Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 158


__ADS_3

 Dirga membuka matanya dan sebuah petir hitam melesat keluar dari dalam tubuhnya dan menyambar beberapa pohon di sekitarnya hingga hangus menjadi abu.


 Beruntung di tempat ini tidak ada manusia yang melihat terobosan yang mengundang kesengsaraan surgawi.


 Jika pun ada, Tidak menutup kemungkinan Dirga akan di buru oleh pihak tertentu karena orang yang bisa mengundang dan menangkal kesengsaraan surgawi sangatlah langka dan jenius yang akan menggemparkan dunia.


 Dirga mengeluarkan Pagoda Langit dan memiliki sembilan lantai berukuran segenggam tangan.


Dia tak perlu khawatir karena ia bisa mengatur ukuran Pagoda Langit sesuai dengan keinginannya.


Tiba - tiba di depannya muncul cahaya hijau dan segera sesosok wanita cantik muncul dari balik cahaya menuju arahnya.


 "Bai Lubai, Kenapa kamu kemari?" Dirga bertanya ketika melihat sosok itu.


Sosok yang di panggil Bai Lubai tersenyum menawan dan berjalan menghampiri Dirga.


 Namun ada yang aneh dengan jalannya karena langkahnya lambat dan dua kakinya sedikit gemetar.


 "Gara gara kamu, Aku jadi seperti ini dan ini cukup menyulitkan ku!" Bai Lubai berkata mengeluh dan duduk di sebelah Dirga.


Dirga tersenyum masam karena ia tahu sebenarnya mengapa Bai Lubai berjalan agak gemetar ini.


"Bagaimana? Apa ada terjadi sesuatu di Asosiasi Pedang Abadi?" Tanya Dirga yang tak membalas keluhan Bai Lubai.


 Bai Lubai tersenyum tipis dan segera menjawab sambil melingkarkan tangannya di lengan Dirga.


"Hmm, Tidak ada sih...Cuma masalah sepele biasa karena adanya pihak impulsif yang tak menginginkan Asosiasi Pedang Abadi berkembang lebih jauh."


Dirga yang mendengarnya tidak terlalu terkejut dan tersenyum. "Baguslah" Katanya singkat dan keduanya diam tak berkata membuat situasi menjadi canggung.


Bai Lubai yang menyadari situasi ini pun segera berkata malu malu. "Itu, Itu terima kasih."


 "Terimakasih? Untuk apa?" Dirga menjawab mengernyit menatap wajah cantik Bai Lubai dari samping.


 Menundukkan wajahnya hang memerah dan berkata terbata. "T-Terima kasih membuatku menerobos ranah, Meskipun terobosannya sangat memalukan!"


 Dirga tersenyum tipis menanggapi perkataan Bai Lubai. Ia tahu penerobosan Bai Lubai di karenakan kultivasi ganda dengannya dan itu membuat Bai Lubai menerobos tiga tingkat berturut - turut.


 Saat ini kultivasi Bai Lubai berada di ranah Pertapa bintang 1


Wushh! 3


Tiga sosok wanita cantik tiba - tiba muncul tak jauh dari keduanya.


 Bai Lubai yang melihat tiga wanita ini pun buru - buru melepaskan tangannya dengan enggan.

__ADS_1


 Laniya, Fanni dan Xenia yang melihat ekspresi enggan Bai Lubai mengerutkan kening.


 "Kemarilah, Kenapa kalian bertiga kesini?" Ucap Dirga melihat kedatangan tiga wanitanya.


 "Oh, Apakah kita tidak boleh menemuimu karena ada wanita lain yang lebih cantik dari kita bertiga?" Laniya menanggapi mendengus sambil melirik Bai Lubai yang juga sedang meliriknya.


 "Tentu saja boleh! Katakan jika ada masalah di antara kalian!" Kata Dirga mempersilahkan duduk untuk ketiga wanitanya.


 "Hmm, Tadi ada dua orang aneh yang sedang berdiri diam di depan gerbang Sekte!" Ucap Fanni memulai pembicaraan.


 "Iya, Katanya keduanya ingin menemui kamu! Karena kamu tidak ada di Sekte, Penjaga gerbang berniat mengusirnya tapi keduanya memiliki kultivasi tinggi." Tambah Xenia membuat Dirga mengernyitkan dahi.


"Orang aneh? Coba kalian sebutkan ciri - ciri mereka berdua!" Pinta Dirga membuat ketiga wanitanya saling melirik satu sama lain.


Laniya berkata. "Tidak sempat kami melihatnya dengan jelas! Tapi yang aku rasakan, Aura keduanya sangat aneh dan berbeda dari kita. Kami tidak ingin bertindak gegabah, Jadi aku ingin menemui mu!"


 Mendengar penjelasan singkat Laniya membuatnya memicingkan matanya dan berpikir sejenak.


 "Kita pergi dari sini!" Ucap Dirga serius dan melesat meninggalkan keempat wanitanya yang bengong.


"Ish! Suka sekali dia main pergi seenaknya!" Gerutu Fanni kesal melihat kepergian Dirga.


 Sejenak, Keempat wanita itu diam membuat sosok Bai Lubai menelan ludah canggung.


 "Ada hubungan apa kamu dengan Master?" Xenia dengan percaya diri bertanya kepada Bai Lubai.


 "I-itu...itu-" Bai Lubai seakan tercekat dengan nafasnya sendiri ketika ingin mengakui jika dirinya adalah wanita Dirga.


 Laniya yang melihat ekspresi Bai Lubai mengernyit dan mengamatinya dari bawah hingga atas. Semakin mengernyit dan berkata.


"Eh- Tunggu! Kenapa aku tidak asing dengan wajahmu?" Ucapnya menatap wajah Bai Lubai serius seolah sedang berpikir.


 "Kak Laniya! Apa kakak mengenalinya?" Tanya Fanni penasaran melihat ekspresi Laniya. Begitu pun juga dengan Xenia.


 "Tidak juga!" Jawab singkat Laniya dan berpikir sejenak mengamati wajah Bai Lubai semakin serius membuat si empu berkeringat dingin. "Ah- Aku baru ingat! Bukankah kamu dulu Ketua Sekte Qianyang? Dan sekarang di jadikan Ketua Asosiasi Pedang Abadi oleh Dirga?" Laniya tiba - tiba ingat dan berkata terkejut.


 "Eh-? No-nona mengenalku?" Ucap kaget Bai Lubai karena ia tidak merasa bertemu dengan sosok Laniya.


 Laniya mengangguk dan berkata. "Tentu saja! Apa kamu tidak ingat waktu menyerang Sekte namun di cegat oleh seseorang?"


 Bai Lubai terkejut ketika mendengar ini dan ingatannya kembali berputar di waktu lalu.


 "Ah-? Jangan jangan?? Anda adalah orang itu?" Bai Lubai kaget dan berseru sedikit memekik.


 "Kak! Apa yang kakak bicarakan? Aku tidak paham dengan ucapan kakak barusan?!" Tanya Xenia bingung dan di angguki Fanni. "Iya!" Timpalnya.

__ADS_1


 "Jadi gini! Wanita ini dulu pernah aku intai karena gerak - geriknya sangat aneh beserta pasukannya! Jadi aku menyamar sebagai orang berjubah hitam."


 Berhenti sejenak dan menambahkan.


" Ketika aku tahu maksud mereka...Aku bertarung dengannya, namun aku tidak sempat membunuhnya karena Dirga sudah lebih datang melerai! Malah dia menjadikannya sebagai Ketua Asosiasi!" Jelas Laniya yang mengejutkan kedua wanita itu.


 Sedangkan Bai Lubai menjadi lebih malu dan canggung dengan situasi saat ini. Apalagi ia sebagai pemerannya yang tahu sebenarnya.


 "Aku tahu kamu menyukai pria kami! Tapi baguslah, Setidaknya seleranya tidak di bawah standard!" Ucap Laniya mengacungkan jempolnya.


 "Eh-...Terima kasih sudah menerimaku!" Ucap Bai Lubai setelah terkejut, Lalu wajahnya berbinar ketika mendengar perkataan Laniya barusan.


 "Emm, Kita pergi dari tempat ini!" Ucap Fanni sedikit melirik ke Bai Lubai dan pergi melesat diikuti yang lainnya.


••


Gerbang Sekte Pedang Langit Abadi


Dua sosok berjubah hitam nampak berdiri kokoh layaknya gunung.


"Aku tidak mau mengotori tanganku! Jadi, Pergi dan suruh Ketua Sekte kalian menemui ku!" Ucap salah sosok berjubah dengan acuh.


 Lima penjaga gerbang dengan aura Alam Langit tingkat menengah-tinggi muram mendengar perkataan itu.


"Brengsek! Siapa kamu yang ingin membuat Master menemuimu?" Kata salah satu penjaga sambil menghunuskan pedang ke arah sosok itu.


Bang!


Tanpa banyak bicara, Penjaga yang menghunuskan pedang tadi terlempar menabrak gerbang Sekte hingga menyemburkan darah.


Empat sisa penjaga gerbang yang melihat temannya terlempar menjadi waspada dengan dua sosok misterius ini.


 "Sudah kukatakan bukan?, Untung saja aku tidak membuat kekacauan di Sekte ini! Jika itu terjadi, Aku takut tidak ada yang bisa menghentikanku!" Ucap sosok misterius itu dengan dingin.


 "Oh, Begitukah?"


 Sebuah suara dingin tiba - tiba menanggapi perkataan sosok misterius itu.


Keduanya mendongak ke asal suara itu dan melihat sosok pemuda tampan berambut perak sedang melayang tenang di atasnya.


"Ding! Terdeteksi adanya aura ras kuno di sekitar tuan rumah!"


"Ding! Misi sistem di picu!"


"Misi: Taklukkan keduanya dan jadikan bawahan tuan rumah!"

__ADS_1


"Hadiah: Esensi darah ras Harimau Putih"


__ADS_2