PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Ingat janji


__ADS_3

Langit terlihat mendung, dan angin mulai berhembus begitu kencang. Hujan rintik-rintik mengguyur  bumi. Velicia tertegun menatap mantan suaminya, Arnold pura-pura terlihat menyedihkan di bawah guyuran hujan, menjelaskan dirinya tidak menemaninya beberapa hari ini untuk menyelesaikan pekerjaannya agar bisa menemaninya melalui telepon.


Mendengar apa yang Arnold jelaskan, membuat hati Velicia langsung melunak, dia meminum obat penahan sakit, berdandan dan tidak lupa membawa handuk untuk mantan suaminya. Sesampainya di lantai bawah ia segera membukakan pintu untuk pria yang kini menjadi kekasihnya itu.


Arnold tersenyum saat Velicia memberikan handuk untuknya, pria itu menyambutnya dan mengusap kepalanya, lalu duduk di sofa ruang tamu.


 "Cia, kamu selalu makeup saat bertemu denganku, aku belum pernah melihatmu dengan wajah polos tanpa makeup," ujar Arnold.


Mendengar apa yang dikatakan kekasihnya Velicia tersenyum lalu berkata, "Aku sudah meneruskan bisnis keluarga Arista saat umur 14 tahun, dan sudah terbiasa berdandan untuk menyembunyikan diriku."


"Kamu serius!" seru Arnold terkejut.


Velicia mengangguk, senyum tidak pernah pudar dari bibirnya. Keduanya mengobrol, wanita itu sampai lupa untuk membuatkan minum untuk Arnold. Dia beranjak menuju ke dapur untuk membuat teh dan membawakan cemilan untuk kekasihnya itu.


Velicia tersenyum saat Arnold menatapnya, ia membawakan teh hangat dan brownies untuk kekasihnya itu. Pria itu tersenyum terlihat begitu tulus kepadanya. 


"Cia jadi berapa umurmu saat kita menikah dulu?" tanya Arnold


Velicia tersenyum, wanita itu kembali duduk, sambil menyodorkan teh hangat untuk Arnold, pria itu dengan setia menunggu jawaban dari mantan istrinya itu dan kini berstatus sebagai kekasihnya.


"Umurku baru dua puluh tahun saat itu, Ar," jawab Velicia.


Arnold kembali terkejut, ternyata ia menikahi gadis yang begitu masih muda, berarti umur mantan istrinya kini dua puluh tiga tahun, masa-masa perlu dimanja.


"Ar, hari sudah mau malam sebaiknya kamu pulang," kata Velicia lembut.


"Tidak aku masih rindu!" katanya merasa tidak suka karena seakan wanita di sampingnya itu mengusirnya.


"Nanti kamu kemalaman," tutur Velicia.


Arnold tidak menjawab, pria itu kini menuju kamar mandi dekat dapur. Setelah mencuci wajahnya ia duduk pindah duduk di ruang keluarga sambil menghidupkan televisi. melihat itu Velicia menarik napas dalam. 


"Ar, apa kamu mau menginap?" tanya Velicia.

__ADS_1


"Iya," jawab Arnold singkat.


Velicia yang hendak menyiapkan kamar tamu untuk kekasih dua bulannya itu, tapi langkahnya terhenti karena tangannya dicekal oleh Arnold.


"Mau kemana, duduk di sini saja temani aku," ucap Arnold menatap penuh harap kepada kekasihnya itu.


Velicia kembali lagi duduk, di samping Arnold. entah mengapa pria itu tiba-tiba menggenggam tangan kekasihnya itu. Jantung Velicia berdetak begitu kencang, perhatian pria itu terlihat begitu tulus padanya lagi-lagi membuat wanita itu terbuai.


"Mau nonton film apa?" tanya Arnold lembut.


"Action," jawabnya.


Pria itu langsung tergelak mendengar jawaban dari kekasihnya itu, hal itu membuat Velicia begitu terpesona karena ini pertama kalinya pria itu tertawa lepas tanpa beban saat bersamanya.


Arnold sampai mengusap air matanya, ia kembali lagi tersenyum dan mengacak rambut Kekasihnya itu dengan gemes.


"Kamu kenapa suka yang Action?" tanya Arnold.


"Suka saja," jawabnya singkat.


Velicia terdiam, ditatapnya pria yang sedang menatapnya juga sambil berkata," Aku pernah menyukai seseorang."


Mendengar jawaban dari kekasihnya Arnold terlihat tidak senang dan dia bertanya, "Apa aku mengenalnya?"


Velicia kembali teringat pada Arnold yang lembut itu, sama seperti pria yang disukainya dulu. Namun, rasanya berbeda sekali dengan pria di sampingnya kini.


"Kamu tidak kenal, aku menyukai orang itu saat masih kecil dulu," ujarnya sambil tersenyum mengingat sosok lembut dulu.


Seandainya yang ada di sampingnya adalah sosok itu, pasti itu kebahagiaan untuk sisa hidupnya yang singkat ini. Namun, ia juga bahagia karena di akhir hidupnya orang yang dia cintai kini ada di sampingnya walau hanya menjadikan pacar sementara.


Jika Velicia dikasih umur panjang ingin rasanya dia melihat hari pernikahan mantan suaminya itu, ia ingin melihat pria itu tersenyum bahagia karena menikahi wanita yang dicintainya.


Velicia menatap Arnold yang sedang serius menonton pria itu terlihat begitu tampan dengan rambut yang acak-acakan, ia mencintai mantan suaminya itu tanpa alasan, karena itu tumbuh begitu saja. Sejak pertama melihat senyumannya dia merasa rela menukar seluruh dunianya hanya demi pria itu hingga ia divonis kanker.

__ADS_1


Velicia menarik napasnya dalam pria itu begitu tahan menonton sedangkan dia sudah begitu mengantuk saat ini. 


"Ar, kamu tidur di kamar tamu itu ya," kata Velicia. Arnold mengernyitkan keningnya, pria itu menggeleng. Membuat wanita itu mendengus kesal. 


"Terserah kamu mau tidur di kamar tamu yang mana!" seru Velicia kesal.


"Mau kemana?" tanya Arnold.


"Ke kamar, aku lelah Ar," jawab Velicia.


Arnold mematikan televisinya, ia berjalan sambil memegang tangan kekasihnya, tapi entah mengapa Velicia tidak menolak saat pria itu ikut masuk ke kamarnya.


"Cia, apa ada kaos untuku?" tanya Arnold setelah selesai membersihkan tubuhnya.


Velicia berjalan menuju lemarinya, wanita itu membuka pintu lemari sambil matanya mencari kaos yang bisa dipakainya kekasihnya itu.


Arnold masih memperhatikan tubuh mantan istrinya itu kian kurus, dia mengira kalau wanita itu sedang diet.


"Ada enggak?" tanya Arnold


Velicia menutup pintu dan mengeluarkan kaos warna biru dan celana pendek miliknya, Arnold menatap apa yang dibawa kekasihnya itu.


Arnold tidak komplain, tapi dia langsung meraihnya  dan mengganti pakaiannya di depan mantan istrinya itu, melihat itu Velicia langsung memalingkan wajahnya. Arnold tersenyum melihat wanita itu malu terlihat dari telinganya yang berubah warna walaupun sedang membelakanginya.


Arnold tanpa meminta persetujuan dari yang empunya kamar langsung naik ke ranjang, Velicia ada rasa takut untuk ikut naik. Dia takut kalau pria itu menggagahinya lagi, Arnold yang melihat kekasihnya hanya berdiri menatapnya tersenyum.


"Sini, katanya sudah mengantuk," kata Arnold.


"Apa harus tidur satu ranjang?" tanya Velicia.


Arnold tersenyum hangat, pria itu duduk dan menepuk tepi kasur supaya  wanita itu duduk di sana. Velicia dengan ragu duduk di samping Arnold. Dia ingat saat masih menjadi istri pria itu akan marah jika mendapatkan dirinya tidur di ranjang yang sama.


Arnold mengusap lembut kepalan kekasihnya itu, lagi-lagi membuat Velicia merasa ada kupu-kupu berterbangan di perutnya. Namun, kali ini kelembutan yang didapatkan dari pria di sampingnya kini.

__ADS_1


Perlahan Arnold menipiskan jarak dengan kekasihnya itu, dia mengecup bibir ranum Velicia  dan tangannya sudah mengusap punggung mantan istrinya itu. Syukurlah dia teringat syarat kedua yaitu tidak boleh berhubungan intim, ia berhenti dan memeluk Velicia.


“Bagaimana dengan sekarang? Kamu menyukaiku, kan?” Suara lembut itu berbisik di telinga Velicia.


__ADS_2