Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 53


__ADS_3

Di tempat yang tidak di ketahui, Seorang lelaki tua dengan tubuh yang di selimuti energi hitam keabuan sedang duduk bersila dengan mata terpejam.


Lelaki tua itu berwarna Thu Wek, Saudara dari Agasta. Saat ini, Pintu ruangan sedang di buka oleh muridnya, Lalu dengan takut takut maju sambil menghela napas pasrah.


"Hormat tetua Thu Wek!" Ucapnya sambil bertekuk lutut di hadapannya.


Lelaki tua Thu Wek membuka matanya dan berkata dengan nada geram. "Ada apa kemari? Bukankah aku bilang jangan kesini selain aku yang memerintahmu?"


Si murid itu tubuhnya bergetar ketakutan. Tapi dengan cepat mengatakan. "Sa-saya kesini karena ada masalah serius tentang adik anda!"


Thu Wek memicingkan matanya dan berkata dengan alis mengkerut. "Ada apa dengannya? Apa dia sudah menerima banyak target dari si Denka tua itu?"


Si murid yang di tanyai itu tidak tau harus menjawab apa. Mau tidak mau ia mengeluarkan batu hitam yang retak dan menjulurkan ke depam Thu Wek. "Maafkan kami tetua! Tadi kami melihat batu giok kehidupan tuan Agasta sudah retak, Saya ta-"


"Apa katamu? Apa maksudmu dia sudah mati? Tidak mungkin!...Dia sudah berada di Ranah Immortal tahap awal! Siapa yang bisa membunuh dia?" Sela Thu Wek dengan marah sambil meledakkan aura Ranah Immortal tahap menengah.


"Ugh..!" Si murid tambah berlutut sambil memuntahkan seteguk darahnya berulang kali karena tak sanggup menahan pancaran aura Thu Wek.


Thu Wek menarik napas dalam dalam dan menggertakkan giginya. "Katakan! Siapa yang membunuh adikku?" Ujarnya seraya melirik muridnya yang sudah jatuh tersungkur.


Si murid menjawab terbata bata. "Sa-saya ti-tidak tahu tetua! Tapi kami menemukan titik lokasi terakhir tuan Agasta yang tidak jauh dari Kota Luyung, Tapi kami tidak menemukan mayatnya sama sekali, Bahkan jejak auranya pun tidak terdetrksi!!"


Thu Wek mengerutkan keningnya aneh. Karena tubuh seorang Ranah Immortal sulit untuk dimusnahkan. Jika menggunakan senjata, Sulit untuk memotong tubuhnya maupun memudnahkannya, Kecuali...


'Senjata tingkat Dewa! Ya! Hanya senjata Dewa yang bisa memotong tubuh seorang Immortal!'Serunya di dalam hati. 'Meskipun senjata Dewa sangat hebat, Butuh waktu yang tidak lama untuk memusnahkannya...Sial! Darimana orang itu bisa mendapat senjata macam ini!' Imbuhnya dengan geram.


Thu Wek melambaikan tangan ringan dan berkata dengan suram. "Hubungi si Denka bedebah itu! Dan luncurkan tiga gelombang serangan monster level Alam Langit menengah sampai Raja Langit ke atas ke kota sialan itu!"


Si murid buru buru berkata dengan hormat. "Baik tetua!"


Melihat muridnya yang sudah keluar ruangan. Raut wajah Thu Wek berubah bengis. "Huh! Aku tidak tahu siapa kamu! Karena kamu sudah menewaskan adikku, Aku tidak akan menyerah untuk mencarimu!" Ujarnya dengan nada penuh permusuhan.


***

__ADS_1


Ruang Cermin Kulltivasi


Saat ini, Dirga duduk santai di atap gedung yang tinggi sambil menatap kegelapan langit yang masih menunjukkan keindahannya.


Di pangkuannya, Ania sedang tertidur pulas setelah lama mengoceh dengannya tadi. Dengan jempolnya yang masih di hisap. Dirga tersenyum samar dan mengecup kening gadis kecilnya dengan penuh kasih sayang.


"Malang sekali nasibmu, Gadis kecil!" Gumamnya sambil menatap wajah imut Ania yang sedang tertidur dengan senyum samarnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" Sebuah suara lembut terdengar di belakangnya.


Dirga tanpa menoleh tahu siapa pemilik suara itu. "Tidak ada! Aku hanya ingin menikmati malam disini!" Ujarnya dan melanjutkan. "Apa Tia sudah tidur?"


Laniya tersenyum tipis dan duduk di sebelah Dirga dengan posisi kedua lututnya di tekuk. "Hm! Dia sudah tertidur dari tadi." Jawabnya sambil melirik Ania yang tertidur di pangkuan Dirga. "Ehem...! Omong omong, Tadi aku mendengar suara aneh di ruangan sana, Apa kamu membawa seseorang?" Imbuhnya dengan tanyanya.


Dirga tertegun dan tidak tau harus menjawab apa. Berdehem pelan dan menjawab jujur. "Hm, Tadi aku menolong seorang suami istri dari kejaran kultivator tingkat tinggi, Karena tubuh keduanya yang masih lemah jadi aku membawanya kemari."


Laniya mengangguk polos, Tapi ia masih penasaran dengan suara aneh menurutnya. "Tapi aku masih penasaran dengan suara itu, Apa sebenarnya yang terjadi?" Tanyanya dengan menatap Dirga.


Dirga seketika mengeluh di dalam hati. 'Sial! Aku lupa membuat formasi kedap suara!'. Agar tidak bicara ngelantur, Dirga mengalihkan pembicaraannya. "Gadis! Tidak usah di permasalahkan! Bagaimana kalau aku membuatkanmu makanan malam ini?" Ucapnya sembari merangkul pundak Laniya agar semakin mendekat.


Dirga masih menolak untuk memberitahunya. "Kenapa kamu penasaran seperti ini? Apa kamu tidak mau makan masakanku? Aku sudah lapar!" Ucapnya bersiap berdiri.


Tapi Laniya segera menghentikannya dengan cemberut. "Aku mau makan tapi kamu harus memberitahu apa suara itu!" Ujarnya dengan cemberut kesal.


'Sialan! Apa perempuan memang sepenasaran ini?' Batinnya mengutuk kesal. Menarik napas dalam dalam dan berkata. "Apa kamu yakin ingin tahu suara itu?" Melihat Laniya menganggukkan kepalanya.


Dirga mendekatkan mulutnya ke telinga Laniya sambil membisikkan sesuatu.


Seketika, Wajah Laniya sontak berubah merah hingga ke telinga. "Bajingan! Kamu mesum! Ap-


Suara pekikan panjang Laniya berhenti karena di bekap Dirga dengan kuat. "Pelankan suaramu! Apa kamu ingin membangunkan Ania?" Ucapnya dengan pelan sambil melirik Ania yang menggeliat.


Tubuh kecil Ania bergerak gerak dan berkata dengan mata masih terpejam, Entah sedang mengigau apa tidak. "Kakak~ Apa kakak sedang membuatkan Ania adik kecil baru?"

__ADS_1


Dirga tersentak kaget ketika mendengar perkataan aneh Ania dan tanpa sadar matanya melirik Laniya yang wajahnya semakin memerah.


"Dasar bajingan tengik! Cabul! Mesum! Bodoh! Apa yang kamu ajarkan kepadanya hah?" Teriak Laniya sambil mencubit pinggang Dirga dengan kuat yang membuatnya merintih kesakitan.


"Aduh..! Aduh..! Aduh..! Lepaskan!...Cepat lepaskan! Kenapa kamu suka mencubit pinggangku?" Rintihnya dengan raut muka meringis.


"Huh! Salahmu sendiri mengajarkan hal yang aneh aneh ke Ania!" Ucap Laniya enteng dengan dengusannya, Tapi tidak menghilangkan wajah merahnya.


Dirga mendelik kecut. "Huh! Baiklah, Aku akan kebawah dulu!" Ucapnya tidak mau berlama lama lagi dengan Laniya, Takut di cubit dengan cubitan mautnya.


"Mau kemana kamu hah?" Tanya Laniya yang masih sebal dengan Dirga.


Dirga menghentikan jalannya. Tanpa menoleh kebelakang, Ia berkata santai. "Tentu saja membuatkan adik baru untuk Ania dan Cintia!"


Melihat tubuh Dirga yang sudah menghilang, Laniya mengutuk dengan keras. "Bajingan..! Dasar cabul! Kamu mesum! Bodoh! Kamu gila! Akh..!"


***


Kota Luyung


Saat ini, Suasana kota terasa berbeda. Tubuh tubuh warga yang berada di luar rumah merasa bergetar menggigil kedinginan seolah olah sedang berada di gurun salju yang dingin.


"Ap-apa yang terjadi? Kenapa tubuhku merasakan dingin seperti ini...?"


"Ap-apa ada serangan iblis atau monster...?"


"I-ini? Sepertinya ada aura kuat yang mendekat kemari...!"


Beberapa orang kebingungan dengan hawa dingin yang tiba tiba menyerang tubuh. Ada yang berspekulasi ada iblis dan ada yang berspekulasi adanya serangan dari monster.


"I-ini? Se-sepertinya ada serangan kuat menuju kesini...!


"Ada serangan..! Cepat menghindar..!!" Pekik seseorang sambil menunjuk ke atas, Dimana ada puluhan gumpalan serangan energi yang kuat menuju ke arah kerumunan manusia.

__ADS_1


"Boom..! Boom..! Boom..! Boom..! Boom..! Boom..!"


__ADS_2