cukup singkat.
Bangunan yang mereka lihat bukanlah gedung maupun mension. Bangunan itu berupa kastil berwarna hitam legam dan sedikit ada keperakan.
Salah satu mereka menunjuk depan sambil memekik. "Lihat disana! Ada manusia bersayap! Apa dia Dewa..?"
"Astaga...Apa Dewa sekarang tidak memiliki tugas yang lebih baik? Mengapa dia malah membangun sebuah kastil?" Gumam seseorang seraya mendesah pendek.
"Mungkin dia tidak memiliki tugas, Untuk itu dia ingin membangun kastil besar itu!" Timpal salah satu orang yang membuat mendengarnya tertawa aneh.
Bagaimana bisa Dewa membangun sebuah kastil hanya tidak mempunyai pekerjaan?
Apa Dewa seleranya sudah menurun?
__ADS_1
Itu yang dipikirkan semua orang.
"Lihat! Dewa itu mendekati kita!" Pekik seseorang menunjuk depan.
Dirga yang saat ini hampir menyelesaikan tugasnya, Ia menghampiri mereka yang masih membuka matanya lebar lebar.
Sambil menatap orang orang. Ia berkata. "Sudah hampir malam, Sebaiknya kalian beristirahat dahulu untuk memulihkan diri! Jika kekacauan ini sudah selesai, Aku akan merubah tatanan kalian semua!"
Ucapannya tegas tapi tetap acuh tak acuh di sertai aura dominasi yang menerpa tubuh semua orang. Mereka dengan susah payah menelan ludahnya sekaligus keringat dingin muncul di dahinya.
Dirga tersenyum tipis dan menghilangkan tekanannya membuat semunya bernafas lega. Mereka memandang Dirga dengan takut, Aneh, Marah serta kekaguman.
Takut karena tekanan tadi, Aneh karena sosok yang di panggil Dewa ternyata seorang pemuda, Marah karena tiba tiba Dirga mengeluarkan tekanannya, Kagum karena memiliki kekuatan hebat di usia muda dan yang terakhir jelas ketampanannya.
Arya dan Retania yang ada di depan mereka maju mendekati Dirga seraya membungkukkan badannya. "Salam tuan muda!"
Mereka terkejut begitu melihat kedua pria dan wanita yang terbilang kuat membungkuk ke arah pemuda itu. Apalagi mereka berdua mengucapkan salam dan memanggil tuan muda.
Sudah jelas status pemuda ini pasti sangat tinggi. Mereka semakin kagum dengan Dirga.
Dirga mengangkat telapak tangannya. "Bangunlah! Beri semua orang pil ini untuk memulihkan diri!" Katanya seraya mengulurkan cincin penyimpannya.
__ADS_1
Arya mengangguk dan Retania menjawab hormat. "Kami mengerti tuan muda!"