Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 97


__ADS_3

***


Di tempat lain


 Di sebuah hutan bagian selatan yang jauh dari Kota Mutian. Tujuh lelaki beda usia sedang bertengger di dahan pohon besar sambil mengamati area depan dengan waspada.


 Di beberapa titik, Lima puluh orang menyebar mengelilingi area hutan yang cukup luas di depannya itu.


 Di depan, Ada sebuah gedung bertingkat tiga dengan gaya kuno nya. Dari aura nya saja, Semua bawahan Dirga tahu jika ada ratusan orang di dalam bangunan itu.


 "Seratus sepuluh Ranah Pemurnian Qi rendah - tinggi di lantai pertama. Serang mereka dengan tehnik menyelinap kalian!" Perintah Arya dengan batu komunikasi.


 Mendengar suara di telinga mereka. Lima puluh murid langsung berubah jadi bayangan dan memenggal beberapa kepala orang di lantai pertama.


 Selang beberapa menit, Kelima puluh bayangan itu kembali ke tempat semula sambil menstabilkan energinya.


 Karena Arya hanya membawa orang yang berada di Ranah Alam Bumi tingkat Satu sampai Lima. Jadi melawan pihak lain yang berjumlah sangat banyak tentu menghabiskan energi.


 Beruntung kelima puluh murid sangat baik dalam melakukan semua itu, Bahkan pihak lawan tidak ada yang menyadarinya jika bawahannya tewas.


 "Ayo kita ratakan bangunan ini dengan serangan gabungan kita!" Perintah Arya kepada Kai, Tei dan Zei.


 Sedangkan ketiga leluhur tadi berada di belakangnya hanya makan pisang tanpa memperdulikan keadaan.


 "Haik...! Anak muda! Biarkan kami bertiga yang meratakan bangunan kecil itu!" Sido Lawang berkata menghentikan Arya dan lainnya.


 Kai buru buru berkata. "Jangan leluhur! Jika kalian bertiga yang turun tangan, Aku khawatir semua murid yang terkena aura destruktif akan mengalami bahaya!"


 "Benar leluhur! Biar kami saja! Oke?!" Timpal Arya karena perkataan Kai juga ada benarnya juga.


 Ranah Alam Bumi dan Setengah Immortal perbedaan jaraknya sangat jauh. Jadi bisa saja murid murid Sekte ada yang terluka.


 Namun, Ketiga pria tua itu tetap kekeh. "Tenang saja! Kami bisa mengatur energi dengan benar! Bukankah tidak adil jika kami ikut tapi tidak melakukan apa apa?" Tanggap Suwi Lapo sambil berdiri di ikuti kedua temannya.

__ADS_1


 'Hah! Semoga saja tidak terjadi!' Batin mereka.


 Melihat kepergian ketiga leluhur itu. Arya, Kai dan dua nya langsung menjauhkan diri. Tak lupa Arya memberikan pesan kepada puluhan murid Sekte.


 Baru saja berjarak dua kilo meter dari tempat tadi. Tiba tiba....


"Booms!"


"Dhuarr!"


 Suara ledakan yang cukup besar menggelegar di tempat tadi. Burung burung malam seketika berlari menyelamatkan diri.


 Sedangkan Arya, Kai, Tei dan Zei yang memang jaraknya cukup dekat. Mereka terkena aura ledakan hingga menyebabkan tubuh keempatnya terbang kebelakang.


 "Bruaak!" 4×


"Ahk...! Hoekk..!""


 Keempatnya menabrak pohon besar sambil memuntahkan seteguk darahnya.


 Beruntung semua murid tidak ada yang terkena satupun. Jadi ketika melihat keadaan keempatnya, Mereka segera membopong tubuh keempatnya untuk pergi.


 Melihat kepergian itu, Sido Lawang bergumam lirih. "Saudara, Sepertinya serangan tadi sangat berlebihan!"


 "Kau yang menambah serangan berlebihan tadi bodoh!" Rutuk Siwa Kenta merasa bersalah dan melesat pergi diikuti keduanya.


***


 Di ruang kamar. Ketiga pemuda cabul itu segera menanggalkan semua pakaiannya dan ekspresinya berubah mesum tak tertahankan.


 "Hehe, Gadis cantik! Aku sudah tak tahan melihat tubuh indahmu itu!" Ucap Sabri Lapo mendekat dengan menjilat bibir bawahnya mesum.


 "Tunggu dulu! Apa kalian bertiga sering melakukan ini kepada orang lain?" Laniya menghentikannya terlebih dahulu untuk menginterogasi mereka.

__ADS_1


 "Tentu saja! Kami bertiga selalu menculik gadis gadis cantik di Kota ini dan mengeksekusi di beberapa tempat. Itu sangat menyenangkan!" Sabri Tenu menanggapinya secara tak sadar.


 Laniya yang mendengarnya tersenyum tipis.


 "Ayolah Nona cantik! Jangan bertele tele lagi! Aku sudah tidak tahan lagi!" Desak Bima Wadi tak sabar.


 Laniya yang melihat ekspresi ganas ketiga nya itu seketika bergidik ngeri. Sedetik kemudian muncul ribuan cahaya bintang dan menyelimuti ruangan tanpa sepengetahuan siapapun kecuali Laniya.


 Laniya yang melihat itu tersenyum tipis. Kedua tangannya di belakang mengeluarkan pisau tajamnya dan berkata menggoda. "Kemari lah! Aku ingin di puaskan sekarang!"


 "Dengan senang hati!" Jawab nya dan Sabri Tenu mendekat dengan liar diikuti kedua temannya.


 Laniya yang melihat jaraknya hanya sekitar lima puluh centian, Ia segera membuat gerakan tangan kedepan dengan kecepatan cepat.


"Splash!"


"Splash!"


"Splash!"


 Mereka bertiga tidak sadar jika lehernya mengeluarkan darah merahnya. Sedetik kemudian mereka bertiga berhenti ketika mengalami perih di leher dan secara reflek menggenggam lehernya masing masing.


 "Da-Darah? Apa yang terjadi? Bagaimana bisa?" Ucap Sabri Tenu dengan ketakutan ketika merasakan sakit yang luar biasa menyerang tenggorokannya. Begitu juga dengan kedua temannya.


 Ketika matanya melihat Laniya yang berdiri sambil menggenggam pisau berdarah yang entah datang dari mana membuat ketiganya tersentak dengan mata melotot ke arahnya.


 Sebelum berkata, Laniya menyela dengan seringai sambil mengeluarkan auranya. "Hentikan tatapan busukmu itu!...Bodoh! Makan tuh senjata makan tuan!....Neraka menunggumu wahai anak muda! Hehehe...!" Kekeh Laniya dengan seringai seramnya.


 Ketiganya tersentak ketakutan. Orang yang mereka pikir tidak berkultivasi ternyata keberadaan yang menakutkan yang tidak pernah ia bayangkan.


 Namun, Tidak ada kata menyesal. Laniya sudah mengeksekusinya sedemikian rupa dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan pakainnya yang bersimbah darah.


 Setelah selesai, Di masuk ke kamar Dirga dan Fanni tanpa ada yang mencurigai sama sekali.

__ADS_1


 Melihat kedua nya tidur dengan posisi Fanni memeluk Dirga, Laniya juga tak mau kalah. Berbaring di sebelah Dirga dan langsung memeluknya dengan erat membuat si empunya tersenyum tipis.


__ADS_2