
"Argh....!!" Tuan Jing menjerit keras.
Tubuhnya terpental jauh menabrak formasi ribuan bunga warna - warni. Pakaiannya sobek di mana mana. Terlihat dada dan sekitarnya terkena luka bakar.
"Bagaimana bisa?! Siapa yang menyerang ku??" Tuan Jing berteriak marah ketika berhasil menstabilkan tubuhnya.
Meskipun begitu, Tidak ada luka serius yang di alami Tuan Jing. Hanya luka bakar yang bisa di sembuhkan beberapa waktu saja.
Matanya menatap ke depan atas. Dia melihat seorang wanita cantik berhanfu putih. Aura pertapa bintang 9 meledak dari tubuhnya.
"Pertapa tingkat tinggi? Bagaimana bisa? Usia tulangnya?..." Tuan Jing tak bisa berkata kata melihat kemunculan wanita ini.
Ia bisa melihat jika usia wanita cantik ini masih muda yaitu 20 tahun. Tapi kultivasinya saat ini sudah berada di luar nalarnya.
"Pak tua! Kamu berani beraninya memasuki dan menyerang sekteku! Siapa yang memberi keberanian seperti ini kepadamu??" Ucap Laniya dengan ekspresi datar.
Walaupun di hatinya ia harus menarik napas dalam dalam. Karena pria tua ini bukanlah pria yang mudah ia hadapi.
Ekspresi Tuan Jing muram mendengar perkataan Laniya. "Nona, Aku kagum denganmu yang memiliki kultivasi yang tinggi. Namun begitu, Itu tetap semut di hadapanku!" Ucapnya dengan nada remeh.
"Hmph! Aku tahu mengapa kultivasimu tinggi. Itu karena kau sudah berkultivasi tehnik iblis! Kau tak layak di biarkan hidup pak tua!" Laniya mendengus dingin.
Merentangkan dua tangannya ke atas dan muncul energi besar berbentuk bunga teratai biru.
Mengalihkan pandangan ke bawah, Di mana di bawahnya terdapat ratusan Alam Langit yang memandangnya dengan ngeri dan segera memerintah.
"Bunuh mereka semua! Jangan sampai ada yang lolos satu pun!"
Mengangguk. Seketika itu juga, Ratusan orang itu langsung menyerang pasukan musuh yang kini hanya tersisa dua ribu kurang.
Tuan Jing yang melihat ini pun menjadi sangat marah. Apalagi pasukannya tidak berkutik di hadapan ratusan Alam Langit ini.
"Dasar ******! Ku bunuh kau!" Teriaknya marah detik itu juga tubuhnya seolah menghilang dan muncul di depan Laniya.
Laniya yang sudah mengantisipasi ini pun segera melancarkan serangan teratai biru besarnya.
Dhuarr!!
Ledakan kembali menggema di atas. Formasi bunga yang mengurungnya hampir saja retak terkena dampak ledakan.
Wushh!
Laniya terdorong mundur ratusan meter jauhnya. "Uhuk! Uhuk!" Terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.
Ekspresinya berubah ngeri melihat ini. Matanya menatap depan dan detik itu juga matanya melebar.
Sebuah energi berbentuk telapak tangan hitam penuh aura iblis muncul di depannya.
"Sial!"
Dengan cepat, Ia merilis perisai berbentuk lima kelopak bunga indah.
Boom!!
Hoek!!
Tubuhnya terpental menabrak dinding formasinya dan menyemburkan darah berulang kali.
__ADS_1
Tubuhnya terasa lemah seolah tak punya tenaga. Ada energi hitam yang menempel di dada mulusnya.
"Brengsek! I-ini? Ini energi korosif!" Umpat Laniya menyadari energi berwarna hitam itu.
"Hahaha! Gadis kecil. Bagaimana? Apa hanya ini kekuatanmu? Ck! Lemah!" Tuan Jing muncul di hadapan Laniya yang tengah berlutut.
Ekspresinya senang melihat kondisi Laniya ini meskipun dirinya agak linglung sesaat karena masih dalam pengaruh formasi ilusi Laniya.
"Formasi sialan ini menggangguku saja!" Umpat Tuan Jing dan langsung menembakkan energi hitam ke atas langit.
Boom!!
Krakk! Pyarr!
Tak membutuhkan waktu lama, Formasi setengah lingkaran itu langsung pecah berubah menjadi ribuan energi yang menghilang antara langit dan bumi.
Ekspresi Laniya menjadi tegang melihat formasinya sudah hancur. Meskipun begitu, Ia tetap tersenyum karena melihat para murid yang hampir membantai semua pasukan musuh.
"******! Apa yang kamu senyumi hah?!" Tuan Jing berteriak melihat ekspresi Laniya yang tersenyum.
"Huh, Kau tak bisa membunuhku pak tua iblis bedebah!" Laniya masih sempat mengutuk meskipun keadannya terluka parah.
Dahi Tuan Jing mengernyit mendengar perkataan Laniya. Dengan marah, Ia menendang tubuh Laniya dengan keras.
Bang!
"Ahk!" Teriaknya kesakitan ketika tubuhnya di tendang oleh Tuan Jing.
"Kak!"
"Kak Laniya!"
Rista, Retania dan yang lainnya yang sudah tersadar dari ilusi berteriak menghampiri Laniya dengan cemas.
"Aku tidak apa apa! Hanya luka biasa." Ucap Laniya mencoba menstabilkan tubuhnya yang sedikit goyah.
Retania dan Rista dengan sigap membantu Laniya berdiri. "Kak, Maafkan aku yang tidak bisa menjaga sekte kita! Aku...aku...." Retania tidak bisa meneruskan kata - katanya sedih.
Laniya tahu itu dan berkata menghibur. "Tidak apa apa. Ini juga bukan salahmu. Sekarang kalian bantu para murid yang terluka!"
"Tapi-...." Semua merasa sedih mendengar ucapan Laniya.
Meskipun tidak ada satupun murid yang tewas, Tapi banyak sekali dari mereka yang terluka parah.
Butuh waktu yang sedikit lama untuk mengobatinya agar benar benar sembuh sepenuhnya.
Laniya tersenyum sedikit dan mengeluarkan cincin penyimpanan yang isinya pil penyembuh dari Dirga.
"Tidak apa apa, Kamu obati saja dulu para murid! Lihat itu!" Ucap Laniya dengan isyarat kepalanya.
Semua yang bingung mendengar ucapan Laniya pun sontak mengalihkan pandangannya ke arah isyarat kepala Laniya.
"Hahaha, Kalian tidak akan bisa lepas dari genggamanku! Sekarang kalian matilah!" Tuan Jing tertawa puas melihat keadaan Sekte Pedang Langit Abadi ini.
Ia tak menyadari jika ada sosok yang terbang di atas pedang di belakangnya.
"Aku ingin lihat, Siapa yang berada di genggaman siapa!"
__ADS_1
Suara dingin tiba tiba terdengar di belakangnya membuat ekspresi Tuan Jing benar benar berubah.
Membalikkan badannya untuk melihat siapa yang berani mengganggunya saat ini.
Namun apa yang di lihatnya benar benar tercengang membuat ekspresinya berubah drastis.
Sebuah cahaya emas melesat sangat cepat menuju ke arahnya atau lebih tepat ke dadanya.
Saking cepatnya, Ia tak bisa bereaksi dan cahaya emas itu menusuk dadanya diiringi suara retak dan pecah.
"Argh....!!"
Menjerit penuh kesakitan dan tubuhnya seolah kehilangan keseimbangan dan jatuh kebawah seperti layang - layang putus.
Buk!
Tubuh Tuan Jing ambruk ke atanah yang penuh darah. Ekspresinya berubah drastis dan seketika itu aura setengah immortal akhir lenyap di gantikan tekanan luar biasa yang mengarah kepadanya.
"Ba-bagaimana mungkin? S-segel ini telah di ganti dengan segel baru!?" Gumam Tuan Jing melebarkan matanya melihat dadanya.
Di mana dadanya yang sebelumnya terdapat tato berbentuk kepala serigala kini telah hilang sepenuhnya.
Namun yang membuatnya bingung. Ia dapat merasakan adanya segel budak yang menggantikan segel sebelumnya.
Dan segel ini pun lebih kuat dari segel sebelumnya.
Mengangkat kepalanya dan terkejut melihat seorang pemuda tampan berambut perak yang menaiki pedang besar. Di pelukannya ada seorang gadis berpakaian pelayan.
Saat ini, Pria berambut perak itu buka suara. "Sebelum aku bertanya lebih jauh, Sekarang bunuh semua pasukanmu!"
Terkejut dan mengapa pemuda tampan ini malah menyuruhnya membunuh pasukannya sendiri.
"Baik tuan!"
Kata Tuan Jing yang entah mengapa dirinya harus mengikuti perintah Dirga. Apapun itu.
Segera setelah itu, Tuan Jing yang masih dalam perasaan tercengang, terkejut, marah membunuh pasukannya sendiri di bawah tatapan ketakutan pasukannya.
Tidak butuh waktu lama, Semua pasukan Tuan Jing seketika kehilangan nyawanya. Bau amis darah menyebar kemana mana. Tumpukan mayat terlihat menggunung di beberapa tempat.
Dirga yang melihat ini mengangguk puas dan menatap Tuan Jing dengan tatapan tajam.
Tuan Jing yang di tatap seperti tidak bisa untuk tidak mengalihkan pandangannya ke arah lain.
'Bagaimana mungkin aku bisa takut hanya dengan tatapannya saja?' Batinnya yang merasa marah kepada dirinya sendiri.
Namun entah kenapa ia tak bisa berbuat apa - apa selain berlutut di depan Dirga dengan keringat membasahi punggung.
"Ketahuilah, Aku sudah menanamkan segel budak ke dalam dirimu. Kematianmu hanya berada di tanganku! Bahkan kau tidak bisa bunuh diri selain dengan kehendakku!" Ucap Dirga dengan nada dingin penuh niat membunuh.
Tuan Jing terkejut. Namun terkejutnya kalah dengan gelagapan karena aura tekanan membunuh Dirga ini.
Berlutut dan menunduk yang ia bisa lakukan saat ini.
"Bunuh keempat bawahan bodoh mu itu! Jika ada yang melarikan diri kejar sampai dapat dan bunuh!" Dirga berkata sekali lagi dan menghilangkan auranya membuat Tuan Jing menghela napas.
Namun ia tercengang mendengar perintah Dirga tadi.
__ADS_1
Namun begitu, Ia tetap mengangguk dan berlutut hormat di depan Dirga.
"Baik Tuan...!!"