
***
"Tuan muda, Terima kasih telah menyelamatkan istri saya!" Ucap Pria muda Arya dengan posisi berlutut bersama dengan istrinya Retania.
"Benar tuan muda, Terima kasih telah menyembuhkan penyakitku ini!" Imbuh Retania dengan tulus.
Dirga yang baru saja menidurkan Ania ke ranjang di sambut seperti ini. Tersenyum tipis lalu mengangkat tubuh Arya untuk berdiri. "Tidak masalah! Aku hanya ingin menyelamatkan nyawa saja dan jangan berlutut seperti ini lagi!" Tegas Dirga seraya melirik Retania yang masih berlutut.
Retania buru buru berdiri dan tertegun menatap Dirga yang sangat tampan. "Tuan muda! Keahlian tabib anda sangat hebat! Aku kagum dengan anda!" Ucap Arya seraya menatap Dirga dengan mata penuh kekaguman. "Apalagi dengan efek tadi, Sangat hebat!" Imbuh Arya dengan lirih ke telinga Dirga.
Dirga melambaikan tangannya santai, Lalu berkata. "Baiklah, Tidak usah di permasalahkan! Mari kita duduk dulu dan aku ingin bertanya kepada kalian!"
Mereka berdua mengangguk patuh dan siap untuk menjawab pertanyaan Dirga meskipun yang di bahas masalah pribadi. Bagaimanapun kesembuhan penyakit Retania sangat membahagiakan keduanya.
__ADS_1
Mereka duduk di aula santai. Sebelum Dirga berkata. Suara Laniya terdengar di pintu ruangan. "Siapa mereka Dirga?"
Dirga melirik Laniya yang sedang menuju kearahnya sambil menatap matanya dengan tatapan penasaran. Sedangkan Arya dan Retania tercengang untuk beberapa saat ketika mengetahui ada orang lain selain pemuda di depannya.
Setelah Laniya duduk di sampingnya, Dirga menjelaskan sedikit dengan membisikkan ke telinganya membuat wajah Laniya kembali memerah.
"Dasar Ca- Ughhmm" Ucapannya terhenti karena mulutnya di sumbat tangan besar Dirga. "Apa yang kamu katakan gadis bodoh!" Ucapnya kesal seraya melirik dua pasangan di depannya yang sedang mengernyit menatapnya.
Mereka berdua mengernyitkan dahinya dan saling berpandangan satu sama lain. "Tuan muda! Aku rasa anda tidak cocok jika dia teman anda" Ucap Retania sambil menatap Laniya dengan aneh.
"Maksudmu?" Jawab cepat Laniya dengan ketus seraya mendelik ke Retania. Retania segera berkata. "Jangan salah paham dulu nona! Anda lebih pantas menjadi istri tuan muda Dirga! Yang pria tampan dan yang perempuan sangat cantik!" Dan di pertegas oleh anggukan Arya seraya mengangkat jempolnya.
Wajah Laniya memerah seketika ketika mendengar pernyataan Retania. Sedangkan Dirga melirik Laniya dengan senyum main mainnya.
__ADS_1
Ketika ingin protes, Sebuah tangan halus tiba tiba melingkar di pinggangnya membuatnya tersadar jika mereka berdua adalah tamu. Tidak elok jika bertengkar dengan tamu, Apalagi baru bertemu.
'Sialan! Bisa bisanya dia mengambil kesempatan!' Rutuk Lania di dalam hatinya.
Melihat situasi yang cukup canggung. Arya berdehem pelan dan segera berkata. "Ehm, Tuan muda belum tahu nama kami. Perkenalkan aku Arya dan ini istriku bernama Retania!" Berhenti sejenak sambil melihat anggukan Dirga. Ia melanjutkan. "Kami berasal dari desa cukup jauh di Kota bagian selatan yaitu Kota Mutian! Kami berdua tidak tahu siapa orang tua kita. Sejak kecil kami berdua hidup bersama di desa. Kami berdua bisa begini karena bantuan kakek hebat yang melatih kami dengan ilmu kultivasi serta beladiri!"
"Tapi, Ketika saya umur lima belas tahun kakek hebat itu tiba tiba menghilang tanpa meninggalkan apapun untuk kami kecuali batu ini!" Imbuh Arya dengan mengeluarkan batu berwarna merah redup.
Dirga melirik batu itu dengan penasaran. Ia mendeteksi adanya energi samar yang terkandung di dalamnya.
Bukan seperti Batu Nompok Jiwa maupun kristal yang pernah ia temuinya. Ketika bertanya dengan system, Tidak ada jawaban apapun dari system membuatnya semakin bingung.
Dirga bertanya. "Batu apa ini?"
__ADS_1