
Dirga menatap ledakan di atas langit dengan tenang. Dari ledakan itu keluar sesosok tubuh dengan pakaian compang camping serta wajahnya yang berlumuran darah menuju ke bawah.
"Bruuk!"
Suara benda jatuh dari atas. Dirga segera meleset dan menatap Agasta yang dalam keadaan lemah itu.
"Si-siapa k-kamu se-sebenarnya?" Ujar Agasta dengan tergagap lemah menatap Dirga dengan wajah ketakutan.
Dirga mencibir. "Bukan siapa siapa! Aku hanya orang yang ingin menghabisimu!" Mengeluarkan pedang chaosnya dari udara tipis, Lalu menusukkan pedangnya ke dada Agasta lebih tepatnya arah jantung.
Jleb!
"Ka-ka-mu- Ujarnya terhenti, Karena pedang yang tertusuk di jantungnya tidak berhenti menancap melainkan memutar mutar hingga jantungnya terkoyak dan...mati.
"Tring! Selamat tuan telah membunuh kultivator iblis ranah immortal tahap awal."
"Tring! Selamat kepada tuan rumah telah mendapatkan hadiah dari sistem yaitu Tekanan Dominasi!"
Seketika saja, Udara di sekitarnya beriak di sertai siulan siulan angin hebat dalam radius seratus meter. Arya dan Retania yang berada tidak jauh dari sana seketika menghentikan jalannya.
"A-apa yang terjadi?" Gumam Retania dengan tubuhnya yang menggigil ketakutan ketika merasakan tekanan hebat.
Begitu juga dengan Arya. Dia juga tidak tahu mengapa udara di sekitarnya tiba tiba saja berubah. 'Apa ini aura yang di sebabkan orang itu?' Pikirnya dengan ekspresi sedikit pucat ketakutan.
Setelah lima tarikan napas kemudian akhirnya tekanan tadi secara tiba tiba menghilang begitu saja. Mereka berdua segera berjalan mendekati orang berambut perak itu dengan wajah ketakutan.
"Tu-tuan! T-terima kasih telah membantu ka- Ucapan Retania berhenti karena tubuhnya mendadak lemas dan akhirnya pingsan.
"Istri! Ada apa denganmu! Jangan buat aku ketakutan!" Ucap Arya sambil memangku wajah pucat Retania dengan khawatir.
Dirga yang melihat itu menghela napas panjang merasa bersalah. Bagaimanapun tekanan yang di pancarkan dari tubuhnya tadi telah membuat tubuh wanita ini sampai ke titik rendah.
Melihat cedera dalamnya yang semakin memburuk. Ia mengambil cincin penyimpanan Agasta terlebih dahulu dan langsung memusnahkannya menjadi abu.
"Kalian berdua ikuti aku, Racun itu sudah menyebar ke sebagian tubuhnya! Aku akan menyembuhkan wanitamu!" Ucap Dirga sambil membuka gerbang cermin kultivasinya.
Arya ketakutan setengah mati ketika mendengar perkataan Dirga. Ragu ragu sejenak. Lalu ia menganggukkan matanya dengan mantap lalu masuk kedalamnya bersama Retania yang berada di gendongannya.
Setelah mereka bertiga menghilang. Tiba tiba muncul tiga pria tua sambil melihat area sekitarnya dengan ngeri.
"Siapa sebenarnya yang bertarung sampai membuat hutan ini gundul!" Ucap salah satu dengan mengerutkan keningnya.
"Pak tua Kenta! Apa kamu tidak merasakan aura ini?" Ucap lelaki tua dengan wajahnya yang terdapat keriput di dahinya.
Orang yang di panggil Kenta menjawab dengan lirih sambil memandangi kawah seukuran puluhan meter. "Aku merasakan sisa energi iblis di kawah itu dan energi pedang yang misterius meskipun samar samar!"
"Energi iblis?" Seru serempak keduanya kaget. Lelaki di sebelahnya yang bernama Sido Lawang berkata. "Ya, Aku juga merasakan energi itu! Tapi siapa orang hebat yang bisa mengalahkan iblis bedebah itu?"
__ADS_1
Lelqki satunya yang bernama Suwi Lapo berkata dengan gelengan kepalanya. "Aku rasa mereka sudah pergi! Siwa Kenta dan kau pak tua Sido Lawang! Sebaiknya kita pergi dan lebih baik waspada! Aku yakin orang yang bertarung tadi bukan orang sembarangan!" Mereka berdua mengangguk dan kemudian tubuh ketiganya memudar.
***
Didalam Cermin Kultivasi.
Saat ini, Mereka bertiga berada di ruangan kamar. Dirga melihat tubuh dalam Retania itu menggunakan tehnik matanya. Terlihat banyak racun racun yang mengalir. Tidak hanya itu, Bagian punggung yang di tempeli energi korosif juga nampak menebal.
Tapi yang membuat dirinya ragu. Ada juga energi korosif di bagian bawah pusar perut Retania. Untuk meyakinkan Arya. Ia berkata. "Aku bisa menyembuhkan istrimu seratus persen, Tapi-
Mendengar orang yang baginya penyelamat tidak meneruskan ucapannya. Arya berkata dengan serius. "Tuan! Aku tahu maksudmu! Dia memang memiliki cedera di bagian sensitifnya! Tapi jika tuan muda yakin bisa menyembuhkannya secara total, Aku tidak keberatan."
Melihat nada tegas Arya, Membuatnya menghela napas tak berdaya. "Baiklah! Aku akan memulainya!" Ucapnya sambil mengeluarkan beberapa jarum perak di cincin penyimpanannya.
Arya mengangguk dan ingin keluar karena tidak ingin mengganggu pengobatan istrinya. Tapi ia di hentikan Dirga. "Tunggu!" Arya berhenti dan membalikkan badannya. "Ada apa tuan muda?" Tanyanya bingung.
"Aku memerlukan bantuanmu untuk memapah tubuh istrimu agar duduk!" Jawab Dirga dan Arya mengangguk segera melaksanakannya.
Dirga ragu ragu sejenak tidak tahu harus berkata seperti apa. Melihat Dirga yang hanya diam, Arya berkata memutuskan. "Tuan! Aku akan membukanya!"
Dirga mengangguk pelan. Ketika melihat punggung putih Retania, Ia dengan cepat menusukkan jarumnya ke bagian korosif dan menyerapnya ke dalam jarum.
Setelah beberapa tarikan napas kemudian, Akhirnya bagian punggung yang di tempeli energi korosif menghilang sepenuhnya. Ia berkata. "Baringkan saja tubuhnya!"
Arya mengangguk dan menurutinya dengan patuh. Dirga mengeluarkan sebuah pil seputih susu dan menyerahkannya ke Arya membuatnya bingung.
Arya terkejut begitu mendengarnya. Ia yang menjadi pengawal khusus keluarga Lesmana tidak pernah melihat pil seputih ini.
Dirinya menduga jika pil ini adalah pil tingkat tinggi yang sangat langka. Dengan cepat ia menelan pil itu dan seketika perasaannya menjadi nyaman.
Dirga yang melihat Arya sudah menelan pil itu tersenyum tipis. Dia dengan cepat memulai pengobatan di bagian area sensitifnya.
Setelah beberapa saat akhirnya sudah selesai. Dia langsung mengeluarkan botol giok yang sudah ia isi dengan Air Kehidupan dan dengan cepat meneteskan Air kehidupan ke dalam mulutnya.
Seketika saja tubuh Retania di selimuti cahaya hijau transparan. Racun racun yang bersarang di tubuhnya seketika di lahap oleh air kehidupan. Tidak hanya itu, Kulit kulitnya juga mengencang menjadi lebih muda seperti sebelumnya.
Tak lama kemudian, Retania membuka matanya dan langsung mengambil posiai duduk dengan wajah memerah bersamaan dengan Arya yang juga membuka matanya.
Melihat istrinya yang sudah bangun. Ia menjadi semangat serta bahagia. Ketika ingin memeluknya, Tiba tiba saja ia dipeluk dengan erat oleh Retania sambil mencumbui bibirnya dengan ganas.
Dirga yang melihat itu mengangguk sambil tersenyum. Ini yang dimaksudnya agar Arya tidak keluar kamar. Efek pengobatan ini membuat tubuh Retania menjadi terangsang dan harus melampiaskannya saat itu juga.
"Selamat bersenang senang!" Ucap Dirga dan langsung pergi dari ruangan di bawah tatapan Arya dengan seringainya.
Baru saja keluar, Ia di buat tertegun. Dua gadis kecil yang kembar identik sedang menatapnya dengan mata besarnya.
Cintia memakai pakaian kecilnya berwarna putih dan Ania berwarna merah. Bukan itu yang membuatnya terpana, Dari segi wajah keduanya memang kembar layaknya saudara.
__ADS_1
Tapi yang membedakan, Ania memiliki lesung pipi di sebelah kiri sedangkan Cintia di sebelah kanan.
"Kakak! Apa yang kakak lihat?" Suara imut salah satu gadis kecil membuyarkan lamunannya.
"Cintia?" Gumam Dirga dan langsung mengambil Cintia untuk di peluknya.
"Apa kakak tidak memelukku?" Ucap cemberut Ania sambil menggembungkan pipinya kesal dengan memalingkan wajahnya.
Dirga terkekeh dan mengangkat tubuh kecil Ania. Mereka berdua terkekeh pelan sambil memeluk leher Dirga dengan ocehannya.
Keluar ruangan dengan membawa kedua gadis di pelukannya. Dirga membawanya ke taman bunga.
"Wah...! Kakak! Bunga bunga ini sangat indah! Apa aku boleh memetiknya?" Ucap girang Tia dan di angguki Ania sambil menatap Dirga penuh permohonan.
Dirga mengecup kedua pipi gadis kecilnya lalu menurunkannya. "Tentu saja boleh! Kalian berdua juga boleh memasuki istana itu!" Ucapnya sambil menunjuk istana perak yang menjulang ke langit.
"Hehe, Terima kasih kakak! Nanti aku dan adik Nia masuk ke istana itu" Ucap Tia sambil mengambil tangan Ania lalu pergi.
Dirga yang melihat keceriaan keduanya membuat mulutnya tersenyum.
Laniya tiba tiba datang dari sebelah kanannya. Melihat Laniya yang semakin cantik Dirga tambah tersenyum lebar.
Melihat senyum aneh Dirga, Laniya melotot kearahnya sambil mencubit pinggangnya. "Apa yang kamu lihat? Apa mata birumu ingin ku hilangkan?"
Dirga mencebik kesal. Ia tak tahu terbuat dari apa tangan Laniya, Cubitannya terasa seperti di capit ribuan kepiting.
Dengan cepat ia berkata untuk mengalihkan pembicaraan. "Tidak tidak!...Apa kamu yang merias kedua gadis kecil ini?"
Laniya menganggukkan kepalanya dan berdehem. "Hm! Aku juga suka dengan anak kecil jadi ingin meriasnya."
Mendengar perkataan Laniya. Sudut mulut Dirga melengkung dan berbisik pelan di telinga Laniya. "Bagaimana kalau kita membuatnya?"
Wajah Laniya seketika merah padam dan memelototi Dirga dengan galak. "Si-siapa yang mau membuat denganmu!"
Dirga tersenyum dan menggoda lagi. "Oh, Apa kamu tidak mau denganku?"
Laniya tanpa sadar menjawab dengan cepat. "Tentu saja aku mau!" Setelah beberapa saat, Wajahnya memerah sampai ke telinga. Melototi Dirga dengan mencubit pinggangnya, Lalu pergi sambil mendengus dingin.
Dirga hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. Ia lalu mengeluarkan cincin penyimpanan lelaki tua Agasta. Dirga membukanya.
Ia melihat banyak koin emas dan beberapa pil tingkat rendah. Tapi perhatiannya tertuju ke sebuah kertas kuning yang tergeletak.
Mengambilnya, Dirga melihat ada beberapa nama yang tertulis di dalamnya.
'Tuan Denka penyetor target. Tuan Ginka bagian keuangan. Tuan Gerka bagian pengintaian dan penyembunyian anggota.' Bacanya di dalam hati dengan kening mengkerut.
"Siapa mereka ini dan apa maksud kertas ini?" Gumamnya sambil mengamati nama nama yang ada di kertas itu.
__ADS_1