Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 175


__ADS_3

Boom!


Boom!


Boom!


Ledakan kembali bergema di atas langit Sekte.


Lima ribu sosok berpakaian serba hitam mencoba menghancurkan Formasi bintang kuno milik Dirga.


Namun tidak ada yang bisa membuatnya hancur, Bahkan tidak menunjukkan retak sedikitpun!


Wajah sosok bertopeng iblis itu muram melihat pasukannya tidak ada satupun yang bisa menghancurkan Formasi ini.


"Sial!" Umpatnya entah kepada siapa. "Pasukanku! Serang terus! Formasi ini pasti melemah jika di serang terus menetus!"


Teriaknya kembali kepada pasukan lima ribu nya.


Boom!


Boom!


"Ada apa ini? Siapa mereka semua?"


Jenderal Tanbi yang baru datang bertanya dengan ekspresi mengernyit melihat atas.


"Jenderal! Kami tidak tau siapa mereka dan apa tujuan mereka kemari. Tiba - tiba saja mereka muncul dan mencoba menghancurkan Sekte kita!" Ucap Leluhur Sido Lawang sopan.


Jenderal Tanbi mengangkat satu alisnya. "Hm? Aneh, Kenapa aku tidak bisa mendeteksi kemunculannya?" Gumam nya dengan alis menyatu.


Tiba-tiba mereka mendengar seruan wanita di belakang mereka.


"Tebasan Pedang Langit!"


"Tusukan Pedang!"


"Pedang bayangan!"


"Teratai Putih!"


Wushh!


Empat serangan berturut - turut dengan aura mengerikan melesat ke atas langit Sekte.


Jenderal Tanbi melihat ini semakin mengernyitkan dahinya. "Kenapa mereka malah menyerang dari dalam? Apa me-


Belum sempat kata - katanya selesai. Matanya melebar melihat semua serangan itu menembus Formasi dan meledak di antara banyaknya orang itu.


Boom!


Suara ledakan yang cukup besar menggema keras. Ratusan orang yang terkena serangan itu seketika tubuhnya lemah ke tanah dan mati.


Sedangkan sisanya terdorong oleh sapuan energi hingga menjauh Sekte.


"Sial! Formasi macam ini yang bisa menyerang dari dalam?" Umpat sosok bertopeng itu.


Dia melambaikan tangannya ke atas dan sinar cahaya hitam penuh dengan aura iblis melesat ke Formasi.


"Iblis?" Seru anggota Sekte yang merasakan aura dari serangan itu.


Boom!


"Brengsek! Iblis mana yang berani menyerang Sekte ini!?" Umpat tetua Shane melihat tempat Sekte nya yang tiba - tiba di serang oleh pihak yang tidak di ketahui.


"Hahaha..Aku tidak menyangka jika Sekte kalian memiliki Formasi hebat seperti ini. Hehe, Kalau begitu, Cepat serahkan tehnik Formasi ini!"


Kata salah satu sosok bertopeng iblis itu dengan menyeringai di balik topengnya.


Mereka yang mendengar ini pun sontak muram. Mereka datang ke sini hanya karena merampas tehnik Formasi.


Bagaimana mungkin mereka membiarkannya begitu saja.


Laniya maju selangkah menatap pria bertopeng itu dan berkata dingin.


"Maaf saja, permintaan bodohmu itu tidak akan terkabul. Bahkan jika kau sudah mati sekalipun!"


"Teratai Surgawi!"


Dia mengangkat kedua tangannya dan muncul energi berbentuk teratai putih dengan aura mengerikan.

__ADS_1


"Matilah!" Teriaknya dan melambaikan tangan ke atas.


"Brengsek!" Kutuk keduanya marah mendengar mereka di katai bodoh oleh Laniya.


Mereka segera membuat perisai hitam dan membuat gerakan aneh untuk menahan serangan Laniya.


Boom!


Suara ledakan tabrakan terjadi.


Asap hitam muncul di atas langit Sekte membuat pandangan sulit untuk melihat sebenarnya.


Ketika asap hitam menghilang. Terlihat di atas ada satu sosok membuat mata semua melebar. Apalagi mereka yang mengenalnya.


"T-tolong aku Jenderal!" Ucap sosok itu dengan napas lemah.


"Lian Xin?"


"Pemuda itu?"


"Si brengsek?"


Banyak mereka yang berseru ketika melihat sosok yang nampak hangus dengan tubuh yang nampak berdarah.


"Hahaha...Kalian mengenalnya? Berlututlah jika ingin aku mengembalikannya!"


Ucap salah satu sosok bertopeng itu sambil tertawa liar.


"Sial!" Umpat Jenderal Tanbi dan sosoknya menghilang dari pandangan membuat mata dua sosok yang memegang Lian Xin menyusut.


"Hi-hilang!? Ba-bagaimana mungkin?" Seru keduanya melotot dari balik topengnya.


"Kau hanyalah semut tak berguna. Bodoh!"


Kata Jenderal Tanbi yang sudah tiba di depan mereka bertiga dan langsung meninju salah satu.


Baam!


"Arhg...!"


Jeritannya begitu menggelegar membuat pasukan mereka yang mendengarnya terdiam.


Jenderal Tanbi yang melihat melongonya salah satunya mencekik leher nya membuat sosok itu kesulitan bernapas.


"K-kau??"


Ucapnya tertahan tak percaya.


"Ada apa? Jenderal? Apa Jenderal mengenalnya?"


Tanya Leluhur Sido Lawang yang baru tiba di sisi Jenderal Tanbi bersama Leluhur Siwa Kenta, Tetua Shane, Tei, Zei dan Retania.


Jenderal Tanbi tak menjawab dan mengangkat sosok yang di cekiknya membuat semua bisa melihatnya.


"Pa-pangeran Qin Arma???"


Pekik semuanya ketika melihat siapa sebenarnya sosok yang berani menghancurkan Sekte nya.


Qin Arma terdiam tak bisa berkata. Selain dirinya lemah, Dia kesulitan bernapas karena cengkraman tangan Jenderal Tanbi begitu kuat.


"Karena kalian sudah melihat kami sebenarnya, Maka rasakanlah!"


Sebuah suara pemuda terdengar tak jauh dari mereka.


Entah sejak kapan sosok yang di tendang Jenderal Tanbi tadi kini sudah berada di belakangnya sambil melambaikan tangan ke depan.


Tiba - tiba asap berwarna ungu menyerbu cepat ke arah para anggota Sekte tanpa ada perlawanan.


"Serbuk ini?- Ahk!"


"Arhg!"


Leluhur Sido, Siwa, Tetua Shane dan semua yang berada di situ seketika ambruk ketanah seperti benda yang di lempar dari atas.


Bahkan seorang Jenderal Tanbi pun tak luput dari Serbuk Pelumpuh Organ!


Pupil mata semuanya menyusut melihat adegan tiba - tiba ini.


Laniya seketika melesat menghampiri Jenderal Tanbi.

__ADS_1


 "P-paman! A-apa yang terjadi? Sebenarnya asap apa yang di keluarkannya?"


Ucapnya terbata - bata melihat tubuh Jenderal Tanbi yang kini telah berubah warna menjadi ungu.


"Hahaha. Bodoh! Ternyata seorang Jenderal Besar Kekaisaran dapat di tipu dengan mudah! Hahaha...Aku jadi meragukan Jenderal itu!"


Pangeran Qin Arma tertawa terbahak bahak di langit dengan nafas masih terengah.


Salah satu sosok yang masih memakai topeng membuka topengnya dan membuat semua yang melihat itu terkejut.


"Pengeran Qin Rama?...Pangeran Qin Arma?"


Gumam kaget semuanya melihat wajah keduanya.


"Dia aslinya memang bodoh! Hahahaha...Bagaimana dengan kejutan ini, Jenderal? Apa kau terkejut?"


Lian Xin yang ternyata pura - pura bangun dan mendekati dua Pangeran itu yang tengah tertawa terbahak - bahak.


Mata Jenderal Tanbi melebar tak berdaya melihat Lian Xin yang mengkhianatinya itu.


Melihat tak berdayanya Jenderal Tanbi, Sosok Lian Xin kembali tertawa terbahak - bahak.


"Hahaha, Aku sudah lama menantikan ini, Pak tua! Dan inilah yang aku tunggu tunggu. Kehadiranmu membuat Keluargaku kesulitan merebut tahta Kekaisaran. Dengan ini, Keluargaku akan mencapai puncaknya. Hahaha!"


Ucap Lian Xin membuat mata Jenderal Tanbi semakin melotot. Dia tidak tau mengapa bocah ini menghianatinya.


Dan yang membuatnya bertanya tanya adalah bagaimana mereka bisa mendapatkan Serbuk ini?


'Apa ada orang yang berhasil menggapai tempat itu?' Batinnya bertanya tanya.


Karena serbuk ini hanya bisa di dapatkan di Laut Utara. Tempat yang tabu untuk seluruh manusia!


Bahkan Kaisar tidak berani ke tempat itu!


"Paman! Apa yang harus Laniya lakukan? Pil yang Laniya miliki tidak mempan dengan racun ini!"


Kata Laniya tersedu menggenggam tangan pamannya yang hanya bisa terbaring lemah di tanah.


Mata Jenderal Tanbi memerah melihat keponakan tersayangnya menangisinya. Ia tak bisa menanggapi ucapan Laniya. Bahkan untuk menggerakkan bibirnya pun kesulitan.


"Tak tau terima kasih! Bocah! Rasakan ini!"


Ucap Laniya dengan suara serak dengan mata memerah dan mengeluarkan aura membunuhnya yang pekat.


Lian Xin dan dua Pangeran itu bergetar melihat sosok Laniya yang seolah berubah.


Sepuluh siluet bunga raksasa berbeda warna muncul di belakang Laniya dan itu langsung melesat ke atas.


"Sial! Buat formasi pertahanan!"


Teriak Qin Arma kepada seluruh pasukannya.


Segera, Dengan gerakan aneh mereka, Muncul sebuah Formasi bersinar merah mencoba msnahan serangan Laniya.


"Formasi lemah!" Cibir Laniya dan menyatukan telapak tangannya.


Boom!


Krak! Pyar!


Tak butuh sedetik Formasi itu langsung hancur dan membuat banyak pasukan seketika meledak menjadi kabut darah.


"Arhg!"


"Sakit! Tolong aku Pangeran!"


"Arhg!"


Banyak dari mereka menjerit kesakitan. Dari yang awalnya lima ribu kini menjadi tiga ribu pasukan.


"Uhg! Sial! Kak! Sepertinya hanya dengan cara itu kita bisa menghancurkan Formasi sialan ini!"


Ucap Qin Arma sambil memegangi dadanya kesakitan.


Namun tiba - tiba suara halus yang tak asing bagi keduanya terdengar menggema.


"Tidak perlu! Hanya Formasi lemah belaka ingin memanggil Tuan! Biarkan aku yang menghancurkannya!"


Mereka pun sontak menoleh ke belakang.

__ADS_1


Dimana dua sosok wanita bercadar hijau dan hanya memperlihatkan matanya muncul.


"K-kalian?"


__ADS_2