PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
kegundahan dua pria


__ADS_3

"Kamu," ucap Andreas.


Shinta lagi-lagi tersenyum sinis, wanita itu menatap pria yang tidak gentar untuk mencari perhatiannya.


Namun, ia kadang merasa kasihan. Jika dipikirkan apa akan menyerah begitu saja. Dulu saat ia masih tertarik dengan Andreas. Pria itu begitu dingin dan menganggap kalau ia sama dengan Aura. Sudah dianggap seperti adik.


Kini keduanya makan bersama, wanita itu begitu kagum rasa bumbu dan sambal yang dibuat oleh Andreas begitu pas.


"Enak?" tanya Andreas.


"Lumayan," jawab Shinta singkat.


Mendengar jawaban gadis di depannya, entah kenapa dadanya begitu sesak. Namun, pria itu hanya tersenyum tipis.


"Besok jadi jalannya ?" tanya Andreas lagi


"Iya, " jawab Shinta.


Andreas lagi-lagi hanya mengangguk. Pria itu sibuk dengan makanan di depannya.


Setelah selesai makan, baik Andreas dan Shinta kini duduk di ruang keluarga. Sedangkan Shinta membuat kopi untuk bosnya itu.


"Makasih," kata Andreas saya Shinta memberikan kopi untuknya.


Keduanya saling diam, walaupun matanya menatap ke arah televisi. Entah kenapa Andreas merasa jika apa yang dilakukan hampir satu bulan ini sia-sia.


Umurnya tidak muda lagi, tapi pria itu mau lihat besok apa Shinta bahagia dengan kekasihnya.


Malam sudah larut, Andreas pamit kepada Shinta. Setelah pria itu masuk lift, barulah wanita itu masuk dan menutup pintu apartemennya.


Wanita itu entah kenapa ada rasa ragu, untuk menemui pria yang untuk kencan butanya.


Merasa sudah lelah, Shinta masuk kamar. Tidak berapa lama gadis itu terlelap.


*


Pagi harinya, sesuai rencana Shinta. Jam sepuluh akan bertemu dengan sosok yang sudah janjian mengajak untuk bertemu.


Di sinilah sekarang, Shinta berada di kafe. Pria itu mengirimkan pesan jika sudah berada di dalam.


"Shinta," panggil pria itu.


Shinta melihat sosok yang tidak asing itu. Pria itu berdiri menyambutnya.


"Kamu!" kata Shinta setelah ingat jika pria itu orangnya Leon suami sahabatnya.


"Apa kabar?" tanya Eric.


"Baik, kakak kok ada di sini. Bukannya di Berlin?" tanya Shinta.


"Iya, lagi ada kerjaan." Erick tersenyum menatap gadis yang berada di depannya kini.

__ADS_1


Baik Shinta dan Eric janjian untuk menonton. Seharian keduanya selalu bersama. Hingga tepat jam sepuluh malam pria itu mengantarkan Shinta pulang.


"Shinta, besok aku antar kerja ya," ucap Eric.


"Iya, Kak." Shinta melambaikan tangannya saat mobil yang kemudikan Eric mulai melaju.


Shinta saat akan masuk lobby apartemen, merasa ada yang mengawasinya. Gadis itu langsung membalikkan badan.


Mata Shinta melebar saat melihat mobil bosnya itu keluar dari parkiran apartemen. "Apa Andreas melihat semua tadi."


Shinta segera masuk lift, gadis itu tersenyum senang setidaknya hari ini awal yang bagus untuknya nanti.


**


Saat Shinta sedang bahagia, tidak dengan Andreas. Pria itu merasakan dadanya sesak.


Pria itu bisa melihat jika Shinta begitu bahagia dengan kekasihnya.


"Apa ini waktunya dirinya mundur, jika Shinta sudah menemukan kebahagiaan. Tidak mungkin dia datang akan merusaknya."


"Kak." Andreas menatap Aura yang kini di duduk di sampingnya.


"Kenapa?"


"Apa kakak sudah mendapatkan hati Shinta?"


Andreas mendengar itu hanya menarik napas panjang, Entah baru satu bulan dirinya begitu lelah untuk mengejar Shinta. Namun, untuk menyerah rasanya begitu berat.


Andreas hanya tersenyum menatap adiknya itu. Benar apa kata Aura, jika Shinta jodohnya pasti tidak akan kemana.


Maria yang baru bergabung, melihat kedua anaknya sedang mengobrol serius merasa heran."Ada apa, Nak?"


"Kakak lagi galau, Mam. Shinta sekarang sudah punya kekasih," ucap Aura.


"Jangan kamu rusak hubungan mereka, Nak." Maria menatap putranya itu.


Mendengar apa kata Mamanya, Andreas hanya menarik napas panjang. Pria itu kini menatap adik dan Mamanya."Mam, dua hari lagi aku akan berangkat ke Berlin lagi."


"Jangan bilang Kakak mau menatap lagi di sana! Kakak kita hanya bertiga di sini, jangan saling menjauh," kata Aura terlihat sedih.


Andreas terkekeh, pria itu menggelengkan kepalanya."Bukan, Kakak hanya enam bulan saja nanti di sana."


"Dalam rangka apa, Nak?" tanya Maria.


"Ada seminar, Mam."


Maria mengangguk, wanita itu hanya bisa mendoakan untuk anaknya baik-baik saja."Jaga diri baik-baik, Nak."


Andreas hanya tersenyum, pria itu ingin meminta adiknya untuk memantau selama ia tidak ada. Walaupun sudah ada Shinta, pria itu tahu wanita itu sudah memiliki kekasih dan tidak akan mengganggunya lagi.


Benar apa kata Mamanya jika ia tidak ingin dikatakan perusak hubungan orang lain lagi. Andreas beranjak dari duduknya, ia berpikir Shinta wanita baik dan pasti akan mendapatkan pria yang baik juga, tapi itu bukan dirinya.

__ADS_1


Pria itu menuju ke kamarnya ke lantai dua, saat akan membuka pintu. Bersamaan pintu kamar Arnold terbuka. Arnold menatap Kakaknya itu, sedangkan Andreas menautkan kedua alisnya."Ada apa?"


Arnold mengikuti Kakaknya untuk masuk kamar, kini keduanya duduk di balkon kamar Andreas.


"Cia memintaku untuk menikah lagi hanya karena anak," kata Arnold.


"Bukanya kalian akan sepakat untuk adopsi?" tanya Andreas.


"Iya, tapi entah kenapa tiba-tiba istriku berubah pikiran karena aku masih bisa memiliki anak dari darah dagingku sendiri."


Andreas hanya menarik napas dalam, baginya wajar Cia mengatakan hal itu. Namun, dengan Arnold menikah lagi. Cia harus siap apa pun nanti yang terjadi. terutama waktu akan terbagi, begitu juga dengan kasih sayang yang Arnold miliki.


"Apa kamu siap untuk poligami?" tanya Andreas.


"Berpikir ke arah sana saja tidak, Kak." Arnold menatap saudaranya itu dengan mencibir.


Andreas terkekeh, ia tahu jika Arnold hanya ingin membahagiakan istrinya karena dulu hanya derita untuk wanita itu yang dirasakan."Sebaiknya kamu tanyakan lagi bagaimananya nanti."


"Cia akan meminta ceria kalau aku tidak mau menikah lagi!" kata Arnold.


"Gila!" seru Andreas.


Arnold menatap langit malam yang sama sekali tidak ada bintang, benar-benar gelap dan hanya ada kilat karena hari sudah mau turun hujan. Kedua pria itu hanya diam, membiarkan angin menerpa tubuh mereka.


"Apa salah kita dulu sampai seperti ini?" tanya Arnold.


"Itu kamu yang buat, andai saat kalian menikah membina rumah tangga yang semestinya hal ini tidak akan menimpamu, Ar!"


"Ya, semua salahku. Andai aku sadar sebelum rasa sakit yang Cia derita, pasti semua akan baik-baik saja, Kak."


"Jangan menyesali yang sudah terjadi, Ar. Bersyukurlah kamu masih diberikan untuk memperbaiki diri dan bersatu dengan wanita yang begitu mencintaimu begitu tulus." Andreas mengusap bahu adiknya itu.


Arnold tersenyum tipis, pria itu kini berdiri bersandar di batas pagar balkon."Bagaimana dengan Shinta, Kak? apa hubungan kalian sudah membaik."


Andreas menggelengkan kepalanya, pria itu terdengar menarik napas dalam dan menghembuskan dengan kasar."Ar, apa kamu ada wanita yang ingin kamu kenalkan denganku?"


Arnold langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan kakaknya itu, bagaimana tidak. Sebulan yang lalu Andreas mengatakan untuk menjadikan Shinta istrinya. Namun, sekarang kakaknya itu minta carikan wanita lain.


"Apa Shinta menolakmu lagi?" tanya Arnold.


"Wanita itu tidak menolak, Ar. Hanya mengatakan jika sudah memiliki kekasih. Hari ini ia mengambil libur untuk berkencan."


Arnold begitu terkejut, kini pria itu paham apa yang dirasakan Andreas. Mencintai, tidak harus memilikinya. Kata-kata itu sudah lama didengar oleh Arnold.


"Lalu apa rencanamu, Kak?" tanya Arnold.


Andreas menceritakan jika ia akan bertolak ke Berlin lagi dalam waktu dekat, mendengar itu Arnold setuju dari pada mengejar cinta yang tidak bisa dimilikinya.


"Ar, nanti Kalau Aura tidak bisa cek tempat les piano. Aku harap kamu meluangkan waktu kesana!" pinta Arnold.


"Kenapa tidak Cia saja, Kak?" tanya Arnold.

__ADS_1


Andreas tersenyum dan pria itu bertanya," Apa kamu tidak cemburu kalau aku meminta langsung ke Cia?"


__ADS_2