Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 133


__ADS_3

Saat ini, Ia melihat ke depan dan melihat ada benteng yang tingginya mencapai tiga ratus meter.


"Dinding ini cukup rapuh! Mungkin dengan tinju seorang Kultivator Pertapa saja bisa membuatnya bergetar." Dirga bergumam melihat kualitas benteng itu yang menurutnya buruk.


Namun ia menggelengkan tak peduli. Jika di bandingkan dengan dinding istana Sektenya. Itu tidak bisa di babandingkan.


Karena bahkan kultivator setengah immortal akhir pun sulit untuk di getarkan, Apalagi membuatnya roboh.


Penampilannya saat ini memakai jubah hitam dan menyembunyikan wajah nya.


Selang beberapa menit, Ia akhirnya sampai di depan gapura gerbang Kota.


Mendongak dan membaca tulisan emas di gapura besar itu. "Kota Lewai"


Melihat ada banyaknya para manusia berbaris karena ada dua prajurit Kota yang sedang memeriksa identitas mereka.


Karena tidak ingin berlama lama karena juga lapar, Dirga bersembunyi di balik ilusi dan melewati kerumunan dengan santai.


Ketika masuk, Dirga melihat banyak pedagang serta kedai pinggir jalan yang cukup padat ini.


Karena suasana pagi, Orang - orang pun terlihat cukup banyak dan antusisas.


Merasa kesepian, Dirga mencari tempat sepi dan mengeluarkan dua sosok yang di rindukannya.


Wushh! Wushh!


Gedubuk2×


"Aduhh!" 2×


Dua sosok kecil imut segera muncul di kekosongan dan keduanya bersimpuh di lantai jalanan.


Mata Dirga membulat kaget melihat kondisi dua gadis kecilnya yang dalam keadaan bugil tanpa busana.


Tubuh keduanya juga masih terlihat ada busa sabun putih yang menempel di kulit mereka.


"Aduh! Kakak~ Kenapa kakak mengeluarkan ku tiba - tiba? Membuat Tia kaget saja!"


"Ah~ Pantatku sakit...ish! Kakak sukanya membuat kita kaget saja!"

__ADS_1


Kedua gadis kecil imut itu menggerutu kesal dan menatap wajah tampan Dirga dengan bola mata besarnya.


"Eh-...Kenapa kalian malah telanjang? Ayo cepat kalian pakai baju!" Dirga berkata cepat dan segera mengeluarkan dua baju kecil yang cocok untuk keduanya.


"Ihh...Pakein dong~ Enak saja membuat kami sakit malah di suruh pakai baju sendiri!" Ania berkata pura pura kesal kepada Dirga sambil menjulurkan lidah kecilnya.


Dirga malu dan menggaruk tengkuknya tak gatal melihat keimutan dua loli nya ini.


Apalagi Cintia yang malah membelakanginya dengan posisi sedikit doggy mengisyaratkan ingin di pakaikan baju.


"Ah-...Kalian ini ada - ada saja! Padahal kalian udah besar seharusnya bisa pakai baju sendiri!" Dirga berkata panjang sambil memakaikan pakaian ke Ania dengan lembut.


"Biarin! Wlekk~" Ania dan Tia menjukurkan lidahnya menggoda Dirga.


Ini yang membuatnya seketika gemas dan tidak bisa untuk tidak mencubit dua pipi yang mulus itu.


"Ahh! Aduh! kak sakit! Ishh~"


"Aduh! Main cubit - cubit saja kakak! Ishh~"


Ania dan Tia mencebik kesal sambil mengelus dua pipinya cemberut yang terkena cubitan Dirga.


Dirga tertawa dan mengelus kepala dua gadis ciliknya dengan lembut seraya berkata. "Oke, Kakak minta maaf...Sebagai gantinya, kakak mengajak kalian berdua makan di restoran dan malam nanti kakak akan menuruti semua perkataan kalian berdua. Bagaimana?"


Dua gadis kecil itu matanya berbinar dan mengajukan jari kelingkingnya masing masing.


Dirga menyambut jari keduanya dengan senyum lembut dan berkata. "Tentu saja! Sekali - sekali kalian berdua kakak traktir! Sekarang kakak sudah lapar. Kita pergi mencari restoran untuk mengisi perut!"


"Yee~ Terima kasih kak! Emmuach!" Keduanya bersorak gembira dan mengecup kedua pipi Dirga dengan malu - malu.


Dirga menggelengkan tak berdaya melihat keimutan dua gadis kecilnya dan mengusap kepalanya dengan lembut.



"Uh! Kakak...Masakan ini sangat enak! Nyam! Nyam! Nyam! Dagingnya juga lembut dan supnya juga hangat..."


"Ahhh...Ini sangat lezat! Bisa - bisa Ania kenyang makan semua ini...."


Dua gadis kecil ini berisik sekali saat makan. Terlihat di meja makannya di penuhi oleh beberapa makanan yang sudah tersaji.

__ADS_1


Banyak juga tatapan aneh beberapa pelanggan yang mengarah kepadanya. Meskipun hanya di tatap, Dirga merasakan fluktuasi kekesalan mereka.


Namun Dirga membiarkannya dan tidak peduli. Ia hanya ingin membuat dua gadis ciliknya senang.


"Kalian memesan banyak makanan...Kalian juga harus yang menghabiskannya!" Dirga berkata menggoda di sela makannya.


"Emm~ Twentu swajah kak!" Dua gadis kecilnya bicara sambil mengunyah makanan hingga tak jelas suaranya.


"Pelan - pelan saja! Kakak tidak mencurinya kok." Dirga berkata memperingati dan di jawab anggukan kecil oleh mereka.


Tak sampai lima belas menit. Mejanya kini di penuhi piring - piring kosong.


Dirga terkejut melihat rakusnya dua gadis kecilnya ini.


"Kalian makan sebanyak ini, Apa kalian tidak makan di dunia cermin kakak??" Dirga berkata usai makan dan dia kini sedang bersantai duduk.


"Salah kakak sendiri! Sudah tahu kita berdua habis latihan...Tentu saja kita berdua sangat lapar!" Ania berkata panjang sambil mengelus perutnya yang sedikit buncit itu.


Dirga tak bisa untuk tidak terkekeh melihat bentuk buncit perut dua gadis kecilnya yang menurutnya itu lucu.


"Sudah? Jika sudah kita pergi jalan - jalan gimana??" Dirga berkata dengan Ania dan Tia.


Namun kedua gadis kecilnya menggelengkan kepalanya seraya menjawab serempak. "Tidak mau!"


Dirga menaikkan satu alisnya dan berkata menggoda. "Lalu? Bagaimana kalau kita bermain di tempat lain atau yang lainnya!"


"Tidak kak! Aku sudah kenyang ingin tidur! Nanti malam saja sebagai gantinya dan kakak harus mentraktir kami berdua!" Ania berkata maksudnya dan diangguki oleh Tia.


Dirga mengangguk menuruti dan berkata lembut. "Okelah jika kalian ingin tidur! Kita keluar sekarang dan cari penginapan!"


"Tidak mau! Kak! Aku ingin tidur di cermin kakak!" Tia menolak usulan Dirga membuat si empunya tidak bisa untuk tidak menolak.


Ia pun mengangguk menyanggupinya. Setelah urusan makan selesai ia mencari tempat sepi untuk memindahkan dua gadis ciliknya.


Bagaimanapun jika ada orang yang melihat dua gadis kecil itu tiba - tiba menghilang itu menjadi repot nantinya.


Dirga keluar dari gang sempit dan melihat hari sudah semakin siang.


Diam sejenak sambil memeriksa keadaan dengan persepsi Dewa nya.

__ADS_1


Lalu alisnya mengkerut lalu menyeringai namun sedikit mengerutkan dahi. "Mereka lagi? Tapi kenapa mereka bisa masuk begitu saja tanpa ada yang menyadarinya sama sekali??"


"Ding!...


__ADS_2