
Dua gadis kecil itu serentak saling pandang satu sama lain dan mengalihkan pandangannya serentak kembali ke arah Dirga.
"Oke. Tidak usah di pikirkan! Habiskan dulu makanannya, lalu kita keluar dari sini!" Ucap Dirga menyadarkan lamunan keduanya.
Serentak mengangguk tanpa sadar dan kembali melanjutkan makanannya sambil memikirkan, bagaimana bisa tuannya menerobos ranah saints hanya butuh waktu semalaman?
Beberapa menit kemudian...
"Zining! Berubahlah menjadi Naga! Biar Aku dan Fei Ha yang menumpang di tubuhmu!" Perintah Dirga santai.
"Eh-? Emm, Baiklah..tuan!" Kata Zining memerah kaget antara malu dan senang.
Malu karena baru kali ini ada seseorang yang yang menunggangi tubuh Naganya dan senang karena yang menungganginya adalah tuannya.
Melirik Fei Ha yang sejak tadi menempel di samping tuannya, Ia mendecakkan lidah. "Ck! Jangan rusuh ketika berada di tubuhku!" Ucapnya mengingatkan.
"Huh!" Dengus Fei Ha acuh tak acuh sambil melirik Zining yang kesal.
Zining melototi Fei Ha sesaat dan menatap Dirga seraya berkata. "Tapi tuan, Butuh waktu satu hari untuk bisa keluar dari sini! Karena dalam perjalanan nanti pasti ada monster-monster kuat sepertiku yang menghadang kita!
Alis Dirga terangkat satu mendengar perkataan Zining barusan. Melambaikan tangan dan berkata santai.
"Tidak masalah! Cukup semburkan apimu ke monster kecil itu!"
"Ugh! Baiklah..tuan!" Kata Zining mengangguk pasrah mengikuti perintah Dirga.
Lalu Zining bertransformasi menjadi Naga hitam besarnya dan melesat cepat bersama Dirga dan Fei Ha yang berada di atasnya.
Sudah lima jam mereka melesat cepat dan tiba tiba Zining memperlambat lajunya.
"Tuan! Apa tuan merasakan apa yang Zining rasakan??" Kata Zining dengan suara Naga nya.
Dirga yang di atas membuka matanya tenang sambil mengusap kepala sosok gadis kecil di pangkuannya.
"Ya, Zining! Aku juga merasakannya!!" Ucap Dirga serius dan berdiri melepaskan Fei Ha yang kesal karena waktu berduaannya di ganggu.
Di bawah tatapan kaget Fei Ha, Dirga mengeluarkan Sayap Dewa nya dan mengimbangi laju Zining.
"Zining! Cepat ikuti aku!!!" Ucap Dirga serius dan melesat sangat cepat meninggalkan Zining dan Fei Ha yang melongo.
"Sangat cepat!" Batin keduanya kaget.
'Aneh, Apa tuan seorang Dewa yang turun di dunia? Tapi, penampilannya cukup mirip dengan Kaisar Tianzhong bedebah itu!' Ucap Zining dalam hati dan tanpa sengaja mengeluarkan aura membunuhnya.
"Bocah! Apa yang kau pikirkan ha? Cepat ikuti tuan!!" Suara geram Fei Ha membuyarkan lamunannya.
"Ck! Baiklah, Nenek kecil!" Ucap Zining menanggapi dan lesatannya bergerak cepat beberapa kali lipat.
'Huh, Anak kecil ini. Sepertinya dia tidak di ajari sopan santun!' Gerutu Fei Ha dalam hati.
•••
Sekte Pedang Langit Abadi
"Tuan putri! saya yakin anda adalah putri pertama Kaisar Zhan!"
"Ya! Benar perkataan Jenderal Tanbi! Anda adalah Putri yang di tunggu - tunggu kedatangannya oleh Kaisar dan Permaisuri sejak pemberontakan 13 tahun yang lalu!"
Dua sosok pria dewasa berlutut di hadapan wanita cantik yang tengah duduk tercengang melihat dua pria dewasa ini.
Sedangkan orang - orang di sekelilingnya terbengong dengan mulut menganga melihat adegan ini.
"I-ini? A-apa maksud kalian?" Ucap wanita itu terbata - bata terkaget.
Salah satu sosok pria tegap dengan mata tegas mendongak memberanikan diri menatap Laniya.
"Tuan putri! Sangat sulit untuk mempercayai semua ini! Tapi ini adalah fakta yang sebenar - benarnya!" Kata Jenderal Tanbi dengan mata tegasnya dan di angguki oleh Penasehat Fu.
"Benar tuan putri! Hanya guru tuan putri yang bisa menjelaskan semua ini!!" Tambah Penasehat Fu.
"Gu-guru??" Hanya satu kata yang keluar dari mulut Laniya dengan suara bergetar.
Jenderal Tanbi dan Penasehat Fu menyadari itu dan saling berpandangan dengan alis mengernyit.
"Ada apa tuan putri?? Apa ada sesuatu??" Kenderal Tanbi berkata menatap ekspresi kosong Laniya itu membuat firasatnya tidak enak.
Dengan ekspresi mata kosongnya, Laniya menjawab. "Guru sudah meninggalkanku dua tahun yang lalu selama - lamanya!"
__ADS_1
"A-apa??" Jenderal Tanbi dan Penasehat Fu tersentak kaget begitu mendengar pernyataan yang amat mengejutkan dari sosok Laniya.
Laniya menggelengkan kepalanya tersadar namun ekspresinya setengah kosong.
"Cepat katakan! Apa tujuan kalian kesini? Mengapa kalian berkata tentang itu? Bahkan guru tidak pernah mengatakan jika aku mempunyai orang tua!!" Ucap Laniya ekspresinya menjadi dingin menatap kedua pria itu.
Entah mengapa jika berbicara menyangkut tentang orang tua hatinya bergetar.
Melihat ekspresi dingin Laniya membuat kedua pria dewasa itu sulit untuk bernapas.
Namun Jenderal Tanbi memberanikan diri menanggapi. "Sulit untuk menjelaskannya. Tapi kami berdua yakin jika anda adalah Tuan putri dari Yang mulia Kaisar!"
"Benar tuan putri! Tidak pernah mengatakan bukan berarti tidak tau! Mungkin ada alasan tertentu mengapa guru anda menyembunyikan semua itu!" Tambah Penasehat Fu mulai memberanikan untuk bicara.
Laniya mengalihkan pandangannya ke arah Penasehat Fu dengan mata tajam.
"Jangan bicara tentang guruku!!" Ucapnya dingin penuh aura membunuh.
Boom!
Brakk!
"Hoek!"
Tubuh Penasehat Fu terpental ke dinding ruangan hingga menimbulkan suara retak tembok.
Penasehat Fu berdiam melihat ini dan berlutut tak memperdulikan darah yang keluar dari mulutnya dan memohon ampun berulang kali karena kesalahannya yang membuat Laniya marah.
Jenderal Tanbi yang melihat ini tersenyum masam dalam diam.
'Adik! Bukan hanya kamu. Bahkan putrimu juga sama denganmu! Suka sembarangan memukul orang!' Batinnya masam.
"Tak peduli siapa dirimu. Jika ada orang yang mengatakan tentang guru, Aku tidak a— " Ucapan datar Laniya berhenti karena merasa kepalanya berkunang - kunang.
Lalu tubuhnya terhuyung lemah dengan kesadaran yang perlahan - lahan menghitam.
"Tuan putri!!" Seru Jenderal Tanbi kaget dan menangkap tubuh Laniya yang sudah pingsan itu.
Leluhur Siwa, Sido, Tetua Shane, Fanni dan yang lainnya yang melihat adegan sejak awal tadi hanya bisa yerdiam.
Apa yang mereka lihat bukanlah apa yang mereka harapkan.
Tapi yang mereka bayangkan membuat pikirannya berkecamuk kaget setengah mati.
Jadi mereka selama ini telah hidup bersama sosok Tuan Putri?
Bukan tuan putri biasa, Melainkan tuan putri dari Kaisar tengah!
Sosok penguasa yang mengatur seluruh benua!
"Apa yang kalian lihat ha? Cepat tunjukkan ruangan untuk istirahat Tuan putri!!" Suara marah Jenderal Tanbi terdengar begitu menggelegar di ruangan.
Fanni, Bai Lubai, Xenia, Retania yang tersadar segera mengangguk dengan linglung.
"Ba-baik Jenderal!!" Keempat wanita itu berkata tergagap serentak dan keluar dari ruangan diikuti Jenderal Tanbi yang mengangkat tubuh Laniya.
Sejenak, Suasana di ruangan menjadi hening. Tidak ada dari mereka yang bersuara.
"Le-leluhur??" Ucap Tetua Shane menyadarkan lamunan dua leluhur tua itu.
Keduanya menatap satu sama lain dengan ekspresi masih linglung.
Namun, Belum sempat mereka berucap. Terdengar suara serak dari Penasehat Fu.
"Dengarkan! Jika ada yang terjadi dengan tuan putri, Aku tidak segan - segan untuk membunuh kalian!"
Lalu Penasehat Fu keluar ruangan tertatih - tatih sambil memegang dadanya yang sesak di bawah tatapan mereka yang bengong.
••
Boom!
Boom!
Boom!
Boom!
__ADS_1
"Adik Lingxi! Cepat kabur dari sini! Biar kakak yang melindungimu dari belakang!"
Sesosok gadis kecil sekitar berusia sepuluh tahunan berkata cemas kepada seorang gadis lebih kecil darinya.
"J-jangan kak! Kita harus pergi berdua agar selamat dari sini!" Kata anak kecil itu menggelengkan kepalanya takut.
Boom!
Suara ledakan terjadi di jarak yang tidak jauh dari keduanya membuat keduanya terlempar.
"Ah! Kak Laniya!!" Ucap gadis mungil itu meringis kesakitan di pelukan Laniya kecil.
Laniya kecil memeluk erat gadis mungil Lingxi dengan mata memerah melihat adegan depan.
Di depan mereka berdua. Puing - puing bangunan berantakan dan terlihat banyak potongan - potongan tubuh entah siapa.
Bau amis darah menyeruak masuk ke rongga hidung.
"Ka-kak! Lingxi takut..." Suara bergetar gadis mungil itu menangis di pelukan Laniya kecil.
Penampilan keduanya berantakan. Pakaian yang mereka pakai terkoyak di mana mana dan tubuh keduanya juga ada luka bakar serius.
"He-he-he...Ternyata ada sisa santapan kecil di sini! Anak kecil..Biarkan iblis ini menghisap darah segarmu itu!"
Tiba - tiba terdengar suara serak aneh mengerikan di belakangnya.
Keduanya menoleh dan ekspresinya berubah semakin ketakutan nan pucat.
Sosok tubuh hitam legam dengan mata merah melototnya muncul berjarak tidak jauh di depannya.
"Ka-kak..." Lingxi mungil itu semakin meringkuk di pelukan Laniya kecil dengan tubuh bergetar.
Boom!
Tiba - tiba sekelebat bayangan manusia tegap muncul dan meledakkan sosok iblis mengerikan itu.
Melihat siapa yang datang, Dua gadis kecil mungil itu berseru kaget.
"Paman!" 2×
Pria itu menatap keadaan dua gadis kecil mungil itu sejenak dan ekspresinya berubah marah.
Boom!
Tapi tiba - tiba sesosok tubuh muncul di depannya dan meninju dadanya. Tapi Pria itu menahannya dengan tubuh kuatnya.
"Hohoho...Jenderal Tanbi. Seperti gelarnya, Engkau sangat kuat! Tapi apakah kau bisa bertahan dengan semua ini??"
Sosok yang meninju itu berkata terkekeh melambaikan tangannya.
Dan detik itu juga enam sosok iblis bertanduk hitam muncul mengelilingi orang yang di panggil Jenderal Tanbi.
"Chenghou! Dasar penghianat kau bedebah brengsek! Kaisar pasti tidak akan mengampunimu!!" Ucap marah emosi Jenderal Tanbi ketika melihat pria itu.
Chenghou menyeringai puas seraya berkata. "Hahaha, Aku senang melihat ekspresimu itu..Tanbi!!"
"Sial!" Umpat Jenderal Tanbi.
Mengalihkan pandangannya ke arah dua gadis kecil itu dan kembali berkata. "Kalian berdua cepat kabur dari sini! Ayah dan ibu kalian masih bertarung dengan mereka. Cepat!!"
Dan Jenderal Tanbi pun melesat meninju semua yang mengelilinginya dengan sangat cepat hingga terpental jauh.
Laniya kecil dan Lingxi mungil itu sontak mengalihkan pandangannya ke atas langit jauh.
Dimana di sana ada dua cahaya yang mereka kenal sedang bertarung buas melawan ribuan cahaya.
"Ayah..Ibu!" 2× Ucap lemah keduanya dengan mata memerah.
"Hahaha...Kalian berdua tidak akan bisa lari dari genggamanku!" Sosok Chenghou tiba - tiba muncul menghadang keduanya yang baru berjalan.
Ekspresi keduanya memucat dengan tubuh bergetar.
"Hehe, Nak, Sungguh malang sekali nasib kalian. Tapi untuk membalaskan dendam ini, Pria ini tak peduli!" Kekeh Chenghou dan mendekati keduanya yang mundur ketakutan.
"Ayah! Ibu!" Pekik keduanya memucat ketakutan
Wushh! 2×
__ADS_1
Detik itu juga. Tubuh dua gadis kecil malang itu menghilang bak di telan kehampaan.
"Hi-hilang??"