
"Wuahh~ Kak! Lihatlah itu! Langitnya benar benar indah saat sore begini..."
"Hehe, Kalau begini kakak harus membawa kita berdua terbang untuk melihat keindahan langit pada waktu sore..."
Kedua gadis kecilnya itu tentu merasakan kebahagian tak terlukiskan ketika di ajak terbang tinggi oleh kakak tersayang nya ini.
"Kalian berdua memiliki sayap angin. Tinggal terbang tinggi mengapa harus merepotkan kakak!" Dirga berkata pura pura mengeluh.
"Hehehe." Dua gadis kecil itu cekikikan dan mereka terbang di dekapan Dirga sambil bercanda.
•
Dirga dan dua gadis ciliknya membuang waktu mereka hingga malam hari.
Meskipun sudah malam, Tetap tidak membuat kota menjadi sepi. Terlihat banyak pejalan kaki yang berseliweran tak tahu kemana.
"Ahh! Permen kapas ini sangat manis! Kak! Terima kasih~ "
Saat ini, Dirga sedang duduk di taman bersama dua gadis lolinya yang berada di pangkuannya.
Padahal masih ada tempat duduk di sampingnya yang kosong tapi keduanya ingin di pangku oleh Dirga.
Meskipun begitu, Dirga merasa senang di hatinya melihat kelucuan dan akan sikap kedua gadis kecilnya ini yang menurutnya konyol.
Entah sudah berapa banyak dua gadis kecilnya ini memborong banyak belanjaan. Mulai dari pakaian serta makanan - makanan ringan maupun berat lainnya.
"Makan yang pelan saja...Lihatlah mulut kalian berdua yang belepotan ini." Dirga berkata dan mengusap dua mulut mungil yang belepotan itu dengan lembut.
"Emhh~ " Dua gadis kecilnya mengangguk dan menyenderkan kepala kecilnya ke dada Dirga.
Dirga memejamkan matanya menikmati dan berkata lirih tanpa menoleh.
"Kamu sudah mengikuti ku sejak tadi! Keluarlah..!"
Ania dan Tia yang melihat Dirga terkesan berbicara sendiri hanya diam. Meskipun tahu pun mereka tetap mengacuhkannya.
Segera di belakangnya, Di balik kehampaan muncul sosok gadis cantik dengan pakaian khas orang kaya.
Dia berjalan menghampiri Dirga yang masih tetap tenang menyenderkan tubuhnya di kursi taman.
Ketika berada di samping kursi Dirga, Ia berkata canggung. "Anu...Bolehkah saya duduk di sini?"
Ia malu karena ini pertama kalinya dirinya berinisiatif duduk dengan seorang pria.
Tanpa menoleh pun, Dirga mengetahui jika sosok gadis itu adalah Indira yang ia selamatkan tadi.
__ADS_1
Ia mengangguk acuh dan tetap memejamkan matanya tak peduli dengan apa yang di lakukan Indira.
Merasa di abaikan, Indira merasa malu tapi sekaligus senang melihat pemuda berambut perak itu menganggukkan kepala.
Ia duduk menjaga jarak dengan Dirga. Dengan ini, Ia bisa melihat jika dua gadis cilik itu sangat lucu dan imut ketika menggigit permen kapas itu membuatnya tertegun.
"Lucu sekali" Mulutnya tanpa sadar berkata pelan.
Namun, Dirga dan dua gadis kembar itu bisa mendengarnya.
Dirga tetap acuh memejamkan matanya. Tapi dua gadis kecil itu mengalihkan pandangannya ke sosok gadis cantik ini.
"Kakak cantik! Apa kakak mau??" Ania berkata seraya menyodorkan permen kapasnya dengan mata besarnya berkedip.
"Eh-...Tidak..tidak! Adik cantik saja yang menghabiskannya!" Indira buru buru berkata menggelengkan kepalanya.
Ia malu di tawari permen kapas oleh seorang gadis kecil.
"Yasudah~ " Ania berkata dan kembali menyenderkan kepalanya ke dada Dirga sambil menikmati permen kapasnya.
Indira menatap wajah Dirga dari samping dengan seksama. Meskipun dari samping, Itu tetap saja tidak mengurangi ketampanannya.
Lama ia menatap wajah Dirga dan tersadar ketika Dirga berkata. "Apa sudah puas menatapku, Nona??"
Indira buru buru mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan wajah bersemu merah.
Lama mereka saling diam. Indira malu untuk mengatakannya, Sedangkan Dirga ia tak bermaksud membuka obrolan.
Ia tahu jika Indira punya maksud tertentu dan ingin mengatakannya kepadanya.
Ia diam dan membiarkan pihak lain membuka percakapan terlebih dahulu.
Setelah saling diam mendiamkan. Indira berkata canggung. "I-itu...Bisakah saya bicara dengan anda??"
"Bicaralah!" Dirga berkata singkat.
Menghirup napas dalam, Indira memulai pembicaraannya. "Sebelum itu, Sekali lagi saya berterima kasih kepada anda karena sudah menolong saya tadi!"
"Bagaimana kamu tahu jika itu adalah diriku?" Dirga memotongnya sebelum Indira melanjutkan perkataannya.
"Saya memiliki indra penciuman yang tajam. Oleh sebab itu, saya bisa mengetahui jika tuan adalah orang tadi karena aroma tubuh anda sama dengannya!" Ucap Indira.
"Oh, Begitu ya...Lalu kenapa kamu kemari?" Dirga berkata tak ingin bertele - tele.
Indira yang melihat inipun segera memberitahunya. "Tuan, Meskipun anda sudah menolongku tadi, Tapi Wira brengsek itu pasti tidak akan melepaskan-ku dan tuan! Saya tahu Keluarga Marde sangat sombong dan tidak akan melepaskan seseorang begitu saja setelah menyakiti orang - orangnya. Maka dari itu, Saya minta maaf karena keberadaan ku ini membuat masalah kepada anda."
__ADS_1
"Aku bisa mengatasinya sendiri! Tanpa kamu beri tahu pun aku sudah mengetahuinya dengan jelas!" Dirga berkata datar dan membuka matanya.
"Ta-tapi??" Indira berusaha memperingati Dirga agar tidak bertindak ceroboh.
Tapi Dirga tak peduli dan acuh. Ia menyela dingin sambil mengisyaratkan kepalanya ke depan. "Sudah terlambat! Lihat itu!"
Indira yang melihat isyarat kepala Dirga segera mengikuti arahnya. Wajahnya mendadak muram dan pucat ketika melihat itu.
Seorang pemuda tanpa dua tangan di balut kain dan di sisinya ada lelaki dewasa serta sepuluh pengawal berjalan ke arahnya dengan wajah gelap.
"Sialan! Ayah! Dia yang membuat tanganku seperti ini! Balas dendamku ayah!" Wira. Ya! Wira adalah orang yang bersama sekolompok manusia itu.
Wajah Indira berubah muram melihat kedatangan sekolompok orang yang di bencinya ini.
"Wira! Kau yang memulainya lebih dulu! Jangan bertindak gegabah di sini...Paman Patriak! Putramu yang mencoba melecehkan ku terlebih dahulu, Dan yang membuat dua tangannya buntung karena ulahnya sendiri!" Indira bangkit dari duduknya dan berkata mencoba negosiasi dengan orang orang ini.
"Aku tak peduli! Kamu hanyalah Keluarga rendahan yang berani - beraninya membuat masalah denganku! Pengawal! Bawa gadis itu dan pemuda serta dua bocah itu!" Patriak Marde tak peduli akan negosiasi Indira itu.
Yang terpenting ia bisa meredamkan emosinya ketika melihat putranya cacat buntung hanya karena seorang gadis.
Para pejalan kaki yang kebetulan melihat keributan ini pun segera menjauh. Karena mereka tahu jika sekelompok manusia ini berasal dari Keluarga kelas atas.
"Aku tidak membuat masalah denganmu pak tua! Tapi, Karena kamu ingin membuat masalah denganku, aku tak segan - segan lagi denganmu!" Dirga yang tiba tiba dirinya di targetkan menjadi marah.
Padahal ia hanya duduk menikmati dua gadis kecilnya yang sedang asik makan permen.
Bisa bisanya ia terseret dalam masalah ini. Meskipun sebenarnya ia yang membuat semua ini.
"Kak~ Biarkan Tia saja yang melakukannya! Kakak sebaiknya tonton saja permainanku!" Tia tiba - tiba melompat dari pangkuan Dirga di susul Ania.
"Iya kak! Huh, Kalian sih yang membuat kakakku marah! Rasakan perbuatan kalian!" Ania berseru sambil merentangkan kedua tangannya ke depan.
Kemarahan Api Phoenix!
Kemarahan Angin Abadi!
Gelombang angin yang deras membuat tubuh kesepuluh pengawal itu berhenti seketika karena merasa pemandangannya terganggu.
Sebelum mereka berteriak ngeri, Sebuah api merah menyala berbentuk burung phoenix besar menuju ke arah badai angin itu.
Sebuah tornado api membungkus tubuh kesepuluh pengawal itu dengan tebal.
"Argh! Pa-panas! Tolong aku!"
"Panas! Cepat tolong aku!"
__ADS_1
"Argh..!"
"..."