
Pagi hari
Malam kehancuran sudah berganti dengan pagi hari cerah diiringi suara merdu kicauan burung burung alam.
Saat ini, Dirga membuka matanya karena merasa ada sesuatu berat yang menimpa tubuhnya.
Dua pasang mata besar indah nan menggemaskan menatapnya dengan lucu.
"Kakak~ Apa kakak semalam meninggalkan Ania?"
"Iya kak~ Tia semalam tidak merasakan tangan kakak memelukku"
Dua gadis kecil Tia dan Ania langsung saja mengoceh mengawali bangun pagi nya.
"Ugh! Kalian berat sekali...Tolong pindah ya?!" Dirga tak menjawab.
Tubuhnya atau lebih tepatnya bagian dada bidangnya saat ini sedang di duduki oleh pantat kecil kedua gadis ciliknya.
Cup! 2×
"Oke" 2×
Ania dan Cintia berkata patuh seraya mencium bibir Dirga membuat si pemilik bibir kaget.
"Kalian ini...." Dirga menggelengkan kepala. lalu bangun memposisikan tubuhnya menjadi duduk.
"Darimana keberanian kalian berdua? Hem?" Dirga berkata lembut seraya mencubit dua pipi yang memerah itu.
Ania dan Cintia memerah malu. Keduanya malu karena mencium bibir kakaknya yang tampan ini.
"Salah kakak sendiri sih memiliki bibir merah itu! Ania kan jadi ingin menciumnya!" Ania berkata polos dan di angguki Tia di sebelahnya.
Dirga tersenyum masam. Tak menyangka jika dengan bibirnya saja membuat dua bocah kecil ini tergoda.
Padahal usianya masih kecil namun mereka berdua memiliki sifat layaknya seorang gadis remaja polos nan malu malu.
Bahkan dengan berani berani nya mereka berdua mencium bibirnya. Tapi Dirga menganggap itu sebuah candaan saja.
"Oke oke! Kalian berdua mandi terlebih dahulu...Nanti kakak akan memberi hadiah kepada kalian!" Ucapnya sembari mengusap puncak kepala keduanya.
"Ehhmm~ Siap laksanakan!" Kedua gadis kecil itu menikmati usapan tangan kakaknya yang lembut dan berkata patuh.
Baru satu langkah menuju kamar mandi, Mereka tiba tiba menghentikan langkahnya membuat Dirga bingung.
"Kenapa?" Tanya nya bingung melihat ekspresi keduanya.
Ania dan Cintia tak menjawab. Dua pasang tangan kecil menarik tubuh Dirga bangun dari ranjang.
"Kak~ Tia kan masih kecil! Kakak mandikan Tia yah??..."
"Iya kak...Ania juga ingin di mandikan kakak! Ayolah..."
Keduanya merengek manja polos kepada Dirga membuat Dirga hanya bisa tersenyum lembut sambil mengusap kepala keduanya.
"Baiklah! Kakak akan memandikan kalian berdua!" Ucapnya menyanggupi permintaan keduanya.
"Hore!" "Yeay!"
__ADS_1
Keduanya bersorak senang melihat Dirga mau memandikannya.
Bagaimanapun, Ini adalah kesempatan untuk berlama lama dan bermanja dengan kakak tampannya ini. Selama ini, Keduanya hanya bisa bermanja dan melakukan sesuatu yang menurutnya membosankan.
Kali ini, Keduanya memiliki permintaan yang aneh dan menurutnya bisa membuat keduanya senang dan tidak membosankan.
Dua jam kemudian
Selama dua jam tadi, Dirga harus menuruti permintaan kedua gadis ciliknya yang inilah,itulah apalah, banyak sekalilah.
Meskipun begitu, Dirga melaksanakannya untuk menyenangkan hati dua gadis kecilnya.
Selama itu, Tidak ada kejadian aneh dengan mereka bertiga. Mereka hanya mandi biasa meskipun banyak bermainnya.
Jangan pikir yang aneh - aneh oke?
Saat ini, Keduanya memakai pakaian berwarna biru laut dan memiliki tekstur yang lembut.
Rambutnya yang panjang di biarkan di gerai indah di belakang punggung. Bola matanya yang besar itu lucu ketika berkedip.
Membuat siapapun ingin menculiknya karena kelucuan penampilannya!
Penampilannya sangat cocok dengan keduanya. Sosoknya seperti loli loli kecil cantik yang ada di pikiran kalian. Hehe:)
"Oke! Kalian sudah cantik! Ayo kita bayar penginapan ini dulu!" Dirga berkata seusai memberi pelayanan terbaik kepada keduanya.
"Hehe, Terima kasih kakak!"
Keduanya tersenyum indah karena di puji cantik oleh kakak tampannya.
"Apa kalian berdua tidak lapar?" Dirga berkata sambil menggandeng tangan kecil dua gadis ciliknya.
Saat ini, Mereka sudah berada di luar dan berjalan santai sambil menikmati keindahan ibu kota.
"Lapar! Itu ada bakmi daging! Kak! Ayo kita kesana! Ania mau itu!" Ania yang memang merasa lapar seketika matanya berbinar melihat kedai makan yang ada gambar bakmi daging.
"Baiklah! Tia juga mau kan?" Dirga mengangguk dan bertanya lagi ke adik kecilnya yang lain.
"Eum! Terserah kakak dan kak Ania! Tia tidak mempermasalahkannya kok...Asalkan bukan racun, hehe!"" Cintia berkata main - main sambil tersenyum lucu membuat keduanya yang mendengar tertawa.
"Haha, Baiklah! Kebetulan kakak juga lapar! Ayo kita kesana!" Dirga berjalan menuju ke kedai makan yang di pilih Ania sambil menggandeng tangan dua tangan kecil.
...................
"Hei! Apa kamu belum mendengar jika saat ini Keluarga Marde sudah hancur? Bahkan aku melihat kediamannya saat ini sudah rata dengan tanah!"
"Apa? Keluarga Marde musnah? Bagaimana mungkin! Apa kamu berbohong kepadaku?"
"Ngapain juga aku berbohong denganmu! Cih! Kalau tidak percaya, Kamu lihat saja sendiri!"
"Oke! Aku akan melihatnya sendiri! Jika kamu bohong denganku maka kamu harus membayar sepuluh koin emas kepadaku!"
"Cih! Siapa takut! Jika aku benar, Maka kamu harus membayar dua kali lipat kepadaku!"
"Kita sepakat!"
Ketika Dirga dan dua gadis kecilnya baru duduk, Dia mendengarkan para pelanggan kedai bergibah tentang kemusnahan Keluarga Marde.
__ADS_1
Dia tersenyum tipis dan hanya diam. Ania dan Cintia yang juga menyadari jika kakaknya itu sedikit tersenyum membuatnya memandang satu sama lain.
Belum sempat bertanya dengan kakaknya, Seorang gadis pelayan menghampirinya sambil memegang daftar menu membuatnya urung bertanya.
"Selamat datang di kedai makan kecil kami tuan muda dan nona muda kecil! Silahkan pilih menu nya..."
Pelayan itu menyodorkan daftar menunya ke hadapan Dirga dan langsung di sambar oleh Ania dan Cintia membuat si pelayan tersentak kaget.
Namun ia tersenyum dan terpana melihat keimutan serta kepolosan wajah Ania dan Cintia itu.
"Tuan muda! Anda sangat beruntung karena memiliki dua adik kembar yang imut ini!"
Pelayan gadis itu tak bisa untuk tidak memuji Dirga yang menurutnya sangat beruntung memiliki kedua adik kembar nan menggemaskan itu.
Dirga mendongak dan menatap pelayan itu membuat pelayan tercengang melihatnya.
'Sangat tampan!' Ucapnya di dalam hati ketika baru menyadari jika sosok berambut perak ini ternyata memiliki wajah yang sangat tampan.
"Terima kasih! Kamu juga sangat cantik!" Dirga balik memuji dengan sedikit acuh nya.
Sontak, Wajah pelayan itu memerah malu namun hembira jika dirinya di puji cantik oleh sosok pemuda tampan.
"Kak! Ania mau bakmi daging, mie kuah, daging bakar dan...."
"Tia juga kak! Tia mau daging panggang, teh hangat, bakmi sosis dan...."
Kedua gadis ciliknya berkata memesan banyak makanan membuat si pelayan tersentak kaget.
"Kamu tulis apa yang mereka mau!" Dirga berkata kepada pelayan itu membuat si empu tersadar.
"Baik tuan muda! Saya kembali dulu dan nanti saya akan mengantarkannya ke sini!" Pelayan berkata dan menulis semua yang di sebutkan oleh kedua gadis kecil itu lalu pergi.
Dia tahu jika porsi makan dua bocah ciliknya ini sangatlah banyak. Meskipun makannya banyak, Itu tidak membuat keduanya gendut. Malah tetap sama dan tidak ada perubahan sedikitpun.
Paling paling hanya perutnya yang sedikit menggembung namun tak lama itu akan kembali seperti semula.
Ini yang membuatnya bingung sekaligus khawatir kemana perginya makanan itu.
"Ding! Tuan tidak perlu khawatir. Bukankah tuan selalu menambah esensi eliksir ke makanan dua gadis kecil tuan?"
"Oleh karena itu, Makanan yang terkena esensi eliksir tuan itu mengandung aura murni tiga kali lipat dan membuat keduanya tanpa sadar menjadi rakus saat makan."
"Namun, Tuan tidak perlu khawatir akan tubuh mereka, Karena keduanya memiliki lima elemen dan tuan secara tidak langsung sedikit demi sedikit memperkuat elemennya dari esensi tanaman eliksir yang di berikan tuan!"
Suara sistem tiba - tiba menggema dan menjelaskan panjang lebar tentang kekhawatirannya.
Menghela napas lega ketika sistem menjelaskan jika tidak ada yang terjadi dengan tubuh keduanya. Memang benar selama ini ia selalu menambahkan esensi eliksir langka ke makanan mereka secara diam diam.
Namun hasilnya membuatnya sedikit terkejut, Padahal yang di lakukannya hanyalah agar jika keduanya masuk kultivasi bisa mengokohkan fondasi kultivasi keduanya.
"Sistem, Terima kasih!" Dirga tidak bisa untuk tidak memuji sistem yang berada di tubuhnya ini.
"Ding! Sama - sama tuan!"
Mereka bertiga pun memakan apa yang di pesan oleh mereka dan menikmatinya.
"Hei....!!!
__ADS_1