Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 63


__ADS_3

***


Keesokan paginya, Dirga membuka matanya. Melihat Laniya yang tidur pulas di sampingnya, Ia menghela napas. Ketika memikirkan kejadian semalam membuat bibirnya berkedut.


"Ding! Selamat kepada tuan rumah telah mendapatkan kesucian Laniya"


"Ding! Selamat telah mendapatkan hadiah sistem yaitu ratusan juta ton Batu Immortal"


Tiba tiba sistem berdering memberikan hadiahnya membuat alisnya sedikit terangkat. "Hm? Batu Immortal? Apa kegunaannya?" Gumamnya seraya mengklik deskripsi sistem.


(Batu Immortal: Dapat membuat benteng pertahanan yang sangat kokoh, Istana yang memiliki ketahanan yang baik, dan lainnya. Batu Immortal hanya bisa membuat benda - benda layaknya rumah maupun benteng kecuali senjata. Kuat dalam bertahan dari serangan kultivator Ranah Saint dan tahan dari senjata immortal ke bawah)


Setelah membaca deskripsi Batu Immortal. Dirga mengerutka keningnya. Melihat penyimpanan sistem yang muncul batu berwarna hitam, Ia segera mengeluarkannya.


Batu itu hanya berwarna hitam legam, Tidak ada yang istimewa di dalamnya kecuali deskripsi tadi. Untuk menguji ketahanan batu ini. Ia mengeluarkan pedang pendek surgawi.


Mengangkat pedangnya ke atas, Ia menebaskan ke arah batu itu.


"Ting!"


Suara dentingan seperti gelas berdenting terdengar ketika pedangnya terkena batu itu. "Cukup menarik!" Gumamnya sambil mengamati batu itu yang tidak ada goresan sedikitpun di batu itu.

__ADS_1


Tapi kemudian, Ia mendengar suara tak asing di pergelangan tangannya.


"Krak!"


Dirga seketika tersentak dan mengangkat pedang pendeknya yang nampak memiliki retakan yang terus menjalar ke bagian sisi.


"Krak...! Krak...! Krak...! Pyarr..!"


Suara seperti pecahan kaca membuat matanya sedikit terbuka begitu menyaksikan pedang yang berada di tingkat surgawi pecah hanya karena menebas batu kecil.


Menyimpannya kemudian, Ia menaikkan kain halus untuk menutupi tubuh Laniya dan segera ganti pakaian lalu pergi keluar.


**


Melihat ke arah istrinya, Arya tersenyum seraya mengusap kepalanya dengan lembut. "Jangan khawatir, Tuan muda pasti ada urusan. Mungkin sebentar lagi datang!" Ucapnya.


Retania mengangguk dan bergumam pelan. "Aku tidak menyangka jika orang yang di katakan kakek benar benar ada. Kukira waktu itu kakek berbohong kepada kita, Ternyata tidak!"


Mendengar gumaman pelan Retania, Arya hanya tersenyum dan menanggapi. "Kita seharusnya senang karena aku yakin jika tuan muda berbeda dari pemuda pemuda yang selama ini kita lihat." Seraya menatap depan dengan senyum lebarnya.


Melihat reaksi aneh suaminya, Retania mengalihkan pandangannya ke arah dimana Arya memandangnya dan ia langsung berdiri dengan hormat.

__ADS_1


"Selamat pagi tuan muda!" Ucap keduanya serempak dengan membungkukkan badannya.


Dirga mengangguk dan bertanya. "Apa para warga sudah siap untuk merenovasi kota ini?"


Arya menjawab dengan hormat. "Sudah tuan muda! Untuk saat ini mereka sedang makan bersama di sana!" Sambil menunjuk kebelakang dimana semua orang tampak antusias makan.


Melihat orang orang yang mungkin berjumlah seribu lebih, Dirga memikirkan cara untuk bisa melindungi mereka semua.


Melihat para bocah yang kurus dan pakaiannya sedikit usang, Hatinya berkedut melihatnya. Tidak mungkinkan hanya dirinya seorang yang harus melindungi Kota Luyung ini.


Dirga bergumam seraya menatap depan. "Sepertinya kita harus membuat kelompok di Kota ini!"


Meskipun gumaman Dirga pelan. Arya dan Retania mendengarnya dan saling memandang satu sama lain.


"Maksud tuan muda?" Kata mereka serempak menatap Dirga dengan ekspresi bingung.


Dirga menganggukkan kepalanya mantap dan berkata kepada mereka berdua. "Setelah mereka selesai membersihkan kota, Segera kumpulkan semuanya dan aku akan memberikan mereka sedikit latihan!"


Begitu mendengar perkataan Dirga, Mereka berdua mengernyitkan dahinya bingung. Tapi ia tak bertanya banyak dan mematuhi perintahnya.


"Baik tuan muda!" Ucap mereka serempak dan mengobrol beberapa kata dengan Dirga, Lalu pergi untuk menyelesaikan tugasnya.

__ADS_1


Ketika mereka pergi, Suara sistemnya tiba tiba menggema di pikirannya.


"Ding!...


__ADS_2