Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 113


__ADS_3

"Tuan Kota! Lebih baik kita pergi dari sini! Saya merasakan beberapa aura kuat nampaknya menuju kemari!" Ucap pria lainnya dengan keringat dingin.


Orang yang di panggil Tuan Kota mengangguk. Dia adalah Tuan kota, Kota Mutian bersama Patriak Longgo dari Keluarga Longgo Ibu Kota.


Entah apa yang mereka cari, Tapi melihat wajah lesunya itu, Nampak jika dia memiliki masalah serius.


"Baik! Patriak Yoiki Longgo! Kita pergi dari sini sekarang juga!"


Wushh!


Wushh!


Wushh!


Wushh!


Mereka berempat pun melesat kembali bersama yang lainnya.


•••


Dunia Cermin


Dirga saat ini di kelilingi oleh para bawahannya. Saking cemasnya mereka, Tidak ada satupun yang mengganti pakaian Dirga yang masih berlumuran darah.


Tei, Zei, Laniya, Fanni, Xenia Xu, dan Leluhur Sido Lawang. Tapi ada dua gadis cantik lainnya yang memandang wajah berlumuran darah Dirga.


Di tengah tengah keheningan. Salah satu gadis cantik berkata. Dia adalah Xiayi. Salah satu gadis yang di selamatkan Dirga waktu menghancurkan Sekte Langit Surgawi!


"Kak, Ada apa dengan Tuan muda? Kenapa dia mengeluarkan semua energinya? Apa ada yang membuatnya marah?"


Semua mata menatap Xiayi dengan aneh, Namun kesemuanya hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tahu! Padahal terakhir kali aku melihat wajahnya yang biasa saja seperti biasanya. Namun entah mengapa aku merasakan jika ada seseorang yang membuat dia marah." Tanggap Fanni dengan raut aneh.

__ADS_1


"Marah? Tapi siapa yang membuatnya marah? Dan dari mana kamu bisa mengetahuinya?" Kini Laniya yang bertanya dengan heran.


Fanni tersenyum mendengar ini. Dengan pandangan mengarah ke wajah Dirga, Ia berkata dengan. "Kak, Kamu tidak tahu jika sekarang aku memiliki kontrak jiwa dengannya. Apapun yang dia rasakan, Aku juga akan merasakannya juga. Begitupun juga dengannya."


"Apa?!"


Semua orang berseru tak percaya. Wanita cantik yang nampak sudah akrab dengan Dirga ternyata terikat Kontrak Jiwa dengannya?


Situasi macam apa ini?


"I-itu? Apakah yang kamu katakan itu benar?" Laniya bertanya terbata bata.


Memang benar jika dirinya tidak menahu tentang kontrak jiwa Fanni dengan Dirga. Bahkan asal usul Fanni pun ia tak tahu.


Fanni mengangguk dan berkata dengan suara dalam. "Itu benar! Kak, Dia membuat kontrak jiwa denganku agar dia tidak ingin terjadi hal yang tak diinginkan, Salah satunya adalah Penghianatan!"


Semua yang mendengarnya pun terdiam. Mereka tak tahu mengapa Dirga berani membuat kontrak jiwa dengan wanita cantik ini.


Namun kesemuanya hanya diam sambil menghirup napas dalam dalam. Masalah kali ini sangat rumit bagi mereka.


Mereka yang mendengar pertanyaan Leluhur tua itu hanya menggelengkan kepalanya, Bahkan Laniya yang pertama kali bersama Dirga pun tak tahu akan identitas pria ini.


Leluhur Sido Lawang yang melihat gelengan kepala mereka hanya mendesah pasrah. "Hah, Master kalian ini sepertinya memiliki masalah yang terbilang rumit, Namun aku sendiri tak tahu apa itu! Namun berhati hatilah jika berbicara dengannya." Katanya dan di akhiri dengan memuntah kan seteguk darah.


"Leluhur..!" Tei dan Zei berteriak cemas dan menangkap tubuh lemah lelaki tua itu. Leluhur Sido Lawang melambaikan tangannya dan berkata sedikit tenang. "Aku tidak apa apa. Hanya mengalami terluka sedikit. Mungkin seminggu sudah sembuh. Tolong bantu aku untuk mencari ruang nyaman untuk memulihkan luka ku!"


"Baiklah." Tei dan Zei pun mengangguk dan memapah Leluhur Sido Lawang diikuti salah satu gadis lainnya untuk memimpin jalan.


Bagaimanapun, Semua bawahan Dirga tidak tahu menahu tempat apa ini sebenarnya.


"Nona Laniya dan Nona Fanni!, Apa tidak sebaiknya kita mengganti pakaian Tuan muda? Kasihan jika pakaiannya saat ini masih terdapat banyak darah!" Ucap Xenia Xu ketika melihat para lelaki sudah keluar ruangan.


Laniya yang mendengar perkataan Xenia Xu menyatukan kedua alisnya dan menatap mata jernih Xenia Xu dan tersenyum. "Siapa yang kamu panggil Nona? Panggil aku saudari atau kakak tidak apa - apa! Seperti adik Fanni!" Katanya.

__ADS_1


Saat ini, Panggilan Laniya kepada Fanni berubah. Fanni memanggil Laniya dengan sebutan Kakak. Meskipun usianya masih di bawahnya, Fanni menyanggahnya agar memanggil Laniya dengan sebutan kakak.


Alasannya hanyalah Laniya adalah wanita pertama dari Dirga.


"E'h? I-itu baiklah." Xenia Xu berkata dengan pasrah ketika di pelototi oleh dua wanita cantik itu.


Xiayi dan Zisya yang melihat gadis cantik bernama Xenia Xu ini yang terlihat cukup akrab dengan Laniya dan Fanni membuatnya iri.


"I-itu, N-nona! Kami pergi dulu!" Ucap Zisya dan langsung menyeret tangan Xiayi membuat si empu tersentak dan pergi menjauh.


Melihat hanya ada Fanni dan Xenia Xu saja yang ada di ruangan, Laniya berkata dengan senyum puas. "Oke, Saatnya kita ganti pakaiannya terlebih dulu!"



Pada saat ini, Seorang pria berambut perak dengan wajah tampan namun ekspresinya datar sedang membuka matanya.


"Ugh! Dimana aku?" Suaranya terdengar lemah dan ketika membuka matanya, Ia melihat ruangan yang berbeda namun tak asing baginya.


Segala yang ada di sekitarnya terbuat dari cahaya putih seputih susu. Dia tahu jika tempat ini adalah tempat yang sama ketika bertemu dengan jiwa pemilik tubuh terakhir kalinya.


"Tekankan emosimu itu agar tidak membahayakan nyawamu sendiri!"


Tiba - tiba muncul suara yang bergema yang mengandung nada ketegasan.


"Siapa itu?" Pria berambut perak itu bangkit dan berteriak terkejut.


Tidak ada jejak ketakutan di wajahnya. Yang ada hanyalah raut wajah dingin, acuh dan tak peduli namun matanya melirik ke segala arah dengan waspada.


Wushh!


Asap putih tiba tiba muncul di depan sekitar lima meter darinya. Dari asap itu muncul pria dewasa dengan rambut berwarna perak.


Alis matanya indah dan pupil kedua matanya berwarna emas dengan wajah yang sangat tampan. Rahangnya tegas, Sosoknya seperti Dewa!

__ADS_1


Sedangkan pria tadi adalah Dirga. Dirga menatap depan dengan tatapan acuh tak acuh namun waspada dengan pria itu.


__ADS_2