
Dikembalikannya pigura itu, Aura membuka laci. Lagi-lagi ia menemukan foto orang yang sama. Saat sedang asik ia tidak menyadari jika ada seseorang berdiri menatap tajam Aura. Pria itu berjalan dan bertanya."Apa yang kau lakukan?"
Deg, Aura menatap pria yang tidak kenalnya itu sedang menatapnya tajam, Pria itu berjalan mendekati gadis dengan mata yang seakan-akan ingin memangsanya.
"Jangan membuatnya takut!" Leon masuk dan menarik tangan Aura untuk keluar dari ruangan sahabatnya itu.
"Kak siapa pria seram tadi?" tanya Aura.
"Orang kepercayaanku," jawab Leon.
Aura hanya mengangguk, setelah mengunci pintu kerja itu dari luar. Pria itu menutup gorden dan mematikan lampu dan hanya menyalakan lampu yang berada di atas nakas.
"Tidur!" Leon duduk di tepi ranjang sedangkan Aura sudah berbaring.
Leon membetulkan selimut Aura sampai ke dada dan berkata." Selamat malam."
Aura hanya mengangguk, tiba-tiba Leon membalikan tubuhnya dan langsung berjalan untuk menghampiri Aura dan memberikan kecupan di kening wanita yang sudah mulai bertahta di hatinya itu.
Aura memejamkan matanya saat Leon mengecup keningnya lama, setelah itu ditatapnya wajah cantik yang sudah merona karena malu. Namun, saat melihat bibir ranum itu seakan begitu menggodanya.
Leon menipiskan jarak, tidak lama ia menyatukan bibirnya dan mulai ******* dengan lembut. Aura lama-lama terbuai dan keduanya saling mengabsen dan membelit sesuatu yang lembut dan menjadi semakin dalam.
Saat keduanya merasakan oksigen semakin menipis keduanya melepaskan pautannya dengan napas yang memburu.
"Maaf," kata Leon sambil mengusap bibir Aura yang sedikit membengkak karena ulahnya.
Aura yang begitu malu langsung menutup seluruh kepalanya, Leon melihat itu tersenyum diusapnya kepala Aura dari balik selimut.
"Selamat tidur, Sayang. Mimpi yang indah," ucap Leon langsung beranjak dari duduknya dan keluar kamar. Senyum mengembang tidak luntur sampai membuat dua pria yang tidak lain Samuel dan Erik menatapnya heran.
***
Pagi harinya di ruang rawat Cia, Andreas sengaja tidak pulang untuk menemani gadis kecilnya untuk kemo . Jadwal yang seharusnya siang di majukan pagi karena dokter James ada jadwal operasi dadakan.
Cia yang sudah bisa berjalan dengan tegak, kini perlahan melewati lorong untuk menuju di mana ruang kesakitan itu yang begitu rasanya sangat dahsyat baginya.
Cia menarik napas dalam, ia begitu merindukan Arnold. Tanpa Cia tahu jika Arnold kini sedang memakai baju perawat yang sudah di atur oleh Samuel. Dokter James tersenyum menatap Cia dan Andreas.
__ADS_1
"Silahkan Nona, Tuan apa Anda tidak ikut masuk?" tanya Dokter James.
"Tidak Dok saya lihat dari kaca seperti biasa," jawab Andreas.
Cia hanya tersenyum tipis, wanita itu semakin yakin jika Arnold lah cinta yang sesungguhnya. Saat masuk ia menghirup parfum yang tidak asing, Cia menatap sekeliling. Namun, yang dicarinya tidak ada.
Beberapa kali ia menarik napas dalam, rasanya dadanya begitu sesak biasa saat seperti ini ada Arnold di sampingnya. Namun, sekarang hanya ada pria yang sedang menatapnya di balik kaca transparan itu.
"Tuan apa boleh tirainya ditutup saja," ucap Cia yang tidak ingin orang melihatnya kesakitan.
Mendengar permintaan Cia salah satu perawat menatap Arnold dan dokter James bergantian. setelah mendapatkan izin pria itu menutup tiara membuat Andreas merasa heran.
Cia membaringkan tubuhnya di brankar, wanita itu memejamkan matanya. berharap ada Arnold di sampingnya.
Cia membuka matanya saat tangannya digenggam oleh seseorang yang rasanya tidak asing, mata Cia melebar saat pria yang memakai baju perawat itu membuka maskernya.
"Ar, aku rindu," kata Cia langsung berhambur ke pelukan pria yang begitu dirindukanya itu.
"Jangan tinggalkan aku, kamu tahu aku akan dinyatakan sembuh setelah kemo terakhir ini," ujar Cia dengan wajah berseri.
"Nona Cia sudah siap?" tanya Dokter James.
"Siap Dokter," jawab Dokter penuh semangat.
Dokter James tersenyum hangat, pasiennya satu ini begitu gigih untuk sembuh dari penyakitnya. Perlahan Dokter James dibantu dua orang perawat melakukan serangkaian pengobatan untuk Cia.
Arnold yang melihat istrinya memejamkan matanya langsung memeluknya, "jangan takut ada aku."
Cia memeluk tubuh Arnold kuat, rasa sakit itu kian menjalar ke seluruh tubuhnya. Dokter James datang dan mengecek suhu tubuh Cia dan seorang perawat langsung mengambil darah untuk mengeceknya.
Setelah istrinya tenang, Cia masih memejamkan matanya, Arnold tidak berhenti mengecup kening dan pipi istrinya.
"Ar, " kata Cia lemah.
"Iya, jangan banyak bicara istirahatlah," ujar Arnold.
"Aku begitu merindukanmu, pantas sedari tadi aku merasa mencium parfum yang biasa kamu pakai," ujar Cia.
__ADS_1
Arnold tersenyum, ia juga begitu merindukan istrinya itu. Cia menatap wajah tampan Arnold intens.
"Ar, kapan kamu sampai?" tanya Cia.
"Tadi malam, sekarang kamu istirahat ya!" kata Arnold lembut.
Cia hanya mengangguk, wanita itu berbaring sambil memeluk tangan Arnold. Dokter James melihat itu hanya tersenyum.
"Cinta yang membuatnya kuat melawan penyakitnya." James mengusap bahu Arnold.
"Sayang cinta itu bukan untukku, tapi cintanya hanya untuk Kakakku. Pria yang dicintainya sejak berumur empat belas tahun," jelas Arnold.
Tanpa mereka sadari jika Cia belum tidur. Wanita itu dengan jelas mendengar apa yang mantan suaminya sampaikan.
Air matanya sudah tidak terbendung lagi, Rasa sesak di dada kian menjadi saat Arnold mengatakan jika ia masih mencintai Andreas.
Ingin sekali rasanya Cia berteriak dan mengatakan jika sampai sekarang cintanya kepada Arnold tidak berubah dan semakin dalam.
Dokter James yang merangkap pergerakan Cia, sudah dipastikan jika wanita itu mendengar apa yang sedang Arnold katakan tadi.
"Apa Anda begitu mencintai mantan istri Anda?" tanya Arnold.
"Iya, bahkan saya menyadari sudah terlambat karena luka yang sudah saya torehan begitu dalam. Apa Dokter tahu jika selama tiga tahun saya menyia-nyiakannya.
Dokter James tersenyum dan berkata." Setiap manusia pasti bisa mendapatkan kesempatan kedua."
Arnold tersenyum, ditatapnya tubuh yang kurus sedang berjuang begitu luar biasa. Perlahan Arnold melangkah dan kini sedang menatap wajah pucat wanita yang sekarang akan dijadikan prioritasnya.
"Cia, aku tahu luka yang aku berikan begitu dalam di hatimu. Aku akan berjuang demi cintaku padamu. cukup sudah aku berkorban demi Andreas walau pria itu adalah kakak kandungku sendiri," kata Arnold lirih.
"Aku mencintaimu, tapi aku ingin melihat sebesar apa Kakakku ingin memilikimu."
"Cia aku tahu kamu tidak akan mendengar apa yang akan aku katakan kepadamu saat ini. Namun, dengan satu tekad bulat ingin sembuh aku begitu ingin menemanimu hingga kita sampai tua nanti."
Arnold mengecup kening Cia dan berkata, "Saat hari itu tiba kamu harus bisa memilih aku atau Andreas karena sampai sekarang aku masih mencintaimu."
bersambung
__ADS_1