
Begitu pun juga dengan Tuan Kota Xu yang mengerutkan keningnya melihat ekspresi Indira yang tiba tiba berubah.
Sebelum ada yang berbicara, Suara khas gadis kecil terdengar di belakang Dirga.
"Kakak! Lihatlah...Mereka kabur!"
Dirga dan lainnya sontak menoleh ke belakang dan melihat tubuh Wira Marde, Patriak Marde dan ke sepuluh pengawalnya memendarkan cahaya biru terang namun tidak menyilaukan.
"Tunggu aku! Baj-...Arhg...!" Saat Wira Marde meraung marah, Tiba - tiba ia berteriak kencang sendiri sebelum tubuhnya benar - benar menghilang bersama mereka.
Dirga tersenyum tipis, Sebelum Wira benar benar menghilang, Ia menjentikkan energi mental sejatinya ke meridian meridian nya.
Sudah pasti si Wira ini tidak bisa berkultivasi dengan sempurna karena seluruh meridian nya telah di sumbat oleh energi mental sejati Dirga.
Selain itu, Ia bisa melacak kemana arah perginya anak itu dan yang lain menggunakan energi mentalnya.
Seorang manusia yang berani bekerja sama dengan iblis. Tentu saja ia tak harus melepaskan begitu saja!
"Yah...Kenapa tadi tidak kita bunuh saja kak??"
"Iya! Padahal mereka sudah berbuat jahat kepadamu kak!"
Kedua gadis kecil itu tentu saja merengek tidak puas. Keduanya berpikir akan sia - sia saja tidak membunuhnya jika di masa depan mereka melakukan perbuatan yang sama.
Dirga yang melihat ekspresi tak puas Tia dan Nia ini lantas mencubit hidung keduanya dengan lembut.
"Nanti kalian kakak beri latihan yang sesungguhnya. Kakak akan memberi bagian untuk kalian berdua!" Dirga berkata pelan dan hanya dua gadis kecil itu yang bisa mendengarnya.
Lagian, Dua gadis kecil ini harus di beri pelatihan di lapangan agar mereka bisa leluasa berlatih tehnik elemennya.
"Benarkah?" Keduanya berkata serempak sambil menatap wajah tampan Dirga dengan mata besarnya berbinar.
Dirga mengangguk lembut dan di soraki keduanya dengan gembira. "Hore...!"
Tuan Kota Xu dan yang lain yang merasa di abaikan tidak lantas membuatnya marah. Malah ada rasa kagum di hatinya melihat kelucuan dua loli itu.
Meskipun tidak ada satupun yang bisa mendengar ucapan mereka.
__ADS_1
Tuan Kota Xu mengusap matanya yang entah dari mana sudah ada buliran air di pelupuk matanya. "Tuan muda, Tuan muda tidak perlu khawatir! Nanti saya akan mengganti rugi pihak mereka yang terkena kekacauan tadi!" Dia berkata ramah kepada pemuda berambut perak ini.
Dirga tidak mengangguk, Ia menggelengkan kepalanya lantas berkata. "Terima kasih Tuan Kota! Maafkan aku, Bagaimanapun juga semua ini ada campur tanganku! Jadi...Biarkan aku saja yang mengganti rugi mereka!"
Dirga mengeluarkan satu buah cincin penyimpanannya dan menyerahkannya ke Tuan Kota Xu dan menambahkan. "Tapi aku minta tolong kepada anda agar menyerahkan ke pihak mereka!"
Tuan Kota Xu terkejut mendengar penjelasan pemuda ini. "Tapi- " Ucapannya di sela oleh Dirga dengan datar. "Tidak ada tapi - tapi! Dan aku tidak suka di tolak!"
"I-ini?" Tuan Kota Xu tercekat dan tidak bisa berkata apa apa. Takut jika membuat pemuda asing ini marah.
Indira yang sudah tersadar dari tadi pun berkata menimpali. "Sudahlah, Tuan Kota lebih baik menerimanya! Selain itu, Tidak baik menolak kebaikan seseorang!"
Meskipun ia tak tahu sebenarnya apa isi dari cincin itu. Ia memiliki filing jika di dalamnya bukanlah kaleng kaleng.
"Huft, Baiklah! Terima kasih tuan muda!" Tuan Kota Xu menghela napas panjang dan berkata ramah sambil membungkuk hormat diikuti semua pengawalnya.
Karena penasaran, Tuan Kota Xu membuka cincin penyimpanan pemberian pemuda itu dan seketika matanya membulat dengan rahang terbuka lebar.
"Sama sama! Jika tidak ada yang di katakan lagi, Aku pamit pergi!" Dirga berkata pada Tuan Kota Xu yang tercengang itu, namun ia tak peduli dan melirik Indira sekilas.
Ia malas berada di situasi ini. Apalagi banyak tatapan warga yang mengarah kepadanya dengan ekspresi sulit di artikan.
"Nona! Terima kasih telah menyeretku dalam kejadian ini!" Dirga berkata dingin dengannya dan berbalik badan sambil menggendong dua gadis kecil itu lalu melangkah pergi.
Indira tersentak begitu mendengar perkataan Dirga. Entah mengapa hatinya sakit di katai dingin oleh pemuda yang baru ia kenal. Ia merasa bersalah akan ke tidak mampuannya ini.
Indira menggeleng dan seketika tersadar. "Tunggu!" Indira berbicara dan baru menyadari jika ia kehilangan jejak pemuda tadi
'Hilang? Cepat sekali!' Indira berseru dalam hati kaget ketika dia tak bisa mendeteksi di mana perginya pemuda tadi.
Menoleh ke arah Tuan Kota Xu yang masih tetap di tempat dengan ke adaan tercengang. Tanpa memperdulikan ekspresinya, Indira berkata cepat.
"Tuan Kota! Terima kasih telah membantu saya! Kalau begitu, Saya permisi masih ada urusan."
Tuan Kota Xu tak menanggapi perkataan Indira. Ia masih tercengang. Pria di sebelahnya yang adalah kepala pengawal pun segera menanggapi Indira.
"Saya mewakili Tuan Xu, Tolong sampaikan salamku kepada kekasih nona tadi!" Ucapnya sambil membungkuk hormat.
__ADS_1
Wajah Indira memerah bak kepiting rebus ketika Kepala pengawal itu mengucapkan kata 'kekasih'. Namun entah mengapa hatinya merasa girang akan ucapan itu.
Indira menganggukkan kepala. Dengan masih wajah memerah ia melesat pergi meninggalkan Tuan Kota dan yang lainnya.
Kepala pengawal segera menoleh ke Tuan Kota Xu dan dahinya mengernyit. "Tuan! Ada apa dengan anda? Mengapa anda hanya diam saja?" Tuan Kota Xu tak bisa untuk tidak bertanya.
Tuan Kota Xu tersadar dari lamunannya. Bukannya menjawab, Dia menyerahkan cincin penyimpanan itu ke kepala pengawalnya menyuruhnya untuk melihat.
Meski merasa bingung, Kepala pengawal menerimanya dan mulai memeriksa isi cincin itu.
Seketika matanya membulat sempurna dengan menjatuhkan rahangnya kebawah persis ekspresinya Tuan Kota.
"I-ini? Ini koin emas sebanyak 500 juta!!!" Kepala pengawal tanpa sadar meneriakkan kalimat itu. Dan menambahkan seraya menoleh ke arah Tuan Kota Xu yang ekspresinya sulit di pahami. "I-ini? Ini bisa membeli tanah seluruh Ibu Kota Kerajaan!" Tambahnya merasa sulit untuk melihatnya.
"Pelankan suaramu! Kita harus kembali! Cepat! Kita harus menyimpan koin emas ini agar tidak ada yang merampas!" Tuan Kota Xu berkata cepat kepada para pengawalnya.
Sebelum itu, Dia masih memikirkan kata Dirga yang menyuruhnya untuk memperbaiki kerusakan tadi dan ia pun menyuruh beberapa pengawal untuk melakukan tugasnya.
"Pemuda itu? Bukan sembarang anak muda jika bisa mengeluarkan koin emas sebanyak ini!" Gumam Tuan Kota Xu merasa sulit membayangkan kejadian tadi.
Jika dia tahu kekayaan Dirga yang sebenarnya, Mungkin bukan muntah darah lagi, Kemungkinan bisa terkejut setengah mati.
••
Malam hari
Saat ini, Dirga berada di kamar penginapan sambil terlentang tidur.
Di kedua sisinya, Ada dua gadis kecil yang sudah tidur pulas sambil menyedot ujung jari jempolnya sendiri.
Itu terlihat sangat lucu dan menggemaskan!
"Kalian sangat lucu! Beruntung kakak memiliki kalian berdua!" Dirga berkata sambil mengelus pipi keduanya dengan lemah lembut membuat si empu mengerang.
Membuat array penghalang dan sekaligus array kedap suara. Ia pun menghilang dari kamarnya.
..........................
__ADS_1
•••