Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 78


__ADS_3

Master Giman dengan kuat meremas tangannya sendiri dan membuat Tetua Roto berteriak memegangi dadanya yang ekspresinya nampak kesakitan.


"Arghh..! Bedebah! Kamu gila! Kamu benar benar gila..! Bunuh saja aku! Aku tak peduli dengan rencana busukmu itu! Arhgg..!" Seru Tetua Roto di sela teriakan sakitnya.


Master Giman terkekeh. "Hehe! Kau tak bisa kabur dari genggamanku tua bangka! Aku tak akan membiarkan itu terjadi..!"


Tetua Roto menatap Master Giman dengan sorot mata penuh niat membunuh. Ia menggertakkan giginya dan mengalihkan pandangannya ke arah pemuda berambut perak dengan tatapan rumit.


Dirga menyipitkan matanya menatap Master Giman yang terus meremas tangannya sambil mulutnya komat kamit entah apa yang di bacanya.


Mengalihkn pandangannya ke Tetua Roto dengan tatapan aneh. Ia merasakan ada yang tidak beres dengan pria tua ini.


'Apa yang terjadi?' Batinnya kebingungan.


Memusatkan pikirannya, Pupil matanya memancarkan cahaya biru samar dan menatap tubuh Tetua Roto dengan cermat.


Tidak ada yang bermasalah dengan tubuhnya selain sedikit racun racun yang masih hinggap di bagian tubuhnya.


Segera, Matanya menangkap ada suatu yang aneh ketika Tetua Roto membalikkan badannya. Dirga melihat punggung Tetua Roto ada sebuah simbol kecil yang nampak rumit.


Ia membatin terkejut. 'Segel Jiwa? Pria tua ini ternyata terkena Segel Jiwa?'


Tetua Roto yang menangkap perubahan ekspresi pemuda itu menduga jika Dirga mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan tubuhnya. Ia sedikit takut jika dugaannya salah.


'Kuharap itu terjadi!' Batinnya Setelah itu, Ia teriak dengan mata sedikit takut takut. "Anak muda! Awas di belakangmu..!"


Dirga yang menyadari jika Master Giman menyerangnya dari belakangpun segera beraksi.


Tanpa membalikkan tubuhnya, Ia mengerahkan pedangnya yang di aliri energi ke belakang tubuhnya.


"Dentang!"


Wushh! Wushh!


Keduanya sama sama mundur akibat bentrokan. Master Giman menyeringai. "Hebat! Aku tak menyangka jika ada pemuda yang jenius bisa mengimbangi diriku!..Hahaha..! Anak muda! Apakah kamu bersedia menjadi murid pribadiku? Tenang saja! Aku akan menyediakan sumber daya yang melimpah untukmu!" Ujarnya menunggu respon pemuda yang sangat menarik ini.


Dirga menatap Master Giman dengan tatapan menghina. Ia berpikir. 'Apa dia bodoh? Bukankah aku yang membunuh seluruh murid sektenya? Bagaimana bisa orang yang membunuh murid sektenya sendiri malah di jadikannya murid pribadi? Bukankah itu sangat sangat aneh?'

__ADS_1


Dirga menatap Master Giman yang tampak bodoh itu dan berkata ringan. "Tidak sudi! Kau telah berbuat dosa besar! Selamat datang di neraka!"


Setelah berkata. Dirga meraung di hatinya.


Niat Pedang — Naga Penghancur Kekosongan!


"Roaarrr...!"


Suara raungan Naga yang memekikkan telinga dan muncul Naga besar berwarna biru langit dari ujung pedangnya.


Pupil Master Giman menyusut melihat Naga yang mengerikan itu.


"Bocah! Aku tak membiarkan tubuhku mati hanya karena seorang bocah belaka!" Raungnya dengan wajah merah padam.


Dirga tak peduli. Ia berkata acuh ke Naga itu dengan ringan. "Hancurkan dia!"


Roarr!


Seperti memiliki pikiran. Naga biru itu menukik tajam ke arah Master Giman dengan mulutnya yang terbuka lebar.


"Arggh..!! Bajingan! Aku tak mau mati! Kau benar benar terkutuk..! Kau benar ben- Arghhh...!" Teriak kesakitan Master Giman menggema di area itu.


Booms..!


"Dhuar! Dhuar! Dhuar!"


Naga biru itu meledak ketika jaraknya sudah dekat dengan tubuh Master giman dan menimbulkan suara ledakan yang berturut turut.


Wushh!


Dirga jatuh dari ketinggian udara dengan muka pucat. Secara kebetulan, Dia melihat Tetua Roto teriak memegangi dadanya yang berjarak sepuluh meter darinya.


Karena merasa orang ini bukan ancaman baginya, Ia mendekat dengan tertaih tatih. Tetua Roto yang melihat pemuda itu mendekat kearahnya sangat ketakutan setengah mati.


Melihat penampakan Master Giman yang sedang kejang kejang dan kedua tangan serta kakinya yang menghilang entah kemana membuatnya takut.


Ia berkata terbata bata. "Ja-Jang-Ngan M-Mendekat! A-Aku bukan B-Bawahan si bajingan itu! Bi-Biarkan aku mati bersamanya! A-Aku tidak kuat! Arghh..!"

__ADS_1


Dirga tak memperdulikan omongan lemah pria tua itu. Ia mengetahui jika yang menanamkan Segel Jiwa itu adalah Master Giman.


Jika Master Giman mati, Otomatis Tetua Roto juga akan kehilangan nyawanya. Karena pengguna segel jiwanya sudah tiada.


Dirinya langsung menggambar pola pola rumit di kehampaan dan menghentakkan kedepan.


Wush!


Punggung Tetua Roto merasakan panas dingin. Ia terkejut begitu merasakannya. Ketika ingin bertanya apa yang terjadi. Dirga sudah menyelanya dengan suara lemah. "A-Aku sudah menghilangkan segel terkutuk itu!"


Tetua Roto yang mendengar perkataan Dirga terkejut bukan main. Ia tahu jika segel jiwa yang di tanamkan ditubuhnya sangat sulit di hilangkan.


Bagaimana bisa dia mempercayai omongan pemuda ini. Tapi, Ia merasa ada yang tidak beres ketika melihat Master Giman.


Tubuhnya diam dan juga, Ia tidak merasakan adanya tanda tanda aura kehidupan. Sudah jelas jika Master Giman sudah tewas!


Dirga tak peduli dengan pikiran si pria tua itu. Ia menegakkan tubuhnya dan kepalanya menatap kesatu arah. Banyak sekali orang orang yang menatapnya dengan aneh.


Dirga juga melihat Arya, Retania, Tetua Shane, Fanni, Kai, Zei, Tei, Dan kedua gadis kecil beserta murid murid sektenya yang tampaknya sudah melihat dari awal pertarungannya dengan Master Giman.


Ia berteriak dengan menyalurkan sisa energinya agar kesemuanya dapat mendengarkan suaranya.


"Kalian semua! Segera bersihkan kekacauan ini..! A-Aku akan- " Belum sempat menyelesaikan kata - katanya, Matanya nampak remang remang.


Tubuhnya seketika ambruk di sebuah tangan tua yang melingkar di tubuhnya. Sebelum kesadarannya menghilang. Ia berkata lemah. "T-Terima kasih!"


Si empu yang menangkap tubuh Dirga menanggapi dengan bibir tersenyum dan mengangguk penuh terima kasih tak terhingga.


Arya, Retania, Tetua Shane dan kesemuanya yang mendengar suara Dirga yang menggema tersadar dari keterkejutannya dari tadi pun segera melesat ke arah Dirga sambil berteriak cemas.


"Kakak...!" 2×


"Master muda...!"


"Tuan muda...!"


"Master...!"

__ADS_1


__ADS_2