
Pagi ini Velicia akan mengikuti serangkaian tes sebelum pengobatan selanjutnya. Dokter James memeriksanya dan selalu memberikan semangat kepada Velicia.
Seorang perawat datang meminta kepada pasiennya untuk menggunakan pakaian pasiennya.
Andrea mendengar itu tersenyum, karena dari awal gadis kecilnya itu tidak mau mengenakan pakaian pasiennya.
Sebelum melakukan kemoterapi, Velicia akan diperiksa oleh Dokter Spesialis Onkologi. Dokter James adalah salah satunya untuk menangani pengobatan dan pencegahan penyakit kanker.
Dokter Herman masuk ke ruang rawat Velicia dengan senyum hangatnya. Pria itu mulai menjelaskan apa saja nantinya setelah dilakukan kemoterapi kepada Nyonya Setyawan itu.
"Apa efek yang, Dok?" tanya Velicia.
Dokter Herman menjelaskan."Biasa yang dialami pasien rambut rontok, nyeri pada tubuh, kehilangan ***** makan, penurunan berat badan dan mual dan muntah itu yang umum terjadi."
Andreas menggenggam tangan Velicia supaya tetap mau berobat.
"Jangan takut aku akan tetap menjagamu," bisik Andreas diterima Velicia membuat wanita itu merona.
"Nonya nanti akan ada perawat yang datang karena kita akan pemeriksaan tes darah dan X-Ray," ujar dokter Herman.
"Baik Dokter, terimakasih," kata Velicia tulus.
'Ar, kamu temani aku nantikan," kata Velicia.
"Pasti aku akan tetap di sini untukmu," ucap Andreas.
Velicia begitu bahagia karena Arnold tidak bersikap dingin lagi kepadanya, sekarang ia harus fokus dengan pengobatan saja.
Saat sedang asik mengobrol dengan Andreas, pintu terbuka Jack yang baru datang tersenyum, pria itu datang tidak sendiri tapi dengan seorang wanita cantik yang Velicia tahu itu Aura adik dari Arnold.
"Hai, Kak. Kita bertemu lagi, semoga cepat sembuh," kata Aura.
"Aura, kapan kamu sampai. Bukannya kemarin ada di Jerman?" tanya Velicia.
__ADS_1
"Aku liburan, kak," jawab Aura agak gugup dan langsung melotot ke arah kakaknya.
Andreas hanya tersenyum melihat adiknya begitu kesal kepadanya itu, melihat Arnold terlihat begitu santai menanggapi ocehan adiknya membuat wanita itu tersenyum merasa terhibur.
Andai dari awal ia akan didukung seperti ini, pasti dari awal divonis sakit akan langsung berobat, salahnya ia hanya pasrah akan umur yang bertahan sampai tiga bulan saja.
Merasa selalu sendiri membuatnya patah semangat untuk berobat lagi, hingga ia memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Arnold pria yang dari kecil dicintainya itu.
"Kamu harus selalu semangat untuk sembuh, aku hanya bisa seminggu menemani di sini kamu tahukan aku haru mengurus usahaku juga dan kakak iparmu sudah cuap-cuap," ujar Jack sambil tersenyum membayangkan begitu cerewetnya istrinya.
"Kamu sering kali tinggalin kakak sendiri, Jack!" kata Velicia kesal.
Tak lama Mama Maria masuk dan tersenyum, wanita itu melihat putri bungsunya duduk dengan telinga disumbat pakai headset hanya bisa menggelengkan kepala saja.
"Nak, Mama membawa buah yang sudah di potong-potong tadi," kata Mama Maria meletakan di atas piring untuk menantunya itu.
Maria tidak peduli walau Arnold dan Velicia sudah tidak lagi bersama, tetapi wanita itu tetap menantunya hanyalah satu ya itu wanita yang pernah dibawa putranya ke rumah saat itu. Wanita itu begitu ingin mengumpat anaknya karena tidak mengatakan jika yang dibawanya adalah istrinya. Jika ingat itu Maria merasa geram ia pikir putranya seperti Papanya yang selalu memiliki wanita idaman lain.
Velicia dibantu Andreas untuk duduk sambil bersandar, Maria menyusun bantal di punggung Menantunya itu supaya lebih nyaman.
Saat Velicia akan mengambil buah di atas nakas, langsung dihentikan oleh Andreas. ia menaikkan kedua alisnya ke atas seakan bertanya ada apa.
"Aku suapi," kata Arnold tersenyum.
Velicia langsung wajahnya langsung merona, Maria melihat itu merasa bersalah karena wanita di depannya itu menganggap Andreas adalah Arnold. perlahan Andreas menyuapkan buah yang sudah dipotong-potong itu ke mulut Velicia.
Jack hanya bisa tersenyum getir melihatnya, adik kecilnya sedang sakit ia tega membohonginya sampai sejauh ini. Egois itulah yang kini ada dalam benaknya. Karena ingin adiknya sembuh ia membuat kesepakatan kepada Tuan besar untuk membawa Velicia berobat.
Velicia menatap Jack yang terlihat melamun, wanita itu ingin bertanya, tetapi masih banyak keluarga dari Arnold yang ada walau hanya Mama Maria dan Aura yang sedari atdi sibuk bermain game.
Suapan terakhir masuk ke mulutnya membuat Anderas lega, ia mengambil tisu dan mengusap bibir ranum milik gadis kecilnya itu. Andai bisa digantikan rasanya ia rela sakit dari pada melihat wanita yang dicintainya sekarang berbaring dengan lemah.
"Mau jeruk!" tawar Andreas.
__ADS_1
"Tidak Ar, aku sudah kenyang," tolak Velicia.
Velicia sebisa mungkin menenangkan detak jantungnya karena sikap Arnold tadi yang mengusap bibirnya rasanya ada gleyeran aneh dalam hatinya. Ia juga bingung apa Arnold benar-benar berubah atau kasihan setelah tahu jika dirinya sakit.
Velicia sesekali mencuri pandang kepada pria yang selalu ada disampingnya itu selama beberapa hari ini.
"Ar, apa kamu tidak kerja?" tanya Velicia merasa heran karena pria itu hanya mengotak-atik ponselnya saja.
"Semua sudah ada yang handle, Nona," jawab Andreas sambil mengusap rambut Velicia.
Velicia lagi -lagi terbuai, ingin rasanya ia memeluk tubuh kekar itu. Namun, ada rasa malu karena tidak ingin ia lebih dulu memeluknya.
"Apa yang kamu pikirkan, Cia?" tanya Andreas, karena pria itu harus menjaga pikirannya agar selalu positif jangan sampai berpikir' sembuh enggak ya' .
"Cia, besok aku mau ada perlu sampai malam, pagi kamu akan dijaga Mama dan malamnya di jaga Aura, apa kamu enggak masalah?" tanya Andreas karena ia harus menghadiri acara siang dan malam.
"Ar, kamu jangan terlalu memikirkanku, kasihan Mama kalau ada di sini sampai sore nanti akan bosan," ujar Velicia.
"Kamu mikir terlalu jauh, Sayang," kata Anderas lembut.
Mama Maria mendengar itu terkejut. Ia takut jika kedekatan Velicia dan Andreas akan tumbuh benih-benih cinta. Sedangkan kata suaminya jika Velicia begitu mencintai Arnold.
"Mama, enggak apakan besok jagain Cia!" pinta Andreas.
"Kamu ya, Mama udah bilang akan tinggal di rumah sakit ini kalau bisa asal tetap bersama menantu Mama!" kata Maria kesal karena Andreas meminta izin kepadanya.
Andreas berjalan menghampiri Aura, dilepasnya handset yang berada di telinga adiknya itu membuatnya ia berteriak."Kakak!"
"Kakak minta tolong, besok malam kamu jagain Cia ya!" pinta Arnold.
"tapi jangan lupa jatah bulanan di tambah!" kata Aura menatap sang Kakak sambil menaikan kedua alisnya.
"Kamu itu enggak ikhlas bantuin!" seru Arnold langsung mengapit kepala adiknya di ketiaknya membuat Aura teriak histeris karena ulah sang kakak.
__ADS_1
Velicia tergelak melihat Kakak adik itu, ia baru sadar jika bersama keluarganya Arnold berubah menjadi hangat kecuali dengan Papanya dan tentunya dirinya saat masih menjadi istri dari Arnold.