
"Cemburu? untuk apa aku cemburu, Kak. Kecuali Kakak masih menginginkan istriku." Arnold menatap kakaknya itu datar.
"Tidak. Aku mau fokus seminar saja," jawab Andreas sambil masuk kamar.
Arnold tersenyum tipis, lebih baik sang kakak pergi biar tenang untuk sementara. Arnold tanpa mengatakan apa-apa keluar dari kamar kakaknya. Andreas membaringkan tubuhnya yang begitu lelah, tidak lama ia terlelap.
*****
Pagi harinya, semua berkumpul di meja makan untuk sarapan, Hari ini rencana Jack akan kembali karena tidak bisa meninggalkan kantor begitu lama.
Cia seperti biasa hanya diam, apalagi sejak malam itu ia mengatakan jika suaminya untuk menikah lagi, Arnold kembali lagi bersikap dingin. Hal itu tidak lepas dari perhatian Andreas.
"Cia, apa kamu sibuk?" tanya Andreas.
Arnold hanya diam, pria itu sudah tahu apa maksud dari kakaknya itu. Sebenarnya tadi ingin mengatakan hal itu, tapi lagi-lagi sang istri mengatakan sudah menemukan wanita yang akan dinikahinya.
Cia menatap kakak iparnya itu, lalu beralih kepada arah Arnold. Namun, suaminya itu hanya diam saja.
"Kenapa, Kak?" tanya Cia.
Andreas mengatakan kepada iparnya itu untuk gantian dengan Aura mengecek les pianonya. Mendengar itu mata Cia berbinar."Wah... yang benar. Baiklah aku mau, Kak."
Andras tersenyum, setidaknya Shinta tidak sendirian saat dirinya tidak ada nanti. Semua sudah selesai sarapan. Arnold walaupun marah dengan istrinya, tapi pria itu tidak bisa mendiamkan lama-lama.
"Sayang aku berangkat dulu, kamu hati-hati kalau pergi nanti," pesan Arnold.
Cia hanya mengangguk, wanita itu memeluk suaminya erat. Bukan tak sakit hatinya saat meminta suaminya untuk menikah lagi. Namun, itu harus dilakukan karena dia juga butuh seseorang penerus nantinya.
Setelah mobil yang dikemudikan suaminya tidak terlihat lagi, Cia segera masuk untuk bersiap ikut Andreas pergi ke tempat les pianonya. Hanya butuh sepuluh menit Cia sudah bersiap, sedangkan kakak iparnya sudah menunggunya di mobil.
Andreas segera mengemudikan mobilnya setelah Cia sudah memakai sabuk pengamannya. Hanya butuh tiga puluh menit mobil yang dikemudikan oleh Andreas sudah sampai depan tempat ia mengajar piano.
Saat Cia turun dari mobil, wanita itu melihat Shinta juga keluar dan ikuti pria yang tidak asing baginya."Kakak itu siapa?"
"Kekasih Shinta," jawab Andreas sambil tersenyum kepada adik iparnya.
"Kakak tidak cemburu?" tanya Cia.
Andreas tersenyum, "Aku mencintainya, Cia. Namun, aku juga tidak ingin membuatnya tidak nyaman atas cintaku. Melihatnya bahagia sekarang itu sudah membuatku juga bahagia."
Cia menatap Andreas dengan iba, Pria itu mengajak adik iparnya untuk masuk lebih dulu membiarkan Shinta yang sedang mengobrol dengan Eric.
__ADS_1
Cia berjalan mengikuti Kakak iparnya itu, saat sampai di meja tempat Shinta bekerja. Andreas mengambil bunga yang dikirimkan kurir untuk Shinta. Pria itu mengambil bunga Lily yang biasa akan dibuang oleh Shinta.
Pria itu mengambil dan memasukan ke tong sampah, Setelah itu mengambil ponselnya untuk mengirimkan pesan jika bunga dan makan siang jangan dikirimkan lagi.
Entah mengapa Cia melihat itu merasa dadanya sesak, apa secinta itu Andreas dengan Shinta. Namun, wanita itu tidak ingin banyak bertanya.
Saat Andreas sedang mengecek email, pria itu menatap adik iparnya."Apa mau minum kopi atau teh?"
"Boleh," kata Cia.
Andreas tersenyum, pria itu keluar dari ruangannya. Ia sama sekali tidak melihat ke arah Shinta yang baru datang, Shinta menatap pria yang sebulan ini mengejar cintanya. Namun, saat melihat Andreas keluar dan hanya tersenyum tipis merasa ada sesuatu yang hilang darinya.
Shinta meletakan tasnya di atas meja, saat gadis itu akan membuatkan minum untuk bosnya. Wanita itu langsung menghentikan langkahnya. Dilihatnya Andreas membawa dua cangkir yang masih terlihat berasap itu.
Andreas tidak berubah tetap menatap Shinta, pria itu hanya tersenyum. Namun, tidak memanggilnya sayang seperti biasanya. Setelah Andreas masuk ke ruangannya. Barulah Shinta duduk di kursi kerjanya.
Dilihatnya tidak ada lagi bunga di atas mejanya, biasanya setiap pagi akan mendapatkan bunga dan sarapan dari restoran favoritnya. Namun ,sampai jam sepuluh sarapan itu tidak ada datang.
Shinta hanya menarik napas panjang, wanita itu mengetuk pintu ruangan Andreas. Saat terdengar suara mempersilahkan untuk masuk, Barulah ia membuka pintu perlahan.
"Shinta silahkan duduk," ucap Cia.
Shinta terkejut karena ada wanita yang dulu pernah dicintai oleh bosnya itu, sedangkan Cia tersenyum menatap Shinta.
Shinta sempat terkejut, tapi karena Andreas tidak mengatakan alasannya. Wanita itu memilih diam saja.
Setelah selesai memberikan laporannya kepada Cia, Shinta segera keluar dari ruangan itu. Entah kenapa ada rasa yang tidak enak apa karena ia libur kemarin Andreas kini menempatkan Cia yang tidak lain adik ipar Andreas itu.
Andreas menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya setelah Shinta keluar, Melihat itu Cia tersenyum tipis."Kenapa?"
"Rasanya berat, tapi aku ingin melihatnya bahagia," kata Andreas.
Cia hanya mengangguk, jujur ia begitu kagum dengan pria yang dulu pernah ia cintai itu.
"Jangan melihatku begitu menyedihkan itu, Cia!" kata Andreas tidak suka.
Velicia langsung tergelak, wanita itu menggelengkan kepalanya. Tanpa terasa keduanya bekerja hampir empat jam, kini saatnya untuk makan siang.
Cia yang akan bersiap karena Arnold akan menjemputnya untuk makan siang bersama."Kak, aku duluan."
"Hem," ucap Andreas.
__ADS_1
Cia segera keluar dari ruangannya. Saat pintu terbuka, dilihatnya Shinta juga sedang bersiap.
"Shinta, aku duluan ya," kata Cia ramah.
"Iya, Kak." Shinta gugup bukan karena Cia, melainkan sosok yang berdiri di belakang wanita itu.
Setelah itu Andreas pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa kepada Shinta. Saat sampai di luar dilihatnya Arnold dan istrinya masuk mobil. Setelah itu pria yang tadi mengantar Shinta keluar dari mobil.
"Apa kabar?" tanya Eric.
"Baik, mau jemput Shinta," ucap Andreas.
"Iya, mau ajak makan siang," kata Eric sambil tersenyum canggung.
"Tunggu saja di dalam, aku duluan," pamit Andreas tetap ramah.
Tanpa kedua pria itu sadari, Shinta melihat bagaimana interaksi antara Eric dan Andreas. Bosnya itu begitu ramah dan sama sekali tidak marah atau cemburu dengan pria yang kini sedang berdiri menatap Andreas masuk mobilnya.
Shinta ada rasa yang hilang, tapi tidak tahu itu apa, wanita itu keluar untuk menemui Eric."Maaf lama menunggu."
Eric tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Keduanya segera naik mobil dan meninggalkan tempat itu untuk pergi makan siang.
Selama diperjalanan Shinta hanya diam, wanita itu merasa jika Andreas sudah berhenti mengejar cintanya. Bukankah seharusnya ia senang, tapi kenapa dadanya rasanya begitu sesak. Jujur ia merindukan gombalan dan perhatian Andreas selama satu bulan ini.
Eric yang duduk di samping Shinta merasa jika wanita itu sedang ada masalah."Apa ada sesuatu?"
Shinta tersenyum canggung, wanita itu lalu menggelengkan kepalanya."Aku baik-baik saja."
Eric bukan pria bodoh, ia tahu kalau gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu."Shinta lain kali jangan ikut kencan buta seperti itu lagi, bagaimana kalau pria yang mengajakmu bukan pria baik-baik."
Shinta hanya mengangguk, ini juga rencana untuk membuktikan kepada Andreas agar pria itu berhenti untuk mengganggunya. Namun, sialnya gadis itu sekarang yang seakan terjebak akan perbuatannya sendiri.
Mobil yang dikemudikan Eric sampai di salah satu restaurant jepang, entah kenapa ada rasa kecewa pada gadis itu. Seharusnya pria di sampingnya itu bertanya mau makan di mana?
"Kita makan di sini ya, apa kamu suka?" tanya Eric.
Shinta yang tidak ingin mengecewakan pria itu akhirnya mengangguk, walau hari ini ia merindukan masakan Andreas. Wanita itu tersenyum saat pelayan datang memberikan menu kepadanya."Kamu saja yang pesan, Eric."
Eric mengangkat kepalanya, dilihatnya buku menu itu ditutup oleh Shinta."Apa kamu mau makan tempat lain?"
Shinta hanya menggeleng, hingga matanya bertemu sosok pria yang sudah membuatnya tidak tenang dari pagi. Andreas sedang mengobrol dengan Leon dan Aura.
__ADS_1
Andreas yang sadar jika Shinta menatapnya, pria itu segera kembali lagi fokus dengan Aura dan Leon.