
Suara berat namun geram bergema di area sekitar.
Semua mata anggota Sekte Pedang Langit Abadi tertuju ke depan. Nampak satu pria tua dengan tubuh yang di selimuti aura hitam pekat.
Di belakangnya, Ada empat pria dewasa yang juga mengeluarkan hitam pekat dan aura membunuh yang kental.
Di belakang tak jauh. Ada sekitar seribu satu yang kesemuanya adalah lelaki. Mereka semua memiliki ekspresi galak dengan sorot mata membunuh.
Arya, Kai dan lainnya tidak bergeming dengan seruan pria tua itu. Mereka semua berdiri kokoh layaknya sebuah gunung.
Pria tua yang melihat pihak asing itu hanya diam menjadi jengkel. "Katakan! Kenapa kalian ingin menyerang kami? Dan siapa yang menyuruh kalian?" Ujarnya kesal.
"Tidak perlu tahu! Kami kesini hanya menginginkan kalian semuanya mati!" Suara Arya bergema dengan nada tegas.
Raut wajah pria tua itu kembali muram setelah mendengar perkataan Arya. Dia tak menyangka jika pihak lain menginginkan kematiannya dan yang lain.
Salah satu empat pria di belakangnya maju mendekati dan berkata dengan hormat. "Tetua! Mereka sangat meremehkan kita. Kita bantai saja semuanya!"
Raut wajah pria tua itu tak berubah sama sekali. Dia menatap depan dengan seringai mengejeknya. Lalu ia mencibir. "Huh! Ingin membunuh kami? Apa aku tidak salah dengar? Hanya mengandalkan para semut seperti ini? Hmhph! Jangan harap!"
"Aku tak menyangka jika Sekte yang membuat gempar waktu lalu berani menginjakkan kaki di sini dan meremehkan kami." Pria dewasa di belakang menimpali dengan cemoohan.
'Mereka? Apa mereka baru bangun tidur dan langsung perang? Apa mereka sudah gila?' Pikir pria tua yang pemimpinnya.
Lantas, Dia pun berseru. "Tak peduli siapapun itu! Jika sudah menginjakkan kaki di sini maka tidak ada seorangpun yang bisa lolos!....Semua! Serang para bedebah Sekte Pedang busuk itu!"
"Serang! Bunuh mereka semua..!"
"Bunuh dan Cincang semua tubuh mereka..!"
"Serang....!"
Segera setelah itu. Seribu orang di belakang melesat ke arah para murid Sekte Pedang Langit Abadi hingga memunculkan cahaya kelap kelip di antara gelapnya malam.
Arya yang melihat itu segera berseru. "Serang mereka! Jangan kabur apapun yang terjadi...!"
Segera, Para murid mengeluarkan pedang pedang mereka yang berwarna emas indah.
Mata pria tua itu seketika berbinar ketika melihat itu. "Pedang surgawi?? Hahaha! Cepat habisi mereka dan rebut semua pedang itu...!" Serunya diiringi tawa liarnya.
Dentang!
Ting!
Ting!
Ting!
Suara pedang antara kedua kubu saling bertabrakan satu sama lain.
Salah satu pria muda Sekte Pedang Langit Abadi melayang di udara sambil menebaskan pedangnya dan berseru.
Gerakan kedepalan — Tebasan Pedang Surgawi!
Wushh!
__ADS_1
Suara tebasan terdengar tajam dan cahaya kilatan tajam muncul dan memanjang sekitar delapan meter.
Para prajurit musuh yang melihat serangan itu menjadi ngeri. Pada saat ini, Mereka berteriak berharap bisa melarikan diri.
"La-Lari! Serangan itu berbahaya..!"
"Cepat! Jangan sampai terke-..."
"...."
Namun seruan itu hanyalah seruan. Kilatan cahaya tajam itu telah melewati tubuh mereka dan menebasnya.
Slashh!
Namun, Kilatan tajam itu tidak menghilang dan terus melaju ke depan dan menghilang ketika sudah mencapai jarak tertentu.
Terlihat, Sekitar puluhan prajurit musuh tergeletak tak bernyawa dengan tubuh terbelah.
Pria muda itu sangat puas dengan tehniknya. Tapi kemudian raut wajahnya berubah ketika mendengar suara dingin dari belakangnya.
"Kau sudah begitu banyak membunuh semua prajuritku! Rasakan ini!"
Segera bulu kuduknya merinding ketika merasakan ada bahaya di belakangnya.
Seluruh tubuhnya tak bisa di gerakkan karena sudah di kunci oleh aura serangan pihak musuh.
Dia memejamkan matanya pasrah dan bergumam. "Mungkin waktuku sudah habis. Semoga kalian bisa memenangkan perang ini..."
"Ingin membunuh murid Sekteku? Hmhp!! Jangan harap itu bisa terjadi!!" Seruan yang terdengar tak asing muncul di belakangnya dan diikuti suara dentingan pedang.
Dentang!
Sedangkan orang yang melindungi pria muda itu adalah Arya. Arya menoleh kebelakang dan melihat wajah pria muda itu. Lantas berseru. "Serang musuh kalian dan jangan pedulikan aku! Cepat...!"
Pria muda itu tersadar dari keterkejutannya. Tanpa menjawab karena situasi.
Ia pun melompat ke arah kerumunan para saudaranya yang lain yang masih fokus bertarung.
"Dentang! Dentang! Dentang! Dentang!"
"Slash! Slashh! Slashh! Slashh! Slashh!"
"Duar! Duar! Duar! Duar! Booms! Booms!"
Suara tabrakan dua senjata satu sama lain terdengar. Diikuti suara tebasan dan ledakan ledakan serangan antara dua kubu.
Pria tua yang melihat pertarungan ini matanya sedikit menyipit. "Aneh! Kenapa mereka seperti di bantu oleh seseorang?" Gumamnya menatap depan.
Belum sempat ada yang menanggapi. Suara seruan terdengar tak jauh dari mereka. "Pemimpin! Tolong Ak-
Sontak raut wajah pria tua itu berubah ketika melihatnya. Suara tadi adalah suara salah satu pria dewasa yang berada di belakangnya.
Dia marah karena pria dewasa itu mati terpenggal oleh pedang Arya!
"Bajingan! Kalian sudah membunuh bawahanku! Tangkap dia sampai dapat! Cincang tubuh nya...!" Teriaknya dengan marah memberi perintah kepada ketiga bawahannya yang tersisa.
__ADS_1
Segera, Ketiga pria dewasa itu tersadar dan melesat kearah dimana Arya yang sedang menstabilkan nafasnya.
Tiba tiba suara Kai terdengar dari sampingnya. "Aku tidak ingin membiarkanmu susah sendiri! Aku akan membantumu!"
Arya menoleh dan melihat Kai yang sudah berlumuran darah. Namun itu bukan darahnya melainkan darah musuh yang terciprat ke pakainnya.
Arya menganggukkan kepalanya dan berkata senyum. "Terima kasih!"
Kai mengangguk dan mereka berdua kembali melesat bertarung yang bagi siapapun melihat itu pertarungan yang tak adil.
Namun anehnya, Arya dan Kai nampak fokus dan saling menyerang maupun melindungi tubuh satu sama lain.
Darah berlumuran di mana mana. Suara rintihan kesakitan terdengar begitu suram.
Namun ada yang aneh disini. Para murid Sekte Pedang Langit Abadi tidak ada satupun yang terbunuh.
Mereka hanya mengalami cedera ringan dan sedetik kemudian mereka bisa merasakan perubahan cedera itu yang sembuh sedikit demi sedikit.
Tentu saja para murid Sekte Dirga bertanya tanya tentang apa yang terjadi. Namun saat ini bukan waktunya untuk bertanya.
Para prajurit musuh yang kini jumlahnya berkurang merasakan ngeri. Lima puluh orang melawan seribu orang adalah kejadian yang mencengangkan.
Namun yang lebih mencengangkan adalah lima puluh orang itu tidak ada satupun yang mati. Mereka tetap gagah bertarung seolah memiliki energi yang abadi di tubuhnya.
Pria tua yang sejak awal hingga saat ini hanya melayang diam menatap pertempuran itu. Namun sekarang ia menggertakkan giginya marah ketika para anggotanya banyak yang tewas.
"Bangsat! Kenapa kalian sangat lemah sekali? Lihat! Para murid Sekte bedebah tengik itu masih sehat. Apa yang kalian lakukan sejak tadi?" Kemarahan nya tak bisa di hindarkan.
Pria tua itu memaki kesal geram nan marah kepada semua anggotanya yang menurutnya sangat lemah dan tidak kompeten.
"Cih! Brengsek! Hanya lima puluh orang saja tidak ada yang mampu mengalahkannya. Lihat saja!" Pria itu itu memaki dan melesat tinggi di atas kerumunan kedua kubu.
Dia mengeluarkan pedang berwarna merah. Namun pedang itu hanya berada di tingkat Langit.
Mengangkat pedangnya tinggi tinggi dan menggumamkan. "Tehnik Pedang Iblis — Kemarahan Iblis!"
Roooaaar!
Segera setelah menggumamkan tehniknya. Pedang pria tua itu memancarkan cahaya hitam merah yang cukup pekat.
Diikuti suara lengkingan mengerikan yang keluar dari pedang itu.
Cahaya hitam merah menggumpal dan membentuk siluet iblis setengah badan dengan tubuh besarnya sekitar tiga meter.
"Pergi dan bunuh mereka semua!"
Pria tua itu memerintah acuh sambil melambaikan tangannya kepada siluet iblis itu.
Roooaaar!
Seakan mengerti. Siluet tubuh itu membuka mulutnya lebar lebar dan menampilkan taring tajamnya yang mengerikan itu, Lalu melesat kebawah.
Para murid kedua kubu sontak menghentikan aksinya dan menghentikan pertempuran. Semua pasang mata mendongak menatap atas dengan wajah muram.
"A-Apa pemimpin sedang ingin membunuh kami..?"
__ADS_1
"H-Habis sudah...Tamatlah riwayat kita...!"
"...."