Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 109


__ADS_3

Di tempat lain.


Tei, Zei, dan Leluhur Sido Lawang nampak mengelilingi perapian sambil memegangi tusuk daging.


Di belakangnya juga terdapat lima ratus anggota Sekte Pedang Langit Abadi. Mereka semua sedang memanggang daging sambil saling mengobrol ria.


"Saudara, Apa Tuan muda belum sampai juga?" Ucap Zei mengerutkan keningnya.


Tei tak menjawab, Ia memeriksa cincin penyimpanannya sejenak lalu berkata. "Belum. Mungkin sebentar lagi Tuan muda kesini, Kita tunggu saja!"


"Haaiik..!!" Suara sendawa seseorang terdengar di sebelah mereka berdua.


Melihat keadaan Leluhur Sido Lawang, Tei menjadi cemas. Lalu ia memperingati. "Leluhur, Sudahlah! Lebih baik anda berhenti minum minum. Lihat matamu yang sudah merah!"


Zei di sebelahnya mengangguk."Ya! Lebih baik anda berhenti dulu Leluhur, Aku takut jika leluhur tidak fokus menghadapi kekuatan musuh." Timpal nya sedikit ragu.


Leluhur Sido Lawang menatap kedua pria muda itu dengan tatapan mendelik. "Huh, Apa kalian meremehkan ku? Aku ini seorang Half Immortal! Hanya dua ribu Alam Langit belaka tidak membuatku gentar. Jika aku mau, Aku sendiri bisa menghancurkan markas itu dengan kekuatanku!" Dengusnya sambil berbicara khas mabuk.


Te dan Zei pun terdiam dan menghela napas. Leluhur tua ini kalau di beri nasehat tetap saja tidak mau mendengarkan.


Alasannya itulah, apalah, Banyak! Namun keduanya hanya bisa membiarkannya dari pada membuat rusuh.


Selang beberapa saat, Empat cahaya berbeda warna terlihat di kejauhan. Tei dan Zei pun sontak berdiri untuk menyambut kedatangan itu.


"Semuanya berdiri! Master sedang datang kemari..!" Seru Tei kepada semua anggotanya.


Begitu mendengar seruan itu. Semua anggota Sekte Pedang Langit Abadi berdiri dan langsung berbaris rapi seolah mereka adalah tentara yang menyambut jenderal.


Wushh!


Wushh!


Wushh!


Wushh!


Siluet cahaya itu seketika berhenti dari kejauhan dan langsung menapaki tanah dengan lembut. Nampak satu pria dan tiga wanita.


Namun semuanya mengerutkan keningnya begitu menyadari jika ada satu sosok yang terlihat cukup asing.


Namun saat ini bukan waktunya untuk bertanya. Mereka semua membungkukkan badannya dengan hormat sambil berseru.


"Salam Master dan Nyonya - Nyonya Master...!"


Suaranya begitu menggema di area sekitar. Wajah Laniya dan Fanni sontak berubah memerah. Meskipun begitu, Hatinya berbunga bunga karena mendapatkan sambutan spesial ini.

__ADS_1


Keduanya saling tatap satu sama lain sambil tersenyum kemenangan. Sedangkan satu sosok berdiri diam saja menyaksikan.


Namun begitu, Ada jejak kemerahan di kedua pipi lembut sosok itu. Dia adalah Xenia Xu!


Begitu mendengar sambutan semuanya. Xenia Xu berpikir konyol, Bukankah itu tidak langsung menyatakan jika dirinya juga Nyonya yang di maksud oleh mereka?


Begitu memikirkan ini, Dua pipinya berubah memerah dan menundukkan kepalanya sambil menggelengkan kepalanya. Apa yang aku pikirkan? Pikirnya.


Namun yang tidak ia sadari, Ada dua sosok yang memperhatikannya dengan mata indahnya. Lalu keduanya saling memandang satu sama lain sambil tersenyum seolah menyatakan sesuatu.


Salah satu sosok itu maju dan menggenggam tangan kiri Xenia Xu sambil berkata lembut. "Aku sudah memperhatikanmu sejak tadi, Jika itu maumu maka kita bertiga harus bekerja sama!"


Xenia Xu benar benar terkejut begitu melihat ini. Namun belum sempat berkata, Sosok satu nya juga menggenggam tangannya seraya berkata ramah. "Tidak perlu takut! ya?! Jika jika kamu menginginkannya, Kita berdua bisa membaginya untukmu kok, Asalkan jangan membuat dia marah ataupun tersinggung! Oke??"


Xenia Xu benar benar terkejut saat ini. Kedua mata indahnya menatap kedua sosok itu dengan mulut terbuka. "Ka-kak Laniya! K-kak Fanni! Bu-Bukan begitu yang kuinginkan, Aku....Aku hanya..." Ucapnya terputus namun muncul semburat merah di kedua pipinya.


Laniya yang melihat ini mengerti dan tersenyum manis. "Lihat pipimu yang sudah merah seperti itu! Hehe, Kata kata mu sudah membohongi sikapmu, Oke?" Godanya seraya terkekeh.


Xenia Xu saat ini sangat malu ketika kedua wanita cantik ini menggodanya. "Sebentar! aku punya ide!" Ucap Laniya dengan mata berkeling.


Tanpa memberi kesempatan kedua wanita itu untuk bertanya apa yang terjadi dengannya. Laniya maju dan berbisik di samping Dirga yang saat ini sedang berpidato.


Dirga mengerutkan keningnya dan menoleh kebelakang. Melihat penampilan Xenia Xu yang masih sedikit lusuh, Dirga berkata ringan. "Boleh! Kamu masuk saja di Dunia Cermin!"


Laniya menganggukkan kepalanya seraya matanya berbinar. Ketika pusaran hitam muncul di depannya, Laniya menarik tangan Xenia Xu dan masuk kedalamnya.


Melihat ketiganya sudah benar benar menghilang, Dahi Dirga kini mengkerut semakin dalam. Dirinya merasakan firasat akan menghampirinya. Namun tak tahu seperti apa itu.


Menggelengkan kepalanya, Ia menepis pikiran bodohnya itu. "Oke, Kalian ingat kan ucapanku tadi?" Ucap Dirga menatap wajah wajah mereka.


"Kami ingat Master!" Jawab serempak semuanya dengan anggukan kepalanya.


"Baiklah, Dua ratus orang membawa Panah dan dua ratus juga membawa panah! Seperti perkataanku tadi, Sisanya berada di sini sebagai prajurit bagian depan!" Dirga berkata sambil mengeluarkan banyak senjata Panah dari ruang penyimpanan sistem nya.


Setelah itu, Dirga membagi kelompok yang terdiri dua ratus orang dan pimpin oleh Tei, Sedangkan dua ratus orang lagi di pimpin oleh Zei.


Sisanya dia yang pimpin bersama Leluhur Sido Lawang untuk bertarung di depan.


Selang beberapa menit, Semuanya sudah selesai dan siap pakai. Dirga yang melihat ini mengangguk puas lalu berkata memperintah. "Tei, Zei bersama pasukannya maju dan carilah tempat senyaman mungkin terlebih dahulu!"


"Baik!!"


Semua yang di tugaskan oleh Dirga mengangguk dan menjawab serempak. Tei bersama pasukannya melesat ke arah sisi barat. Sedangkan Zei bersama pasukannya ke arah timur.


Jika di fantasikan. Dua pasukan Dirga mengepung satu gedung atau sebut saja mension. Kedua pasukan mengepung mension itu di barat dan timur.

__ADS_1


Di utara mension, Ada Dirga dan lainnya yang sudah siap menyerang. Posisi Dirga saat ini berjarak satu kilo meter dari mension itu.


"Kita berangkat dan bunuh semua musuh kalian!" Ucap Dirga tegas dan melesat ke depan bersama pasukannya.


Dirga hanya memiliki seratus pasukan dan semuanya sudah berada di Ranah Alam Langit tingkat menengah - tinggi.


Wushh!


Suara hembusan angin menyebar hingga membuat daun daun di sekitarnya terombang ambing. Ketika samapi pada jarak lima ratus meteran, Dirga berhenti sambil mengangkat tangannya dan semuanya juga mengikuti.


Dirga menatap depan dengan dahi mengernyit. Nampak ada dua penjaga yang sedang berkultivasi di gubuk reot.


Dirga menjentikkan jarinya. Sebuah energi yang tak kasat mata melesat ke arah dua penjaga itu. Leluhur Sido Lawang yang melihat ini mengerutkan keningnya.


'Apa yang dia lakukan?' Pikirnya dan mengalihkan pandangannya ke depan.


Namun, Alangkah terkejutnya ketika dirinya sudah tak merasakan akan adanya vitalitas kehidupan yang terdapat pada dua penjaga itu.


Tanpa sadar, Mulutnya terbuka lebar ketika menyaksikan ini. Dia tak mengerti bagaimana bisa pemuda di sampingnya dapat membunuh dengan jentikan jari.


'Bagaimana bisa?' Batinnya benar benar terkejut.


Dengan kultivasinya sekarang, Mudah baginya untuk mendeteksi adanya energi di sekitarnya.


Namun bukan itu yang menjadikannya bingung. Ia bingung Karena tak merasakan adanya sebuah energi dari jentikan jari pemuda ini.


Yang terlihat hanyalah jentikan jari dan tiba tiba kedua penjaga itu mati tanpa terdeteksi.


Dirga tak peduli dengan reaksi leluhur tua di sebelahnya ini. Dia masih menatap depan dengan raut wajah serius.


Di sekitar mension itu ada sekitar seribu-an lebih orang yang berbaris layaknya menyambut seseorang. Tak berselang lama, Dari pintu mension itu muncul tiga orang.


Raut wajah Dirga berubah drastis ketika melihat orang yang berada di tengah dua pria dewasa yang sedang mengapitnya.


Nampak ekspresi keduanya sangat menyanjung orang di tengah itu dan semua nya juga mengikutinya bahkan ada beberapa yang bertekuk lutut maupun membungkukkan badannya.


Melihat ekspresi aneh Dirga, Leluhur Sido tidak tahan untuk tidak bertanya. "Tuan muda, Apa ada sesuatu?"


Dirga tak menjawab, Namun kepalanya mengisyaratkan untuk menoleh ke depan.


Leluhur Sido Lawang mengalihkan pandang ke arah isyarat kepala Dirga. Dia mengerutkan keningnya menatap depan Karena bingung.


Namun, Tatapan matanya kemudian tertuju ke satu orang. Orang itu memiliki pandangan tajam nan tegas. Dan orang itu juga terlihat mengangkat dadanya tinggi tinggi, Angkuh!


Namun bukan itu yang membuatnya terkejut, Ada sebuah lencana berwarna perak yang tampak terselip di pinggang pria dewasa itu.

__ADS_1


Dengan mata terbuka lebar, Leluhur Sido Lawang berseru tergagap. "I-i-itu!...Itu adalah Lencana Seorang Jenderal Senior dari Kerajaan Qin...!"


__ADS_2