PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Keputusan Clara


__ADS_3

Di salah satu pulau milik keluarga Arista. Leon sedang menatap istrinya yang sedang menikmati senja. Pria itu melihatnya dari kejauhan. Diam-diam ia tersenyum tipis melihat tingkah Aura yang seperti anak kecil saat ini.


Entah kenapa ia merasa jika sudah mulai mencintai istrinya itu, pria itu kini berjalan mendekati Aura yang sedang menatap langit-langit yang mulai berubah warnanya.


“Suka,” kata Leon sambil mengusap tangan Aura yang berada di atas lututnya.


“Iya, lihat begitu indah ciptaan-Nya,” ujar Aura.


Leon tersenyum menatap istrinya, kini kedua asik menikmati tenggelamnya sang Surya. Erik dan Sam dari belakang Vila menatap pasangan itu sambil tersenyum.


“Hah, cinta begitu indah kalau sudah merasakan manisnya madu.” Sam menatap Erik sambil mengedipkan matanya.


Saat Erik akan membalas, Sam langsung mencegahnya begitu saja.


Sam  menerima telepon dan kini menatap Erik dengan wajah datar.


“Ada apa?” tanya Erik.


“Nona Velicia meminta kita untuk kembali ke kantor, “ ucap Sam kepada Erik.


Erik terlihat begitu terkejut, melihat rekannya membeo tak elak membuat Sam menatap pasangan yang kini sedang bercengkerama saling kejar-kejaran.


Melihat itu Erik mengusap dadanya dan berkata,” Kapan aku bisa begitu?”


“Kerja aja yang benar dulu, jangan melangkah lebih dariku,” ujar Sam.


Erik seketika tergelak, pria itu sampai mengusap air matanya, sedang Sam menatap malas orang kepercayaannya itu.


Kini keduanya segera menuju ke Vila karena melihat Leon dan istrinya sedang berjalan ke arah tujuan yang sama juga.


"Ada apa?" tanya Leon saat melihat kedua rekannya sedang menatapnya begitu berbeda.


"Nona Velicia meminta kita datang," ucap Sam.


Leon menatap semuanya bergantian, pria itu langsung menghubungi Clara. Namun, wanita itu tidak mengingatkannya. Pria itu terlihat panik dan langsung menghubungi Alek.


"Halo," ucap Alek.

__ADS_1


"Mana Clara?" tanya Leon.


Leon mendengar Alek tergelak seakan sedang mengejeknya, Pria itu mengepalkan kedua tangannya.


"Tuan Leon, Anda jangan serakah jadi pria, jika Anda sudah memilih Nona Aura dan silahkan lepaskan Nona Clara untuk Tuan kami," ujar Alek.


"Apa maksudmu, bajingan!" terik Leon membuat yang lain terkejut.


"Santai Tuan Leon, Nona Clara dan Tuan Jhon sedang melakukan pernikahan jadi tidak bisa diganggu," kata Alek sambil terdengar jika pria itu sedang tertawa.


"Hentikan, Alek!" seru Leon lagi.


"Apa Anda tahu kenapa Nona Clara melakukan ini, karena ia ingin pria yang dicintainya dalam diam bahagia bersama wanitanya yang dicintainya, siapa lagi jika bukan Nona Aura," kata Alek langsung panggilan terputus.


"Kak, ada apa?" tanya Aura.


"Bersiaplah kita kembali," ucap Leon.


Erika dan Sam langsung berjalan menuju ruang kerja dan kini ketiga pria itu duduk saling berhadapan. Leon menatap Erik dengan tatapan datar.


"Apa kalian tahu kenapa Nona Veil meminta pulang, karena Clara yang mengantikan Aura untuk menikah dengan pria brengsek itu." Leon mengusap wajahnya dengan kasar.


Leon menceritakan apa yang dikatakan Alek padanya, mendengar itu Erik mengepalkan kedua tangannya.


Pria itu tidak menyangka akan seperti ini, ditatapnya Leon dengan tatapan tajam."Jangan bilang kamu mau menyelamatkan Clara juga."


Leon menatap tidak suka karena ucapan Erik membuatnya merasa ingin sekali menyumpal mulut rekannya itu. Clara mencintai Leon selama ini, dan sebaliknya pria itu juga begitu mencintai Clara. Namun, jodoh berkata lain.


Kini ketiganya hanya diam, Sam menatap Erik dan bertanya, "Kapan Clara menikah?"


"Hari ini," jawab Leon.


Erik mendorong kursinya begitu kasar setelah itu, pria itu keluar dari ruangan menuju ke bibir pantai.


Terlambat itu satu kata yang membuat Erik kini baru sadar jika Clara sudah berhasil membuatnya jatuh cinta. Kini yang dirasakan hanya rasa sakit yang tidak tahu kapan akan sembuh saat mendengar wanita itu menikah hari ini.


Erik memejamkan matanya, pria itu merasa melihat Clara bersanding di depan pelaminan. Entah kenapa ada terasa dadanya begitu sesak.

__ADS_1


Andai waktu itu ia meminta Clara untuk tinggal saja, mungkin gadis itu tidak akan menikah dengan pria kejam itu.


Walau ia tahu jika Clara bisa bela diri, tapi pasti keduanya sudah ada perjanjian sebelum gadis itu mengambil keputusan ini.


Sam kini duduk di samping Erik, pria itu begitu yakin jika rekanya itu suah menyukai Clara. Namun, lagi-lagi jodoh siapa yang tahu.


"Bersiaplah, tiga jam lagi kita dijemput," ucap Sam.


Erik hanya mengangguk, saat akan masuk kamarnya ia mendengar suara tangisan begitu pilu, Pria itu melihat kamar Aura pintunya tidak tertutup. Namun, pria itu enggan untuk menghampirinya.


Jika ia nekat bisa -bisa nantinya Leon naik pitam karena rasa cemburunya, pria itu yakin butuh tempat untuk menyendiri saat ini.


Saat Erik hendak masuk kamar Aura menatapnya, "Leon aku juga bisa berkorban untuk cinta mereka."


"Lebih baik kamu doakan bahagia saat ini," ucap Erik.


Aura tersenyum sinis, bukan hanya ia yang di bohongi. Namun, semua yang kini diketahuinya dari mulut rekan kerja suaminya jika Clara dan Leon saling mencintainya.


Erik menatap Aura bukan ini yang ia mau, tapi cinta yang suci hanya untuk dirinya sendiri.


Awal pernikahan itu indah. Bagaikan dunia milik berdua, Aura dan Leon terlihat begitu bahagia sekarang. Kini keduanya disatukan dalam jalinan pernikahan untuk berjanji sehidup semati. Restu dari Ayahnya yang ia butuhkan saat ini, walaupun awalnya pria paruh baya itu menolak.


Setelah Leon mengatakan akan menikah, tapi Sam merasa ada yang mengganjal. Jujur pria itu belum berani untuk menjalin hubungan dan langsung menikah. Rasa trauma akan membina rumah tangga masih dirasakan.


Aura harus dulu mengatakan kepada Leon nanti, untuk menunda. ia berharap Leon mau mengerti akan apa yang dirasakan. Walau luka yang sudah ditorehkan pria itu begitu dalam, bukan berarti akan mudah begitu saja aku menyembuhkannya.


Sudah hampir dua minggu Leon hanya diam karena banyaknya pekerjaan, tentu Aura  memakluminya. Kesibukannya sebagai seorang Ceo dan selain itu mengurus suaminya menyita waktu.


Namun, Leon selalu memberikan kabar, hingga mereka tidak merasa jauh. Hari ini Aura akan memberikan kejutan kepada suaminya. Ia segera memasak menu kesukaan Leon.


"Nona, kok senyum-senyum terus," ucap pelayan itu membuat Aura terkejut karena tidak tahu kapan wanita itu di sampingnya.


"Nona, ada apa?" tanya Bibi  yang agak terkejut.


"Ini Bi tadi ada pria datang ganteng banget kasih amplop ini katanya penting," ucap Aura.


wanita itu  segera mematikan kompor, kini Aura dan bibi duduk di ruang makan. Setelah aku membuka  ternyata kontrak perusahaan Jack dan Grup setiawan

__ADS_1


Apa lagi keuntungannya begitu besar, setelah itu Aura membacanya dan menandatanganinya dan segera memasukan dalam tas.


__ADS_2