
Dirga membalikkan badannya dan menemukan ketiga wanita itu saling mengobrol satu sama lain. Seolah olah mereka sudah saling mengenal.
Dahi Dirga mengernyit dan tak memikirkan. Ia melangkah mendekati dan berkata. "Baiklah, Sudah cukup untuk memberi mereka nasehat. Sebaiknya kita pergi."
Laniya dan dua wanita menoleh menatap Dirga. "Apa kamu yakin mereka bisa menyelesaikannya?" Tanya Laniya sedikit mengerutkan keningnya.
Dirinya memang merasakan bahaya dari persepsinya ketika mendekat ke kedua bangunan bobrok itu. Namun ia tak tahu apa yang membuatnya seperti itu.
Dirga mengangguk acuh. "Tentu saja! Tapi itu tergantung dengan cara apa mereka menyelesaikanya." Ucapnya dengan tenang.
Mereka pun mengangguk patuh dan tak membantah perkataan Dirga. Xenia Xu yang melihat ini terkejut namun iri.
Laniya dan Fanni layaknya seorang istri yang patuh terhadap suaminya. Ini yang membuat perasaannya iri.
Namun, Ia menggelengkan kepalanya menyingkirkan pikiran aneh itu.
Dirga tak melihat ekspresi Xenia Xu. Meskipun ia melihat, Dia tak terlalu peduli dengan itu. Ia pun melanjutkan katanya sebelum melesat pergi. "Ayo! Kita pergi dari sini!"
"Baik!"
Ketiga wanita itu pun mengikutinya dari belakang.
Arya, Kai dan leluhur Suwi yang melihat cahaya tak asing itu melesat pergi. Mereka bertiga menghela napas pasrah.
Kai menoleh ke ke Arya dan berkata. "Saudara, Sepertinya sudah waktunya kita melakukannya!"
Arya berpikir sejenak dan mengangguk. Ia pun menimpali. "Benar! Tapi kita semua harus menjaga jarak sekitar tiga ratus meter terlebih dahulu."
Kai terdiam dan tak tahu mengapa Arya berkata seperti itu. Tapi ia tetap mengikutinya karena yakin Arya pasti memiliki rencananya sendiri.
Leluhur Suwi yang melihat kedua pemuda itu dari samping hanya tersenyum tipis. Sejenak Arya memberikan arahan kepada semua murid lalu mereka pun melesat bersama di gelapnya malam.
Beberapa menit kemudian. Arya dan lainnya berhenti di area hutan yang di penuhi semak belukar namun agak luas.
Di depan jauh. Ada dua bangunan bobrok yang jika ada orang melihatnya mungkin mereka berpikir jika itu bangunan kosong.
Namun berbeda dengan Arya dan lainnya. Mereka yakin jika ada beberapa sosok yang menghuni meskipun tidak mendeteksi aura pihak lain.
Arya menatap depan dengan seksama. Begitupun juga dengan Kai yang ada di sisinya.
Sejenak, Mereka saling bertukar pandang dan mengangkat bahu lalu melanjutkan mengamati area depan.
"Aneh...Apa kamu tidak merasakannya?" Sejenak, Kai berhenti dan bertanya kepada Arya yang mengerutkan keningnya.
Arya mengangguk dan berpikir. "Aku merasa jika ada bahaya di depan namun aku tidak tahu apa itu. A-Apa kita terjebak ilusi?"
Seketika kedua pria muda itu tertegun dan saling melirik satu sama lain. Kai menggelengkan kepalanya dan membantah. "Itu tidak mungkin! Jika kita terjebak di ilusi, Pikiran kita sudah berubah ubah. Namun aku tidak merasakan hal itu!"
Arya pun mengangguk mengamini perkataan Kai. Sejenak mereka berdiri diam. Sesekali memicingkan mata dan sesekali dahi berkerut.
Satu tarikan napas kemudian. Arya menunduk dan memungut batu di bawahnya. Kai mengerutkan kening dan tidak tahu apa yang akan di lakukan Arya.
Arya menatap depan sambil bergumam. "Kuharap batu ini bisa membongkar semua ini!"
Tanpa ragu ragu. Arya melemparkan batu itu kedepan dengan kecepatan cepat. Batu itu melesat dan mengenai salah satu bangunan itu.
Kedua pria itu waspada. Namun setelah menunggu tidak ada hal yang mereka pikirkan.
Leluhur Suwi yang melihat kelakuan kedua pria itu tertawa tertahan. "Haha, Padahal sedikit lagi dia bisa mengetahui semua ini!" Ucapnya sembari tertawa lirih.
Para murid yang berada di belakang tertegun melihat pria tua itu yang malah tertawa. Mereka semua kesal dengan perilaku aneh pria tua ini.
__ADS_1
Meskipun tak tahu siapa pria tua ini. Mereka tidak ingin menyinggungnya. Mereka berpikir jika pria tua ini kemungkinan tetua dari Sekte nya. Karena tadi melihat sikap hormat yang di tunjukkan dari pria tua itu ke Master mereka!
Tiba tiba saja, Terdengar pekikan Arya dan Kai secra bersamaan. "Mundur...!!"
Segera. Para murid mundur sejauh mungkin karena semuanya bisa merasakan apa yang terjadi selanjutnya.
Wushh!
Wushh!
Wushh!
Wushh!
Seketika, Ratusan pedang tajam keluar dari tempat tak jauh Arya dan Kai yang sedang mengamati tadi.
Ratusan pedang berbagai tingkatan itu langsung melesat kesegala arah dengan gila dan berakhir dengan ledakan.
Booms!
Booms!
Booms!
Suara ledakan saling bersahutan dari dalam hutan. Para murid yang melihat kejadian ini membuka mulutnya lebar lebar dan menatap ledakan besar utu dengan ngeri.
Tak terkecuali Arya dan Kai. Tadi sebelum terjadi kejadian ini. Kai sempat melemparkan batu seukuran lemari yang di selimuti energi.
Ketika batu itu menyentuh tanah. Tiba tiba lingkaran formasi muncul dan langsung melesatkan serangannya.
Beruntung keduanya memiliki reflek cepat hingga tak ada satupun yang terluka.
Belum sempat mereka tenang. Tiba tiba terdengar suara - suara siulan dari depan bangunan bobrok itu.
Terlihat ratusan tombak yang memancarkan energi mengerikan keluar dari atas salah satu bangunan bobrok itu.
Seluruh tombak itupun juga sama. Kesemuanya melesat keberbagai arah. Seolah olah semua tombak itu bertarung dengan gila.
"Cepat mundur...!" Teriak Arya memperingati para murid.
Seketika saja. Semua murid mundur jauh dari area itu. Baru saja berhenti, Mereka di kejutkan suara ledakan ledakan yang tak jauh dari tempat tadi.
Booms!
Booms!
Booms!
Booms!
"Hah, Untunglah jika kita masih bisa selamat." Desah Kai menatap depan dengan ekspresi yang berubah muram.
"Huh, Aku tak percaya jika di sekeliling bangunan itu memiliki formasi yang mengerikan ini." Arya menimpalinya sambil mengatur napasnya karena terkejut.
"Cih! Itu hanya permulaan! Lihat itu!" Leluhur Suwi yang memang mendengarnya mendecih dan menunjuk depan.
"A-Apa maksudmu?!" Arya bertanya gugup namun leluhur Suwi hanya menanggapinya dengan telunjuk mengarah depan.
"Sa-Saudara Arya! Li-Lihat itu...!" Suara gugup nan bergetar Kai terdengar dari samping.
Reflek, Arya menoleh dan menatap kedepan dengan raut wajah ngeri serta kedua mata melebar.
__ADS_1
Terlihat di depannya ada asap ungu tapi tidak tebal menyebar ketempat berkumpulnya tadi.
Tapi tak lama kemudian, Asap berwarna ungu itu perlahan menebal dan area di sekitar depan seolah tertutupi dengan kabut asap ungu sedikit kehitaman.
Tidak hanya itu saja, Nampak tanaman yang ada di sekitarnya langsung layu ketika terkena asap ungu itu.
"I-Itu?...Itu adalah serbuk racun monster gurita ungu!" Arya berteriak kaget ketika melihat itu.
"Apa saudara mengetahui asap apa itu?" Kai bertanya penasaran.
Ketika Arya memekik tadi ia sedikit kesal. Namun sekarang bukan waktunya untuk menunjukkan kekesalannya.
Arya menganggukkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangannya dari depan. "Ya! Serbuk Racun itu berasal dari tinta Monster Gurita Ungu yang keberadaannya terbilang sangat langka dan bisa di bilang mustahil bisa bertemu!"
"Karena Monster Gurita Ungu hanya hidup di laut utara yang jauh dan tidak ada manusia pun yang bisa kesana. Tidak hanya itu saja, Kehidupan Monster Gurita Ungu hidup bersama dengan monster laut lainnya seperti Monster Hiu Iblis, Monster Piranha Merah, Monster Piton Bertanduk Lima dan monster monster ganas lainnya!"
Arya menjelaskannya sesuai dengan yang ia ketahui dari ingatannya. Leluhur Suwi Lapo yang berada disamping Arya merasa terkejut begitu mendengar penjelasan Arya.
Ia lantas membatin ngeri. 'Pantas saja waktu itu guru mengatakan jika laut utara adalah tempat laut yang paling tabu dan tidak ada yang menjamahnya' Tiba tiba ia tersadar dan terdiam.
Lalu menatap Arya dengan mata sedikit terbuka lebar. 'Ba-Bagaimana anak muda ini tahu? Siapa dia sebenarnya?' Batinnya memberikan ekspresi aneh di raut wajah keriputnya.
Sementara Leluhur tua itu masih terkejut. Arya dan Kai saling diam dan berpikir serius.
Tiba tiba suara yang terdengar tak asing bergema di sekitarnya.
"Majulah! Ada ribuan orang yang berada di Ranah Alam Bumi berbagai tingkatan! Sisanya adalah empat Raja Langit dan pemimpinnya berada di Pertapa tingkat Lima!...Mereka sudah menunggu kalian di sana!"
Arya dan para murid tertegun mendengar suara itu. Bukan karena apa, Semuanya terkejut karena di depan sana ada ribuan orang!
Namun saat ini? Murid Sekte Pedang Langit Abadi hanya berjumlah lima puluh! Sedangkan pihak musuh?
Tidak usah dipikir terlalu lama dan sudah jelas bahwa mereka kalah dengan mudah karena kalah jumlah!
"Hilangkan pikiran bodoh seperti itu..! Bertarung harus memiliki sikap percaya diri! Jika kalian takut hanya karena musuh menang jumlah, Bagaimana kalian bisa menghadapi perang yang sesungguhnya? Itu akan mempengaruhi mental kalian sendiri!...Percayalah padaku, Mereka hanya menang jumlah bukan berarti mereka sangat hebat seperti yang kalian pikirkan"
Suara itu kembali bergema. Namun kali ini ada nada marah namun masih terkesan tegas.
Sontak raut wajah mereka semua berubah dan semuanya mengangguk tegas dan sorot matanya nampak seperti pahlawan!
"Benar! Aku akan bertarung sampai ajal menjemput ku!...
"Semuanya! Kita sudah di berikan hidup yang layak! Kita harus membalasnya agar tidak kecewa dengan kita semua! Hidup Sekte Pedang Langit Abadi dan bunuh semua kekejian!"
"Hidup Sekte Pedang Langit Abadi...! Bunuh kekejian...!"
"Bunuh...!"
"...."
Melihat semangat juang para murid itu. Seketika bibir Arya dan Kai melengkung dan tanpa sadar keluar sedikit bulir air mata lalu mereka buru menyekanya.
Tak terkecuali leluhur Suwi Lapo. Dia tersenyum ketika melihat semangat juang murid Sekte yang selama ini membuatnya terkagum kagum.
'Tuan muda, Anda layak di jadikan pemimpin! Bahkan menurutku anda semakin layak jika menjadi Raja di benua ini dari pada Raja yang sekarang!' Pikir leluhur Suwi Lapo dengan sorot mata anehnya.
Seketika suara tadi bergema lagi. "Bersiaplah...!"
Setelah kata itu jatuh. Angin lembut yang entah datang dari mana menyapu bersih asap ungu itu dan pandangan semua orang terlihat sangat jelas.
"Lancang!! Aku tak menyangka jika ada yang masih berani mengusik tempat ini! Apalagi hanya membawa sedikit kekuatan sekecil ini? Apa kalian meremehkan ku hah?!"
__ADS_1
"Berhubung kalian sudah datang, Maka tidak ada satupun yang bisa selamat dari cengkraman ku!"